Tags

, , , ,

Akhirnya mulai nulis lagi. Karena semester dua ini banyak banget yang harus dibaca dan banyak banget tugas kelompok, nulis blog jadi suatu kebutuhan tersier. *padahal males

Tapi blog ini harus berkembang, jadi saya putuskan bahwa minimal dalam satu bulan saya bisa menghasilkan 1 macam tulisan walaupun tulisan itu berasal dari tugas-tugas di perkuliahan.

Emang, semester dua ini bisa dibilang semester yang cukup sibuk. Banyak banget mata kuliah yang mewajibkan mahasiswa buat ngebaca buku teks kuliah. Salah satu dari mata kuliah itu adalah filsafat manusia. Nah di mata kuliah ini saya menemukan kelas yang saya damba-dambakan yaitu kelas yang penuh dengan diskusi dan tanya jawab. Filsafat gitu lho. Tanpa diskusi dan sikap kritis, ya nggak ada yang namanya filsafat. Nah minggu kemaren saya mendapatkan tugas di mata kuliah filsafat manusia ini. Tugasnya disuruh menjelaskan gejala perilaku dilihat dari empat sudut pandang filsafat manusia. Berikut adalah hasil dari tugas saya.

Gejala tingkah laku:

MD adalah seorang laki-laki yang kelihatan begitu sempurna. Ia seorang yang tegap dan atletis, berwajah tampan, berani mengambil risiko, dan memiliki sabuk hitam dalam karate. Ia menjabat sebagai seorang inspektur kepolisian di kepolisian daerah Jambi. Selain ciri-ciri itu ia juga dikenal sebagai orang yang mampu memikat wanita, luar biasa cerdas, dan sangat percaya diri.

Namun tidak ada yang menyangka bahwa MD telah membunuh tujuh orang wanita dengan cara yang sadis termasuk istrinya sendiri. Ia menembak dan membakar mereka. Semua identitas korban dilenyapkan. Semuanya direncanakan olehnya dengan cara yang sangat rapi sehingga tidak ada satupun orang yang menyangka bahwa sang inspektur yang begitu sempurna itu ternyata seorang psikopat. Hasil penyelidikan menemukan bahwa MD adalah seorang yang memiliki kelainan kepribadian yang dalam dunia psikiatri dan psikologi saat ini disebut sebagai sosiopat.

kasus diambil dari: Penggalih dalam http://sibermedik.wordpress.com/2007/08/23/psikopat-di-sekitar-kita-2/ yang diakses pada tanggal 24/02/2011 pukul 21:04 dan dikembangkan untuk keperluan tugas

Bagaimanakah tingkah laku ini dilihat dari empat sudut pandang filsafat manusia?

1. Teosentrisme:

Dalam prinsip-prinsip agama, kita mengenal aturan mengenai kehidupan. Salah satu dari aturan itu adalah aturan untuk tidak membunuh. Sejauh yang saya lihat, Deities dalam agama-agama yang dianut mengajarkan bahwa merugikan orang lain (termasuk didalamnya adalah membunuh orang lain) dapat dihitung sebagai perbuatan dosa. Mereka yang memiliki kecenderungan psikopatis jelas tidak memerhatikan hal ini. Walaupun menurut Dr. Robert Hare orang-orang dengan kecenderungan psikopatis suka menutupi kejelekan diri mereka dengan agama, orang-orang dengan kecenderungan ini juga memiliki keegoisan yang tinggi. Walaupun Tuhan mengatakan bahwa yang ia lakukan itu salah, tetap saja MD melakukan hal itu karena ia merasa bahwa dirinya benar. Dengan cepat MD akan merasionalisasi perbuatannya sebagai perbuatan yang benar. Dalam agama terbuka kemungkinan bahwa penyebab MD melakukan hal ini adalah kutukan dari Tuhan (faktor determinisme). Bagaimanapun, ia akan mendapatkan dosa apabila perbuatan ini dilakukan olehnya.

2. Sosiologisme:

Tidak ada data mengenai latar belakang masa kecil yang jelas untuk MD. Biar bagaimanapun, MD merupakan hasil dari bentukan masyarakat yang walaupun merupakan unit terkecil (yaitu keluarga atau pergaulan) tapi setidaknya bisa menimbulkan penyimpangan kepribadian semacam ini. Menurut Kirkman (dalam penggalih di sibermedik.wordpress.com) orang-orang yang disebut sosiopat salah satu faktor penyebab penyimpangan mereka adalah lingkungan. Mereka berada di lingkungan masa kecil yang tidak memberikan peluang berkembangnya emosi mereka secara maksimal. Entah itu orangtua yang seringkali mengajarkan kekerasan atau rasa gembira dari keluarga apabila ada musuh mereka yang mati. Di Hungaria, seorang bangsawan bernama Elizabeth Bathory saat kecil seringkali dipertontonkan kekerasan-kekerasan terhadap binatang dan tawanan perang. Ketika ia dewasa, membunuh menjadi suatu kesenangan untuknya. Mungkin hal ini juga yang terjadi pada MD. Mengenai faktor lingkungan, banyak psikolog dan psikiater yang masih berpegang padanya.

3. Biologisme:

Selain faktor lingkungan, faktor lainnya juga bisa berpengaruh. Salah satunya adalah kelainan pada otak. Pridmore, Chambers & McArthur (dalam penggalih di sibermedik.wordpress.com) menyatakan mereka yang memiliki kecenderungan psikopatis juga disebabkan oleh kelainan sistem serotonin pada otak baik secara struktural maupun fungsional. Selain itu dikenal juga sindrom jacob yang merupakan bentuk kelainan kromosom seks. Sindrom jacob hanya ditemukan pada laki-laki dan hal ini menyebabkan kecenderungan perilaku psikopatis.

4. Antroposentrisme:

Dalam antroposentrisme, manusia bertanggungjawab atas diri mereka sendiri. Manusia memiliki kepribadian mereka masing-masing termasuk juga MD. Terlepas dari segala kelainan dan faktor lingkungan yang terjadi pada dirinya, MD sadar bahwa perbuatan yang dilakukannya melanggar hukum yang berlaku dan karenanya, ia tahu bahwa hal yang ia lakukan sebenarnya tidak boleh dilakukan (terbukti dari cara-cara MD melenyapkan identitas korban). Namun, perlu kita lihat kembali bahwa psikopat memiliki kepribadian yang cukup egois dan tidak mau ditentang (ada kecenderungan narsisistik). Harga dirinya terlalu tinggi untuk menganggap dirinya salah. Dengan segera setelah ia menyadari perbuatannya, MD akan segera melakukan rasionalisasi terhadap perbuatannya. (Hare dalam penggalih di sibermedik.wordpress.com) Menurut saya, dilihat dari sudut pandang ini, kita tidak bisa secara pasti mengatakan bahwa MD salah atau benar. Di satu sisi kepribadiannya bisa jadi merupakan bentukan lingkungan atau genetik yang menyebabkan MD tidak bebas, tapi di sisi lain MD juga sadar akan perbuatannya dan mencoba menyembunyikan perbuatannya yang bisa dibilang cukup sadis.

Kesimpulan:

Menurut teosentrisme, apa yang dilakukan oleh MD adalah perbuatan dosa. Ia melanggar perintah agama untuk tidak membunuh dan mencelakai orang lain. Penyebabnya mungkin bisa bermacam-macam seperti kutukan Tuhan, ujian dari Tuhan, dsb. Dilihat dari sudut pandang ini – saya pikir – manusia yang melakukan perbuatan dosa suatu saat nanti akan dihukum oleh Tuhan.

Menurut sosiologisme dan biologisme, ada faktor-faktor yang menyebabkan MD melakukan hal yang menyimpang tersebut entah itu faktor genetik dan kelainan jasmani, atau mungkin faktor lingkungan masyarakat tempat ia dididik. Oleh karena faktor-faktor itu, kita tidak bisa mengatakan psikopat bersalah sepenuhnya. Ia melakukan hal itu karena ada kelainan yang tidak bisa ia kontrol dari dalam dirinya.

Menurut antropologisme, manusia memiliki tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri. Jika MD sadar akan perbuatannya sehingga ia sampai menyembunyikan identitas korban-korbannya, jelas bahwa MD sadar bahwa yang dilakukannya sebenarnya tidak boleh dilakukan. Dengan ini, berarti kita bisa mengatakan bahwa MD melakukan perbuatan yang tidak baik sehingga perlu dihukum.

Jadi, menurut saya, baik antroposentrisme dan teosentrisme melihat bahwa manusia bersalah karena tidak bisa mengontrol diri mereka sendiri. Sementara itu, biologisme dan sosiologisme melihat bahwa MD tidak bisa disalahkan secara langsung. Ada faktor-faktor yang menyebabkan MD menjadi seperti itu dan itu diluar kemauan dia. Saya sendiri berpendapat bahwa MD memang seharusnya dimasukkan ke dalam penjara. Namun ia tidak perlu memeroleh penyembuhan dari psikiater ataupun dari psikolog karena menurut Prof. Robert Hare, hal ini justru akan memperparah perilakunya. Perilaku psikopatis akan hilang seiring dengan bertambahnya usia oleh karena itu yang mungkin perlu dilakukan adalah menjauhkan MD dari masyarakat agar tidak membahayakan.

Sumber:

Penggalih dalam http://sibermedik.wordpress.com/2007/08/23/psikopat-di-sekitar-kita-2/ (diakses terakhir pada 25/02/2011 pukul 6:44)

Dengan tugas-tugas seperti ini dan dengan banyaknya diskusi kelas yang ada, saya jadi bisa mengatakan satu hal: “Saya semakin cinta filsafat!!!” XD