Tags

, ,

Meski judulnya mirip, namun ini bukanlah artikel yang akan membahas mengenai perbedaan antara wanita dan pria seperti buku-buku psikologi populer yang biasa dijual di toko buku terdekat. Meski begitu, memang pembahasannya dapat dikatakan mirip. Mirip, karena pendekatan perspektif evolusi dalam psikologi yang biasa digunakan dalam buku-buku itu juga akan digunakan disini. Mengapa perspektif evolusi? Eksplanasi dalam pemilihan pasangan yang didasari pendekatan evolusionistik nyatanya memang merupakan teori yang cukup baik dalam menjelaskan mekanisme pemilihan pasangan.

Sejak dulu, tidak jarang saya mengamati wanita yang nampaknya tergila-gila pada sosok seorang dokter. Seorang dokter seakan-akan memiliki semua kualitas yang dibutuhkan dari seorang pasangan hidup. Pernah sekali bahkan, saya temui ada seorang wanita yang tidak memerlukan syarat apapun dalam memilih pasangan hidup, selain syarat bahwa si pria itu haruslah seorang dokter. Sosok seorang dokter pria nampaknya memicu “kyaa” moment bagi wanita-wanita ini. Ketika ditanya alasannya, mereka umumnya menjawab,

“soalnya dokter tuh sosoknya pintar dan cerdas”

“iya, karena kalo punya suami dokter udah terjamin loh hidupnya nanti”

“keliatan cool cool gimana gitu”

“iya, biar kalo sakit atau anak sakit ada yang ngobatin”

“udah ganteng, pinter, kaya, haduuh… menantu idaman banget lah pokoknya” (bah -_-a)

Komentar-komentar semacam itu tidak sekali atau dua kali saja terdengar di telinga saya. Bahkan, tidak hanya dari mulut seorang wanita, ayah-ayah (dan ibu-ibu tentunya) yang ingin putrinya hidup terjamin tidak ragu-ragu pada sosok seorang menantu dokter (jadi inget sinetron yah, yang kebanyakan profesi tokohnya itu dokter, hahaha). Atau bahkan dari segi penilaian masyarakat. Coba lihat mahasiswa-mahasiswa kedokteran. Mereka nampak dielu-elukan. Masuk ke jurusan kedokteran merupakan suatu nilai tersendiri nampaknya. Jika seorang calon mahasiswa memilih jurusan sastra Jawa, komentar yang terdengar mungkin adalah: “haduuh, percuma kuliah mahal-mahal cuma ambil jurusan gak jelas gitu masa depannya.” Tapi, jika calon mahasiswa itu memilih jurusan kedokteran, yang terdengar adalah, “wah hebat ya, calon dokter nih.”

Back to topic. Intinya, wanita nampaknya memiliki kecenderungan untuk menganggap dokter sebagai pasangan ideal. Tapi sebenarnya itu cuma mitos atau emang beneran gak sih? Psikologi evolusionistik memiliki jawabannya.

Berdasarkan psikologi evolusionistik, kaum wanita lebih menyeleksi pasangannya ketimbang kaum pria. (Kanazawa, 2009; Smith, 2010) Menurut salah satu penelitian, pria cenderung memilih wanita pasangannya berdasarkan kemenarikan fisik sementara wanita lebih melihat kepribadian dan faktor ekonomi dari si pasangan pria. Hal ini mungkin menjelaskan kenapa kita lebih sering melihat pria yang tidak menarik secara fisik mampu menggandeng wanita yang luar biasa seksi. Ini juga menjelaskan mengapa wanita-wanita seksi menjadi pendamping pria-pria konglomerat. Alasan dibalik ini adalah bahwa proses reproduksi dan pasca reproduksi bagi seorang wanita jauh lebih beratketimbang pria. Hal ini menyebabkan si wanita perlu memastikan keberlangsungan proses reproduksi dan perawatan anak berjalan dengan baik.

Apa maksudnya? Tugas seorang wanita adalah memastikan keberlangsungan hidup keturunan-keturunan mereka sehingga anak-anak mereka perlu mendapatkan perlindungan dan kesejahteraan yang layak. Untuk itu, ia mencari kualitas-kualitas yang dapat memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi anak-anak mereka kelak. Seorang pria yang mampu memastikan keberlangsungan hidup keturunan-keturunan mereka merupakan pasangan yang sangat ideal bagi wanita. Disinilah alasan mengapa seorang dokter menjadi begitu menarik bagi kaum hawa.

Profesi dokter merupakan profesi yang amat sangat dijunjung tinggi dalam masyarakat, seperti dibahas sebelumnya. Profesi ini memiliki peran yang sangat penting terkait dengan pemahaman mereka akan fisiologi. Mereka mampu menyembuhkan penyakit dan memastikan keselamatan dan kehidupan seseorang. Peran ini menyebabkan ia dihargai dengan penghasilan yang sangat tinggi. Secara ekonomi, adalah aman untuk mengatakan bahwa profesi dokter ditunjang dengan penghasilan yang amat sangat layak. Dari segi penghasilan, tentu saja dokter dapat menjaga keselamatan dan kesejahteraan calon anak-anak mereka. Dengan sumber penghasilan ini, sang dokter mampu menjamin kelangsungan hidup, pendidikan, dan kebutuhan-kebutuhan anak lainnya. Faktor penghasilan inilah salah satunya yang menjadikan dokter amat menarik dimata para wanita.

Tidak hanya dari segi ekonomi, seorang dokter seringkali dikaitkan juga dengan kecerdasan dan intelijensi yang tinggi. Mereka bisa lulus dari sekolah kedokteran yang seringkali menjadi simbol bahwa kecerdasan umum mereka setidaknya adalah diatas rata-rata. Kecerdasan ini merupakan aspek yang sangat penting bagi seorang wanita dalam pemilihan pasangan. Kecerdasan dalam diri seorang pria menandakan bahwa ia memiliki kualitas seorang pria alfa. (Seltzer, 2012) Apa maksudnya pria alfa? Pria alfa berasal dari istilah serigala alfa, yaitu serigala yang dominan dan memimpin kawanan serigala seorang diri. Ia memiliki kualitas maskulin, cerdas, dan agresif. Kecerdasan sangatlah dibutuhkan bagi serigala alfa untuk memastikan keberlangsungan kawanan dan menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi kawanan. Begitu pula dengan pria alfa. Dengan kualitas kecerdasaannya (disamping maskulinitas dan agresivitas), ia dapat menjadi pemimpin bagi sebuah kawanan yang disebut keluarga. Kemampuan pemecahan masalah yang dibutuhkan di bidang kedokteran pun juga dibutuhkan sekali dalam performa sehari-hari.

Sebuah blog (http://hunter-gatherer.com) membahas bahwa seorang dokter selain memiliki kualitas kecerdasan dari pria alfa, juga memiliki kualitas dominan dari pria alfa. Dominansi ini terlihat dari peran dokter sebagai instruktor dan pembimbing dari orang-orang agar orang-orang itu sembuh dari penyakit mereka. Kemampuan instruksi dari seorang dokter dapat dengan mudah memperoleh kepercayaan dari para pasien. Analogi ini mungkin sama seperti serigala alfa yang menginstruksikan perintah-perintahnya terhadap kawanan-kawanannya dan dengan mudah dituruti oleh kawanan-kawanannya itu. Dalam memberikan instruksi pun seorang dokter perlu bersikap tenang dan percaya diri. Kualitas asertif ini yang juga menandakan ciri seorang pria alfa.

Jadi, cukup wajar bila wanita menyukai sosok seorang dokter yang memiliki kualitas-kualitas itu. Pendekatan evolutionistik dalam memandang pemilihan pasangan memang terkadang irasional, karena nampaknya benar-benar tidak humanis. Berarti kok jahat banget ya tuh cewek kok cuma ngeliat pasangan berdasarkan prospeknya aja. Cowok juga cuma liat fisiknya cewek aja. Gimana dengan cinta? *ceileh* Yah, berhubung pendekatan evolusionistik menaruh keberlangsungan spesies dalam nilai tertinggi manusia, jadi wajar jika banyak klaim-klaimnya bersifat irasional. Seperti pendekatan-pendekatan lainnya di bidang psikologi (seperti psikoanalisis, behavioristik, dan humanistik), tentu saja pendekatan evolutionary perspective memiliki kelemahannya sendiri.

Lalu bagaimana dengan kita kaum pria? Apakah kita juga tertarik dengan wanita-wanita dokter? Bagaimana dengan dokter yang satu ini?

Sumber: (seluruh link diakses terakhir pada 7/7/2012)

Dobransky, P. (2011) http://www.psychologytoday.com/blog/the-urban-scientist/201105/who-is-the-animal-date-the-badboy-or-the-life-the-party?page=2

Durant, J. http://hunter-gatherer.com/blog/why-women-love-doctors

Kanazawa, S. (2009) http://www.psychologytoday.com/blog/the-scientific-fundamentalist/200908/are-women-always-more-selective-in-mate-choice-men-i

Kanazawa, S. (2009) http://www.psychologytoday.com/blog/the-scientific-fundamentalist/200901/why-men-are-more-intelligent-women

Seltzer, Leon F. (2012) http://www.psychologytoday.com/blog/evolution-the-self/201204/why-do-women-fall-serial-killers

Smith, S. (2010) http://www.psychologytoday.com/blog/ironshrink/201002/roses-are-red-violets-are-blue-nice-genes