Tags

,

Dulu, saya sempat berdiskusi dengan seseorang mengenai gelar akademik yang menjadi syarat seseorang dinyatakan mampu menjadi seorang psikolog. Bagi orang itu, psikolog seharusnya menggunakan tradisi lama di Indonesia dimana jenjang pendidikan sarjana sudah cukup untuk dinyatakan sebagai psikolog. Jenjang yang lebih tinggi hanya mempersulit calon mahasiswa karena dibutuhkan biaya yang lebih besar pula. Saya membantah dengan menyatakan bahwa ilmu dan penguasaan yang diperoleh tidak akan cukup bila dipelajari dan dikuasai hanya dalam waktu empat tahun studi saja. Jika tetap menggunakan tradisi lama, maka memerlukan setidaknya enam tahun untuk menjadi psikolog dengan jumlah tesis yang jauh lebih banyak dari jenjang sarjana saat ini. Diskusi itu akhirnya tidak pernah terselesaikan karena pada akhirnya kami menghentikan diskusi untuk makan siang bersama.

Meskipun diskusi itu akhirnya tanpa jawaban, tentu saja saya masih tergelitik untuk mengetahui lebih dalam soal apakah perlu jenjang tertentu untuk menjadi psikolog. Saat ini, tentu saja di Indonesia sekalipun jenjang sarjana (S-1) sudah tidak lagi dianggap bisa digunakan sebagai syarat yang cukup untuk menjadi psikolog. Jenjang magister (S-2) adalah syarat minimal jika seseorang ingin menjadi psikolog klinis yang memiliki izin praktek dari HIMPSI. Dari sebuah kuliah umum di kampus saya beberapa tahun lalu, saya jadi mengetahui bahwa usaha ini dilakukan untuk mengurangi kesenjangan dengan pendidikan psikologi di luar negeri yang mensyaratkan jenjang pendidikan doktoral (S-3). Pertanyaannya, meskipun kesenjangan sudah berkurang dengan sistem pendidikan psikolog klinis di Indonesia saat ini, apakah tingkat pendidikan magister sudah cukup untuk membuat seseorang dinyatakan sebagai psikolog klinis?

Di Indonesia, untuk menjadi seorang psikolog klinis, seseorang harus lulus dari jenjang sarjana dengan program studi psikologi. Dengan kata lain, bagi yang ingin menjadi seorang psikolog klinis tidak diperbolehkan berasal dari jurusan lain pada jenjang sarjana selain jurusan psikologi. Apa saja yang dipelajari pada jenjang magister di Indonesia sehingga mereka dianggap mampu berpraktek sebagai psikolog klinis? Dalam situs resmi Fakultas Psikologi UI (psikologi.ui.ac.id) dan UGM (psikologi.ugm.ac.id), disebutkan bahwa mata kuliah-mata kuliah yang dipelajari untuk menjadi seorang psikolog klinis dewasa dengan gelar M.Psi diantaranya neuropsikologi, psikopatologi dewasa, psikodiagnostik dewasa, anamnesis observasi, konseling dan psikoterapi dewasa, dinamika kelompok, kode etik profesi psikologi, dan lain-lain. Sementara psikolog klinis anak akan mempelajari mata kuliah-mata kuliah seperti neuropsikologi, psikopatologi anak, psikodiagnostik anak, observasi dan wawancara klinis anak, parenting, gangguan perkembangan, kode etik profesi psikologi, dan lain-lain. Disamping itu mata kuliah-mata kuliah praktek lapangan juga menjadi fokus utama dalam pendidikan profesi ini.

Sekilas, berdasarkan informasi-informasi tersebut, seseorang dengan gelar M.Psi sendiri nampaknya sudah cukup memenuhi kriteria sebagai seorang psikolog klinis, karena mereka dibekali dengan kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk mempraktekkan psikoterapi, diagnosis, asesmen, dan intervensi. Namun, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, masih terdapat kesenjangan antara gelar akademik psikolog klinis di Indonesia dengan di negara-negara lain dalam hal jenjang pendidikan. Jika kita menggunakan sudut pandang pendidikan psikolog klinis secara internasional, apakah jenjang magister cukup untuk menyatakan seseorang mampu berpraktek di bidang psikologi klinis?

Memang, pemberian izin praktek untuk gelar master sesuai dengan kenyataan di Amerika dimana seseorang dengan gelar M.A. (Master of Arts in Psychology) juga dapat melakukan praktek di bidang psikologi klinis. Hal ini menyebabkan pendidikan magister lebih sesuai secara internasional dibandingkan dengan tradisi pendidikan lama di Indonesia (dengan gelar Drs. atau Dra). Meski demikian, peraturan di banyak negara bagian di Amerika saat ini menyatakan bahwa mereka dengan gelar master tidak diperkenankan untuk melakukan praktek psikologi klinis. (Trull & Prinstein, 2012) Sebuah situs psikologi (guidetopsychology.com) menyatakan bahwa kemampuan yang dimiliki jenjang master hanyalah kemampuan asisten psikolog dengan pemahaman yang belum mendalam seperti gelar doktoral. Sehingga, mau tidak mau, suka atau tidak suka, jenjang tersebut tidak pantas disebut sebagai psikolog.

Minimal, mereka yang ingin berpraktek sebagai psikolog klinis di Amerika (dan banyak negara lainnya) haruslah melanjutkan pendidikan dalam jenjang doktoral (Ph.D. dan Psy.D., atau D.Clin.Psy di Inggris). Sebenarnya, terdapat beberapa perbedaan antara gelar akademik untuk psikologi klinis yang bisa didapatkan psikolog klinis di Amerika dengan psikolog klinis di Indonesia. Perbedaan mendasar adalah lamanya pendidikan harus ditempuh. Di Indonesia, lama waktu pendidikan yang dibutuhkan rata-rata 6 tahun yang terdiri atas 4 tahun sarjana dan 2 tahun magister, sementara di Amerika waktu yang dibutuhkan rata-rata adalah 4 tahun undergraduate dan 5 tahun postgraduate yang terdiri atas jenjang master dan doctor.

Dalam kuliah Etika Psikologi di semester 2 lalu, saya mendapatkan bahwa perbedaan lamanya waktu ini berdampak pada pendalaman dan spesialisasi bidang yang juga berbeda. Untuk gelar Ph.D, digunakan sistem pendidikan yang didasari oleh model researcher-practitioner yang mendalami penelitian psikologi disamping praktek sebagai psikolog. (Trull & Frinstein, 2012) Mereka dibekali dengan kemampuan-kemampuan penelitian dan teoretikal  yang sangat mendalam, dengan dibuktikan melalui disertasi mereka (tujuan disertasi adalah pengembangan atau penyanggahan teori psikologi tertentu). Sementara untuk gelar Psy.D, orientasi penelitian dan teoretikal yang dimiliki lulusan Ph.D tidaklah dititikberatkan, melainkan lebih berorientasi kepada praktek. Disertasi mereka terfokus pada pengembangan dan penyanggahan metode-metode asesmen, diagnosis, intervensi, dan psikoterapi yang digunakan.  (guidetopsychology.com) Dengan penguasaan yang lebih mendalam dan sudah terspesialisasi berkat disertasi mereka, adalah aman bila mengatakan bahwa praktisi psikolog klinis dengan gelar doktoral cukup berkompeten di bidangnya.

Jadi, jika kita ingin melihat kedalaman dan kekhususan yang bisa diperoleh seorang psikolog klinis, maka tentu saja gelar doktoral jauh lebih baik dibandingkan gelar magister.

Terlepas dari semua itu, saya rasa kita bebas untuk memilih gelar mana yang sesuai agar kita ingin berprofesi sebagai psikolog klinis. Coba bayangkan jika Indonesia saat ini juga menggunakan sistem doktoral. Saya rasa dampaknya adalah efektivitas dan efisiensi dari profesi ini sendiri, karena mahalnya biaya pendidikan yang harus dibayar, lamanya waktu pendidikan yang harus ditempuh, persepsi masyarakat kita  yang masih memandang bahwa psikologi hanya dibutuhkan orang-orang dengan gangguan psikologis yang ekstrim, dan belum lagi hal-hal tersebut akan berdampak pada jumlah mahasiswa peminat yang akan semakin sedikit.

Daftar Pustaka:

Trull, T.J. & Prinstein, M.J. The science and practice of clinical psychology (8th Ed.). Wadsworth Cengage Learning.

http://education-portal.com/what_are_the_education_requirements_for_becoming_a_psychologist.html (diakses pada 8/23/2012)

http://www.guidetopsychology.com/be_psy.htm#whydoc (diakses pada 8/23/2012)

http://psikologi.ugm.ac.id/utama/artikel.php?p=373&n=2&g=76 (diakses pada 8/23/2012)

http://www.psikologi.ui.ac.id/pages/peminatan-psikologi-klinis-anak (diakses pada 8/23/2012)