Game of Thrones Fan Theory: What Will Happen in Season 7?

Tags

, , , ,

What I think will happen to the major houses in Game of Thrones season 7:
 
House Lannister
Cersei Lannister has secured her place as a queen, but it was the beginning of an end. Her recent political move literally made her the most hated ruler of Westeros. She has no support from the people and from any other houses in Westeros. Even House Tyrell, the Lannisters’ most formidable ally has already pledged its alliance to House Targaryen. House Frey? LOL. However, we shouldn’t underestimate Cersei. Not when she has lost all her children. I imagine Cersei will become very ‘evil queen’-like in the next season, killing everyone who approach King’s Landing with wildfires. We also have no idea to what extent Qyburn’s researches will help Cersei and her military might. We already knew The Mountain has became an undead thanks to him.
 
House Stark
This will be interesting. While Jon Snow was declared King in the North, he lacks political skills which are essential to play the game of thrones. For now, the Lannisters, Ironborns (Euron Greyjoy), and White Walkers are not his primary enemy. He should worry more about Littlefinger. Sansa Stark, with her current political competence will help Jon dealing with this matter I assume. But Littlefinger should never be underestimated. Not when he can easily switch his alliance to Cersei Lannister. Now the most interesting part is the return of Bran Stark. He knew that Jon is not his own half-brother which made Jon’s entire legitimacy in the north invalid. Also, do not forget that Bran is the more legitimate heir to the Winterfell. Should Littlefinger grip his venom to Bran (and probably Sansa too), it will be very intriguing (I know, it will also be so unfortunate either). I am also curious about Arya Stark. Where will she take parts in here? Or will she just head straight to King’s Landing to finish her list?
 
House Targaryen
Once, Daenerys was just a little girl given to Dothraki Khal as a piece of meat. Now, she is a a conqueror, a queen, loved by her people. Daenerys is an ideal portrait of a ruler. She possess all good qualities of a leader. Not to mention she has Tyrion Lannister, her most reliable advisor by her side. Now, more than ever, she probably has the largest army than any houses since she conquered the entire Essos and cemented the alliance to Tyrells and Martells (hey, Varys should also get special mention too for this matter). And of course, her dragons. I nearly forgotten XD At a glance, things are going extremely well for house Targaryen. But tthere might be some twist. You know, something has been bothering me. There are many occurrences that hints Daenerys going mad. Her inner voices (in books), her advisors constantly reminding her, and her emotional streaks at times. I imagine that she will be the mad queen… Now I do not want this to happen. I love her, really. Her growth, her characters. But one thing that we should never forget is that Game of Thrones always kill the people that we love.

Mengapa Terjadi Polarisasi pada Kelompok? Indonesia tidak berbeda dengan Amerika Serikat

Tags

, , , , ,

Akhir tahun ini Indonesia diwarnai oleh polarisasi politik yang diawali oleh tuduhan penistaan agama oleh gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Di satu sisi, ada yang beranggapan bahwa Ahok sebetulnya tidak menistakan agama dan aksi 2 Desember 2016 dibelakangi oleh pihak-pihak yang menjadi lawan politik Ahok. Di sisi lain, ada yang teguh berpendirian bahwa Ahok bersalah atas ucapannya di Kepulauan Seribu. Apapun yang terjadi, bagi mereka seorang penista agama harus dihukum. Setidaknya di media sosial seperti facebook kita melihat betapa terpecahnya dua argumen ini menjadi dua kutub yang memisahkan mereka menjadi dua kelompok (polarisasi). Sebetulnya apakah yang menyebabkan terjadinya polarisasi dalam kelompok seperti ini?

Pertama, polarisasi mungkin terjadi karena faktor empati (Waytz, Iyer, Young, & Graham, 2016). Pada contoh kasus polarisasi di Amerika Serikat, liberal seringkali menuduh konservatif tidak memiliki empati terhadap mereka yang membutuhkan (biasanya kaum-kaum minoritas, tertindas, dan menderita – outgroup). Nampak bahwa malaikatnya adalah liberal dan konservatif dipandang begitu buruk. Pada kenyataannya, polarisasi terjadi karena liberal dan konservatif memiliki target empati yang berbeda. Sementara liberal cenderung berempati pada outgroup (kelompok lebih besar), konservatif cenderung berempati pada ingroup (kelompok lebih kecil). Perbedaan dalam hal empati ini sering mengarahkan ketidaksepakatan dalam sebuah kelompok, yang mengarahkan pada polarisasi.

Di Indonesia sebetulnya masih dipertanyakan apakah memang polarisasi terjadi. Namun fenomena belakangan ini menunjukkan bahwa muncul polarisasi dimana terjadi perbedaan dalam kelompok Muslim yang menyerupai konflik liberal – konservatif di AS. Sementara empati pada salah satu kelompok Muslim diarahkan pada kelompok yang lebih besar (Indonesia, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dimana terdapat berbagai kelompok agama), empati pada kelompok Muslim lainnya diarahkan pada kelompok Muslim itu sendiri. Mereka merasa bahwa Muslim itu sendiri adalah pihak yang tertindas. Inilah akar dari polarisasi yang terjadi menurut hipotesis dari Waytz dkk. (2016).

Selain empati, faktor lain yang berperan untuk menyebabkan terjadinya polarisasi adalah atribusi ideologis yang terjadi atau perbedaan dalam bagaimana individu memahami penyebab terjadinya masalah sosial (Skitka & Washburn, 2016). Dalam konflik di AS, liberal cenderung menganggap masalah-masalah sosial yang terjadi disebabkan oleh adanya ketidaksetaraan dan kurang meratanya distribusi keadilan dalam masyarakat (faktor eksternal dan sistemik). Sementara itu konservatif cenderung menyalahkan kemalasan seseorang, kurangnya disiplin, dan rusaknya moral manusia (faktor disposisional). Ambil contoh kasus LGBT di AS. Liberal merasa bahwa kaum homoseksual seharusnya diperlakukan sama seperti semua pasangan heteroseksual lainnya jika ingin keadilan sepenuhnya diterapkan. Sebaliknya, konservatif justru merasa kaum homoseksual itulah yang membawa malapetaka kerusakan moral dan membuat Tuhan marah.

Bagaimana dengan di Indonesia? Isu-isu seperti kemalasan dan kerja keras nampaknya tidak terlalu menjadi isu yang prevalen. Tetapi ketidaksepakatan tentang perempuan yang memakai baju terbuka (yang dianggap oleh beberapa kelompok bisa berujung pada pemerkosaan) sering ditemui di Indonesia. Lagi-lagi ini menyerupai pola polarisasi di AS. Sementara satu kelompok merasa perempuan itu harus dilindungi dengan hukum yang tepat dan pembudayaan lingkungan yang aman bagi perempuan (menyerupai liberal yang cenderung menyalahkan faktor sistem), kelompok lainnya merasa perempuan itu sendiri-lah yang kurang bermoral dan kurang mampu melindungi dirinya sendiri (menyerupai konservatif yang cenderung menyalahkan faktor disposisional).

Terakhir, faktor yang penting untuk disorot adalah perbedaan dalam nilai-nilai moral. Jonathan Haidt, dalam teori mengenai intuisi moral-nya menyebutkan bahwa seringkali ilmuwan Barat terjebak melihat bahwa moralitas hanya terkait dengan kasih sayang terhadap sesama manusia dan keadilan resiprokal (Haidt, 2012). Pada kenyataannya, moralitas juga adalah soal bagaimana seseorang menjunjung tinggi kesetiaan terhadap kelompoknya, menghormati pihak-pihak yang sepatutnya dihormati, dan memelihara nilai-nilai kesusilaan. Tiga domain moral ini seringkali diabaikan oleh kebudayaan Barat (mungkin karena akademia di Amerika diisi oleh orang-orang liberal yang menjunjung nilai-nilai kasih sayang dan keadilan). Padahal, perbedaan moralitas ini juga menjelaskan mengapa orang berhaluan politik liberal berbeda dengan konservatif. Sementara liberal lebih memegang teguh nilai-nilai kasih sayang dan keadilan itu, konservatif cenderung menggunakan semua domain moral secara merata (Haidt, 2012).

Dalam kasus pemberian bantuan kepada orang-orang miskin dan dianggap tertindas di AS, liberal secara konsisten menyuarakan bahwa pemerintah harus membantu mereka yang sangat membutuhkan dengan memberikan mereka uang (bukti bahwa liberal sangat menghargai nilai kasih sayang selayaknya ibu kepada anak). Sementara itu konservatif tidak sepakat. Mereka tidak mau memberikan uang secara cuma-cuma karena mereka merasa bahwa mereka yang miskin itu malas dan tidak berkontribusi untuk negara. Bagi konservatif, mereka harus menunjukkan bukti loyalitas terhadap negara dengan kerja keras jika ingin hidup layak (menghargai nilai kesetiaan dan tradisi). Tapi tidak cukup sampai disitu. Bagi mereka, kasih sayang adalah dengan mendidik masyarakat dengan disiplin dan pandangan bahwa dunia itu keras (mereka juga menghargai nilai kasih sayang, lebih menyerupai arketipe seorang ayah).

Sementara itu di Indonesia kita melihat polarisasi yang juga terjadi akibat perbedaan nilai-nilai moral itu walaupun mungkin belum terlalu prevalen. Ada kelompok-kelompok tertentu di Indonesia yang menyerupai kalangan liberal dimana mereka menghargai nilai-nilai kasih sayang terhadap sesama. Ambil contoh komnas HAM dan komnas Perempuan yang seringkali menyuarakan nilai-nilai tersebut. Di sisi lain, ada kelompok-kelompok yang nampaknya tidak terlalu mempedulikan nilai-nilai itu. Mereka lebih menekankan pada patriotisme terhadap negara dan loyalitas terhadap semboyan negara. Belum terjadi polarisasi sebagaimana di AS, namun perbedaan ini berpotensi mengarahkan polarisasi pada isu-isu tertentu.

Nampak bahwa polarisasi bisa terjadi lewat tiga faktor: 1. Perbedaan pada target empati, 2. Perbedaan pada atribusi fenomena, dan 3. Perbedaan pada nilai-nilai moral yang dimiliki oleh individu. Apa yang terjadi di Amerika nampaknya juga terjadi di Indonesia. Walaupun Indonesia mungkin belum melabel diri mereka sendiri dengan sebutan seperti liberal atau konservatif, nampak bahwa sudah ada polarisasi yang terjadi. Polarisasi bisa terjadi meski ada perbedaan isu-isu yang dialami oleh setiap negara.

Referensi:

Haidt, J. (2012). The righteous mind: Why good people are divided by politics and religion. New York: Pantheon Books.

Skitka, L., & Washburn, A. N. (2016). Are conservatives from Mars and Liberals from Venus? Maybe not so much. Dalam Valdesolo, P., & Graham, J. (Ed.). Social psychology of political polarization. Psychology Press.

Waytz, A., Iyer, R., Young, L., Graham, J. (2016). Ideological differences in the expanse of empathy. Dalam Valdesolo, P., & Graham, J. (Ed.). Social psychology of political polarization. Psychology Press.

Obat Melawan Prasangka: Mekanisme dibalik Efektifitas Kontak Antar Kelompok

Tags

, , , , , , ,

Seringkali, kita lebih senang berinteraksi dengan mereka yang mirip atau sama dengan kita. Entah itu kesamaan yang melekat pada fisik kita seperti jenis kelamin, usia, kemenarikan fisik, etnis sampai kesamaan yang tidak langsung nampak seperti status sosial, hobi, nilai-nilai, keyakinan, atau ideologi yang dimiliki. Tidak jarang kita melihat kelompok-kelompok yang terbentuk atas kategorisasi-kategorisasi itu. Ikatan mahasiswa Asal A, Partai Politik B, Aliansi Pecinta X, dan lain-lain. Indeed, burung-burung dengan bulu yang sama akan mengelompok di tempat yang sama.

Meski berinteraksi dengan sesama kelompok kita bisa sangat menyenangkan, ini bisa menjadi cukup berbahaya pula terutama saat kelompok kita jarang berinteraksi dengan anggota kelompok lain. Mengapa berbahaya? Ketika individu-individu dari sebuah kelompok (ingroup, selanjutnya disebut IG) jarang berinteraksi dengan anggota kelompok lain (outgroup, selanjutnya disebut OG), maka prasangka terhadap OG cenderung tumbuh subur (Allport, 1954). Sebagai contoh, individu dari kelompok minoritas Tionghoa beragama Kristen di Indonesia nampak tidak banyak berteman dengan individu dari kelompok mayoritas Melayu beragama Islam di Indonesia. Ini menyuburkan prasangka dari kelompok minoritas ke mayoritas, begitu pula sebaliknya.

Obat melawan prasangka sebetulnya cukup straightforward. Biarkan anggota-anggota kelompok itu saling berinteraksi satu sama lain dan sikap positif terhadap anggota OG pun akan tumbuh. Sebaliknya, prasangka akan berkurang (Allport, 1954). Klaim ini merangsang sebuah teori dengan perkembangan riset yang sangat produktif sampai detik ini, yaitu hipotesis kontak. Meta-analisis 515 studi oleh Pettigrew dan Tropp (2006) telah berhasil menyimpulkan bahwa kontak antar kelompok memang mengurangi prasangka. Efek ini telah dibuktikan lewat studi-studi korelasional maupun studi-studi eksperimental. Tulisan ini mencoba untuk memberikan pemahaman tentang bagaimana interaksi antar kelompok itu bisa memperbaiki atau menjadi obat bagi prasangka.

Namun demikian, apakah efek itu bisa terjadi begitu saja? Barangkali tidak. Allport sendiri memberitahukan bahwa ada empat kondisi yang harus terpenuhi agar kontak bisa efektif. Empat kondisi itu antara lain (Allport, 1954): 1. Adanya kesamaan tujuan. Contohnya, manusia bisa bersatu ketika ada musuh bersama yaitu alien yang ingin menghancurkan bumi. 2. Adanya dukungan dari institusi. Sebagai contoh, konflik antar suku mungkin bisa dimediasi ketika pimpinan struktural dari kedua suku atau pemerintah pusat mendukung hubungan antar kelompok yang positif. 3. Adanya kesetaraan status. Kelompok yang saling berinteraksi tidak boleh dibeda-bedakan berdasarkan rendah atau tingginya status dalam masyarakat. 4. Adanya kerjasama antar kelompok. Jika ada pertukaran atau perdagangan dari kelompok satu dan kelompok lain, kontak bisa efektif. Sering kita saksikan penyelesaian perang dan interaksi dimulai lewat pernikahan dari petinggi-petinggi kedua kelompok atau pertukaran lainnya. Meski empat kondisi itu menjelaskan kontak seperti apa yang efektif, bagaimanakah sebetulnya kontak itu bisa mengurangi prasangka?

Eksplorasi Tiga Mekanisme

Lewat meta-analisis yang dilakukan dua tahun setelah meta-analisis sebelumnya, Pettigrew dan Tropp (2008) memperoleh kesimpulan bahwa kontak mampu mengurangi prasangka lewat tiga mekanisme: 1. Empati yang muncul akibat kontak, 2. Kecemasan yang berkurang akibat interaksi, dan 3. Pengetahuan yang telah dimiliki tentang OG. Ketiga mediator ini akan dibahas satu persatu.

Dorongan untuk berempati

Pernahkah kamu tiba-tiba diajak mengobrol oleh orang yang tidak kamu sangka akan berinteraksi denganmu? Katakanlah ia berasal dari etnis yang berbeda dan kamu tidak pernah berinteraksi dengan dia sebelumnya. Apa yang kamu rasakan? Mungkin kamu merasakan kecemasan. Tapi seiring kita berinteraksi dengan dia, kita tahu seperti apa keseharian dan perilaku-nya lebih daripada apa yang kita ketahui sebelumnya. Kita jadi tahu bagaimana mereka sebetulnya dan mungkin saja penilaian atau prasangka kita kepada mereka sebelumnya sirna. Ketika individu berinteraksi dengan OG, ia akan cenderung lebih bisa memahami apa yang dipikirkan oleh kelompok lain dan seperti apa perasaan kelompok lain itu. Disini, individu dari IG akan lebih berempati terhadap OG. Empati ini mengarahkan orang-orang IG untuk tidak berprasangka lagi dan memegang sikap positif terhadap OG.

Salah satu studi yang mendukung efek mediasi empati ini adalah eksperimen oleh Todd, Bodenhausen, Richeson, dan Galinsky (2011). Mereka mencoba melihat apakah mengambil perspektif dari OG dapat mempengaruhi keinginan untuk berinteraksi dan pengalaman yang lebih positif dengan OG. Mereka mengukur itu dengan ekspresi-ekspresi nonverbal. Studi-studi lain bahkan juga telah menemukan asosiasi serupa dalam konteks kelompok berkonflik seperti empati orang Italia terhadap imigran dan empati orang Protestan dan Katolik kepada one another (Tropp & Page-Gould, 2015).

Menangani persepsi akan adanya ancaman: Kecemasan yang berkurang

            Bayangkan seorang anggota FPI (Front Pembela Islam) tiba-tiba melihat kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Menurutmu apakah yang akan terjadi? Jika tidak takut luar biasa, mungkin ia akan jijik luar biasa. Atau mungkin tidak perlu se-ekstrim itu. Bagaimana jika kelompok Islam Sunni melihat orang dari kelompok Islam Syiah? Mungkin mereka tidak mau berinteraksi karena cemas dan merasa terancam (Stephan & Stephan, 1985). Namun demikian, apabila individu itu berinteraksi secara intens dengan individu-individu dari kelompok LGBT, ia mungkin tidak akan lagi merasakan takut sebagaimana sebelum ia berinteraksi. Mengapa demikian?

Jawabannya adalah karena interaksi yang dilakukan dengan OG akan berangsur membuat individu merasa nyaman dan tidak lagi merasa terancam. Saat individu tidak lagi merasa terancam, maka efek kontak antar kelompok menjadi lebih positif sehingga sikap terhadap anggota kelompok lain pun menjadi lebih positif. Kecemasan itu sendiri umumnya juga terjadi dan tidak hilang manakala interaksi itu penuh dengan tuntutan, kelompok yang menjadi obyek prasangka itu berekspektasi mereka akan ditolak, dan kelompok yang berprasangka berusaha untuk tidak menunjukkan tanda-tanda prasangka.

Peranan Pengetahuan

            Variabel ketiga yang mampu menjelaskan proses dibalik efek kontak adalah pengetahuan yang dimiliki seorang individu terhadap OG. IG yang berinteraksi dengan OG akan memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru tentang OG. Meski demikian, dibandingkan dengan empati dan kecemasan, efek mediasi dari pengetahuan jauh lebih lemah. Sehingga pengetahuan mengenai OG dianggap tidak terlalu berkontribusi untuk menurunkan prasangka. Bahkan, dipertanyakan juga apakah pengetahuan itu juga justru malah mengarahkan pada stereotip terhadap OG yang lebih kuat? Sebagai contoh, riset oleh Gries, Crowson, dan Cai (2011) menemukan bahwa pengetahuan bisa menjadi pedang bermata dua. Pengetahuan orang Amerika mengenai orang China justru malah mengarahkan mereka untuk semakin memegang sikap negatif terhadap orang China daripada berefek positif.

Kesimpulan

            Jadi bagaimanakah kontak bisa menjadi obat melawan prasangka? Untuk memahami ini kita perlu memahami dua hal. Pertama, seperti apakah kontak yang efektif itu? Ada empat cara dimana kontak bisa berefek positif: 1. Kedua kelompok harus berstatus setara, 2. Kedua kelompok harus melakukan kooperasi, 3. Kedua kelompok harus memiliki tujuan bersama, 4. Kedua kelompok harus mendapatkan dukungan dari institusi formal. Masing-masing cara ini mungkin bisa merevelasi kontak seperti apakah yang efektif itu. Meski demikian, meta-analisis telah menemukan bahwa ke-empat cara itu tidak selalu harus ada dalam konteks kontak. Tanpa adanya empat hal itu, efek kontak juga masih bisa terjadi.

Adapun efek kontak lebih dapat dijelaskan prosesnya lewat tiga mekanisme. Mekanisme pertama adalah munculnya empati akibat kontak. Empati terhadap OG membuat IG lebih bersikap positif terhadap kelompok lain. Mekanisme kedua adalah absennya kecemasan akibat interaksi. Tanpa adanya persepsi keterancaman, prasangka akhirnya bisa menurun. Mekanisme ketiga adalah pengetahuan tentang OG. Meski demikian, mekanisme ketiga ini dianggap lemah efeknya.

Daftar Pustaka:

Allport, G. (1954). The nature of prejudice. New York: Doubleday Anchor Books.

Gries, P. H., Crowson, H. M., & Cai, H. (2011). When Knowledge Is a Double-Edged Sword: Contact, Media Exposure, and American China Policy Preferences. Journal of Social Issues, 67(4): 787-805.

Pettigrew, T. F., & Tropp, L.R. (2006). A Meta-Analytic Test of Intergroup Contact Theory. Journal of Personality and Social Psychology, 90(5): 751-783.

Pettigrew, T. F., & Tropp, L. R. (2008). How does intergroup contact reduce prejudice? Meta-analytic tests of three mediators. European Journal of Social Psychology, 38(6), 922–934. http://doi.org/10.1002/ejsp.504

Stephan, W. G., & Stephan, C. W. (1985). Intergroup anxiety. Journal of Social Issues, 41, 157–175. doi:10.1111/j.1540-4560.1985.tb01134.x

Todd, A. R., Bodenhausen, G. V., Richeson, J. A., & Galinsky, A. D. (2011). Perspective taking combats automatic expressions of racial bias. Journal of Personality and Social Psychology, 100, 1027–1042.

Tropp, L. R. & Page-Gould, E. (2015). Contact between groups. Dalam Mikulincer, M., Shaver, P. R., Dovidio, J. F., & Simpson, J. A. APA handbook of personality and