Tags

, , ,

Tentu tahu kan sosok Cinta Laura Kiehl, pemain sinetron Indonesia blasteran Jerman itu? Ketika kita melihat sosoknya di televisi, ia menggunakan bahasa Indonesia yang tidak jelas karena kebanyakan merupakan campuran bahasa Inggris yang fluent dengan bahasa Indonesia yang sekadarnya. Karena hal ini, saya melihat ada orang-orang yang mengatakan, “Apaan tuh Cinta Laura. Nggak bangga sama bahasa Indonesia ya?” atau perkataan, “sok Inggris banget sih!” ada lagi dengan perkataan, “Nggak sensitif tuh Cinta Laura, nggak bisa memahami perasaan rakyat Indonesia yang sudah berjuang ratusan tahun melawan penjajah dan memperjuangkan bahasa Indonesia.” *hah?*

Hmm… Apakah memang salah menggunakan bahasa Indonesia yang tidak jelas begitu? Jika memang Cinta Laura merasa nyaman dengan bahasa yang ia gunakan, kenapa tidak?

Ada lagi kejadian yang saya alami sendiri. Suatu ketika saya melihat seseorang yang maju ke depan kelas atas niatnya sendiri untuk membawakan presentasi. Guru pun terkejut karena ia tidak menyuruh siapapun untuk membawakan presentasi. Orang ini merupakan orang yang senantiasa di-bully oleh teman-temannya dikelas (secara mental, tidak secara fisik) karena sikapnya yang bisa dibilang aneh dan tidak biasa. Ketika ia maju ke depan untuk membawakan presentasi, ia melakukan satu gerakan yang biasa dilakukan oleh konduktor pada akhir pertunjukkan musik klasik (bowing). Gayanya ia buat semirip mungkin. Spontan seluruh penonton di kelas tertawa terbahak-bahak karena ia melakukan suatu hal yang aneh tersebut. Ditambah lagi sepanjang presentasi celetukan-celetukan sinis da sindiran-sindiran terus dilontarkan walaupun saya nilai isi presentasi itu cukup bagus. Memang gaya bicara dan bahasanya aneh, bahkan cenderung eksentris. Namun begitu, saya tahu sekali, orang itu telah mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk bisa maju di presentasi itu. Hal yang tidak mungkin dilakukan oleh kebanyakan orang-orang yang membully mereka.

Contoh kejadian diatas merupakan dua dari banyak pemicu untuk apa yang saya amati belakangan ini. Setiap kali muncul pemicu-pemicu semacam itu, ada satu persoalan yang terus-menerus melintasi pikiran saya dan menjadi pertanyaan serta kegelisahan diri saya, “apakah kata-kata mutiara seperti just be yourself  memang dibutuhkan untuk membuat diri kita diterima oleh lingkungan sosial? Atau sebenarnya lingkungan sosial hanya mengharapkan kita untuk berlaku sebagaimana masyarakat menginginkan perilaku itu?”

Kasus Cinta Laura diatas merupakan satu kasus dimana lingkungan sosial menekan apa yang sedang dilakukan oleh individu karena tidak sesuai dengan nilai-nilai masyarakat. Mekanisme ini disebut dengan kontrol sosial. (wikipedia.org dengan keyword social control) Nilai yang dilanggar oleh Cinta Laura mungkin saja nilai kerendahan hati karena di Indonesia, kerendahan hati dianggap sebagai sesuatu yang sangat baik. Namun demikian, apakah disini kita bisa mengatakan bahwa Cinta Laura salah? Memang mungkin ia telah melanggar apa yang diyakini oleh masyarakat kita, akan tetapi menurut saya apa yang dilakukan oleh Cinta Laura tidak ada salahnya. Apa salahnya menggunakan campuran bahasa Inggris dan bahasa Indonesia? Apakah itu bisa dinilai sombong? Tentu tidak logis jika dikatakan demikian. Justru yang salah mungkin adalah masyarakat itu sendiri yang terlalu menonjolkan sopan santun termasuk dalam berbahasa. Dalam artikel yang saya baca, sopan santun bisa menipu. Itulah yang disebut sebagai eufemisme berlebihan. (Rijal Paddaitu dalam bahasa.kompasiana.com) Di Indonesia, kita terlalu takut untuk menyinggung perasaan orang lain oleh karena itu kita menggunakan sopan santun yang berlebihan. Akhirnya, kebiasaan ini memungkinkan kita untuk terlalu sensitif terhadap hal-hal yang melanggar sopan santun tersebut.

Dalam kasus teman saya diatas, saya sendiri jujur masih bingung. Saya sendiri kadang terlalu takut berbeda dengan kebanyakan orang lain dan masih sering pula mencari konformitas. Inilah yang menjadi sumber kegelisahan saya belakangan ini. Saya ingin sekali menjadi diri saya, myself. Namun hal itu tidaklah memungkinkan mengingat tekanan sosial begitu kuat memengaruhi saya. Saya sangat membenci hal ini. Meskipun saya telah memelajari filsafat eksistensialisme yang menekankan bahwa kita sebagai suatu eksistensi yang bebas tidak boleh terbelenggu oleh tekanan sosial, tetap saja tekanan sosial tidak bisa diremehkan sama sekali. In fact, jika kita tidak mematuhi tekanan sosial itu apakah kita akan diterima oleh banyak orang? Pada akhirnya, justru kita mungkin dijauhi oleh orang lain. Dan pada akhirnya kita akan kesepian…

Namun walaupun begitu, saya saat ini sedang berusaha untuk tidak terus-menerus tertekan dengan aturan sosial. Jika ada suatu kondisi yang menuntut saya untuk mematuhi itu, saya harus pikirkan kembali masak-masak apakah tuntutan itu baik atau buruk. Dalam kuliah Individu, Kebudayaan dan Masyarakat kemarin saya mendapatkan bahwa tidak semua kontrol sosial atau tekanan sosial masyarakat itu positif. Ambil contoh suatu pemerintahan yang korup, namun ada satu orang yang bertekad untuk tidak korup. Terjadilah kontrol sosial dimana orang yang tidak korup itu akan ditekan oleh mayoritas orang yang korup. Oleh karena itu, saya ingin sekali menjadi orang yang mampu melawan tekanan-tekanan sosial semacam itu. Meskipun risiko yang harus saya ambil adalah dibenci atau dijauhi.

Pada akhirnya, just be yourself memang sebuah ungkapan yang saya nilai cukup baik. Kita tidak akan memeroleh penghargaan orang lain jika kita sendiri tidak menghargai diri kita apa adanya bukan? *saya harus cari jurnalnya dulu sih LOL* Kita tidak bisa berpura-pura menjadi orang lain. Namun demikian, kita juga tidak bisa melanggar nilai-nilai masyarakat secara keseluruhan. Kita perlu memikirkan dengan masak-masak apakah tekanan masyarakat ini baik atau buruk bagi diri kita. Jika baik, maka patuhilah dan jika buruk, maka langgarlah.

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Social_control (diakses pada 30/07/2011 pukul 12:50)

http://bahasa.kompasiana.com/2011/07/04/eufemisme-sopan-santun-yang-menipu/ (diakses pada 30/07/2011 pukul 12:50)