Why Some People Fear Death while Others Do Not?

Tags

, , , , ,

I will be quite straightforward. Because death is the end of everything about you: all you have known, all your memories, all your experiences. What is the point going through the days of our life, learning, if… one day we will die anyway?

Well for some, death are chilling beyond beliefs. Even when we do not know when we will die, the fact that it will happen anytime may deeply paralyzing. The question is: why?

According to terror management theory (Greenberg, Solomon, & Pyszczynski, 1986; see: Terror management theory – Wikipedia), thoughts about death are the inevitable consequence of the highly evolved human cognition. This sophistication leads us to grasp the inevitability of death. Consequentially, this creates anxiety and terror for us. What is the meaning for all my life if I am going to end anyway? Luckily, our societies are well-equipped to answer this meaninglessness. They provided cultural worldviews that function as buffer to reduce our anxieties. Religion, political identities, science, career-climbing tracks, achievements, etc. are among the examples. For instance, major religion gave us the view that our kindness will be paid in the afterlife (they even gave us the notion that we are immortal after all). As for another example, our societies gave us the view that our hard work will be paid in terms of good fortune, achievements, and self-worth. This, will form an impression that we are not so mortal after all. For these people: “see… our life has meaning!”

So why for some people, death is not so paralyzing? Simple. Their worldview has already buffered the anxiety and fear. But when their worldview is taken from them? Well…

Taken from my Quora Answer:

https://www.quora.com/Death-is-a-fact-of-life-and-you-dont-know-when-youre-dead-so-why-are-so-many-people-afraid-of-it

Advertisements

Game of Thrones Fan Theory: What Will Happen in Season 7?

Tags

, , , ,

What I think will happen to the major houses in Game of Thrones season 7:
 
House Lannister
Cersei Lannister has secured her place as a queen, but it was the beginning of an end. Her recent political move literally made her the most hated ruler of Westeros. She has no support from the people and from any other houses in Westeros. Even House Tyrell, the Lannisters’ most formidable ally has already pledged its alliance to House Targaryen. House Frey? LOL. However, we shouldn’t underestimate Cersei. Not when she has lost all her children. I imagine Cersei will become very ‘evil queen’-like in the next season, killing everyone who approach King’s Landing with wildfires. We also have no idea to what extent Qyburn’s researches will help Cersei and her military might. We already knew The Mountain has became an undead thanks to him.
 
House Stark
This will be interesting. While Jon Snow was declared King in the North, he lacks political skills which are essential to play the game of thrones. For now, the Lannisters, Ironborns (Euron Greyjoy), and White Walkers are not his primary enemy. He should worry more about Littlefinger. Sansa Stark, with her current political competence will help Jon dealing with this matter I assume. But Littlefinger should never be underestimated. Not when he can easily switch his alliance to Cersei Lannister. Now the most interesting part is the return of Bran Stark. He knew that Jon is not his own half-brother which made Jon’s entire legitimacy in the north invalid. Also, do not forget that Bran is the more legitimate heir to the Winterfell. Should Littlefinger grip his venom to Bran (and probably Sansa too), it will be very intriguing (I know, it will also be so unfortunate either). I am also curious about Arya Stark. Where will she take parts in here? Or will she just head straight to King’s Landing to finish her list?
 
House Targaryen
Once, Daenerys was just a little girl given to Dothraki Khal as a piece of meat. Now, she is a a conqueror, a queen, loved by her people. Daenerys is an ideal portrait of a ruler. She possess all good qualities of a leader. Not to mention she has Tyrion Lannister, her most reliable advisor by her side. Now, more than ever, she probably has the largest army than any houses since she conquered the entire Essos and cemented the alliance to Tyrells and Martells (hey, Varys should also get special mention too for this matter). And of course, her dragons. I nearly forgotten XD At a glance, things are going extremely well for house Targaryen. But tthere might be some twist. You know, something has been bothering me. There are many occurrences that hints Daenerys going mad. Her inner voices (in books), her advisors constantly reminding her, and her emotional streaks at times. I imagine that she will be the mad queen… Now I do not want this to happen. I love her, really. Her growth, her characters. But one thing that we should never forget is that Game of Thrones always kill the people that we love.

Mengapa Terjadi Polarisasi pada Kelompok? Indonesia tidak berbeda dengan Amerika Serikat

Tags

, , , , ,

Akhir tahun ini Indonesia diwarnai oleh polarisasi politik yang diawali oleh tuduhan penistaan agama oleh gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Di satu sisi, ada yang beranggapan bahwa Ahok sebetulnya tidak menistakan agama dan aksi 2 Desember 2016 dibelakangi oleh pihak-pihak yang menjadi lawan politik Ahok. Di sisi lain, ada yang teguh berpendirian bahwa Ahok bersalah atas ucapannya di Kepulauan Seribu. Apapun yang terjadi, bagi mereka seorang penista agama harus dihukum. Setidaknya di media sosial seperti facebook kita melihat betapa terpecahnya dua argumen ini menjadi dua kutub yang memisahkan mereka menjadi dua kelompok (polarisasi). Sebetulnya apakah yang menyebabkan terjadinya polarisasi dalam kelompok seperti ini?

Pertama, polarisasi mungkin terjadi karena faktor empati (Waytz, Iyer, Young, & Graham, 2016). Pada contoh kasus polarisasi di Amerika Serikat, liberal seringkali menuduh konservatif tidak memiliki empati terhadap mereka yang membutuhkan (biasanya kaum-kaum minoritas, tertindas, dan menderita – outgroup). Nampak bahwa malaikatnya adalah liberal dan konservatif dipandang begitu buruk. Pada kenyataannya, polarisasi terjadi karena liberal dan konservatif memiliki target empati yang berbeda. Sementara liberal cenderung berempati pada outgroup (kelompok lebih besar), konservatif cenderung berempati pada ingroup (kelompok lebih kecil). Perbedaan dalam hal empati ini sering mengarahkan ketidaksepakatan dalam sebuah kelompok, yang mengarahkan pada polarisasi.

Di Indonesia sebetulnya masih dipertanyakan apakah memang polarisasi terjadi. Namun fenomena belakangan ini menunjukkan bahwa muncul polarisasi dimana terjadi perbedaan dalam kelompok Muslim yang menyerupai konflik liberal – konservatif di AS. Sementara empati pada salah satu kelompok Muslim diarahkan pada kelompok yang lebih besar (Indonesia, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dimana terdapat berbagai kelompok agama), empati pada kelompok Muslim lainnya diarahkan pada kelompok Muslim itu sendiri. Mereka merasa bahwa Muslim itu sendiri adalah pihak yang tertindas. Inilah akar dari polarisasi yang terjadi menurut hipotesis dari Waytz dkk. (2016).

Selain empati, faktor lain yang berperan untuk menyebabkan terjadinya polarisasi adalah atribusi ideologis yang terjadi atau perbedaan dalam bagaimana individu memahami penyebab terjadinya masalah sosial (Skitka & Washburn, 2016). Dalam konflik di AS, liberal cenderung menganggap masalah-masalah sosial yang terjadi disebabkan oleh adanya ketidaksetaraan dan kurang meratanya distribusi keadilan dalam masyarakat (faktor eksternal dan sistemik). Sementara itu konservatif cenderung menyalahkan kemalasan seseorang, kurangnya disiplin, dan rusaknya moral manusia (faktor disposisional). Ambil contoh kasus LGBT di AS. Liberal merasa bahwa kaum homoseksual seharusnya diperlakukan sama seperti semua pasangan heteroseksual lainnya jika ingin keadilan sepenuhnya diterapkan. Sebaliknya, konservatif justru merasa kaum homoseksual itulah yang membawa malapetaka kerusakan moral dan membuat Tuhan marah.

Bagaimana dengan di Indonesia? Isu-isu seperti kemalasan dan kerja keras nampaknya tidak terlalu menjadi isu yang prevalen. Tetapi ketidaksepakatan tentang perempuan yang memakai baju terbuka (yang dianggap oleh beberapa kelompok bisa berujung pada pemerkosaan) sering ditemui di Indonesia. Lagi-lagi ini menyerupai pola polarisasi di AS. Sementara satu kelompok merasa perempuan itu harus dilindungi dengan hukum yang tepat dan pembudayaan lingkungan yang aman bagi perempuan (menyerupai liberal yang cenderung menyalahkan faktor sistem), kelompok lainnya merasa perempuan itu sendiri-lah yang kurang bermoral dan kurang mampu melindungi dirinya sendiri (menyerupai konservatif yang cenderung menyalahkan faktor disposisional).

Terakhir, faktor yang penting untuk disorot adalah perbedaan dalam nilai-nilai moral. Jonathan Haidt, dalam teori mengenai intuisi moral-nya menyebutkan bahwa seringkali ilmuwan Barat terjebak melihat bahwa moralitas hanya terkait dengan kasih sayang terhadap sesama manusia dan keadilan resiprokal (Haidt, 2012). Pada kenyataannya, moralitas juga adalah soal bagaimana seseorang menjunjung tinggi kesetiaan terhadap kelompoknya, menghormati pihak-pihak yang sepatutnya dihormati, dan memelihara nilai-nilai kesusilaan. Tiga domain moral ini seringkali diabaikan oleh kebudayaan Barat (mungkin karena akademia di Amerika diisi oleh orang-orang liberal yang menjunjung nilai-nilai kasih sayang dan keadilan). Padahal, perbedaan moralitas ini juga menjelaskan mengapa orang berhaluan politik liberal berbeda dengan konservatif. Sementara liberal lebih memegang teguh nilai-nilai kasih sayang dan keadilan itu, konservatif cenderung menggunakan semua domain moral secara merata (Haidt, 2012).

Dalam kasus pemberian bantuan kepada orang-orang miskin dan dianggap tertindas di AS, liberal secara konsisten menyuarakan bahwa pemerintah harus membantu mereka yang sangat membutuhkan dengan memberikan mereka uang (bukti bahwa liberal sangat menghargai nilai kasih sayang selayaknya ibu kepada anak). Sementara itu konservatif tidak sepakat. Mereka tidak mau memberikan uang secara cuma-cuma karena mereka merasa bahwa mereka yang miskin itu malas dan tidak berkontribusi untuk negara. Bagi konservatif, mereka harus menunjukkan bukti loyalitas terhadap negara dengan kerja keras jika ingin hidup layak (menghargai nilai kesetiaan dan tradisi). Tapi tidak cukup sampai disitu. Bagi mereka, kasih sayang adalah dengan mendidik masyarakat dengan disiplin dan pandangan bahwa dunia itu keras (mereka juga menghargai nilai kasih sayang, lebih menyerupai arketipe seorang ayah).

Sementara itu di Indonesia kita melihat polarisasi yang juga terjadi akibat perbedaan nilai-nilai moral itu walaupun mungkin belum terlalu prevalen. Ada kelompok-kelompok tertentu di Indonesia yang menyerupai kalangan liberal dimana mereka menghargai nilai-nilai kasih sayang terhadap sesama. Ambil contoh komnas HAM dan komnas Perempuan yang seringkali menyuarakan nilai-nilai tersebut. Di sisi lain, ada kelompok-kelompok yang nampaknya tidak terlalu mempedulikan nilai-nilai itu. Mereka lebih menekankan pada patriotisme terhadap negara dan loyalitas terhadap semboyan negara. Belum terjadi polarisasi sebagaimana di AS, namun perbedaan ini berpotensi mengarahkan polarisasi pada isu-isu tertentu.

Nampak bahwa polarisasi bisa terjadi lewat tiga faktor: 1. Perbedaan pada target empati, 2. Perbedaan pada atribusi fenomena, dan 3. Perbedaan pada nilai-nilai moral yang dimiliki oleh individu. Apa yang terjadi di Amerika nampaknya juga terjadi di Indonesia. Walaupun Indonesia mungkin belum melabel diri mereka sendiri dengan sebutan seperti liberal atau konservatif, nampak bahwa sudah ada polarisasi yang terjadi. Polarisasi bisa terjadi meski ada perbedaan isu-isu yang dialami oleh setiap negara.

Referensi:

Haidt, J. (2012). The righteous mind: Why good people are divided by politics and religion. New York: Pantheon Books.

Skitka, L., & Washburn, A. N. (2016). Are conservatives from Mars and Liberals from Venus? Maybe not so much. Dalam Valdesolo, P., & Graham, J. (Ed.). Social psychology of political polarization. Psychology Press.

Waytz, A., Iyer, R., Young, L., Graham, J. (2016). Ideological differences in the expanse of empathy. Dalam Valdesolo, P., & Graham, J. (Ed.). Social psychology of political polarization. Psychology Press.