Tags

, , , , , , , ,

Sebuah review dari buku Daniel L. Pals yang berjudul Seven Theories of Religion.

Sebenarnya saya sendiri belum selesai membaca buku ini. Baru 3 dari 7 tokoh yang selesai saya baca, oleh karenanya disini saya ingin coba memberikan review dan rangkuman singkat mengenai 3 tokoh yang sudah saya baca. Tokoh-tokoh itu diantaranya E.G. Tylor & Sir James Frazer, Sigmund Freud, dan Karl Marx. Ketiga tokoh ini menggunakan pendekatan ilmu tertentu untuk memahami agama. Tylor & Frazer menggunakan pendekatan evolusionistik dan antropologi, Freud menggunakan psikoanalisis, dan Marx menggunakan teori ekonomi Marxisme.

Apa yang membuat saya ingin mencoba merangkum mereka bertiga simply adalah karena saya ingin me-review pemahaman saya atas ketiga teori itu, sekaligus mencoba men-share teori-teori mengenai agama yang didasari oleh studi empiris. Kedepannya, artikel ini mungkin akan dimodifikasi dan ditambahkan dengan teori-teori yang belum terjamah seperti teori agama dari Mircea Eliade, Emile Durkheim, E. Evans-pritchard, dan Clifford Geertz.

Saya harap tidak ada diskusi masalah SARA disini dikarenakan apa yang saya lakukan disini tidaklah untuk memberikan penilaian moral, melainkan semata-mata untuk membahas buku yang saya sebutkan diatas saja.

Sejauh ini, ketiga teori yang akan dibahas disini merupakan teori yang menganggap agama sebagai sistem kepercayaan yang keliru dan tidak patut dipertahankan.

1. Animisme dan Magis (E.G. Tylor & J.G. Frazer)

Tylor & Frazer menganggap agama sebagai bentuk kepercayaan yang keliru dan kedudukannya telah digantikan oleh ilmu pengetahuan sebagai dasar pemahaman fenomena.

Menurut Tylor, esensi dari agama adalah roh (anima), yaitu kepercayaan terhadap sesuatu yang hidup dan punya kekuatan yang ada di balik segala sesuatu. Bagaimana hal ini bermula? Dulu, para filosof-filosof liar (sebutan Tylor untuk dukun-dukun pada masa lampau dan pemikir-pemikir pada masa lampau) menginterpretasi mimpi dan kematian sebagai sesuatu yang diwarnai oleh roh yang memiliki kepribadian dan terpisah dari tubuh. Mereka kemudian melakukan analogi dan ekstensi bahwa roh dapat mengendalikan banyak hal diluar manusia, seperti alam. Lalu, muncullah pertanyaan. Tidakkah sebenarnya ada roh-roh yang mengendalikan elemen tertentu? Lalu muncullah dewa-dewi yang punya tugas-tugas tertentu. Lalu muncullah juga malaikat dan setan. Lalu, tidakkah mungkin ada kekuasaan tertinggi? Lalu Zeus, Odin, Amon-Ra, Amaterasu, dan Allah, Tuhan Bapa, dan Jehovah pun muncul.

Jiwa bersifat lebih kekal daripada tubuh. Ini menunjukkan mengapa pada kepercayaan agama tertentu ada yang disebut reinkarnasi dan agama lainnya menekankan pada hari pembalasan. Namun, peneliti-peneliti modern telah membuktikan bahwa anima atau roh tidaklah ada dalam semua elemen-elemen alam. Jika yang menjadi pondasi dasar pemikiran munculnya agama adalah kekuatan roh, maka sejak awal sudah terjadi kekeliruan besar. Pemahaman manusia yang terbatas pada masa lampau telah menyebabkan pemikiran mengenai agama muncul. Sebuah kesalahan yang tidak bisa diubah akibat belum majunya pemikiran pada masa lampau.

Sementara itu, Frazer lebih menekankan pada relasi agama dengan magis. Agama muncul terlebih dahulu diawali oleh kepercayaan sistem magis. Sejak dahulu, manusia memahami bahwa alam memiliki sifat-sifatnya yang representatif dengan sifat-sifat yang dimiliki manusia. Itulah sebabnya kenapa kita bisa merepresentasikan laut sebagai elemen yang tenang sekaligus penuh amarah, hutan yang misterius dan menyimpan banyak rahasia, petir yang dapat menghukum, kesuburan tanaman sebagai lambang reproduksi, dan masih banyak lagi.

Dari sini, manusia mengasumsikan bahwa mereka dapat melakukan imitasi dan diasumsikan pula bahwa ada keterikatan antara imitasi yang dilakukan manusia dengan fenomena alam. Dari sinilah magis bermula. Manusia merasa dengan imitasi yang mereka lakukan, mereka dapat melakukan kontak dengan alam sehingga mengubah alam bagi manusia bukanlah suatu hal yang mustahil. Dengan magis, mereka merapal mantera-mantera dan melakukan penumbalan-penumbalan demi satu hal, yakni mengubah alam. Menurut mereka, jika magis dilakukan dengan tepat, maka akan benar dapat mengubah alam. Tarian hujan, misalnya, jika dilakukan dengan tepat maka akan benar-benar mendatangkan hujan.

Namun, seiring waktu, manusia merasa bahwa mereka tidak mampu mengontrol alam. Yang dapat mereka lakukan adalah memohon pada roh-roh totem atau dewa-dewi agar mendatangkan kebaikan pada manusia, dan memohon agar totem dan dewa tidak murka pada manusia. Mereka hanya bisa berdoa. Lalu, disanalah peran Tuhan yang dapat mendatangkan kebaikan pada manusia yang mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya lalu memberikan hukuman dan murka pada manusia yang melakukan sebaliknya.

Kritik teori mereka adalah masalah pengambilan data yang tidak memperhitungkan konteks tempat dan waktu sehingga diragukan apakah memang bisa dilakukan perbandingan lintas budaya seperti yang mereka lakukan.

2. Kepribadian dan Agama (Sigmund Freud)

“Tuhan ada, manusia tidak dewasa.” (Sigmund Freud, The Future of Illusion)

Freud, bapak psikoanalisis dan orang pertama yang secara teoretis melakukan revelasi terhadap alam bawah sadar manusia merupakan teoretikus kepribadian yang sangat kontroversial. Topik-topik seks dan agresi menjadi bahasan utama dalam psikoanalisis.

Freud dalam bukunya yaitu Totem & Taboo menganggap bahwa asal-muasal agama dapat ditelusuri dengan menelusuri dinamika kepribadian psikoanalisis. Agama ada meskipun orang-orang tetap melakukan dosa dan agama tetap ada meskipun manusia merasa bahwa klaim-klaimnya banyak yang bersifat irasional. Dalam teori kepribadian Freud, hal-hal yang bersifat irasional ditekan dalam bawah sadar dan akan dorongan itu akan muncul dikemudian hari. Dengan kata lain, agama memberikan peraturan-peraturan, namun secara irasional manusia tetap saja melakukan pelanggaran-pelanggaran itu, namun pada akhirnya ditekan karena kecemasan. Seperti dijelaskan olehnya, kecemasan apapun yang ditekan akan akan menetap di bawah sadar dan akan muncul di kemudian hari meski tidak diketahui kapan.

Pada masa lampau, jauh sebelum agama terbentuk, manusia membunuh ayah mereka dan menguasai ibu mereka. Namun, hal itu telah memunculkan kecemasan pada diri mereka. Lalu mereka menekan perasan itu. Rasa bersalah yang ditekan pada masa lampau atas pembunuhan terhadap ayah dan pemerkosaan terhadap ibu itu pada akhirnya membuat anak menyembah sang ayah, dan diberlakukan tabu bahwa sang ibu tidak boleh disetubuhi oleh anak. Anak harus mencari pasangan dari tempat lain selain keluarga. Namun, pada dasarnya, meskipun mereka membenci sang ayah dan tabu untuk menyetubuhi ibu, tetap saja konflik oedipal akan terus terjadi sehingga kebencian dan keinginan itu tidaklah sempurna hilang meskipun sudah berusaha disembah dan dijadikan tabu. Pada akhirnya, manusia akan terus melakukan pelanggaran-pelanggaran itu. Hal ini secara langsung merupakan proses bagaimana agama berkembang. Ayah yang disembah pada awalnya sebagai totem dikembangkan menjadi Tuhan Bapa dan Tuhan-Tuhan maskulin lainnya. Toh manusia tetap saja melanggar apa yang diperintahkan.

Dalam bukunya yang berjudul The Future of Illusion, Freud melakukan pendekatan yang berbeda dari Totem & Taboo. Dalam buku ini, agama dianggap sebagai sebuah ilusi. Agama memberikan dogma bahwa Tuhan akan melindungi manusia dari marabahaya dan ancaman-ancaman jahat. Manusia terpukau oleh ilusi ini sehingga mereka merasa bahwa Tuhan melindungi mereka. Hal ini menyebabkan mereka tidak pernah dewasa. Mengapa? Bagi Freud, hal tersebut sama dengan sosok ayah yang memberikan perlindungan pada anak. Ia melindungi anak dari bahaya-bahaya luar. Namun, seiring waktu ia semakin besar, figur ayah semakin hilang dan puncaknya ada di kematian ayah dan kedewasaan anak.Anak, yang ingin ada figur ayah yang tetap melindunginya, memunculkan ilusi bahwa Tuhan adalah sosok yang melindungi dari bahaya.

Kritik pada toeri Freud sebagian besar berasal dari pendapat bahwa psikoanalisis bukanlah ilmu pengetahuan. Selain itu, bukankah ada agama-agama tertentu yang lebih memfokuskan pada Tuhan Ibu dan bukan Tuhan Ayah?

3. Agama Sebagai Bentuk Alienasi (Karl Marx)

Apa yang menjadi keutamaan itu? Hegel akan menjawab ide, sementara Marx akan menjawab materi. Marx telah menemukan fakta bahwa manusia tidak mencari agama sejak ia lahir. Manusia mencari makanan, minuman, dan pakaian jauh sebelum ia mencari agama.

Dunia kapitalisme kita diliputi ketidaksetaraan antar kelas. Tuan tanah dan para budak, pengusaha dan ribuan buruh, bangsawan dan pelayan-pelayannya, raja yang agung dan rakyatnya yang hina, dan masih banyak lagi contohnya. Bagi Marx, pelan tapi pasti akan timbul revolusi besar dan perang yang dimulai oleh kelas pekerja dan buruh untuk menggulingkan kekuasaan tuan tanah. Hal ini perlu terjadi agar manusia dapat kembali pada sistem masyarakat mereka yang ideal pada zaman lampau. Semua hal adalah milik masyarakat, tidak ada yang namanya milik pribadi. Dengan ini, manusia menjadi setara. Tidak perlu lagi ada yang namanya tuan tanah yang menguasai tanah dan kemewahan sementara budak-budak berjejal-jejalan di kampung-kampung kumuh dan bekerja sekaligus membayar pajak bagi tuan tanah.

Pada perjalanannya, dalam dunia yang kapitalistik itu, muncullah berbagai sistem-sistem yang mendukungnya. Hukum ditegakkan untuk mendukung kepemilikan pribadi yang menjadi esensi dasar kapitalisme. Begitu pula dengan sistem-sistem lainnya seperti ilmu pengetahuan yang cenderung mengutamakan hak individu peneliti, seni dengan karakteristik yang sama, sampai pada sistem lainnya, yang salah satunya adalah agama. Semua sistem-sistem ini tak ubahnya merupakan sistem-sistem yang membuat manusia teralienasi dari apa yang seharusnya mereka capai, apa yang seharusnya mereka perbuat. Bagaimana agama sampai membuat manusia teralienasi?

Agama bagi Marx tak ubahnya merupakan candu yang disebabkan sistem kapitalisme dan hal ini paling banyak mempengaruhi kaum buruh dan pekerja. Bukan Tuhan yang menciptakan agama, tapi manusia yang menciptakan agama itu sendiri sebagai akibat dari kekalahan mereka atas kelas yang lebih tinggi. Benar. Pada kenyataannya, klaim-klaim agama sangatlah tergantung dengan kondisi ekonomi manusia. Tidak pernah klaim-klaim agama terlepas dari itu. Sebagai contoh, klaim-klaim semacam ini:

Tenanglah wahai hambaku, penderitaan kalian akan digantikan dengan kekekalan di Surga.

Janganlah iri hati, bekerja keraslah, dan Tuhan akan membalasmu kelak.

Harta tidaklah penting bagimu, karena harta yang akan membutakanmu.

Jangan kuatir, sebab orang yang menindasmu akan dimasukkan ke dalam api neraka.

Bagi Marx, semua doktrin-doktrin semacam diatas hanyalah candu yang membuat kaum pekerja kehilangan niat mereka untuk melawan kaum tuan tanah. Mereka terbawa oleh ilusi bahwa mereka akan hidup bahagia di kemudian hari dengan pertolongan Tuhan, oleh karenanya saat itu juga mereka tidak boleh iri hati dan mengeluh atas kondisi mereka saat itu. Padahal, agar mereka tidak lagi teralienasi, mereka sepatutnya tidak menciptakan ilusi semacam itu. Seharusnya, mereka menentang kaum tuan tanah agar terjadi kesetaraan sosial kelak. Oleh karenanya, agam menjadi aktor penghambat manusia dalam mencapai esensi mereka sebenarnya.

Marx sendiri sebenarnya tidak pernah secara terang-terangan memusuhi agama. Baginya, agama hanyalah merupakan suatu superstruktur yang muncul dikarenakan sistem kapitalisme. Oleh karenanya, yang patut dihancurkan bukanlah agama, tetapi kapitalisme yang menjadi akar dari munculnya superstruktur-superstruktur. Adapun kritik terhadap Marx adalah pemikirannya yang luar biasa itu telah terbukti mengalami berbagai kegagalan dari segi teknis. Kesetaraan sosial tidak terjadi karena pada masa transisi menuju kesetaraan sosial, diktator-diktator menguasai negara juga dengan mengutamakan kepentingan pribadi. Selain itu, sulit untuk memikirkan agama sebagai akibat dari sistem ekonomi. Kenapa bukan sistem ekonomi yang menjadi akibat dari agama?

Dari pembahasan diatas, dapat kita lihat bahwa ketiga tokoh ini menganggap agama sebagai hal yang negatif. Meski demikian, mereka bertiga juga mendapatkan kritik dari teori agama selanjutnya yang mungkin akan dituliskan disini, yaitu Mircea Eliade. Bagi Eliade, agama haruslah dipandang sebagai sesuatu yang independen. Tidak perlu dikait-kaitkan dengan prinsip antropologi, psikologi, dan ekonomi. Eliade menganggap teoretikus-teoretikus seperti Tylor, Frazer, Freud, dan Marx terlalu reduksionis dalam memandang agama. Selain Eliade, masih ada tiga tokoh lainnya, dimana salah satunya juga menggunakan pendekatan ilmu tertentu dalam memandang agama, yaitu Emile Durkheim dengan pendekatan sosiologi. Semoga dalam waktu dekat ini bisa dibahas dan dituliskan di blog ini.

Daftar Pustaka:

Pals, Daniel L. (2011). Seven theories of religion: Tujuh teori agama paling komprehensif. Jogjakarta: IRCiSoD.