Tags

, , , , ,

Essay yang satu ini saya kutip dari tugas ujian akhir semester saya untuk mata kuliah Logika dan Penulisan Ilmiah. Sebenernya saya kurang gitu suka sama essay ini (karena agak terburu-buru ngerjainnya). Tapi biarpun gitu, informasi yang ada di tugas ini saya pikir perlu kita semua ketahui. Makanya, essay ini saya post.

Program Televisi: Menghibur, Memberi Informasi, atau Membahayakan?

Pagi hari, sebuah keluarga bersiap-siap untuk melakukan aktivitasnya masing-masing. Sang ayah akan segera berangkat ke kantornya sementara anak-anaknya menunggu jemputan sekolahnya datang. Ketika sarapan dimulai, sang ayah menyalakan televisi untuk menonton berita harian. Bersama sang kepala keluarga, juga ikut sarapan kedua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Begitu televisi itu dinyalakan, bukannya berita pagi yang muncul, tetapi justru malah tayangan infotainment yang menampilkan gossip-gossip seputar artis lokal. Yang jadi berita saat itu adalah artis dan pejabat yang terlibat dalam skandal video mesum. Karena skandal itu begitu menghebohkan, sang kepala keluarga tidak menganti saluran televisi yang ditontonnya walaupun anak-anaknya juga menonton acara itu. Pada siang harinya ketika anak-anak sudah pulang ke rumah, mereka bergabung dengan ibunya untuk menonton televisi. Kali ini, acara yang ditonton adalah siaran home shopping. Karena sang ibu tertarik, maka iapun langsung membelinya dengan menelepon ke alamat yang dicantumkan. Malam hari, kembali keluarga itu menonton acara televisi. Kali ini, acara televisi yang ditonton mereka adalah drama sinema elektronik yang menampilkan artis-artis yang tampan dan cantik. Cerita yang dangkal dan dapat dengan mudah ditebak serta kelicikan-kelicikan karakternya menghiasi acara itu.

Perkenalkan: program televisi; dimana gossip-gossip menghiasinya, persaingan-persaingan antar produk yang tidak etis di sela-sela acaranya, kekerasan dan kelicikan mendominasinya, sampai sifat-sifat konsumeristis yang tumbuh akibatnya. Menurut Dr. Aric Sigman dalam bukunya yang berjudul “Remotely Controlled: How television is damaging our lives – and what we can do about it”, tayangan-tayangan di televisi saat ini mungkin akan membuat kaget penonton dari generasi sebelumnya. Tidak hanya konten-konten yang terdapat di dalam televisi saja, menurutnya banyak sekali unsur-unsur lain di dalam televisi yang bisa berakibat buruk. Hal ini tidak hanya berlaku di negara-negara barat saja, tapi nampaknya juga berlaku di Indonesia.

Banyak saya lihat program-program televisi khususnya di Indonesia yang menayangkan hal-hal yang kurang baik bagi kita. Pada pagi hari, kita disuguhkan dengan acara-acara infotainment yang membongkar kehidupan pribadi orang lain. Siang hari, kita disuguhkan dengan siaran-siaran konsumeristis dimana promosi-promosi makanan, barang kebutuhan rumah tangga, barang-barang mewah, sampai properti dilakukan. Sore harinya, kembali infotainment disuguhkan. Selain infotainment, kita akan melihat beberapa acara reality show yang menampilkan aib orang lain dengan bebas. Pada malam hari, sinema-sinema drama yang kerap disebut dengan sinetron menghiasi layar kaca. Selalu dan selalu, mereka yang menjadi tokoh utama nampaknya memiliki karakter yang sabar, terlalu baik hati, cengeng dan tolol. Mereka selalu ditindas oleh tokoh antagonis yang biasanya memiliki karakter pencemburu, terlalu licik, pengecut tetapi pintar. Bagaikan hitam dan putih, itulah gambaran karakter-karakter di sinetron. Selain itu, cerita yang disajikan juga nampak sangat dangkal dan memiliki pola dan alur yang itu-itu saja. Tidak hanya acara-acara itu, nampak juga iklan-iklan yang menampilkan persaingan-persaingan tidak sehat bermunculan di sela-sela acara. Saya rasa inilah gambaran mengenai program-program televisi di Indonesia. Dan sayangnya, cukup banyak dampak-dampak buruk yang dihasilkan dari program-program seperti ini. (Sigman, 2005)

Televisi memang alat yang bisa menghibur kita. Dengan menonton siaran televisi, kita merasa terhibur dan senang terlepas dari waktu yang kita gunakan untuk menonton televisi. Dengan televisi, banyak informasi-informasi yang kita dapatkan. Namun nyatanya, televisi ternyata berdampak buruk pada kebahagiaan dan kesenangan kita bahkan pada kesehatan mental kita. Ya, televisi bisa menyebabkan depresi. (Sigman, 2005) Coba kita lihat betapa seringnya ditampilkan wajah-wajah tampan rupawan dan cantik jelita di televisi dengan kekayaan melimpah dan gaya hidup yang menarik. Mereka nampaknya tidak memiliki kekurangan apapun seperti yang dimiliki oleh kita. Atau seberapa seringnya kita melihat betapa bagusnya negara lain dibandingkan dengan negara kita sendiri. Di negara lain, semua hidup dengan berkecukupan, memeroleh berbagai fasilitas yang baik, bahkan tidak perlu bersusah-susah untuk mengenyam pendidikan. Hal-hal semacam ini dapat memengaruhi pemikiran kita. Kita cenderung merasa bahwa kita hidup dalam kekurangan dan kita harus mendapatkan sesuatu yang ideal seperti yang ditayangkan di televisi. Sigman dalam bukunya juga menjelaskan televisi dalam hal ini dapat mendorong self-fulfillment. Kita akan terfokus pada keinginan kita sendiri dan memiliki kecenderungan untuk menjadi individualis. Apabila ini berlanjut, maka bisa membahayakan hubungan sosial mereka. (Sigman, 2005)

Lalu bagaimana bisa televisi menyebabkan depresi? Pertama, melalui televisi kita akan terlatih untuk tidak bereaksi atau tidak sensitif terhadap tragedi. Hal ini menyebabkan depresi karena rasa putus asa yang dirasakan oleh penonton. Dr Erik Peper (dalam Sigman, 2005) menjelaskan bahwa tragedi-tragedi internasional yang diberitakan di televisi akan memupuk perasaan bahwa kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolong korban-korban tragedi itu. Perang Palestina-Israel atau kelaparan di Afrika misalnya. Kita tidak bisa menolong mereka lewat televisi. Menurutnya, semakin banyak kita melihat tragedi-tragedi dimana kita tidak bisa melakukan apa-apa disitu, maka semakin kecil kecenderungan kita untuk bereaksi terhadap tragedi-tragedi yang ada. Kedua, televisi membuat kita mencoba untuk menjadi orang lain. Kita mengidentifikasi dan berinteraksi dengan dunia orang-orang di televisi dan menganggapnya sebagai dunia kita. Dengan demikian, kita menghindari kehidupan kita yang sebenarnya. Kita mengalihkan perhatian pada diri kita yang nyata menjadi karakter-karakter pada televisi. Hal ini bisa menyebabkan depresi. (Sigman, 2005) Ketiga, dengan banyak menonton televisi, kita cenderung menjadi tidak aktif. Kita tidak lagi menghabiskan waktu di luar rumah. Dengan inaktivitas ini, ada kemungkinan untuk menyebabkan depresi. Bayangkan seorang gadis yang terus menerus menonton televisi, lalu karena tidak pernah beraktivitas maka ia menjadi kegemukan. Kegemukan ini bisa menyebabkan depresi bagi si gadis itu.

Memang, harus diakui pula, nampaknya dengan hadirnya televisi di rumah bisa meringankan beban orangtua yang harus mengurus anaknya yang masih kecil. Hiburan nyata merupakan daya tarik yang cukup kuat bagi siapapun tak terkecuali mereka yang masih anak-anak. (James, Peterson & Richard, 1965) Dengan memasang televisi, si anak akan terfokus pada hiburan yang ada di dalamnya dan orangtua bisa mengerjakan pekerjaan lain dengan tenang. Namun demikian, efek dari hiburan-hiburan yang ada dalam televisi bisa cukup membahayakan bagi anak-anak. Menurut James, Peterson dan Richard dalam buku yang ditulis mereka, hiburan bisa memiliki dampak yang cukup berpengaruh. Salah satunya adalah media-media hiburan memiliki kemampuan persuasi yang luar biasa kuat. Hiburan dapat memengaruhi bagaimana seseorang berpikir atau bagaimana seseorang bertindak. Bayangkan apabila anak-anak kita berhasil dipengaruhi oleh tayangan kekerasan di televisi. Baru-baru ini saya melihat sebuah berita mengenai seorang anak yang tewas akibat saudaranya bergulat dengannya setelah menonton siaran gulat. Bagaimana juga jika anak-anak berpikir kalau materi dan hedonisme adalah hal yang sangat penting dalam hidup ini akibat dijejali dengan adegan-adegan yang ada dalam sinetron.

Acara-acara televisi dan iklan-iklan di televisi yang tidak ditayangkan pada jam-jam tidur dapat dilihat dengan leluasa oleh anak-anak kita. Menurut penelitian terhadap 2,500 anak-anak dalam jurnal Pediatrics (dalam Sigman, 2005) yang dipublikasikan oleh American Academy of Pediatrics (AAP), sekitar tujuh persen dari anak-anak di Amerika menderita attention deficit hyperactivity disorder atau biasa disingkat dengan sebutan ADHD. ADHD merupakan jenis gangguan yang ditandai dengan ciri-ciri perilaku anak-anak yang tidak bisa melakukan satu aktifitas dengan tetap. Mereka yang menderita ADHD cenderung suka membuat keributan dan suka berlebihan dalam aktifitasnya. (Sigman, 2005) Dalam jurnal itu dinyatakan bahwa anak-anak yang menonton televisi dalam masa perkembangan otak awal mereka akan mengalami masalah terhadap perhatian mereka. Oleh karena itu, American Academy of Pediatrics menyarankan orangtua untuk menjauhkan anak-anak dari televisi. Walaupun kasus banyaknya anak-anak penderita ADHD ini diteliti di Amerika Serikat, tapi program-program televisi yang ada bisa dibilang tidak jauh berbeda. Kita melihat banyak acara televisi anak-anak yang diproduksi oleh Amerika ditayangkan di Indonesia. Bukan mustahil, kedepannya anak-anak Indonesia juga banyak yang akan menderita ADHD. Dengan televisi, perkembangan otak anak-anak akan terganggu dan menyebabkan gangguan pada diri mereka.

Lebih jauh diungkapkan oleh Dr. Aric Sigman bahwa selain ADHD, ada masalah-masalah lainnya pada anak-anak terkait dengan hubungan mereka dengan televisi. Journal of Genetic Psychology (dalam Sigman, 2005) melansir bahwa anak-anak yang menonton televisi mengalami penurunan dalam prestasi akademisnya. Bahkan, bagi anak-anak yang kerap menonton televisi pada masa-masa awal perkembangan mereka akan mengalami kesulitan dalam kemampuan matematis dan membaca kelak. Anak-anak berumur delapan sampai sembilan tahun yang memiliki televisi di kamar mereka memeroleh prestasi buruk di sekolah mereka. Selain itu, bagi anak-anak televisi juga membahayakan kesehatan mata, membuat anak-anak lebih pubertas tidak pada umurnya dan lain-lain. (Sigman, 2005)

Saat ini, berkat perkembangan teknologi, televisi telah menyamarkan garis diantara realitas dan fantasi, fakta dan fiksi, dan juga hiburan dan komersialisme. (Auty & Lewis dalam Shrum, 2004) Kita tidak lagi memedulikan fakta-fakta atau bukti-bukti yang konkrit. Acara-acara seperti infotainment yang belum jelas kebenarannya kita telan mentah-mentah. Realitas dimana hal-hal logis seharusnya menjadi panutan justru diabaikan. Hal-hal bersifat mistik dan fantasi seringkali dijadikan sebagai realitas di acara-acara televisi. Hiburan-hiburan yang ditayangkan kerap dijadikan ajang komersialisasi sehingga tidak jelas apakah hiburan itu memiliki tujuan untuk menghibur atau mengambil keuntungan belaka. Dalam menyikapi ini, kita perlu berpikir dengan lebih kritis. Jangan menerima segalanya sebagai realitas, fakta, atau hiburan belaka. Seleksilah apa yang kita tonton sehingga kita tidak mudah terpengaruh dengan konten-konten dalam televisi.

Melalui pembahasan diatas, dapat kita lihat bahwa televisi memiliki begitu banyak dampak negatif. Selain menyebabkan sikap individualistik karena berkurangnya aktivitas sosial, televisi ternyata juga bisa menyebabkan depresi. Selain itu, televisi juga bisa dibilang cukup berbahaya bagi anak-anak. Di umur mereka yang masih begitu belia, perkembangan otak mereka akan terganggu karena intervensi televisi sehingga menyebabkan gangguan otak. Tidak hanya itu, prestasi anak-anak di sekolahpun akan mengalami penurunan. Begitu banyaknya dampak-dampak negatif yang dihasilkan oleh televisi bahkan tidak mungkin dibahas seluruhnya disini. Dengan segala dampak-dampak itu, tidakkah bijaksana bagi kita untuk membatasi kegiatan menonton televisi?

Daftar Pustaka:

Auty, S. & Lewis, C. (2004). The “Delicious Paradox”: Preconscious Processing of Product Placements by Children. Dalam Shrum, L.J. (2004). The psychology of entertainment media: Blurring the lines between entertainment and persuasion (hal. 117-133). 10 Industrial Avenue, Mahwah, New Jersey 07430: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.

Jensen, J.W., Peterson, T. & Rivers, W.L. (1965). The mass media and the modern society. United States of America: Holt, Rinehart and Winston, Inc.

Sigman, A., Dr. (2005). Remotely controlled: How television is damaging our lives – and what we can do about it. 20 Vauxhall Bridge Road, London SW1V 2SA, UK: Vermillion, an imprint of Ebury Publishing Random House UK Ltd.

Images:

http://www.stuartwildeblog.com/storage/family%20tv.jpg?__SQUARESPACE_CACHEVERSION=1239291614055 (family watching TV)

http://www.theage.com.au/ffximage/2007/04/25/26N_NO_TV_wideweb__470x272,0.jpg (don’t watch TV)