Tags

, , , , ,

Artikel ini merupakan tugas saya untuk mata kuliah Etika. Mahasiswa ditugaskan untuk menganalisis artikel berita dari sudut pandang filsafat moral tertentu. Dalam hal ini, saya memilih filsafat moral hedonisme dan deontologi.

Judul Artikel : Tolak Cium Nenek, Seorang Pria Dihujani Tembakan

Sumber : http://international.okezone.com/read/2011/03/23/214/437911/tolak-cium-nenek-seorang-pria-dihujani-tembakan

Dalam tulisan ini akan dianalisis kasus nenek yang nekat menembak rumah orang yang menolak cintanya. Analisis dapat dilakukan dari berbagai sudut pandang sistem filsafat moral (Hedonisme, Utilitarisme, Eudemonisme dan Deontologi), akan tetapi disini hanya dibahas mengenai dua sistem filsafat moral saja, yaitu Hedonisme dan Deontologi. Hedonisme merujuk kepada sistem filsafat moral yang melihat bahwa manusia pada hakikatnya menginginkan kesenangan dan menjauhi kesulitan dan rasa sakit, sementara deontologi merujuk kepada sistem filsafat moral yang memandang baik-buruknya suatu perbuatan tidak diukur dari hasil melainkan dari maksud dari perbuatan pelaku itu. Berikut ini adalah analisis kasus yang dijabarkan melalui dua sistem tersebut.

Ringkasan Kasus

Cukup unik kasus yang terjadi di Florida ini. Seorang nenek bernama Helen Staudinger yang berumur 92 tahun merasa tertarik dengan Dwight Bettner, tetangganya yang berusia 53 tahun. Namun karena Bettner menolak untuk dicium oleh si nenek, maka nenek itu menghujani rumah Bettner dengan peluru yang ditembakkan secara membabi buta. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Bettner menjadi tetangga Staudinger semenjak enam bulan kepindahannya ke Florida. Rupanya, si nenek merasa tertarik dengan Bettner. Si nenek mencoba untuk mencium Bettner. Namun, Bettner tidak menginginkan hal itu. Ia menolaknya. Setelah itu si nenek tampak marah dan meninggalkan Bettner. Beberapa hari kemudian, rumah Bettner dihujani peluru yang ditembakkan oleh si nenek dan peluru-peluru itu hampir saja melukai Bettner dan ayahnya. Akhirnya, si nenek harus berhadapan dengan terali besi akibat perbutannya itu.

Analisis dari Sistem Filsafat Moral Hedonisme

Seperti yang sudah dituliskan diatas, hedonisme merujuk kepada suatu sistem moral yang meyakini bahwa kebaikan dapat diperoleh dari kesenangan sementara keburukan seperti rasa sakit dan ketidaksenangan harus dijauhi. Sistem ini berkembang pada zaman Yunani Kuno yang dipelopori oleh murid Sokrates, Aristippos. Selain itu juga muncul faham Epicurreanism yang merupakan school of thought yang dipelopori oleh Epikuros. Keduanya memandang bahwa kesenangan adalah tujuan hidup manusia. Kesenangan yang dimaksudkan disini adalah kesenangan yang bersifat aktual dan tidak berasal dari masa lampau atau masa depan. Sebagai contoh, seseorang yang makan karena rasa makanan itu nikmat tidak mempedulikan dirinya di masa depan akan terkena obesitas atau di masa lalu ia sudah pernah diet sehingga tidak mau makan terlalu banyak.

Dalam kasus nenek Staudinger ini, kita bisa menganalisis dari beberapa situasi.

Pertama, kita melihat bahwa si nenek merasa marah akibat penolakan Bettner terhadap dirinya. Si nenek mencoba mencium Bettner, tetapi ditolak. Disini dapat dengan mudah terlihat unsur Hedonisme-nya. Si nenek merasa tujuannya untuk mendapatkan kesenangan telah dihambat bahkan diputus dengan penolakan dari Bettner. Pemutusan terhadap rasa senang ini menyebabkan ia marah dan mungkin saja sakit hati. Dan karena itu, akibatnya ia menembak rumah Bettner. Dalam tinjauan kritis terhadap hedonisme yang dipaparkan pada buku Etika yang ditulis oleh Kees Bertens, sistem hedonisme bisa dikatakan sebagai sistem yang mengandung unsur egoisme karena mendahulukan kepentingan sendiri daripada kepentingan orang lain atau orang banyak. Si nenek Staudinger lebih mendahulukan kepentingannya untuk mencium Bettner daripada memikirkan perasaan Bettner. Selain itu, kesenangan saja memang tidak cukup untuk menjamin sifat etis suatu perbuatan. Jika kita melihat bahwa si Nenek menembak rumah orang lain dan ia akan mendapatkan kesenangan, pantaskah si nenek itu disebut sebagai seseorang yang memperoleh kebaikan? Ia justru pada akhirnya akan sengsara karena masuk penjara. Terlepas dari kritik-kritik terhadap hedonisme, sistem ini sebenarnya mengajarkan juga kepada manusia sesuatu yang positif. Manusia harus mengendalikan diri mereka atas kesenangan yang didapatkan. Tidakkah terlihat bahwa tindakan si nenek yang ingin memeroleh kesenangan lewat ciuman adalah hasil dari tidak terkendalinya kesenangan itu? Selain itu, si nenek yang menembak rumah Bettner untuk kepuasan dirinya juga dapat dianggap berlebihan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa apa yang dilakukan oleh nenek Staudinger menurut hedonisme adalah salah karena si nenek mencoba memenuhi tujuannya mendapatkan rasa senang dengan cara yang berlebihan dan tidak terkendali.

Selain itu perlu kita lihat juga dari sisi Bettner sendiri. Ia menolak untuk dicium oleh si nenek Staudinger dan tentu saja merasa dirugikan atas perbuatan si nenek Staudinger yang menembak rumahnya dan hampir mencelakai dirinya. Egoisme dari hedonisme sangat terlihat disini. Sementara si nenek Staudinger mendapatkan kesenangan dari perbuatannya, Bettner justru mendapatkan kerugian. Rasa tidak senang muncul dari Bettner ketika si nenek mencoba mencium dirinya. Menurut hedonisme, manusia selalu menjauhi rasa tidak senang karena itu Bettner menghindari ciuman dari nenek itu. Rasa tidak senang yang ada disini tidak dapat dikatakan secara pasti. Bisa saja Bettner memang tidak ingin berhubungan dengan nenek Staudinger atau mungkin Bettner merasa jijik dicium oleh nenek-nenek tua. Satu hal yang pasti, Bettner menjauhi sumber ketidaksenangan dengan penolakan terhadap ciuman si nenek. Hal yang sama juga terjadi ketika nenek itu menembaki rumah Bettner. Bettner pastilah merasa dirugikan karena rumahnya hancur akibat terkena hujan tembakan. Dengan demikian, hasil dari perbuatan si nenek menimbulkan rasa tidak senang pada Bettner. Karena itulah ia melaporkan si nenek pada polisi.

Dari dua sudut pandang diatas, dapat disimpulkan bahwa yang dilakukan oleh nenek Staudinger secara hedonisme adalah perbuatan yang salah. Si nenek terlalu berlebihan dan tak terkendali dalam memeroleh kesenangan dan hal ini tidak sesuai dengan prinsip hedonisme. Selain itu dari kasus ini terlihat juga satu kelemahan dari sistem hedonisme yaitu hedonisme merupakan suatu sistem yang cukup egois. Memang, si nenek mendapatkan kesenangan dan kepuasan dari mencium dan menembaki rumah Bettner, akan tetapi Bettner justru merasa dirugikan dan tidak senang. Demikian analisis yang bisa disampaikan untuk kasus ini.

Analisis dari Sistem Filsafat Moral Deontologi

Jika hedonisme lebih melihat hasil dari perbuatan si nenek Staudinger, dalam sistem deontologi kita akan melihat maksud dari perbuatan si nenek. Apakah kehendak si nenek itu baik atau buruk. Sistem filsafat moral ini juga merujuk kepada wajib tidaknya perbuatan kita atau keputusan kita. Deontologi dalam buku Kees Bertens yang berjudul Etika dipelopori oleh Immanuel Kant yang kemudian dikembangkan menjadi lebih sempurna oleh W.D. Ross. Dalam analisis kasus ini akan coba diteliti dari sudut pandang kedua tokoh tersebut.

Pertama, kita mencoba menganalisis dari sudut pandang nenek Staudinger. Si nenek mencoba untuk mencium Bettner. Jika kita melihat kehendak dari si nenek itu sendiri, tentulah kehendaknya cukup baik karena mungkin saja ia ingin menunjukkan rasa cintanya terhadap Bettner. Namun, menurut Immanuel Kant, kehendak bisa menjadi baik apabila seseorang bertindak karena kewajiban. Walaupun mungkin motivasi si nenek Staudinger itu baik karena ia ingin menunjukkan rasa cintanya, tapi tetap saja hal itu tidaklah wajib dilakukan oleh si nenek berdasarkan moral. Si nenek Staudinger perlu memikirkan kewajiban dirinya terhadap Bettner, yaitu yaitu menghargai perasaan Bettner. Disini, terlihat bahwa nenek Staudinger melakukan perbuatannya tanpa memikirkan kewajiban yang lebih penting, yaitu tidak merugikan Bettner. Menurut W.D. Ross, kewajiban prima facie haruslah diutamakan. Salah satu dari kewajiban prima facie adalah kewajiban untuk tidak merugikan orang lain. Terlepas dari motivasi apapun yang baik dari nenek Staudinger, ia tetap saja merugikan Bettner. Karena itulah Bettner menolak ciuman dari sang nenek. Kemudian, si nenek Staudinger yang marah dan sakit hati menembaki rumah Bettner. Dari sini saja sudah terlihat bahwa kehendak dari nenek Staudinger adalah kehendak yang buruk. Ia jelas-jelas merugikan Bettner. Dengan kata lain, secara deontologis apa yang dilakukan oleh nenek itu salah.

Sementara dari sudut pandang Bettner sendiri tidak banyak yang bisa dikatakan karena Bettner hanyalah obyek dari perbuatan nenek Staudinger. Tapi ia menjadi subyek ketika ia melaporkan nenek Staudinger ke polisi karena apa yang dilakukan oleh nenek itu telah merugikannya. Disini masih bisa dianalisis lewat segi deontologi. Dari sudut deontologi, kita mengetahui dua jenis pembedaan mengenai kehendak yang baik, yaitu imperatif kategoris dan imperatif hipotetis. Imperatif hipotetis adalah kewajiban yang mewajibkan dengan berbagai syarat. Sementara imperatif kategoris adalah kewajiban yang mewajibkan begitu saja tanpa syarat. Jika kita lihat kewajiban Bettner untuk melaporkan kepada polisi adalah perbuatan yang tergolong imperatif kategoris. Ia memang harus melaporkan perbuatan nenek itu kepada polisi. Kewajiban ini mewajibkannya begitu saja. Jika seseorang melakukan tindakan kriminal, maka orang yang menjadi korban atau saksi harus melaporkannya pada polisi.

Dapat disimpulkan bahwa menurut deontologi, perbuatan nenek Staudinger adalah salah. Pada peristiwa ia ingin mencium Bettner, si nenek tidak memerhatikan prima facie yang muncul, yaitu kewajiban untuk tidak merugikan Bettner. Begitu pula dengan kejadian penembakan di rumah Bettner. Nenek Staudinger juga merugikan orang lain. Oleh karena itu, dalam kasus penembakan ini sudah dapat diterka bahwa kehendak dari nenek itu pun memang sudah tidak baik. Sementara Bettner yang melaporkan nenek itu ke polisi melakukan hal itu karena memang harus begitu. Terlepas dari dendam ia pada si nenek, atau perasaan marahnya pada si nenek, Bettner memang harus melaporkan tindakan kriminal pada pihak yang berwajib.

Gambar:

http://multifamilyinvestor.com/wp-content/uploads/2010/04/grandma-gun-300×257.jpg