Tags

, , , , , , , , , ,

Baru saja salah satu dari Ujian Akhir Semester untuk mata kuliah Filsafat Manusia usai. Materi untuk ujian ini berkisar antara pandangan berbagai filsuf mengenai Seni, Sejarah, dan Sains termasuk pandangan sang filsuf yang menjadi acuan, Ernst Cassirer. Setelah habis membahas mengenai karya Ernst Cassirer (“An Essay on Man“), dimulailah materi mengenai Eksistensialisme dengan sumber buku yang ditulis oleh mantan menteri pendidikan Indonesia, almarhum Prof. Fuad Hassan. Sesuai dengan judul posting ini, buku itu berjudul “Berkenalan dengan Eksistensialisme”. Jika kalian menekuni rumpun ilmu sosial, mungkin kalian pernah mendengar atau mengetahui apa yang dimaksudkan dengan Eksistensialisme. Dalam wikipedia bisa kita lihat bahwa eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang memfokuskan pada manusia sebagai individu yang memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri atas dasar kemauan yang bebas.

Dalam filsafat eksistensialisme, manusia adalah pelaku utama terhadap dirinya sendiri. Ia adalah makhluk yang senantiasa memiliki pilihan-pilihan dimana pilihan-pilihan itu dipilih tanpa memikirkan dengan mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Manusia selalu memiliki kehendak yang bebas dan bahkan, menurut salah satu filsuf eksistensialisme Jean-Paul Sartre, kebebasan itu tiada batasnya. Namun perlu diketahui juga dengan mengatakan bebas disini bukan berarti bebas sebebas-bebasnya sehingga muncul kesewenang-wenangan. Kebebasan akan selalu diikuti tanggung jawab, dan keduanya saling melekat dan tak terpisahkan satu sama lainnya. (Bertens, 2005) Sebaliknya, tidak ada yang dinamakan tanggung jawab bila tidak ada kebebasan. Seseorang yang berada di bawah tekanan orang lain dalam melakukan suatu perbuatan tidak akan bisa disebut bertanggung jawab atas perbuatannya. Dengan demikian, kebebasan disini bukan berarti kebebasan yang ‘semau gue’, melainkan kebebasan yang didalamnya terdapat rasa tanggung jawab.

Begitu saya membaca buku yang ditulis oleh Prof. Fuad Hassan itu untuk mempelajari materi ujian akhir semester, langsung saya merasa jatuh cinta. Siapa sangka filsafat eksistensialisme ini begitu indahnya. Sejak dulu saya memang pengagum faham free will dimana kehendak manusia adalah kunci dari keberhasilan. Kita tidak bisa terus menerus berpasrah pada kehendak Ilahi. Kita juga harus memiliki kehendak kita sendiri. Bahkan Tuhan pun mengajarkan kita untuk berusaha dan bekerja bukan? Namun karena kehendak Ilahi dapat disebut sebagai determinisme (kehendak luar manusia adalah utama, dan manusia tidak bebas menentukan dirinya sendiri), maka saya tidak sepenuhnya menganggap kehendak Ilahi sebagai penentu kehendak saya. Kombinasi free will dan determinisme  adalah apa yang saya yakini. Tuhan memang memiliki kehendak atas seluruh umat manusia, namun manusia harus menentukan jalan hidupnya sendiri. Manusia harus menentukan cita-citanya sendiri. Manusia harus menentukan arti hidupnya sendiri. Dengan demikian,manusia bebas.

Buku itu sebenarnya menjelaskan mengenai lima filsuf besar eksistensialisme yaitu Soren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche, Nikolai Berdyaev, Karl Jaspers, dan Jean-Paul Sartre. Karena gaya bahasa Pak Fuad Hassan yang begitu ringan dan menarik, buku ini menjadi sangat menarik untuk dibaca. Di dalamnya beliau juga memasukkan kutipan-kutipan dari filsuf-filsuf itu. Disini saya juga ingin mencantumkan kutipan-kutipan dari buku beliau (khususnya Kierkegaard dan Nietzsche), yang menjadi favorit saya.

Soren Kierkegaard:

Kierkegaard, yang sepanjang hidupnya mengalami nasib yang malang belum sempat menikmati kejayaannya sebagai seorang tokoh filsafat. Dulu, Denmark mencemoohnya. Namun sekarang, ia dibanggakan oleh Denmark dan bahkan oleh dunia sebagai bapak eksistensialisme.

“Yes, I perceive perfectly that there are two possibilities, one can do either this or that.”

Menurut Kierkegaard yang dijuluki bapak eksistensialisme, manusia terus menerus dihadapkan pada pilihan. Apakah ini atau itu. Semua itu bebas dilakukan manusia terlepas apakah pilihannya itu baik atau buruk.

“God is the only one who does not grow tired of listening to men.”

Kierkegaard adalah seorang yang religius. Menurutnya, agama harus dihayati sebagai suatu pengalaman subyektif. (Kierkegaard dalam Hassan, 1992) Menurutnya juga, membuktikan ada atau  tidaknya Tuhan tidak akan mungkin bisa dilakukan manusia. Tuhan hanya bisa dicapai dengan penghayatan subyektif, bukan logika. Sejauh ini saya meyakini apa yang dikatakan oleh Kierkegaard.

“A crowd in its very concept is the untruth by reason of the fact that it renders the individual completely impenitent and irresponsible, or at least weakens his sense of responsibility by reducing it to a fraction.”

“The crowd is composed of individuals, but it must also be in power of each one to be what he is: an individual, and no one, no one at all, no one whatsoever is prevented from being an individual unless, he prevents himself-by becoming one of the masses.”

Menurut Kierkegaard, penyamarataan manusia akan mengakibatkan individu mengalami keterasingan dari dirinya sendiri. Hal-hal yang populer pada masa ini seperti mode baju yang digunakan, gaya rambut yang mirip artis terkenal, atau gadget yang banyak digunakan orang lain membuat manusia tidak menjadi dirinya sendiri yang sesungguhnya berbeda dengan kebanyakan orang. Oleh karena itu pers adalah salah satu dari sumber demoralisasi manusia. Menurut Kierkegaard, dengan adanya pers, manusia dipaksa memiliki pendapat, tingkah laku dan pemikiran yang sama. Tidak ada keunikan individu dalam sebuah massa (kelompok manusia). Sekali lagi, manusia bebas untuk memilih apakah ia ingin masuk ke dalam massa atau menonjolkan keunikannya sendiri. Saya sepenuhnya sepakat dengan beliau dalam hal ini.

Friedrich Nietzsche:

Berbeda dengan Kierkegaard yang amat religius, Friedrich Nietzsche sudah kehilangan kepercayaannya kepada Tuhan semenjak ia masih remaja. (Hassan, 1992) Dialah tokoh yang menggegerkan dunia ini dengan kata “Tuhan sudah mati”.

“I love those whose soul is deep, even being wounded … I love those who has a free spirit and free heart … I love those who are as heavy drops, falling one by one out of the dark cloud that hangs over men, they herald the advent of lightning, and, as heralds, they perish.”

Seorang atheis, ya, memang. Itulah Nietzsche. Tapi jika ada pendapatnya yang baik, tentu kita tidak bisa menutup mata hanya karena ia seorang atheis. Atheis atau tidak, adalah hak setiap manusia di muka bumi ini. Hak manusia yang bebas. Dalam kutipan diatas sebenarnya Nietzsche ingin mengatakan bahwa manusia sejati adalah manusia dengan jiwa yang bebas dan tanpa rasa takut. Manusia tidak perlu takut denganapa yang mereka hormati, apa yang mereka puja, apa yang mereka sembah karena manusia harus menjadi kuat. Untuk menjadi kuat, manusia harus melenyapkan rasa takutnya terhadap siapapun dan apapun.

Satu hal yang saya nilai cukup positif dalam kutipan ini adalah manusia perlu mengkritisi hal-hal yang mereka takuti. Selebihnya, saya bisa mengatakan kalau saya bukan seorang atheis.

“Silence is worse; all truths that are kept silent becomes poisonous.”

Well, silence is golden, huh? Not quite. Bagaimana jika suatu kebenaran ditekan oleh pendapat mayoritas? Jika kebenaran itu diam, maka racun akan terus menjalar. Namun jika kebenaran terkuak, seberapapun pahitnya, itu baru emas.

“Verily, I do not like them, the merciful who feel blessed in their pity; they are lacking too much in shame.”

“…it is annoying to give them and it is annoying not to give to them.”

Kadang kita melihat orang-orang yang sepertinya merasa bangga dengan penyakit-penyakit mereka, penderitaan-penderitaan mereka, dan cerita-cerita kemalangan mereka. Tapi sebenarnya mereka tidak sadar bahwa mereka telah kehilangan rasa hormat dari orang lain karena ini. Mereka sebenarnya tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, yaitu perhatian. Mereka hanya akan mendapatkan rasa kesal dari orang lain yang merasa serba salah karena mereka. Bahkan Nietzsche lebih ekstrem lagi pendapatnya. Ia mengatakan bahwa orang-orang semacam ini hanya pantas hidup dengan moralitas budak. Mereka sudah mati sebelum maut. (sebagaimana dikutip dalam Hassan, 1992)

“For, to me justice speaks thus: ‘Men are not equal.’ Nor shall they become equal.”

Seperti yang juga dikatakan oleh Kierkegaard, manusia tidak bisa disamaratakan. Ada manusia yang lebih daripada manusia yang lain, dan ada manusia yang tidak pantas untuk dipertahankan. Salah satu contohnya adalah manusia seperti kutipan diatas. Manusia yang merasa penderitaan mereka adalah suatu jalan mencari perhatian, atau manusia yang masih dihinggapi rasa takut.

Dan dengan demikian berakhirlah catatan saya mengenai kuliah dan buku Eksistensialisme. Saya memang tidak membahas Sartre, Jaspers dan Berdyaev disini karena saya merasa dua tokoh diatas pendapatnya amat mewakili diri saya. Namun, sebenarnya pendapat Sartre, Jaspers dan Berdyaev bukan berarti tidak mewakili. Mewakili, namun tidak sesignifikan Kierkegaard dan Nietzsche. Banyak diantara pendapat Sartre, Jaspers dan Berdyaev yang juga sangat bagus dan menarik. Sebenarnya saya juga ingin sekali membahas mereka semua. Namun, akhirnya kebanyakan saya jadi mengutip apa yang ditulis oleh Pak Fuad Hassan. Bagi yang masih penasaran dengan tokoh-tokoh lainnya, mungkin bisa membaca buku Pak Fuad Hassan yang saya cantumkan di daftar pustaka.

Ok, see you in the next article then… :)

Daftar Pustaka:

Bertens, K. (2005). Etika. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Hassan, F. (1992). Berkenalan dengan Eksistensialisme. Penerbit Pustaka Jaya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Eksistensialisme (diakses terakhir pada pukul 16:04 WIB 28 Mei 2011)

http://en.wikipedia.org/wiki/Existentialism (diakses terakhir pada pukul 16:04 WIB 28 Mei 2011)

Gambar:

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/89/Kierkegaard.jpg

http://budiakmaldjafar.files.wordpress.com/2011/05/nietzsche1882.jpeg