Performa Kelompok: Dua Determinan

Tags

, , , , , ,

Mengapa kita bergabung dalam kelompok? Ada banyak alasan mengapa. Kita bergabung dalam kelompok pertemanan karena menyenangkan berkumpul bersama mereka. Kita bergabung dalam kelompok identitas tertentu karena kita merasa sebagai satu kesatuan dengan orang-orang itu. Namun kebanyakan dari kita bergabung dalam kelompok karena kita harus melakukan tugas bersama-sama. Ada banyak tugas yang tidak mungkin kita kerjakan jika kita sendirian. Faktanya, umat manusia hidup bergantung dengan sesamanya untuk mencapai tujuan setiap waktu. Sebagaimana semut atau lebah, kita adalah makhluk yang berevolusi untuk kerja sama (Haidt, 2012).

Kerjasama dengan skala besar paling banyak kita temui dalam organisasi dan industri. Setiap orang masuk ke dalam kelompok untuk menyelesaikan berbagai jenis performa. Kerjasama dan interdependensi dibutuhkan karena hasil akhir bergantung pada performa masing-masing orang dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil. Pada kelompok-kelompok kecil ini, faktor-faktor individual seringkali tidak dapat dilepaskan. Oleh karenanya, determinan psikologis menjadi penting demi menciptakan performa kelompok yang efektif. Adapun dua determinan atau aspek psikologis yang penting dalam pembahasan performa kelompok adalah motivasi individu untuk bergabung dalam kelompoknya dan koordinasi antar angota kelompok (Nijstad, 2013).

Motivasi Anggota Kelompok

Motivasi individu adalah faktor yang harus selalu ada dalam proses kerja kelompok. Tidak ada performa kelompok tanpa adanya motivasi dari anggota-anggota kelompok untuk berperforma. Bicara tentang motivasi, ada studi-studi eksemplar yang relevan dalam pembahasan performa kelompok. Pertama, seringkali performa justru meningkat saat seseorang bekerja tidak sendirian. Studi oleh Triplett menunjukkan bahwa performa individu lebih cepat saat bekerja berpasangan daripada bekerja sendirian (Triplett, 1988 dalam Nijstad, 2013). Ketika ada orang lain mengobservasi kerja kita, nampaknya performa kita akan terfasilitasi. Kedua, seringkali sulit untuk mengontrol performa kelompok dengan jumlah sangat besar. Semakin banyak orang, bukan berarti pekerjaan akan lebih baik. Studi oleh Ringelmann menunjukkan bahwa efektivitas performa menurun seiring meningkatnya group size. Efek ini disebut sebagai Ringelmann Effect (Ringelmann, 1913). Ketiga, distribusi kemampuan anggota dalam sebuah tim nampaknya punya peranan untuk menentukan apakah kerja kelompok akan efektif atau tidak. Studi oleh Kohler menemukan bahwa saat kemampuan anggota kelompok tidak terlalu setara, kelompok itu bekerja lebih efektif. Ini tidak terjadi ketika anggota kelompok kemampuannya sangat setara ataupun sangat tidak setara (Nijstad, 2012). Ketiga studi ini menjadi fondasi bagi temuan-temuan berikutnya. Pertanyaan pentingnya adalah: kapan orang akan terfasilitasi motivasinya untuk melakukan performa? Kapan motivasinya justru akan terhambat atau bahkan justru hilang sama sekali?

  • Teori tentang Fasilitasi Sosial dan Inhibisi Sosial

Beberapa teori mencoba untuk menjawab kapan orang akan terfasilitasi untuk berperforma dan kapan ia akan terinhibisi performa-nya. Teori dalam payung social facilitation and inhibition (SFI), misalnya, menginvestigasi bagaimana evaluasi oleh orang lain dapat mempengaruhi performa individu. Kerja kelompok seringkali tidak mungkin dipisahkan dari evaluasi antar sesama anggota kelompok. Terkait hal ini, studi oleh Zajonc (1968) menemukan bahwa kehadiran orang lain meningkatkan dorongan atau arousal yang membuat seseorang melakukan tugas/performa lebih baik. Sebagai contoh, saat orang lain memperhatikan kita sedang bekerja, kita akan berperforma lebih baik atau lebih cepat. Akan tetapi hal ini hanya terjadi ketika tugas cenderung mudah atau telah dikuasai. Tugas-tugas yang telah dilakukan sehari-hari dapat merangsang seseorang untuk berperforma lebih baik. Tetapi ketika tugas sulit atau dipersepsi sebagai asing, justru performa malah menurun.

Tetapi teori-teori lain tidak sepakat. Salah satu dari teori itu adalah distraction conflict theory oleh Baron (1986). Bukan sekadar kehadiran orang lain yang mempengaruhi performa melainkan distraksi dari orang lain yang mengganggu atensi si pekerja. Jadi, kehadiran orang lain selama tidak merangsang perhatian si pekerja tidak akan berefek kepada performa seseorang. Disini terjadi konflik atensi dimana seseorang harus mengalokasikan atensi untuk tugas yang dilakukannya sambil merasa di-evaluasi performa-nya. Mencurahkan atensi untuk orang lain secara langsung membuat atensi untuk bekerja lebih baik semakin tinggi. Namun demikian temuan terbaru menunjukkan bahwa kapasitas atensi seseorang dan bukan konflik atensi yang berefek pada performa. Semakin baik kapasitas seseorang dalam mengalokasikan atensi-nya untuk berbagai tugas, maka performa akan semakin baik. Dengan kata lain, performa akan meningkat ketika tugas yang dilakukan hanya membutuhkan atensi yang tidak signifikan. Ini biasanya terjadi ketika tugas-tugas relatif mudah. Sebaliknya, ketika tugas sulit maka atensi yang dibutuhkan sangat besar. Ini membuat seseorang tidak mampu mengalokasikan atensi-nya ke berbagai tugas dengan baik.

Akan tetapi ada bantahan lagi dari teori lainnya. Menurut teori mere effort (Harkins, 2006), bukan hanya sekedar kehadiran orang lain ataupun atensi yang mengarahkan pada performa tinggi. Faktor yang berperan adalah ekspektasi seseorang terhadap evaluasi dari orang lain. Semakin seseorang mempersepsikan bahwa orang lain mengevaluasi performa-nya, maka pekerjaan-nya akan semakin terpengaruh. Lagi-lagi, ini terjadi hanya ketika tugas relatif mudah dan justru tidak terjadi ketika tugas relatif sulit. Nampaknya, ketiga teori saling berbantahan. Padahal, ada kesempatan untuk mengintegrasi ketiga teori itu (Nijstad, 2013). Ketiga teori dapat diintegrasikan. Kehadiran orang lain (teori drive Zajonc) menarik atensi (teori distraction conflict) dan membuat seseorang berekspektasi bahwa performa mereka sedang dievaluasi (teori mere effort). Ini dapat meningkatkan performa.

  • Teori Tentang Pengaruh Peran Anggota Kelompok

Sebagaimana ditemukan dalam eksperimen Ringelmann (1913), semakin besar ukuran kelompok, semakin tidak efektif performa individu-individu dalam kelompok. Tapi apa yang menyebabkan performa menjadi menurun ketika jumlah anggota kelompok sangat besar? Barangkali saat evaluasi tidak atau sulit dilakukan, individu dalam kelompok cenderung tidak melakukan performa secara maksimal. Ketika evaluasi tidak atau sulit dilakukan, individu cenderung melakukan social loafing dan free riding (Nijstad, 2013) dimana individu tidak melakukan performa yang diharapkan dalam sebuah kelompok. Social loafing terjadi ketika kontribusi individu tidak dapat dievaluasi atau dimonitor (Williams, Harkins, Latane, 1981). Sementara itu free riding terjadi ketika individu merasa bahwa performa miliknya tidak penting karena sudah dikompensasi anggota kelompok lain (Kerr & Bruun, 1983). Dengan kata lain, saat kelompok memiliki anggota yang banyak, ada kemungkinan individu-individu tidak berperforma maksimal karena mereka merasa tidak dimonitor dan merasa perannya tidak penting karena sudah ada orang lain yang mengerjakan.

Riset-riset tentang inaktivitas individu dalam kelompok cukup berkembang. Terkait free riding, ditemukan bahwa ada perbedaan pola yang terjadi berbeda antara orang-orang dengan kemampuan tinggi dengan orang-orang berkemampuan rendah. Untuk orang-orang dengan kemampuan rendah, free riding dilakukan karena ia merasa bahwa performa-nya nanti juga akan disalahkan/diperbaiki oleh kelompok. Jadi muncul persepsi bahwa mereka tidak perlu bekerja keras. Sementara itu pada orang-orang dengan kemampuan tinggi, free riding dilakukan karena ia merasa bahwa performa-nya tidak akan dihargai akibat yang lebih dihargai adalah mereka dengan kemampuan rendah. Sebagai contoh, ada pengusaha-pengusaha yang lebih menghargai orang-orang atau bawahan yang mau tunduk dan menurut pada mereka walaupun mungkin mereka tidak akan membawa perusahaan kemana-mana. Dibandingkan menghargai orang-orang yang vokal dan memiliki opini atau pendapat bagus, pengusaha ini lebih menghargai kepatuhan. Orang-orang yang vokal itu mungkin tidak akan berperforma atau malas berperforma karena kemampuan mereka tidak dihargai.

Disamping free riding atau social loafing, motivasi dapat melemah atau menghilang ketika kemampuan dari anggota-anggota kelompok terlalu setara atau malah sangat tidak setara. Tetapi ketika kemampuan anggota-anggota kelompok relatif tidak terlalu setara, kelompok itu bekerja lebih efektif. Fenomena ini disebut sebagai efek Kohler (dalam Nijstad, 2013). Mengapa efek Kohler bisa terjadi? Ada dua mediator yang disinyalir menjadi faktor yang mampu menjelaskan mekanisme terjadinya efek tersebut. Mediator pertama adalah evaluasi anggota yang lebih kuat (lebih baik performa-nya) kepada anggota yang lebih lemah. Anggota yang lebih kuat dapat menilai bahwa mereka memiliki kualitas lebih baik dimana ini menstimulasi terjadinya kompetisi antar anggota kelompok. Sementara itu mediator kedua adalah anggota yang lebih lemah merasa bahwa mereka harus melakukan performa dengan baik. Jika tidak, maka dirinya-lah yang akan disalahkan. Kedua mediator itu telah terbukti dalam meta-analisis yang dilakukan oleh Weber dan Hertel (2007).

Koordinasi dalam Kelompok

Motivasi anggota kelompok itu memang penting, tapi sebetulnya tidak cukup. Kurangnya koordinasi dan interdependensi juga dapat menurunkan performa. Faktanya, tim sangat identik dengan interdependensi dan koordinasi. Ini ditandakan dengan banyaknya definisi-definisi tim yang menekankan pada adanya interdependensi (Nijstad, 2013). Ada dua jenis interdependensi yaitu interdependensi tugas dan interdependensi hasil. Interdependensi tugas didefinisikan sebagai seberapa besar masing-masing anggota membutuhkan sesamanya dalam menyelesaikan tugas. Sementara itu interdependensi hasil adalah seberapa besar masing-masing anggota membutuhkan sesamanya untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Keduanya tidak harus selalu ada dalam sebuah tim, namun kalau dua-duanya ada, kepuasan kerja dan performa lebih tinggi.

  • Memori Transaktif, Model Mental Kelompok, dan Performa

Apa yang sebetulnya terjadi saat interdependensi berlangsung? Dua tradisi riset terpisah mencoba untuk menjawab hal ini. Tradisi pertama merupakan riset-riset dengan variabel sistem memori transaktif yang didefinisikan sebagai informasi dan kemampuan yang dimiliki oleh anggota-anggota kelompok dalam benak setiap anggota (dalam Nijstad, 2013). Sebagai contoh, seseorang yang memiliki memori transaktif kuat mengetahui apa saja peranan dan ekspektasi mengenai peranan dari setiap anggota kelompok. Sehingga, dengan adanya memori transaktif sangat menguntungkan performa kelompok. Misalnya saja dalam menentukan the right man untuk the right task. Jika semua orang dalam kelompok tahu bahwa si X memiliki keahlian desain visual, maka X akan menjadi orang yang kemungkinan besar tepat untuk diberikan tugas men-desain poster atau baliho. Jelas bahwa memori transaktif berkembang seiring frekuensi, intensitas, dan durasi interaksi antara anggota-anggota kelompok. Implikasinya, ketika ada anggota baru atau hilangnya anggota lama, peranan memori transaktif terhadap performa kelompok menjadi terganggu.

Sementara itu tradisi kedua merupakan riset-riset dengan variabel model mental kelompok. Adapun model mental kelompok didefinisikan sebagai mekanisme dimana manusia bisa membentuk, menjelaskan, dan memprediksikan sistem-sistem yang berlaku (Rouse & Morris, 1986). Individu dengan mental model kelompok yang baik dapat memahami mekanisme kerja kelompok dan semua elemen-elemen di dalamnya. Ia akan mengetahui elemen mana yang akan mendukung, mempengaruhi atau merusak performa kelompok. Begitu pentingnya model mental ini sehingga tanpa komunikasi sekalipun, sebuah tim dapat bekerja dengan baik jika seseorang memiliki model mental kelompok (Cannon-Bowers & Salas, 1990 dalam Nijstad, 2013). Sebagai contoh, seorang di bagian HRD perusahaan mengetahui apa saja yang harus dilakukan oleh karyawan di bagian Keuangan perusahaan. Mereka tidak perlu saling berkomunikasi untuk mengetahui bahwa semua karyawan perusahaan harus digaji setiap bulan dimana uang dikeluarkan oleh karyawan di bagian keuangan sementara pihak yang memberikan gaji adalah karyawan HRD. Model mental kelompok yang baik biasanya dimiliki oleh anggota dengan kemampuan mental atau kognitif yang kuat. Namun demikian, tidak selamanya model mental bergantung pada kemampuan mental individual. Ia bisa dilatih. Salah satu pelatihan yang bisa diberikan kelompok kepada individu-individu di dalamnya adalah pemberlakuan cross-training (Nijstad, 2013). Dalam pelatihan macam ini, seseorang dari divisi A dapat mengetahui pekerjaan orang dari divisi B apabila mereka diberi kesempatan bekerja selama beberapa waktu di divisi B begitu pula sebaliknya.

Walaupun nampaknya bicara hal yang sama atau mirip, riset memori transaktif dan model mental saling terpisah satu sama lain sehingga tidak koheren. Namun demikian, ada kemungkinan keduanya bisa diintegrasikan dalam sebuah payung teoretis. Untuk itu diperlukan sebuah perbandingan tentang fitur-fitur dari kedua tradisi riset tersebut. Perbandingan itu (Nijstad, 2013) dapat dilihat dalam tabel 1.

Tabel 1. Tabel perbandingan tradisi riset memori transaktif dan mental model kelompok

Memori Transaktif Mental Model
Menekankan pada: Keunikan peran sekaligus kesamaan Kesamaan peran
Mampu menjelaskan: Peranan dalam situasi informal Peranan dalam situasi formal
Kekurangan: Tidak menjelaskan bagaimana jika ada anggota baru Tidak menjelaskan bagaimana jika ada anggota baru

 

Kesimpulan dan Eksplorasi Faktor Lain

            Agar performa kelompok maksimal, faktor necessary-nya adalah motivasi individu-individu di dalamnya. Motivasi ini didukung dengan memeriksa bagaimana seseorang bisa terfasilitasi performa-nya dan bagaimana dinamika peranan seseorang dalam kelompoknya. Dengan melihat faktor-faktor itu, dapat diketahui bagaimana seseorang kehilangan motivasi mereka dan bagaimana seseorang melakukan performa-nya secara lebih baik. Namun ini tidak cukup. Diperlukan juga adanya interdependensi antar anggota kelompok. Interdependensi ini dapat tercapai ketika individu-individu memiliki memori transaktif dan model mental kelompok.

Disamping faktor-faktor yang telah disebutkan, ada cara lain untuk memaksimlakan performa. Seringkali, cara paling efektif untuk meningkatkan motivasi melakukan performa adalah dengan pemberian insentif kepada masing-masing individu anggota kelompok. Namun bukan sembarang insentif. Ada dua jenis insentif yang bisa diberikan tergantung dari jenis performa yang diharapkan. Performa yang membutuhkan interdependensi yang tinggi dalam tim sebaiknya diberikan secara kelompok. Sebagai contoh, proyek pekerjaan dilakukan kelompok dengan hadiah uang tunai oleh klien. Dengan pemberian insentif secara kelompok, individu merasa bahwa pekerjaannya terikat dengan pekerjaan anggota-anggota lainnya dalam tim. Sementara itu performa yang membutuhkan kompetisi tinggi dalam tim sebaiknya diberikan secara individual. Sebagai contoh, tim membungkus produk perlu diberikan insentif individual ssuai jumlah produk yang dibungkus. Semakin banyak produk yang dibungkus, semakin besar insentif. Ini akan menstimulasi kompetisi dalam tim.

 

Daftar Pustaka:

Baron, R. S. (1986). Distraction-conflict theory: Progress and problems. Advances in experimental social psychology19, 1-40.

Haidt, J. (2012). The righteous mind: Why good people are divided by politics and religion. New York: Pantheon Books.

Harkins, S. G. (2006). Mere effort as the mediator of the evaluation-performance relationship. Journal of personality and social psychology91(3), 436.

Kerr, N. L., & Bruun, S. E. (1983). Dispensability of member effort and group motivation losses: Free-rider effects. Journal of Personality and social Psychology44(1), 78.

Nijstad, B.A. (2013). Performance. Dalam Levine, J.M. Group Processes. Psychology Press.

Ringelmann, M. (1913). Research on animate sources of power: The work of man. Annales de l’Instuit National Agronomique12, 1-40.

Rouse, W. B., & Morris, N. M. (1986). On looking into the black box: Prospects and limits in the search for mental models. Psychological bulletin100(3), 349.

Weber, B., & Hertel, G. (2007). Motivation gains of inferior group members: a meta-analytical review. Journal of personality and social psychology93(6), 973.

Williams, K., Harkins, S. G., & Latané, B. (1981). Identifiability as a deterrant to social loafing: Two cheering experiments. Journal of Personality and Social Psychology40(2), 303.

Zajonc, R. B. (1968). Attitudinal effects of mere exposure. Journal of personality and social psychology9(2p2), 1.

Dilema Sosial: Bagian Tak Terelakkan dalam Permainan Kehidupan

Tags

, , , , ,

Bayangkan sebuah padang rumput yang terbuka untuk semua orang. Di desa sekitar padang rumput itu hiduplah para peternak dengan sapi-sapi milik mereka. Hewan ternak itu harus diberi makan rerumputan yang hijau di padang tersebut. Masalahnya, setiap peternak punya keinginan untuk memberi makan sapi-sapi  mereka di padang rumput itu. Jika ada satu orang peternak yang memberi makan sapi-sapi secara berlebih, maka padang rumput itu akan mati dan hancur. Perlu waktu lama untuk menumbuhkan rumput-rumput itu kembali. Untuk menghindari itu, suatu kerjasama dan interdependensi dibutuhkan antar peternak (Diambil dari Hardin, 2009).

Dalam situasi seperti itu jika kamu adalah peternak, apa yang akan kamu lakukan? Di satu sisi, kamu bisa memaksimalkan keuntungan dirimu jika membiarkan sapi-sapi memakan banyak rumput. Tapi kamu tahu bahwa orang-orang lain akan mengecam, memberikan sanksi, dan memusuhi kamu jika melakukannya. Dalam kejadian seperti inilah dilema sosial terjadi. Kamu harus memutuskan mana yang harus dilakukan: apakah mementingkan kepentingan sendiri atau kepentingan kelompokmu? Nampaknya, memilih menguntungkan dirimu sendiri bukanlah tindakan rasional pada kasus ini. Dalam dilema sosial, tindakan mementingkan diri sendiri selalu merupakan tindakan yang lebih merugikan daripada tindakan bekerjasama (Kerr, 2010).

Disamping kasus mengenai padang rumput diatas, ada beberapa peristiwa lainnya yang umum digunakan dalam studi-studi mengenai dilema sosial. Salah satu yang paling terkenal adalah kasus dilema tahanan penjara (Pruitt & Kimmel, 1977) dimana seseorang harus bekerjasama dengan tahanan lain agar masa hukuman mereka tidak lebih berat. Kasus lainnya adalah dilema tentang fasilitas umum dimana masing-masing memutuskan seberapa besar mereka akan memberikan sumberdaya yang mereka punya (Abele, Stasser, & Chartier, 2010).

Studi dilema sosial dan kaitannya dengan teori permainan telah mewarnai ranah psikologi, matematika, dan biologi selama beberapa dekade (Kerr, 2010). Namun demikian, banyak diantaranya terlalu fokus pada situasi eksperimental yang terlalu steril. Pada kenyataannya, dilema sosial yang kita temui sehari-hari tidaklah sesederhana kasus-kasus yang sudah dijabarkan sebelumnya. Ada banyak sekali variabel-variabel lain yang berpotensi memoderasi keputusan kita untuk bekerjasama ataukah untuk berkompetisi. Tulisan ini mencoba membahas mengenai moderasi-moderasi yang ada dalam kasus dilema sosial.

Efek Moderasi

Salah satu kondisi yang terjadi dalam dunia nyata adalah tidak adanya kepastian mengenai orang-orang dan lingkungan di sekitar kita. Tidak seperti kondisi laboratorium dimana segala sesuatunya dibuat konstan atau dikontrol, banyak variabel dalam dunia nyata tidak bisa kita perkirakan secara pasti. Sehingga saat dilema sosial terjadi di kehidupan nyata, keputusan mungkin tidak akan sama dengan seperti saat menghadapi dilema di laboratorium. Heckathorn (dalam Kerr, 2010) menyebut moderasi dari ketidakpastian-ketidakpastian itu sebagai fuzzy social dilemma. Ada beberapa bentuk dilema sosial semacam ini, diantaranya: 1. Ketidakpastian lingkungan, 2. Ketidakpastian sosial, 3. Ketidakpastian hasil, dan 4. Gangguan atau noise.

Ketidakpastian di dalam lingkungan adalah kondisi dimana jumlah sumberdaya yang bisa diperoleh itu tidak absolut, melainkan bervariasi. Jika jumlah sumberdaya itu absolut, maka pembagian dan kerjasama antar anggota kelompok akan menjadi lebih mudah. Tetapi jika jumlah sumberdaya bervariasi, maka sulit untuk mendistribusikannya secara merata pada setiap anggota kelompok. Maka dari itu, pada kondisi dimana jumlah sumberdaya itu tidak pasti, individu akan cenderung lebih kompetitif daripada kooperatif (Kerr, 2010). Tidak hanya itu, ketidakpastian lingkungan juga memoderasi berbagai efek dalam dilema sosial. Sebagai contoh, individu dalam kondisi dimana anggota kelompoknya tidak yakin akan bekerja sama (ketidakpastian sosial yang tinggi), muncul mekanisme untuk memastikan terjadinya kerjasama. Tetapi kerjasama ini tidak akan terjadi apabila ketidakpastian di lingkungan itu tinggi (Wit & Wilke, 1998).

Contoh lainnya adalah moderasi ketidakpastian lingkungan dalam efek absennya komunikasi antar anggota terhadap keputusan yang diambil dalam suatu dilema sosial. Jika antar anggota kelompok dapat berkomunikasi satu sama lain, keputusan yang diambil akan lebih mudah walaupun ada ketidakpastian lingkungan. Namun bagaimana saat anggota kelompok tidak mampu berkomunikasi satu sama lain? Dalam kondisi seperti ini, muncul sebuah aturan yang dimiliki bersama (shared rules). Dalam kondisi dimana terdapat kepastian lingkungan, shared rule-nya adalah setiap anggota kelompok mendapatkan porsi yang sama/setara. Sementara dalam kondisi dimana ada ketidakpastian lingkungan, shared rule menjadi lebih sulit terbentuk karena tidak jelas porsi yang diperoleh setiap orang (de Kwaadsteniet, Van Dijk, dkk., 2006).

Ketidakpastian lingkungan juga menjadi moderasi bagi efek disposisi terhadap keputusan dalam dilema sosial. Ada orang-orang yang memiliki disposisi untuk bekerjasama (prososial) dan ada orang-orang yang memiliki disposisi untuk mementingkan diri sendiri (proself). Orang-orang dengan disposisi untuk bekerjasama yang lebih tinggi akan melakukan kooperasi dalam dilema sosial. Kompetisi lebih dilakukan oleh mereka yang punya disposisi mementingkan diri sendiri. Tapi ketika ketidakpastian di lingkungan rendah, disposisi tidak terlalu berpengaruh, shared rules lebih berpengaruh. Orang-orang tetap akan membagi sumberdaya berdasarkan prinsip kesetaraan tidak peduli apapun disposisi mereka. Namun demikian lain halnya saat ketidakpastian di lingkungan teramat tinggi. Dalam kondisi demikian, disposisi individu menentukan seberapa besar masing-masing anggota memperoleh besaran porsi/bagiannya (de Kwaadnesteit, Van Dijk, et al., 2006).

Sementara itu ketidakpastian secara sosial merupakan kondisi dimana individu tidak mengetahui secara pasti apakah orang-orang lain dalam kelompok juga ingin bekerjasama atau tidak. Saat ini terjadi, individu cenderung tidak ingin berkontribusi untuk fasilitas umum atau publik (Sabater-Grande & Georgantzis, 2002). Sebagai contoh, apakah kamu bersedia menyumbangkan uang untuk pajak apabila tidak ada orang-orang lain yang mau membayar pajak? Kemungkinan tidak. Ketidakpastian ketiga yang dibahas adalah ketidakpastian mengenai hasil yang diperoleh. Semakin tidak pasti keuntungan yang diperoleh saat kita berkontribusi untuk publik, semakin tidak ingin seseorang itu berkontribusi (McCarter et al., 2010). Sebagai contoh, jika kita diwajibkan membayar pajak tetapi fasilitas hanya boleh digunakan pejabat saja, kita mungkin tidak akan membayar pajak (kalaupun bayar mungkin terpaksa). Adapun mediator dalam efek ini adalah loss aversion atau kecenderungan untuk takut kehilangan suatu sumberdaya yang dimiliki.

Ketidakpastian lainnya adalah gangguan yang dihadapi dalam sebuah peristiwa. Ambil contoh kecelakaan, pesawat yang penerbangannya ditunda, kemacetan, bencana alam, dan lain-lain. Semakin destruktif gangguan itu, maka kerjasama semakin sulit tercipta (Kerr, 2010). Tetapi gangguan-gangguan semacam ini tidak akan terlalu penting apabila ada kesempatan berkomunikasi antar anggota kelompok. Sebagai contoh, Alfa dan Beta ingin bekerjasama memperoleh nilai bagus di kelas Proses Kelompok. Mereka telah menyusun rangkaian tugas presentasi dan makalah. Saat presentasi akan dimulai, ternyata Beta mengalami kecelakaan mobil sehingga ia terlambat datang ke kelas. Jika Beta berkomunikasi dengan Alfa dan menyelesaikan masalah ini bersama, maka gangguan tidak akan terlalu berdampak destruktif. Disamping itu, jika empati dan disposisi prososial Alfa juga tinggi, maka ia tidak akan terlalu mempermasalahkan absennya Beta dari presentasi di kelas.

Studi dilema sosial juga perlu mempertimbangkan efek moderasi dari sistem sanksi. Keputusan untuk bekerjasama dapat lebih dipastikan saat ada sanksi bagi orang-orang yang tidak bekerjasama (defektor). Menurut Kerr (2010), yang bisa memberikan sanksi-sanksi itu diantaranya pihak eksternal, anggota kelompok lain, dan pimpinan kelompok. Sanksi bekerja dengan dua cara (Kerr, 2010). Pertama, sanksi membuat orang-orang yang serakah atau memiliki kepentingan pribadi tidak mengeksploitasi kelompok Sehingga, kerjasama berjalan lebih lancar. Kedua, sanksi membuat orang-orang yang takut dieksploitasi oleh anggota kelompok lain lebih merasa aman. Tetapi nampaknya sanksi juga bekerja secara irasional. Fehr dan Fischbacher (2004) menemukan bahwa menghukum anggota kelompok lain adalah pilihan yang disukai, walaupun tidak ada keuntungannya bagi si penghukum (penghukum bukan anggota kelompok).

Sistem sanksi membuat anggota kelompok memahami perilaku apa yang diinginkan/tidak diinginkan dari mereka. Sehingga, penggunaan sanksi kelihatan berdampak positif. Tetapi Kerr (2010) mengingatkan bahwa sanksi juga bisa tidak efektif bahkan malah menghambat hasil yang diharapkan. Ada tiga kondisi dimana sistem sanksi tidak efektif. Pertama, faktor atau insentif eksternal mengurangi atribusi internal. Konsekuensinya, motivasi bekerjasama pun absen jika tidak ada sanksi eksternal (Deci & Ryan, 1985 dalam Kerr, 2010). Sebagai contoh, orang yang selalu membayar pajak karena sanksi akan berpikir bahwa sanksi itu yang membuatnya menjalankan pembayaran pajak. Ia tidak akan lagi mau membayar pajak jika sudah tidak ada sanksi. Kondisi kedua adalah kemunculan persepsi bahwa anggota-anggota kelompok lain tidak punya motivasi internal untuk bekerja sama. Ini dapat mengurangi rasa saling percaya antar anggota kelompok (Chen et al., 2009). Bayangkan kamu harus bekerja bersama dengan orang-orang yang kelihatannya tidak menikmati pekerjaan mereka. Selain itu sistem sanksi juga tidak efektif ketika anggota-anggota kelompok merasa bahwa sanksi itu berlaku sebagai kompensasi perbuatan buruk kepada si pemberi sanksi (Gneezy & Rustichini, 2000).

Ada beberapa alasan mengapa orang menghindari sanksi (Kerr, 2010). Pertama, jika orang terkena sanksi maka reputasinya dipertaruhkan. Merujuk pada kasus peternak diatas, orang yang tidak bekerjasama mungkin tidak akan diperbolehkan lagi untuk menjadi peternak di desa itu atau bahkan diusir dari desa itu. Alasan kedua adalah demi menjaga hubungan positif antar anggota kelompok. Alasan ketiga yang merupakan alasan lebih dalam adalah karena menghindari sanksi sama saja dengan menghindari bahaya dalam terminologi evolusi. Bahaya yang dihindari akan memastikan keberlangsungan hidup seseorang.

Sebagaimana dikatakan sebelumnya, dilema sosial kenyataannya tidak seperti dalam situasi forced play (seseorang dipaksa berinteraksi dengan orang lain atau anggota-anggota lain dalam lab serta tidak punya kebebasan untuk memilih lebih luas). Lebih sering ditemui adalah kondisi selective play dimana individu-individu memiliki kesempatan untuk meninggalkan kelompok atau membentuk kelompok baru (Hayashi & Yamagishi, 1998 dalam Kerr, 2010). Saat ada pilihan untuk keluar dari kelompok, ternyata kerjasama lebih bisa terbangun. Ini dikarenakan partisipan lebih mungkin memilih kelompok yang mereka sukai dan meninggalkan kelompok yang tidak disukai. Selain itu, jika ada pilihan untuk menyesuaikan dengan anggota kelompok lain, kooperasi lebih bisa diprediksi pula. Semisal saat seseorang melihat anggota kelompok lain cenderung kooperatif, maka ia bisa memilih untuk lebih berhubungan dengan orang itu. Bentuk lain dari pilihan yang lebih bebas adalah adanya kesempatan untuk berinteraksi dengan penuh makna. Saat individu lebih bisa saling menatap mata, saling menyentuh satu sama lain, chatting dalam suatu forum, dan bersenandung bersama, maka keputusan untuk bekerjasama akan semakin tinggi pula.

Adapun bentuk selective play lainnya adalah kesempatan untuk memilih rekan dalam kelompok (Kerr, 2010). Umumnya, rekan yang dipilih adalah mereka yang bisa dipercaya. Bagaimana menentukan apakah orang lain itu bisa dipercaya atau tidak? Nampaknya, kemampuan itu sudah terberi pada kita. Sebagai contoh, partisipan dalam studi Verplaetse dkk. pada 2007 silam melihat foto-foto wajah dan menentukan apakah orang itu kooperatif atau defektif dalam dilema tahanan. Ternyata, partisipan mampu mengklasifikasi secara akurat. Tetapi akurasi ini lebih tinggi hanya pada foto wajah orang-orang pada saat memutuskan. Selain itu, orang yang dipercaya juga biasanya memiliki senyuman tulus atau istilahnya senyuman Duchene. Orang dengan senyuman tulus lebih mungkin diajak bekerjasama daripada orang dengan senyuman tidak tulus. Terakhir, kemenarikan fisik rekan nampaknya juga berpengaruh untuk keputusan kerjasama. Orang-orang yang lebih atraktif cenderung lebih disukai untuk bekerjasama. Hasil ini berlaku meskipun jenis kelamin rekan itu sama ataupun berbeda. Ironisnya, orang-orang atraktif cenderung kurang kooperatif dan cenderung tidak mau bekerjasama.

Kesimpulan

Dilema sosial merupakan kondisi dimana individu memutuskan akan bekerjasama atau mementingkan diri sendiri dalam suatu kelompok. Riset telah menunjukkan bahwa banyak sekali moderasi dalam keputusan tersebut. Diantara moderasi-moderasi itu adalah macam-macam bentuk ketidakpastian, sistem sanksi, banyaknya pilihan atau opsi yang diberikan, serta kesempatan memilih rekan-rekan kelompok. Ini merupakan sedikit dari banyaknya ketidakpastian-ketidakpastian lain dalam studi mengenai dilema sosial.

Diambil dari tugas kuliah Proses Kelompok Lanjut (Advanced Group Processes)

Referensi:

Abele, S., Stasser, G., & Chartier, C. (2010). Conflict and coordination in the provision of public goods: A conceptual analysis of continuous and step-level games. Personality and Social Psychology Review14(4), 385-401.

Chen, X-P., Pillutla, M., & Yao, X. (2009). Unintended consequences of cooperation inducing and maintaining mechanisms in public goods dilemmas: Sanctions and moral appeals. Group Processes & Intergroup Relations. 12(2), 241-255.

de Kwaadsteniet, E. W., van Dijk, E., Wit, A., & de Cremer, D. (2006). Social dilemmas as strong versus weak situations: Social value orientations and tacit coordination under resource size uncertainty. Journal of Experimental Social Psychology42(4), 509-516.

Fehr, E., & Fischbacher, U. (2004). Third-party punishment and social norms.Evolution and human behavior25(2), 63-87.

Gneezy, U., & Rustichini, A. (2000). A fine is a price. Journal of Legal Studies, 29(1), 1-17.

Hardin, G. (2009). The Tragedy of the Commons∗. Journal of Natural Resources Policy Research1(3), 243-253.

Kerr, N. L. (2010). Social dilemmas.

McCarter, M. W., Rockmann, K. W., & Northcraft, G. B. (2010). Is it even worth it? The effect of loss prospects in the outcome distribution of a public goods dilemma. Organizational Behavior and Human Decision Processes,111(1), 1-12.

Pruitt, D. G., & Kimmel, M. J. (1977). Twenty years of experimental gaming: Critique, synthesis, and suggestions for the future. Annual Review of Psychology, 28, 363-392.

Sabater-Grande, G., & Georgantzis, N. (2002). Accounting for risk aversion in repeated prisoners’ dilemma games: An experimental test. Journal of economic behavior & organization48(1), 37-50.

Wit, A., & Wilke, H. (1998). Public good provision under environmental social uncertainty. European Journal of Social Psychology.

Survei Tradisi Masyarakat Indonesia

Hai everyone!! I am currently conducting a survey and I am going to need you all to participate. You, yes, you! Whoever you are living in Indonesia!! :)

 

[Survei berhadiah]

Seperti apakah sebetulnya tradisi masyarakat Indonesia?

Bagaimana tradisi itu membentuk perilaku kita?

Berpartisipasilah dalam survei yang bertujuan memahami rakyat Indonesia lebih dalam. Bagi yang ingin mengikuti survei nya silahkan klik tautan ini:
https://goo.gl/forms/SAqt59fGmTzXqGGq2

Menangkan undian hadiah berupa:
2 buah power bank untuk 2 orang pemenang
8 pulsa senilai Rp. 50.000 untuk 8 pemenang lainnya.

Jika ada pertanyaan, silahkan hubungi Joe di joehudijana@gmail.com.

Salam,
Tim peneliti untuk disertasi
Fakultas Psikologi UI