Tags

, , ,

2 tahun sudah berlalu semenjak saya pertama kali menginjakkan kaki di Fakultas Psikologi kampus saya. Seiring berjalannya 2 tahun itu, secara umum diri saya juga telah berubah semenjak kali pertama saya berkuliah disana. Banyak perubahan dalam diri saya yang terjadi, dan saya yakin bahwa perubahan-perubahan itu telah mendorong saya menjadi pribadi yang semakin memahami diri saya sendiri seutuhnya.

Saya ingat ketika awal pertama saya berada di kampus saya, saya adalah seorang yang tidak memahami diri saya dan dalam pribadi saya terdapat kesenjangan antara diri saya sesungguhnya dengan idri saya yang ideal. Saya secara neurotik melakukan banyak perilaku-perilaku yang bertujuan untuk mendapatkan pengakuan orang lain. Keaktifan saya di kelas, keikutsertaan saya di organisasi dan kepanitiaan, semua itu saya lakukan hanya demi mendapatkan pengakuan orang lain dan demi memuaskan keinginan neurotik saya yang perfeksionistik. Bahkan kadang hanya demi membuat orang lain sadar bahwa saya ini kompeten secara sosial.

Ketika admirasi dan pujian datang, saya langsung saja senang karena secara neurotik saya menganggap bahwa pujian itu membuktikan bahwa saya orang yang sempurna. Sebaliknya, saat segala sesuatu tidak berjalan sesuai ekspektasi saya secara sosial, ketika singgungan, kritik, saran, dan celaan orang lain masuk ke telinga saya, saya juga langsung terpengaruh dan secara neurotik saya mencoba untuk melakukan proses denial pada respon sosial itu.

Hal itu sudah lama berlalu. Saat ini, saya jauh lebih bisa menerima diri saya apa adanya. Saya tidak lagi perlu untuk terus menerus mencoba meyakinkan orang lain bahwa saya ini orang yang kompeten, bahwa saya ini orang yang sempurna, bahwa saya ini orang yang sehat secara mental. Saya dapat merasakan secara intrapsikis bahwa proses psikis saya telah berjalan lebih harmonis. Tidak lagi ada ketimpangan antara diri saya yang sesungguhnya dengan diri saya yang ideal. Memang, kecemasan akan interaksi sosial tentu saja masih berlangsung, akan tetapi hal itu saya anggap wajar.

Dengan orang-orang tertentu, saya masih merasa cemas, karena saya sebagai pria ingin melindungi ego saya. Hal ini mengarah kepada kecemasan saya saat berinteraksi dengan orang-orang yang saya anggap lebih daripada diri saya, terutama jika saya tertarik dengan orang-orang itu. Dari seorang mahasiswa magang di jurusan profesi psikolog, saya jadi memahami bahwa adalah wajar bagi seorang pria untuk melindungi ego mereka dengan mekanisme seperti yang saya lakukan.

Dan disinilah saya sekarang, menghabiskan banyak waktu saya berkutat dengan ide-ide dan pengetahuan yang saya miliki. Semua tidak lagi demi pengakuan orang lain, tetapi demi pengembangan diri saya dan ketertarikan saya atas pengetahuan-pengetahuan itu. 2 tahun yang telah berlalu ini secara kumulatif menghasilkan diri saya yang semakin memahami proses psikologi dan dinamika kepribadian seseorang. Di tahun ini, saya juga dihadapkan dengan berbagai pilihan dan pengalaman yang akan mengarahkan saya. Salah satu dari pilihan yang harus saya tentukan adalah pilihan peminatan saya di psikologi.

Peminatan ini saya anggap tidaklah terlalu menentukan akan jadi apa saya kelak, karena toh proporsi peminatan ini hanyalah 12 SKS dengan rata-rata mata kuliah yang hanya 4 sampai 5 mata kuliah. Saya diharuskan memilih 2 dari 5 peminatan yang disediakan oleh fakultas, dan pilihan itu akan berdampak pada topik skripsi saya kelak. Inilah yang menjadi dasar fundamental mengapa pada akhirnya saya memilih pilihan psikologi klinis dan psikologi sosial sebagai peminatan saya.

Sesungguhnya, selain pilihan topik skripsi yang bisa saya kerjakan nantinya, saya memiliki beberapa alasan lain yang cukup kuat, yang diantaranya:

1. Psikologi kepribadian merupakan minat pengetahuan saya di psikologi

Tidak sekedar menyukai ilmu mengenai keunikan individu, tetapi saya sangat terkesan dengan mekanisme-mekanisme yang berlangsung dalam kepribadian seseorang baik secara intrapsikis, secara humanis dan eksistensialis, secara proses belajar, ataupun secara proses kognitif. Ketika mata kuliah psikologi kepribadian kemarin saya dapatkan, jujur saya sangat senang. Senang bagaikan anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Saya sulit mengungkapkannya dengan analogi lain. Mengapa seseorang yang begitu asertif tiba-tiba saja merasa tidak bahagia? Mengapa orang-orang yang terlihat ramah dan penyabar tiba-tiba saja mengamuk? Mengapa konflik-konflik dengan lingkungan menyebabkan patologi dalam proses berpikir? Semua pertanyaan-pertanyaan itu adalah ketertarikan saya yang utama dan alasan utama mengapa saya menyukai psikologi.

Kaitan antara kepribadian dengan psikopatologi akan banyak sekali dipelajari di peminatan klinis. Mekanisme dan dinamika kepribadian akan sangat berguna jika dipelajari dari sudut pandang abnormalitas psikologi seseorang. Terjadi suatu mekanisme kepribadian tertentu yang menyebabkan perilaku maladaptif. Jika kita ambil dari sudut pandang psikodinamika, predisposisi biologis yang berinteraksi dengan lingkungan anak, dapat menimbulkan perilaku neurotik anak itu dikemudian hari. Perilaku fobia dalam sudut pandang behavioristik disebabkan oleh adaptasi yang terganggu oleh stimulus yang menyebabkan patologi. Dari penyebab-penyebab perilaku abnormal ini, kepribadian dapat lebih dalam diketahui.

Sementara di peminatan sosial, tentu kita tidak akan pernah bisa memisahkan konsep-konsep seperti self-esteem, self-efficacy, self-worth, tingkat agresifitas, dorongan perilaku prososial, bahkan perilaku patologis dari hubungan individu dengan orang lain. Dalam psikologi sosial diketahui bahwa pengaruh sosial sedemikian besarnya bagi kepribadian individu sehingga tidaklah mungkin kepribadian dipelajari tanpa mempelajari konteks sosial. Dalam hal ini, saya sendiri sebenarnya tidaklah menaruh minat yang begitu dalam terhadap psikologi sosial dikarenakan teori-teorinya yang lebih bersifat spesifik dan kontekstual. Saya lebih menyukai teori-teori yang sifatnya lebih umum seperti teori-teori Freud, Jung, Skinner, Maslow, dan lain-lain. Memang di dalam psikologi sosial juga membahas teori-teori tersebut, tetapi dalam konteks yang lebih spesifik karena yang menjadi pembahasan utamanya bukanlah teori-teori itu, melainkan konstruk-konstruk dimana teori-teori tersebut mendukung konstruk-konstruk itu.

2. Saya tertarik mempelajari psikologi agama

Saya ingin mempelajari psikologi agama tidak dalam konteks agama tertentu, melainkan lebih dari sudut pandang universal. Sudah lama saya menyadari bahwa saya menaruh minat pada asal-usul agama, proses evolusi yang dikatakan menentang agama, kaitan kebudayaan dengan kepercayaan, dan bagaimana agama bisa sampai membuat manusia rela melakukan apapun demi mempertahankan eksistensi agama dan tuhan. Apa kaitannya dengan psikologi klinis dan sosial?

Menjawab keterkaitan dengan psikologi sosial mungkin sedikit lebih mudah. Psikologi sosial membahas relasi individu dengan masyarakat, dan agama muncul dikarenakan ada pengajaran-pengajaran dari lingkungan seseorang. Dengan kata lain, faktor sosial berperan penting terhadap agama apa yang akan dianut oleh seseorang dan bagaimana beliefs yang terbentuk didasari agama pada akhirnya menyebabkan perilaku tertentu. Ritual-ritual keagamaan dan perilaku manusia yang melakukan ritual keagamaan tidak akan mungkin bisa dibahas tanpa membahas mengenai masyarakat. Topik-topik seperti transcendental self, serenity, prejudice, stereotype, dan social norms merupakan topik-topik yang erat kaitannya dengan psikologi agama.

Bagaimana dengan psikologi klinis? Ada asumsi-asumsi tertentu yang saya gunakan untuk mengaitkan antara psikologi klinis dengan agama, tetapi mungkin bagi sebagian besar penganut agama asumsi ini bisa dinilai cukup offensif sehingga ada baiknya tidak perlu saya tulis disini. Kaitan lain antara psikologi klinis dengan agama adalah, bahwa dalam budaya-budaya timur, terapi-terapi psikologi banyak yang menggunakan nilai-nilai spiritual dari klien. Agama merupakan faktor yang sangat membantu proses psikoterapi dari klien, sebagaimana dikatakan dalam Psikologi Lintas Budaya.

3. Saya ingin menjadi psikolog klinis

Ketika saya membaca apa saja aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh seorang psikolog klinis, dan bagaimana kehidupan mereka sehari-hari, saya langsung merasa itulah jalan hidup saya. Psikolog klinis tidaklah hanya bekerja dengan memberikan konseling dan psikoterapi, tetapi mereka juga mengajar, melakukan supervisi klinis, dan meneliti. Scientist-practitioner model dari psikolog klinis mengharuskan seorang psikolog untuk mengembangkan pengetahuan mereka sendiri lewat penelitian terhadap klien-klien mereka. Hasil dari penelitian itu dapat dikomunikasikan dalam komunitas ilmiah psikologi klinis. Memberikan konseling, psikoterapi, meneliti, mengajar, dan membaca-baca profil klien. Apakah ada pekerjaan yang lebih menarik daripada itu? Hoho, bagi saya tidak ada tuh.

**

So, itulah alasan-alasan dibalik keinginan saya memilih kedua peminatan itu. Di semester 5 yang akan saya jalani ini, saya akan belajar mata kuliah-mata kuliah berikut ini:

1. Peminatan Klinis: Psikologi Klinis dan Kesehatan

2. Peminatan Sosial: Diri dalam Kehidupan Sosial dan Hubungan Interpersonal

Saya sendiri masih belum terlalu mengetahui apa-apa saja materi yang akan dititikberatkan pada mata kuliah-mata kuliah itu. Akan tetapi, jika dilihat dari nama mata kuliahnya saja, nampak bahwa mata kuliah-mata kuliah itu cukup menarik.

Disamping 3 hal yang saya sebutkan diatas, sebenarnya ada beberapa hal lagi yang saya gunakan sebagai alasan saya memilih kedua peminatan itu. Tapi saya lupa, hahahaha. *Beginilah kalau kemampuan atensi lebih rendah dari kemampuan kognitif lain. Hasilnya atensi saya mudah teralihkan sehingga apa yang pernah menjadi atensi saya sudah saya lupakan. Begitu pula alasan-alasan saya dalam memilih peminatan.* :P