Tags

, , , , ,

Entah sudah berapa bulan lamanya saya tidak menulis lagi di blog ini. Tidak ada alasan apapun yang bisa saya kemukakan sebagai excuse untuk berhenti menulis di blog ini, melainkan karena perilaku prokrastinasi saya sendiri. Namun ketika saya membaca ulang berbagai artikel yang telah saya tulis disini, saya kembali berpikir bahwa saya tidak bisa mengabaikan blog ini terus menerus. Saya mencintai blog ini, bukan karena jumlah pengunjungnya, melainkan karena blog ini memiliki makna tertentu dalam hidup saya. Mungkin seperti anak perempuan dengan buku diarinya yang berwarna-warni. Tidak perlu ada yang melihat buku diari itu, tapi buku diari itu tetap punya makna bagi anak itu. Selayaknya seorang dengan tingkat extraversion yang tidak terlalu tinggi, sebagian besar energi saya dicurahkan kedalam diri saya sendiri terutama dalam bentuk pemikiran. Pemikiran-pemikiran itu kemudian saya tuangkan ke dalam tulisan-tulisan semacam ini.

Belakangan ini saya ingin sekali berkonsultasi dengan psikolog di kampus saya untuk lebih dalam mengetahui mengenai permasalahan yang sedang saya hadapi. Saya belakangan menyadari bahwa saya memiliki atensi (perhatian) yang cenderung mudah terdistraksi. Mungkin kata mudah terdistraksi tidak cukup menggambarkan hal ini, karena distraksi yang menyebabkan kurangnya atensi saya seringkali terjadi secara otomatis bahkan tanpa adanya stimulus-stimulus yang berfungsi sebagai distraktor. Hasilnya, pikiran saya secara otomatis seringkali melanglang buana saat rapat kegiatan kepanitiaan lalu saya jadi tidak mengetahui apa-apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang saat rapat tersebut. Saya juga seringkali tiba-tiba lupa apa yang ingin saya kerjakan meskipun saya sudah merencanakan hal itu sebelumnya. Seringkali juga, saya berjalan-jalan tanpa tahu arah karena saya tidak tahu apa yang ingin saya lakukan. Tidak sampai disitu, inatensi yang saya alami juga terkait dengan tugas-tugas perkuliahan saya selama ini. Saya seringkali sangat ceroboh karena tidak memperhatikan detil. Atensi saya tidak bisa saya kendalikan ketika harus memperhatikan hal-hal yang sangat mendetail, dan itu nampaknya juga terjadi secara otomatis.

Dampak dari hal-hal tersebut bagi saya luar biasa menyusahkan. Ketika perencanaan dan kegiatan organisasi berlangsung, saya seringkali bingung mengenai apa yang harus saya lakukan. Ketika saya berinisiatif melakukan sesuatu, apa yang saya lakukan dianggap tidak penting (dan sejujurnya, setelah saya pikir-pikir memang tidak penting juga) sehingga menimbulkan perasaan tidak nyaman dalam diri saya. Ketika saya mengikuti seleksi debat bahasa Inggris di kampus kemarin, saya tidak mampu menangkap apa-apa yang dibicarakan oleh setiap debaters karena saya harus membagi tugas saya antara menulis dan mendengarkan mereka. Saya tidak mampu melakukan hal tersebut, sehingga seleksi kemarin berlangsung cukup memalukan bagi saya. Terkait dengan nilai-nilai kuliah, kurangnya atensi saya ini menyebabkan kesalahan-kesalahan fatal yang disebabkan bukan karena kurangnya kemampuan atau pengetahuan, melainkan karena kecerobohan. Tidak sampai disitu, perilaku prokrastinasi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari karena meskipun saya sudah mencoba berbagai cara untuk mengubahnya, namun perilaku itu tetap melekat. Cara-cara yang umumnya saya gunakan adalah membuat jadwal, menyusun daftar to-do, menyusun rencana hidup, dan semacam itu. Namun, seakan semua itu tidak ada gunanya, berbagai distraksi telah membuat saya tidak mempertahankan atensi saya pada tujuan-tujuan itu. Bahkan tanpa adanya distraksi sekalipun, saya seringkali lupa dengan apa-apa yang harus saya lakukan.Dampak lainnya terkait dengan seringnya saya kehilangan barang-barang saya. Selama ini saya berpikir, apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya?

Setelah melakukan berbagai studi literatur dan internet browsing, saya akhirnya mendapatkan kesimpulan sementara bahwa saya memiliki simptom-simptom dari gangguan psikologis yang disebut dengan attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD) predominantly inattentive (PI). Berikut merupakan simptom-simptom yang saya alami:

Adults
Often making careless mistakes when having to work on uninteresting or difficult projects
Often having difficulty keeping attention during work, or holding down a job for a significant amount of time
Often having difficulty concentrating on conversations
Having trouble finishing projects that have already been started
Often having difficulty organizing for the completion of tasks
Avoiding or delaying in starting projects that require a lot of thought
Often misplacing or having difficulty finding things at home or at work
Disorganized personal items (sometimes old and useless to the individual) causing excessive “clutter” (in the home, car, etc.)
Often distracted by activity or noise
Often having problems remembering appointments or obligations, or inconveniently changing plans on a regular basis

Source: http://en.wikipedia.org/wiki/ADHD_predominantly_inattentive

Saya juga telah membaca DSM-IV-TR dan buku Psikologi Abnormal untuk mengetahui lebih dalam mengenai ADHD-PI ini. Banyak simptom yang saya rasa memang cocok dengan diri saya ini. Namun demikian, ketika kita membicarakan DSM-IV-TR dan diagnosis gangguan-gangguan psikologi klinis, hanya profesional terlatih saja yang mampu melakukannya. Saya bukanlah salah satunya, karena saya baru seorang mahasiswa yang bahkan mata ajar psikologi abnormal pun saya belum ambil. Oleh karena itu, setidaknya ada yang bisa saya lakukan, yakni mengumpulkan data-data hasil tes dari teman-teman saya untuk dibandingkan dengan hasil tes diri saya. Tes ini pun juga bukanlah tes terstandardisasi karena saya mendapatkan tes ini hanya dengan simple internet browsing saja. Lalu hasilnya cukup bisa diprediksi. Saya berada diatas nilai 70 (saya mendapat 80) dimana menurut tes itu, saya kemungkinan mengalami ADHD orang dewasa dan perlu melakukan diagnosis lebih lanjut ke psikologatau psikiater. Beberapa teman saya yang juga mengikuti tes itu hanya mendapatkan nilai moderate ADHD, yakni sekitar 50 poin. Namun, ada dua orang yang nilainya sama dan lebih tinggi daripada saya. Hal ini membuat saya bernapas sedikit lega, karena mungkin saja tes di internet itu bukanlah tes yang valid dan bisa diandalkan. Atau mungkin saja apa yang terjadi pada diri saya ini hanyalah sesuatu yang biasa terjadi tanpa harus dikategorikan sebagai gangguan psikologis.

Saya meyakini hal tersebut sampai ketika saya mengingat mengenai suatu fakta yang pernah saya baca di buku The Science of Psychology: An Appreciative View karya Laura A. King. Dalam buku itu dituliskan bahwa prevalensi penderita ADHD jumlahnya sangat menakjubkan. Jumlah penderita ADHD sangatlah tinggi. Hal ini membuat para ahli dan pengamat mempertanyakan apakah mereka yang terdiagnosis ADHD sebenarnya merupakan orang-orang dengan perilaku normal? (sebagaimana dikutip dalam King, 2011) Ternyata, ADHD memang gangguan psikologis yang memiliki basis biologis dimana terdapat abnormalitas dalam otak. Oleh karenanya, saya saat ini menduga bahwa apa yang terjadi pada saya dan dua orang teman saya itu memang merupakan suatu gangguan. Saat ini saya dan salah seorang teman saya itu berencana akan menemui psikolog klinis terkait dengan permasalahan diatas.

Namun, sebelum saya sempat datang ke psikolog klinis, suatu hari saya menemani seseorang datang ke traditional healing karena ia menderita suatu penyakit. Dia yang sudah putus asa karena dokter manapun menyatakan ia harus dioperasi dan kemungkinan operasi berhasil sangatlah kecil, memutuskan untuk mencoba traditional healing meskipun bertentangan dengan nilai-nilai yang dianutnya. Namun ia merasa bahwa Tuhan pastilah mampu menyembuhkan lewat tangan siapapun. Saya cukup salut dengan sikapnya ini. Lalu apa yang terjadi? Saya tidak berencana untuk memeriksakan diri saya karena saya lebih percaya dengan ilmu pengetahuan bila dibandingkan dengan cara-cara tradisional. Namun, tiba-tiba si pengobatnya menyatakan bahwa saya memiliki masalah dalam fungsi-fungsi motorik (yang dia maksud sebenarnya kognitif). Dia bersedia mengobati saya. Saya luar biasa terkejut. Saya selama ini tidak pernah memberitahukan siapapun kecuali teman-teman saya (itupun melalui message yang rahasia), dan bahkan tidak ada satupun keluarga saya yang tahu, lalu kenapa dia bisa tahu? Dia kemudian melanjutkan bahwa saya memiliki masalah dalam konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan motorik. Benar sekali! Mendengarkan hal itu saya hanya bisa melongo. How did he notice? Dia bilang, hal itu terlihat dari mata saya yang tidak berkonsentrasi penuh saat mendengarkan. Detik itu juga saya ragu. Haruskah saya mempercayai kata-kata dia? Haruskah saya mengkhianati ilmu pengetahuan untuk pengobatan yang… well… primitif, seperti ini? Pada akhirnya, saya putuskan bahwa tidak ada salahnya dicoba, bukan? Lagipula, jauh sebelum dokter-dokter berjas putih menguasai rumah sakit, mereka yang membutuhkan pengobatan mendatangi orang-orang seperti ini. Saya hanya menganggap bahwa ia menggunakan cara-cara pengobatan timur, dan bukan menggunakan kekuatan setan (the fuck?) seperti yang mungkin diyakini orang banyak. Lagipula, saya juga tidak percaya dengan hal-hal semacam itu.

Beberapa hari kemudian, saya merasakan bahwa atensi dan kemampuan kognitif saya cenderung membaik meskipun masih kurang. Saya hanya bisa bertanya-tanya, ada apa ini? Apa yang telah dilakukan oleh si pengobat itu? Apakah hal-hal berbahaya? Saya kemudian teringat cerita dosen saya mengenai trip mahasiswa UI yang berujung pada kecelakaan salah seorang mahasiswa. Kakinya patah, namun di tempat itu tidak ada dokter, yang ada hanya traditional healing. Si pengobat menyembuhkan mahasiswa itu dengan cara yang sangat tidak masuk akal, namun ternyata berhasil. Dosen saya pun kebingungan. Lho kok bisa ya? Saya tidak mau memikirkan hal tersebut. Bagi saya yang cukup tinggi openness to experience-nya (bukan narsisistik XD , tapi lagi-lagi hasil tes), hal-hal semacam ini hanya akan memperkaya pengalaman saya saja. Pertanyaan-pertanyaan itu remain unsolved, tapi setidaknya saya mendapatkan satu hal. Bahwa sebenarnya masih banyak hal-hal yang tidak dipahami oleh dunia ilmu pengetahuan. Tapi saya percaya, suatu ketika hal-hal semacam ini akan dapat dipahami dalam buku besar ilmu pengetahuan sehingga menjadi koleksi bagi kesejahteraan manusia di bumi ini (Well, agak OOT dan lebay, haha).

Lalu, apakah masalah saya yang satu ini selesai? Belum. Saya masih ingin meminta pendapat psikolog mengenai hal ini. Let’s return to the science. :)

Source:

King, L.A. 2011. The science of psychology: an appreciative view, 2nd edition. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.

http://en.wikipedia.org/wiki/ADHD_predominantly_inattentive (last access at 07:30 Wednesday, 8 February 2012)