Tags

, , , , ,

Erik H. Erikson, dalam teorinya menyebutkan bahwa perkembangan kepribadian terdiri atas 8 tahap yang terbagi atas periode-periode perkembangan tertentu. Perkembangan kepribadian, bagi Erikson merupakan perkembangan yang sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dimana sistem-sistem budaya, pola asuh, agama, kepentingan politik, seni, dan ilmu pengetahuan mempengaruhinya.

Ketika kita baru saja lahir, misalnya. Kita membutuhkan figur seseorang (yang biasanya orangtua) untuk memberikan apa-apa yang kita butuhkan, seperti makanan, susu, perawatan, dan hal-hal lainnya. Pemuasan kebutuhan ini menjadi sangat penting karena pada periode ini si anak akan memutuskan apakah ia akan percaya dengan orang lain, ataukah ia akan mengembangkan kecurigaan dan rasa tidak percayanya pada orang lain. Periode ini disebut oleh Erikson sebagai Basic Trust versus Mistrust. Tugas perkembangan pada masa ini diserahkan kepada perawatan dan pemenuhan kebutuhan dari orang yang menyayangi kita dan berdampak pada bagaimana kita memandang dunia.

Pada periode-periode selanjutnya, tugas perkembangan yang perlu dilakukan pun berbeda pula. Pada usia balita, tugas perkembangan adalah mengembangkan otonomi diri yang menyadari bahwa diri adalah individu yang terlepas dari orangtua. Pada usia anak sekolah, tugas perkembangan adalah mengeksplorasi lingkungan sekitar untuk memperoleh kemampuan-kemampuan yang dianggap penting pada masyarakat seperti matematika, olahraga, seni, dan sebagainya. Pada usia orang dewasa (tepatnya usia 40-an), tugas perkembangan adalah memberikan kasih sayang pada orang-orang yang penting, seperti anak dan orangtua.

Lalu apakah tugas perkembangan untuk seorang remaja? Menurut Erikson, tahap remaja merupakan tahap yang sangat penting dari semua tahapan perkembangan yang ia berikan karena tahap perkembangan remajalah yang akan menentukan seperti apa pola-pola perkembangan seseorang di tahap-tahap berikutnya. Oleh Erikson, tahapan ini ia sebut sebagai tahap Identity versus Role Confusion. Apa maksudnya?

Tahap ini merupakan tahap dimana seseorang sedang mencari identitas dirinya, apa yang penting bagi dirinya dan mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan di masa depan mengenai akan jadi siapa dirinya kelak. Bagi sebagian orang, tahapan perkembangan ini cukup mudah dijalani. Mereka dengan mudah menerima diri apa adanya dan memutuskan akan jadi apa dirinya kelak. Namun, bagi sebagian orang lainnya (termasuk Erikson), tahap ini merupakan tahap yang penuh perjuangan karena banyak hambatan-hambatan yang ditemui dan dialami sebelumnya.

Tak terkecuali saya. Saya juga bukan orang yang mendapatkan identitas saya dengan mudah. Perlu pemahaman diri yang sangat mendalam dari diri saya demi mengetahui identitas saya yang sesungguhnya. Baru belakangan ini saya merasa bahwa saya sudah cukup melengkapi kepingan-kepingan identitas saya, dan dengan proses yang sangat panjang. Berikut ini adalah kebingungan-kebingungan yang saya alami semenjak saya berada di masa remaja awal.

1. Apakah saya berada di tempat yang tepat untuk saya?

Pada usia remaja awal, sempat dulu saya mengalami kebingungan mengenai apakah saya nberada di tempat dimana saya dapat memperoleh kasih sayang dari orang lain? Apakah saya berada di tempat dimana orang lain tidak menginginkan saya? Dulu, saya menyimpulkan bahwa saya tidak berada di tempat yang tepat untuk saya karena di tempat itu tidak ada orang-orang yang menyayangi saya apa adanya. Saya yang sebenarnya. Dari tempat itu, saya memutuskan untuk melarikan diri. Keputusan yang tidak pernah saya sesali sampai detik ini.

2. Apakah saya tidak membutuhkan orang lain?

Dulu, saya menganggap bahwa diri saya adalah diri yang penyendiri. Orang-orang tidak suka dengan saya. Saya salah karena menjadi diri saya apa adanya. Oleh karenanya, saya merasa rendah diri. Saya merasa bahwa saya tidak lebih baik dari orang lain. Perbandingan diri selalu saya lakukan. Anggapan bahwa orang lain tidak suka pada saya menghantui saya sehingga saya lebih memilih untuk menjadi penyendiri. Alasannya, saya tidak membutuhkan orang lain. Namun, siapa yang tidak membutuhkan orang lain?

Saya sadar bahwa ternyata, saya sangat ingin diperhatikan oleh orang lain. Dulu bahkan sampai waktu saya menyadari hal ini belakangan ini, saya tidak henti-hentinya mencari pengakuan orang lain dengan cara yang cukup neurotis seperti berpura-pura bertanya pada figur otoritas dalam suatu kelas sekolah atau perkuliahan untuk memamerkan pengetahuan saya. Saya tidak henti-hentinya mencari pengakuan dengan memuji-muji orang lain dan tidak ingin kelihatan jelek didepan orang lain. Saya menjadi perfeksionis.

Belakangan, saya tersadar bahwa hal-hal yang saya lakukan diatas tak akan pernah membawa kepuasan pada diri saya. Setiap kepuasan yang saya peroleh selayaknya seperti sebuah karung yang bocor. Upaya pemenuhan kebutuhan neurotis itu tidak pernah terisi penuh. Dengan kesadaran yang saya peroleh ini, saya saat ini sudah tidak lagi melakukan hal-hal neurotis semacam diatas meski saya yakin masih belum sepenuhnya bisa saya hilangkan.

Penolakan orang lain, atau ejekan orang lain, misalnya. Saya tidak bisa merespon dengan biasa saja atas hal itu. Saya masih takut dengan kenyataan bahwa ada orang yang tidak menyukai diri saya.

3. Apakah saya orang yang pintar ataukah bodoh?

Pintar atau bodoh tidak pernah ada definisinya dalam psikologi. Namun, disini yang menjadi penekanan saya adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh teman-teman saya, nampaknya hanya saya saja yang tidak memilikinya. Sebaliknya, ada kemampuan saya yang nampaknya tidak dimiliki oleh mereka.

Sudah lama sebetulnya, namun baru-baru ini saya menyadarinya, bahwa saya ternyata tidak memiliki kemampuan-kemampuan yang bersifat teknis, resolutif, konkrit, dan mekanis. Kemampuan seperti memahami gagasan-gagasan organisasi dan kepanitiaan yang konkrit misalnya, saya cenderung sangat lambat. Kemampuan lainnya seperti menjelaskan kepada orang lain secara spontan dengan alur yang konkrit juga tidak bisa saya lakukan. Bahkan, mendengarkan hal-hal yang bersifat konkrit, teknis, dan resolutif tidak bisa saya lakukan sehingga membutuhkan pengulangan yang berkali-kali dari orang yang memberikan penjelasan.

Meski demikian, kekuatan saya berada di bidang-bidang abstrak. Saya berkutat pada ide-ide personal saya dan memiliki kemampuan memahami ide teoretis dengan lebih maksimal. Saya tidak menyadari hal ini sampai ketika saya menemui psikolog baru-baru ini.

Apakah saya dalam hal ini layak disebut bodoh? Bagi masyarakat yang menganggap bernilai kemampuan-kemampuan konkrit dan praktis, tentu saja saya dianggap bodoh. Parahnya, masyarakat secara umum bisa dianggap menilai penting kemampuan-kemampuan itu. Siapa yang bisa tahan dengan ide-ide abstrak yang tidak dimengerti oleh kebanyakan orang dan hanya dimengerti oleh diri saya sendiri? Orang mana yang suka dengan gagasan-gagasan abstrak namun tidak pernah bisa merealisasikannya?

Sampai saat ini, saya sudah menerima diri saya yang dianggap kurang dalam kemampuan konkrit, namun saya masih mengembangkan strategi dimana saya bisa melakukan hal-hal konkrit dengan lebih maksimal.

4. Akan jadi apa diri saya kelak?

Cita-cita pertama yang saya ingat ketika saya kecil adalah, saya ingin menjadi seorang paleontolog yang meneliti mengenai fosil-fosil dinosaurus. Dulu, saya terinspirasi dengan film-film seperti Jurassic Park, A Land Before Time, dan film-film hewan prasejarah lainnya. Kemudian lama setelahnya, yaitu pada usia saya sekolah dasar, cita-cita saya berubah sama sekali. Dulu saya ingin menjadi seorang rohaniawan. Ternyata, cita-cita terakhir ini memang tidak jauh-jauh dari apa cita-cita saya sekarang ini.

Saya belajar psikologi saat ini. Dimensi intrapsikis bagi saya adalah pembahasan psikologi yang luar biasa menarik. Itulah mengapa saya menyukai teori-teori psikodinamika dan humanistik, dan mengapa saya tidak menyukai teori-teori behavioristik dan kognitif yang terlalu bersifat mekanistik. Dan berkat pengetahuan bahwa saya lebih menyukai pembahasan intrapsikis dari manusia, (seperti filsafat dan salah satunya agama) saya sadar bahwa di bidang inilah saya bisa berkutat.

Apa hubungannya dengan rohaniawan? Ok, saya tidak ingin menjadi rohaniawan seperti dulu, tapi saya ingin menjadi seorang psikolog kepribadian yang mempelajari bidang psikologi agama. Pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai agama adalah minat saya yang sangat utama disamping ketertarikan saya pada filsafat dan psikologi kepribadian dan psikologi abnormal. Bagi saya, bidang-bidang diatas banyak berkutat dengan dimensi intrapsikis dalam diri seseorang. Saya, yang menyukai pemikiran abstrak dibandingkan konkrit, jauh lebih menyukai bidang-bidang ini dibandingkan dengan bidang-bidang psikologi lainnya.

Jadi, saya rasa saya akan menjadi seorang psikolog yang meneliti di bidang-bidang diatas. Dulu, sempat saya ingin menjadi seorang psikolog forensik, namun saya menyadari bahwa ketertarikan saya dibidang itu tidak cukup karena saya hanya tertarik pada kriminal yang mengalami gangguan psikologi, seperti psikopat.

Artikel ini mungkin akan dikembangkan dikemudian hari, dikarenakan sama seperti Erikson, mungkin saja sebenarnya saya masih belum menyelesaikan krisis identitas saya.

Namun, secara umum, saya merasa bahwa saya sudah cukup menerima diri saya apa adanya dan siap untuk pergi ke tugas perkembangan selanjutnya menurut Erikson, yaitu tahap Intimacy versus Isolation.