Dalam menjelaskan dinamika neurosis, tidak ada satupun teori kepribadian yang lebih baik dari teori Karen Horney, seorang wanita dengan teori psikoanalisis sosial yang digagas olehnya. Ia mengembangkan teorinya sendiri dalam ruang lingkup tradisi psikoanalisis Adlerian (Alfred Adler) yang menekankan pada pengaruh sosial, kultural dan humanitas terhadap dinamika kepribadian. Disini, saya coba untuk meringkas sedikit saja teori kepribadian yang digagas olehnya.

Horney pada dasarnya beranggapan bahwa tidak seperti yang digagas oleh Freud, dorongan biologis tidak mutlak menentukan struktur kepribadian dan dinamika kepribadian. Ia menolak anggapan Freud yang menyatakan “anatomy is destiny“. Menurutnya, faktor sosial dan budaya (terutama pola asuh orangtua) lebih berpengaruh terhadap struktur dan dinamika kepribadian.

Oleh karenanya, pada dinamika kepribadian menurut Horney, struktur kepribadian awalnya dipengaruhi oleh basic hostility orangtua pada anak. Basic hostility adalah bagaimana pola hubungan anak dengan orangtua, yaitu apakah pola itu berisi cinta ataukah pola itu tidak ada kasih sayang dan kehangatan. Ini menyebabkan kecemasan dan kekuatiran pada diri anak. Bagaimana anak harus berespon pada perlakuan orangtua? Bagaimana seharusnya ia membalas basic hostility orangtua? Semua ini menimbulkan kecemasan pada anak. Namun, tidak serta-merta Basic hostility ini memicu apa yang disebut Horney sebagai basic anxiety (yaitu kondisi dimana anak merepresi keinginan-keinginan neurotik terhadap orangtuanya). Sehingga, anak melakukan mekanisme pertahanan dengan beragam cara. Cara-cara mekanisme inilah yang pada akhirnya menjadi cara coping (mengatasi) kebutuhan neurotik.

 Image

Ada tiga kebutuhan neurotik:

1. Kebutuhan neurotik untuk power (kekuasaan)

2. Kebutuhan neurotik untuk affection (afeksi)

3. Kebutuhan neurotik untuk withdrawal (menjauh)

Jika anak mengatasi kondisi neurosis terhadap basic anxiety dengan merasa bahwa “jika saya punya kekuasaan diatasmu, maka kamu tidak bisa menyakiti saya”, seseorang menggunakan coping untuk memenuhi kebutuhan neurotik untuk power.

Anak menggunakan cara mengatasi neurosis untuk memenuhi kebutuhan neurotik affection jika seseorang merasa “jika saya bisa membuatmu menyukai saya, maka kamu tidak bisa menyakiti saya”

Sementara cara mengatasi untuk memenuhi kebutuhan neurotik withdrawal digunakan jika seseorang merasa “jika saya menjauh darimu, maka kamu tidak bisa menyakiti saya”.

Masalahnya, memenuhi kebutuhan neurotik sama saja memenuhi gelas bocor dengan air. Seseorang dengan kebutuhan neurotik tidak akan pernah terpuaskan dengan coping-coping yang digunakan. Oleh karenanya, pada pribadi yang sehat, realisasi diri mengenai cara coping dan kebutuhan neurotik dalam diri diperlukan. Hal ini digunakan untuk mengintegrasikan ideal self dan despised self. Jika seseorang mengetahui dirinya yang ideal dan dirinya yang dibenci, dan membawa semua itu ke dalam kesadaran, seseorang dikatakan berhasil menutup kebocoran gelasnya. Dengan kata lain, ia menyadari bahwa cara-cara coping yang digunakannya hanyalah cara yang neurotis dan sebaiknya tidak digunakan karena kebutuhan neurotiknya tidak akan pernah terpenuhi.

Untuk bacaan lebih lanjut, bukalah:

Feist, A., & Feist, J. (2009). Theories of personality. McGraw-Hill.

http://webspace.ship.edu/cgboer/horney.html

About these ads