Tags

, , , , ,

Suatu pengalaman yang mengesankan ketika kita melihat kembali masa lalu kita dan mengingat peristiwa-peristiwa penting yang telah terjadi dalam hidup kita. Betapa tinggi idealisme dan sifat naif kita saat remaja seakan-akan idealisme itu tidak mengenal hambatannya, dan betapa menyenangkannya ketika apa yang kita cita-citakan, apa yang kita inginkan sudah terwujud. Namun demikian itu hanyalah sebuah alur. Alur dimana sifat naif  dan idealisme kita tidak akan pernah bertahan lama. Atau akan terjadi berbagai perubahan serta modifikasi di dalamnya seiring dengan dewasanya kita. Walaupun begitu, sebenarnya masa-masa dimana kita belum mengenal dunia ini secara menyeluruh adalah masa-masa yang mengagumkan. Masa-masa dimana kita mampu belajar dari pengalaman-pengalaman dan juga terjadinya perubahan-perubahan. Sebut saja perubahan-perubahan yang terjadi di dunia ini. Sifat naif dan idealisme orang muda kadangkala mampu menggemparkan dunia. Benar. Tapi bagi saya, idealisme tanpa melihat kenyataan adalah buta. Saya tahu betul hal itu. Meski begitu, sikap realistis tanpa memiliki idealisme pun juga membuat kita menjadi orang yang biasa saja dan tidak menarik. Idealisme dan realitas harus seimbang. Seperti Friedrich Nietzsche yang mengatakan,  “Lift up your hearts, my brothers, high, higher! And do not forget your legs either.” Hal itulah yang telah saya pelajari dalam hidup ini.

Sebelum masuk ke fakultas psikologi Universitas Indonesia, saya adalah seorang idealis. Adalah saya, seorang mahasiswa jurusan kimia fakultas matematika dan ilmu alam di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Masuknya saya ke jurusan tersebut dikarenakan idealisme saya. Saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya mampu menjadi manusia yang membawa perubahan pada dunia ini. Saat itu saya sangat ingin memeroleh penghargaan yang bisa membawa nama Indonesia dalam kancah internasional. Saya menginginkan hadiah nobel untuk Indonesia. Namun seiring berjalannya waktu, idealisme saya goyah. Saya tidak sadar (atau lebih tepatnya tidak mau menyadari) bahwa sebenarnya sejak dulu saya ingin mempelajari manusia, bukan alam. Saya sebenarnya sudah mengetahui sejak dulu bahwa saya sangat tertarik dengan teori-teori kepribadian, filsafat dan etika manusia. Namun saat itu yang ada dalam pikiran saya adalah menjadi ahli ilmu alam yang mampu mengguncangkan dunia. Saya berpikir bahwa ilmu sosial seperti psikologi atau filsafat memiliki kesempatan lebih sedikit untuk mendapatkan hadiah nobel. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu minat saya terhadap ilmu alam semakin kecil. Saya telah salah memilih jurusan. Bahkan idealisme saya pun tidak mampu saya pertahankan. Saya telah lupa melihat kenyataan bahwa sejak dulu saya sebenarnya menyukai manusia. Saya ingin lebih memahami mengenai sifat-sifat manusia. Saya ingin mengetahui motif-motif manusia dalam hidup ini. Saya ingin mengetahui arti dari hidup. Dan saya tidak akan mendapatkan itu semua di ilmu alam.

Saya sadar bahwa saya harus masuk ke fakultas psikologi. Tempat dimana dahaga saya akan ilmu manusia terpuaskan. Saya tidak memiliki cita-cita yang sangat idealis seperti di kimia dulu ketika di psikologi. Saya hanya menyukainya. Itu cukup dan hingga saat ini nilai-nilai saya pun cukup memuaskan, tidak seperti di kimia dulu. Namun demikian, tentu saja saya masih memiliki tujuan saya kelak setelah saya lulus dari fakultas psikologi UI. Saya ingin lulus dengan cepat, yaitu tidak kurang dari 4 tahun agar saya bisa mewujudkan hal-hal yang saya cita-citakan. 5 tahun adalah waktu yang saya targetkan untuk mencapai cita-cita saya. Saya ingin setelah saya lulus dengan gelar magna cum laude (atau bahkan summa cum laude) saya melanjutkan studi saya di bidang psikologi kriminal (legal and criminal psychology) atau kriminologi (criminology) di luar negeri dengan beasiswa. Di Indonesia, masih cukup jarang ahli-ahli psikologi yang terjun ke dunia kriminal. Padahal sesungguhnya peran psikolog di tempat-tempat seperti penjara atau tempat kejadian perkara kriminal sangatlah dibutuhkan. Saya juga sangat ingin meneliti motif-motif pelaku kriminal dalam melakukan tindak kejahatan di Indonesia. Walaupun sekedar asumsi, bagi saya, terdapat perbedaan antara motivasi pelaku kriminal dalam melakukan tindak kejahatan d Indonesia dengan di negara-negara maju seperti Eropa atau Amerika. Di Eropa atau Amerika, mungkin yang menjadi motivasi utama adalah uang atau dendam kesumat. Namun di Indonesia, hal-hal yang bersifat mistis atau mungkin dendam sepele mampu memicu tindak kejahatan. Apa yang menginspirasi saya untuk menjadi peneliti psikologi kriminal sebenarnya cukup naif. Saya hanya terkagum-kagum ketika membaca berbagai novel-novel misteri detektif seperti Sherlock Holmes karangan Conan Doyle atau Hercule Poirot karangan Agatha Christie. Motivasi sang pembunuh sangat menarik bagi saya karena merepresentasikan kepribadian manusia yang unik bahkan sampai titik ekstrem. Saya juga sangat menyukai kepribadian manusia, oleh karena itu psikologi kepribadian adalah mata kuliah favorit saya di fakultas psikologi.

Terkait dengan keinginan saya diatas, saya juga harus memiliki ilmu tambahan di bidang psikologi kepribadian. Oleh karena itu, setelah saya menyelesaikan studi saya di psikologi kriminal, saya ingin mengambil pendidikan profesi psikolog klinis di UI. Saya memilih untuk melanjutkan studi kembali di UI karena tanpa gelar profesi psikolog, saya tidak mampu melakukan asesmen terhadap pelaku-pelaku kriminal. Psikologi klinis juga sangat berkaitan dengan psikologi kriminal karena dendam manusia atau motivasi-motivasi manusia pada tingkat individu didorong oleh hal-hal yang cukup rumit seperti masa lalu mereka, dorongan lingkungan dan budaya, atau mungkin kelainan genetik. Hal-hal semacam itu dipelajari di psikologi klinis. Selain itu, saya juga ingin membuka praktek konsultasi psikologi. Menjadi peneliti membutuhkan sokongan dana yang cukup besar oleh karena itu saya perlu mencari dana yang akan saya dapatkan jika saya membuka praktek konsultasi psikologi. Tentu dana lain untuk meneliti bisa didapatkan lewat yayasan-yayasan yang bergerak di bidang penelitian. Saya tidak menargetkan diri saya harus mendapatkan jumlah uang tertentu, asalkan saya bisa hidup dengan terpenuhinya kebutuhan bersama keluarga saya dan saya bisa meneliti, itu sudah cukup. Saya ingin penelitian saya mampu memberikan saya gelar yang lebih tinggi lagi, yaitu Doktor atau bahkan Professor. Bukan gelar yang menjadi target saya, namun kemudahan-kemudahan akses ilmu pengetahuan yang saya cari. Kemudahan itu bisa didapatkan jika saya menjadi seorang Professor.

Sampai saat ini, saya sudah mengarahkan semua tindakan saya untuk mewujudkan harapan dan cita-cita saya. Saya menekuni dengan mendalam mata kuliah-mata kuliah yang berhubungan dengan psikologi klinis dan kriminal. Saya juga berencana akan mengambil peminatan psikologi klinis dan psikologi sosial (psikologi sosial tempat dimana ada psikologi kriminal). Selain itu, saya juga mulai menekuni berbagai kepanitiaan dan organisasi agar saya dengan mudah bisa memeroleh beasiswa keluar negeri. Saya juga banyak membaca buku-buku terkait dengan psikopatologi (kelainan kejiwaan) dan psikologi legal dan kriminal. Saya juga sudah mulai mencoba penelitian kecil-kecilan yang saya lakukan sendiri. Jadi, idealisme saya yang terlalu buta telah saya akhiri semenjak setahun lalu. Saya kini lebih realistis dalam menuliskan cita-cita saya. Namun saya juga tidak mau terlalu menjadi realistis. Hidup saya akan terasa sangat membosankan jika saya melakukannya.