Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul ‘Tiga (dari Tujuh) Teori Agama‘. Masih merupakan review dari salah satu buku favorit saya, yaitu Seven Theories of Religion (2011) karya Pals.

Akhirnya saya selesai membaca dua teori agama lainnya selain dari ketiga teori yang pernah di-review disini. Kali ini, saya ingin me-review teori agama-agama aliran Perancis dimana dikotomi Sakral dan Profan dianggap penting dalam tinjauan mengenai agama. Dua teoretikus agama yang membahas dikotomi itu dalam keseluruhan teori mereka adalah Emile Durkheim, seorang sosiolog yang identik dengan studi-studi kemasyarakatan, dan Mircea Eliade, filsuf dan sejarawan agama yang menolak segala bentuk reduksi keilmuan dalam studi agama.

Apa itu yang disebut dikotomi Sakral dan Profan? Durkheim menyebutkan bahwa the Sacred merupakan pengalaman kemasyarakatan yang menjadi lambang kebersatuan transenden yang dimanifestasikan dalam simbol-simbol masyarakat, sementara the Profane merupakan pengalaman individual yang dianggap lebih rendah dari pengalaman sakral. Lebih jauh lagi akan dibahas dalam teori masing-masing tokoh.

Meskipun keduanya sama-sama membahas dikotomi Sakral dan Profan dalam agama, pendekatan yang dilakukan keduanya terhadap dikotomi itu cukup berbeda.

Emile Durkheim : Masyarakat yang Sakral

Bagi Durkheim, adalah sia-sia mencoba memahami individu hanya dengan memahami insting biologis, psikologi individu atau kepentingan pribadi. Untuk memahami agama, ia berpaling dari studi mengenai individu, dan menyatakan bahwa: “ide tentang masyarakat adalah roh agama”.

Jika Freud menggunakan dimensi dorongan bawah sadar kepribadian dan aspek dorongan biologis dalam menjelaskan perilaku manusia, maka Durkheim menggunakan dimensi interaksi sosial dan kemasyarakatan. Baginya, individu tidak akan pernah bisa lepas dari masyarakat. Sejak lahir, ia telah melakukan kontak dengan masyarakat, yaitu orangtua dan pengasuhnya. Dapat dipastikan bahwa seorang individu tidak akan pernah bisa bertahan tanpa adanya masyarakat. Bahkan, tanpa masyarakat, maka tak ada satu hal pun yang akan muncul dalam kehidupan manusia.

Durkheim menyatakan bahwa dasar dari kepercayaan terhadap agama bukanlah terletak pada kepercayaan terhadap hal-hal yang supernatural seperti Tuhan, karena pada banyak agama tidak ditemukan kepercayaan terhadap Tuhan. Ini berarti, asumsi Tylor & Frazer yang menyatakan pemahaman akan fenomena alam yang didasari oleh kekuatan supernatural adalah hakikat dari agama tidaklah tepat. Dasar dari agama bukanlah kepercayaan terhadap kekuatan supernatural (pembedaan atas apa yang natural dan supernatural), melainkan konsep The Sacred (Yang Sakral). Pada masyarakat beragama, terdapat dua konsep yang terpisah, yaitu Yang Sakral dan Yang Profan.

Yang sakral adalah: sesuatu yang tinggi, agung, berkuasa, dihormati, dalam kondisi profan ia tidak tersentuh dan terjamah. Sementara,

Yang profan adalah: kehidupan sehari-hari yang bersifat biasa saja.

Yang sakral berada dalam masyarakat, sementara yang profan ada dalam konteks individu. Untuk menjelaskan konsep-konsep ini, Durkheim meneliti mengenai masyarakat dengan agama totemisme; agama yang dianggap sebagai agama paling tua yang pernah ada dalam sejarah manusia. Untuk membuktikan asal-usul agama, Durkheim berpendapat bahwa tidak tepat mengatakan bahwa konsep agama adalah kekuatan personal yang disebut Tuhan, melainkan sebuah konsep yang tidak personal (impersonal), yang dihormati dan dipuja sekaligus mengatur masyarakat, tetapi tidak memiliki sosok. Darimana lagi bisa didapatkan fakta-fakta mengenai asal-usul kepercayaan terhadap kekuatan impersonal jika bukan dari agama paling tua yang pernah ada di muka bumi ini? Melalui agama totemisme yang saat ini masih bertahan di daerah Australia, Durkheim mampu menjelaskan apa fungsi agama.

Pada agama totemisme, simbol-simbol hewan dan tumbuhan dipuja sebagai sesuatu yang dihormati. Simbol hewan-hewan dan tumbuhan-tumbuhan tertentu merupakan lambang dari klan-klan tertentu pada suku-suku. Hewan-hewan dan tubuhan-tumbuhan itu  suci dan tidak boleh dbunuh, tidak boleh dilukai atau bahkan didekati kecuali dalam perayaan-perayaan tertentu. Kesucian totem adalah mutlak dalam masyarakat itu. Kesuciannya dapat dirasakan oleh tiap-tiap individu, terutama dalam perayaan dan ritual-ritual keagamaan. Pada ritual-ritual dan perayaan-perayaan itu, totem-totem menyusup dan mengatur kesadaran diri manusia. Saat pemujaan berlangsung dimana tarian-tarian, lagu-lagu, mantera-mantera dan perasaan tenteram dan tenang merasuk ke dalam tiap individu, maka detik itu juga individu kehilangan pribadinya dan masuk ke dalam kerumunan massa Yang Sakral. Sebuah perasaan melayang-layang yang tidak biasa, yang tidak bisa diungkapkan, tetapi nyata dan bersifat transendental.

Implikasi dari keyakinan terhadap totem itu selanjutnya mampu menjelaskan bagaimana masyarakat membangun sistem-sistem kepercayaan tertentu melalui metode asosiasi hubungan-hubungan antar konsep yang berpusat pada Yang Sakral. Termasuk didalamnya adalah sistem kepercayaan terhadap roh atau jiwa (yang menjadi dasar dari banyak agama). Roh yang ada dalam diri seseorang merupakan representasi ketergantungan mereka terhadap masyarakat. Roh bertugas untuk memberitahukan kepada individu untuk mematuhi kewajiban-kewajiban moral terhadap masyarakat. Roh yang menjadi representasi masyarakat dalam diri individu merupakan Yang Sakral sementara badan yang bertugas memenuhi kebutuhan individu saja adalah Yang Profan. Selanjutnya hubungan asosiatif dikembangkan lebih lanjut mengenai konsep roh yang bersifat abadi. Dari sinilah penyembahan terhadap Dewa-Dewi dan Tuhan berasal. Roh-roh yang mampu mengatur alam pada akhirnya dituntut oleh masyarakat sebagai representasi kepribadian tertentu, yang superior, yang disebut Dewa dan Tuhan.

Kepercayaan terhadap totem-totem yang pada akhirnya menjadi Dewa dan Tuhan itu bukanlah hal yang paling penting dalam agama menurut Durkheim. Yang paling penting, adalah perasaan Sakral yang dihasilkan dari ritual-ritual keagamaan. Pemujaan-pemujaan yang ada dalam ritual-ritual atau perayaan-perayaan dalam setiap agama bertujuan bukan untuk totem atau Dewa, melainkan untuk mejaga individu-individu agar tidak melupakan arti penting klan dan memberikan perasan bahwa Yang Sakral adalah sesuatu yang berbeda dan memiliki tingkat yang lebih tinggi daripada Yang Profan.

Dari sini, terjawab sudah arti penting ritual-ritual keagamaan dari agama-agama yang pada saat ini masih ada. Mereka dapat memberikan arti penting suatu masyarakat dalam diri kita sekaligus memberikan kepada kita perasaan yang transenden, yang tidak terjamah, yang tidak tercapai dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat individual. Ini juga menjelaskan mengapa pemuka-pemuka agama dan kalangan-kalangan beragama yang taat sangatlah dijunjung tinggi oleh masyarakat. Karena mereka sudah mengorbankan diri mereka untuk kepentingan masyarakat. Ia menjadi contoh bagi masyarakat untuk meninggalkan Yang Profan karena Yang Sakral berada di kepentingan masyarakat. Ini juga menjelaskan mengapa masyarakat membenci pemuka-pemuka agama yang nampaknya lebih mementingkan kebutuhan Profan dibandingkan Sakral.

Kritik terhadap Durkheim berasal dari kalangan antropolog yang menyatakan bahwa interpretasi dan analisa bukti-bukti data yang dikumpulkan olehnya dipenuhi oleh fakta-fakta yang tidak memuaskan. Selain itu, dalam beberapa masyarakat yang ada diluar tinjauan Durkheim lebih mengkhususkan pada natural dan supernatural, bukan sakral dan profan.

Mircea Eliade: Hakikat dari yang Sakral

Oleh karena sifatnya yang fungsional dan dependen terhadap psikologi, sosiologi, dan ekonomi, maka teori-teori agama yang dikemukakan Freud, Durkheim, dan Marx akan menghasilkan kesimpulan yang bersifat reduksionistik. Penjelasan menganai satu aspek saja tidak akan mampu memahami agama secara keseluruhan. Untuk itu, Mircea Eliade melakukan analisis terhadap agama diluar konteks fungsionalis yang menggunakan pendekatan ilmu tertentu. Agama harus dianggap sebagai sebuah variabel yang independen, dimana faktor-faktor lainnya menjadi bergantung pada agama dan bukan sebaliknya.

Dalam studinya mengenai agama, Eliade mengkhususkan pada studi dengan masyarakat arkhais, yaitu masyarakat pra-sejarah dengan peradaban paling kuno. Mereka berburu, bercocok tanam, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan alami lainnya. Dalam masyarakat ini, akan selalu ditemui apa yang disebut sebagai pemisahan antara Yang Sakral dan Yang Profan.

Yang sakral adalah: Sesuatu yang supernatural, luar biasa, amat penting, dan tidak mudah dilupakan. Sementara,

yang profan adalah: Sesuatu yang biasa, bersifat keseharian, hal-hal yang dilakukan sehari-hari secara teratur dan acak, dan sebenarnya tidak terlalu penting.

Yang sakral bersifat abadi, mengandung substansi, dan nyata. Di dalam yang sakral mengandung kesempurnaan dan keteraturan, dimana di dalamnya bersemayam roh, nenek moyang, tempat tinggal Dewa-Dewi dan Tuhan. Sementara yang profan bersifat mudah hilang, terlupakan, dan tidak nyata. Di dalamnya, manusia selalu berbuat salah, manusia selalu berubah, dan mengalami kekacauan. Dari sini terlihat sebenarnya perbedaan konsep Yang Sakral antara Durkheim dan Eliade. Sementara Durkheim selalu mengunakan pendekatan sosial kemasyarakatan yang non-supernatural dalam menentukan apa yang sakral itu, Eliade berpendapat sebaliknya. Baginya, kekuatan supernatural adalah inti dari yang sakral itu. Dengan demikian, pemikiran Eliade ini bukanlah bersumber sepenuhnya dari pemikiran Durkheim meski menggunakan istilah-istilah yang sama, melainkan bersumber dari seorang teolog yang pernah menjadi pembimbingnya, yaitu Rudolf Otto.

Otto mengartikan perjumpaan dengan yang sakral (The Holy) sebagai mysterium (hal yang misterius). Baik itu mysterium fascinosum (misterius yang mengagumkan) atau mysterium tremendum (misterius yang menakutkan), keduanya merupakan perjumpaan dengan yang sakral. Perjumpaan yang sakral ini memberikan perasaan yang nyata, agung, tinggi, dan menakjubkan. Perasaan ini tidak sama dengan perasaan-perasaan lainnya yang bersifat duniawi. Perasaan inilah yang menjadi titik kunci apa yang disebut dengan agama. Eliade sepenuhnya sepakat dengan hal ini. Ia menyatakan bahwa perjumpaan dengan yang sakral dapat dialami oleh semua orang. Perasaan ini begitu kuatnya sehingga kekuatan dari yang sakral itu dianggap sebagai sebuah realitas, sesuatu yang nyata. Kesakralan adalah keseluruhan realitas yang dahsyat dan abadi. Manusia ingin berada dekat dengan kekuatan itu. Meskipun benar inilah apa yang dianggap Tuhan oleh agama-agama seperti Yahudi, Nasrani, dan Islam, namun Eliade meminta untuk tidak menginterpretasikan yang sakral sebagai Tuhan, karena konsepnya mengenai yang sakral tidak hanya berpusat pada Tuhan. Segala konsep-konsep yang berada dalam ruang lingkup perjumpaan dengan yang nir-duniawi dapat dikatakan sebagai Yang Sakral, dan ini tidak berarti harus selalu dengan Tuhan yang bersifat personal.

Dengan kepercayaan terhadap kekuatan yang agung dan nir-duniawi yang nyata itu, adalah mudah menjelaskan bagaimana kepercayaan yang begtu kuatnya pada akhirnya membentuk sistem-sistem tertentu. Manusia menyerahkan hal-hal yang profan juga kepada yang sakral. Dongeng-dongeng dan mitologi-mitologi mengenai masyarakat arkhais akan selalu mengandung konsep penyerahan diri terhadap yang sakral. Yang sakral mampu mengatur segala aspek kehidupan manusia. Tidak jarang kita dengar kisah-kisah mengenai doa-doa yang perlu dipanjatkan sebelum memulai suatu pekerjaan, atau aturan-aturan yang diberlakukan dalam membangun rumah, misalnya. Semuanya tidak terlepas dari yang sakral. Setiap konsep yang sakral memiliki titik pusatnya yang nyata. Dalam hal ini, merupakan pusat dunia. Dalam Islam dikenal Ka’bah yang agung, yang menjadi pusat ibadah dari semua umat muslim, sementara dalam agama Kristen dikenal tangga Yakub, seorang penginjil yang melihat tangga menuju surga tepat dihadapannya, lalu ia mebentuk batu yang menyerupai tangga itu. Dalam agama kuno seperti kepercayaan bangsa Norse, terdapat pohon Yggdrasil yang disebut sebagai pohon kehidupan. Begitu pula dalam kepercayaan-kepercayaan lainnya sehingga pusat dunia (axis mundi) ini merupakan sesuatu yang universal dan ada di setiap agama, yang memiliki fungsi sebagai lambang penciptaan dunia. Hal ini jugalah yang dilakukan oleh simbol-simbol lainnya yang diciptakan manusia. Simbol-simbol itu ada karena pemaknaan tertentu mengenai yang sakral.

Seluruh pemikiran masyarakat arkhais mengenai yang sakral adalah dorongan akan satu hal: yaitu dorongan untuk melepaskan diri dari sejarah dan ingin kembali pada waktu ketika seisi dunia diciptakan. Keinginan ini oleh Eliade dinamakan dengan nostalgia surga firdaus. Jauh di lubuk hati masyarakat arkhais, mereka ingin meninggalkan pekerjaan-pekerjaan mereka dan segala sesuatu yang sifatnya profan. Yang profan ini merupakan sejarah mereka, sejarah hidup dan nenek moyang mereka diluar penciptaan bumi dan seisinya. Mereka ingin kembali ke Surga. Dengan demikian, kehidupan itu sama sekali tidak ada artinya bagi mereka. Mereka ingin meraih kekekalan, keindahan, kesempurnaan, dan sejarah hanya membawa mereka pada yang sulit, yang tidak sempurna, dan yang pahit. Dengan kata lain, kehidupan sebenarnya tidak akan bisa dicapai melalui sejarah.

Berbeda dengan masyarakat arkhais, filsuf-filsuf modern dn masyarakat ilmiah berkeinginan sebaliknya. Dengan perkembangan dan kemajuan pemikiran yang ada, mereka merasa bahwa sejarah tidak perlu dihapuskan. Manusia tidak perlu kembali pada yang sakral karena yang sakral itu sebenarnya tidak ada. Kita saat ini sudah bisa hidup tanpa adanya yang sakral.

Eliade berpihak pada agama, bukan pada filsuf modern.

Banyak kritik-kritik terhadap Eliade ditujukan kepada perbandingan-perbandingan antar agama yang ia lakukan tidaklah cukup global. Kritik pedas juga mengatakan bahwa teori ini memiliki bias-nya sendiri karena Eliade dianggap berpihak pada agamanya sendiri, yaitu Katolik Roma.

Dengan demikian, berakhirlah pembahasan atau review singkat mengenai agama-agama yang mengkhuuskan pada dikotomi sakral dan profan ini. Jika ditinjau lagi, maka dapat kita lihat bahwa Durkheim dan Eliade memiliki posisi yang sangat berbeda dalam memandang agama. Keseluruhan review ini tentu saja tidaklah cukup untuk membahas keseluruhan isi teori tokoh-tokoh diatas. Jika ingin lebih jauh memahaminya, maka bisa membaca buku Pals yang akan saya sebutkan di daftar pustaka berikut ini.

Next, saya akan membahas mengenai dua tokoh paling modern yang membahas mengenai teori agama, yaitu Evans-Pritchard dan Geertz.

Daftar Pustaka:

Pals, Daniel L. (2011). Seven theories of religion: Tujuh teori agama paling komprehensif. Jogjakarta: IRCiSoD.