Tags

, ,

Di artikel sebelumnya dengan judul “Tiga (dari Tujuh) Teori Agama” dan “Yang Sakral dan Yang Profan: Tradisi Perancis dalam Teori Agama“, saya sempat sedikit menyinggung teori Clifford Geertz. Ya, antropolog yang sangat terkenal ini juga memiliki teori agamanya sendiri, dimana observasi antropologis yang dilakukannya, ia lakukan di Indonesia. Selama kurang lebih 12 tahun ia mengobservasi agama masyarakat Bali, yaitu Hindu Bali dan juga agama Islam Indonesia. Hasilnya adalah sebuah buku yang berjudul Interpretation of Cultures.Buku ini menjadi buku antropologi klasik yang legendaris karena hasil pemikirannya yang tertuang dalam buku itu menggunakan pendekatan yang berbeda tetapi orisinil dalam studi antropologi mengenai agama.

Kebetulan, selain buku Pals yang saya gunakan sebagai referensi di dua artikel sebelumnya, saya mendapatkan tugas dari mata kuliah Hermeneutika di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya beberapa hari lalu. Tugas ini benar-benar menyita perhatian saya karena bagi saya yang kemampuan bahasanya terbatas ini, tulisan-tulisan Geertz menggunakan bahasa yang luar biasa sophisticated. Perlu waktu cukup lama bagi saya untuk memahami keseluruhan isi dari Chapter 4 yang berjudul Religion As a Cultural System. Essay itulah yang akan saya coba rangkum kembali (sekaligus sudah pernah saya gunakan untuk tugas kemarin) untuk saya post disini.

Disini saya juga menggunakan buku Pals sebagai referensi saya seperti dua artikel sebelumnya. Namun, saya tidak membahas keseluruhan teori Geertz yang dicantumkan dalam buku Pals. Buku-buku Geertz lainnya seperti Islam Observed dan essay lainnya dalam buku Interpretation of Cultures tidak saya bahas disini, meskipun juga dibahas dalam buku Pals.

Ok, gak usah panjang lebar lagi. Ini rangkumannya…

Pada awal essay ini, Geertz memfokuskan pada pendapatnya bahwa ada pendekatan yang bisa dilakukan terhadap studi mengenai agama selain dari pendekatan-pendekatan yang diproposikan oleh Freud dengan teori identitas seksual dan status kedewasaannya, Durkheim dengan teori kesakralan masyarakatnya, dan lain-lain. Geertz mempromosikan pendekatan dimensi kebudayaan dari analisis agama. Sebuah pendekatan baru dalam studi-studi antropologi, khususnya mengenai agama.

Apa yang dimaksud atau apa arti dari pendekatan dimensi kebudayaan dalam agama itu? Geertz mengartikannya dalam bentuk sebuah definisi agama yang cukup kompleks, yaitu:

  1. Sistem symbol-simbol yang bertindak untuk…
  2. …menciptakan perasaan dan motivasi pada manusia dengan…
  3. …memformulasikan konsepsi mengenai aturan umum dari eksistensi dan…
  4. …memakaikan konsepsi-konsepsi ini dengan nuansa faktualitas sehingga…
  5. …perasaan dan motivasi itu secara unik nampak realistik.

Pertama-tama ia menekankan pada penggunaan kata simbol dalam bagian definisi nomor 1. Simbol bisa berarti banyak hal. Bisa berarti representasi dari asosiasi antar dua hal terkait, bisa juga berarti sesuatu yang mengekspresikan hal-hal yang tidak dapat dijelaskan lewat verbal atau dijelaskan secara langsung. Geertz melihat simbol sebagai dasar yang digunakan dalam apa yang disebut konsepsi. Konsepsi itu yang menjadi arti dari simbol. Konsepsi itu merupakan ide, sikap, penilaian, formulasi dan abstraksi dari pikiran dan pengalaman dituangkan dalam representasi konkrit (simbol).

Pola budaya (sistem-sistem simbol) memiliki sifat yaitu bahwa ia merupakan sumber informasi yang eksternal. Ia berada di luar organisme dan dapat memberikan konsepsi yang bisa didefinisikan secara internal. Manusia membutuhkan konsepsi-konsepsi yang masuk internal ini melalui simbol eksternal. Tanpanya, manusia bagaikan berang-berang yang tidak mampu membuat dam.

Kadang, bentuk pola budaya dianggap sebagai sebuah model. Model sendiri memiliki dua arti yaitu “dari” dan “untuk”. Dalam arti “dari”, berarti memanipulasi struktur simbol sesuai dengan konsepsi internal mengenai simbol. Misalnya pengembangan ide mengenai ideologi politik tertentu dimanifestasikan dalam bentuk bendera. Sementara dalam arti “untuk”, konsepsi internal dimanipulasi dalam hubungannya dengan simbol. Misalnya bentuk bendera yang terletak di seragam prajurit membangun konsepsi kita bahwa ideologi politik tertentu berkuasa atas militer.

Dalam bagian definisi nomor 2, dikatakan bahwa agama membentuk perasaan dan motivasi yang kuat dan bertahan dalam manusia. Simbol-simbol agama mampu mengekspresikan iklim dunia dan membentuknya. Simbol-simbol itu membentuknya dengan menginternalisasi disposisi-disposisi kepada penyembah yang memberikan karakter terhadap aktivitas-aktivitasnya dan kualitas dari pengalamannya. Disposisi ini sendiri sebenarnya merupakan pola dari aktivitas atau kejadian, bukan hanya sekedar satu kejadian atau aktivitas tertentu. Disposisi-disposisi tersebut terbagi menjadi dua, yaitu perasaan dan motivasi.

Motivasi merupakan kecenderungan dimana terdapat kemampuan untuk melakukan tindakan tertentu atau berperasaan (feeling) tertentu. Orang muslim termotivasi untuk tidak memakan daging babi, sementara orang Hindu termotivasi untuk tidak memakan daging sapi. Perasaan akan dirasakan oleh penyembah saat misalnya, ketika orang Hindu memakan daging sapi, terdapat perasaan muak dan perasan tidak menyenangkan. Atau misalnya ketika umat kristiani pergi ke Bethlehem dan umat Islam pergi ke Mekkah akan timbul perasaan tenteram. Perasaan ini dapat kemudian berganti-ganti menjadi perasaan lainnya. Motivasi memiliki arah, sementara perasaan tidak. Motivasi bertahan sementara perasaan berlangsung begitu saja. Motivasi bermakna karena memberikan tujuan, sementara perasaan bermakna karena kondisi yang menyebabkannya terjadi.

Pada bagian definisi nomor 3, ditekankan bahwa konsepsi mengenai tatanan eksistensi yang diformulasikan ini diberikan oleh sistem simbol agama. Kekacauan akan terjadi apabila manusia tidak mampu memformulasikan konsepsi mengenai struktur atau tatanan eksistensi itu. Sehingga, simbol-simbol selalu memberikan orientasi atau petunjuk bagi manusia atas segala fenomena yang terjadi pada diri mereka maupun pada alam.

Ada tiga dimensi dimana kekacauan tersebut bisa terjadi, diantaranya:

  • Karena keterbatasan kapasitas analitis manusia
  • Karena keterbatasan kapasitas menahan penderitaan manusia
  • Karena keterbatasan kapasitas penilaian moral manusia

Manusia akan selalu mencari cari untuk memahami fenomena yang terjadi, dan mereka tidak akan meninggalkannya tanpa jawaban. Mereka akan menemukan jawabannya itu tidak peduli seberapa terbatasnya kapasitas analitis mereka. Tanpa jawaban itu, meskipun jawaban itu sendiri tidak konsisten dan cenderung tidak akurat, maka kekacauan dalam diri manusia terjadi. Agama memberikan perannya disini sebagai pemberi konsepsi mengenai fenomena-fenomena yang tidak dapat dipahami oleh manusia seutuhnya.

Manusia juga memiliki keterbatasan kapasitas dalam menahan penderitaan. Masalah-masalah kehidupan yang dihadapi dapat membuat manusia menderita. Manusia tidak akan pernah mampu menghindari semua penderitaan yang dialaminya. Dengan ketidakmampuan untuk menghindar dan terbatasnya kapasitas menahan penderitaan itu, kekacauan dalam diri manusia bisa terjadi. Agama dalam hal ini memberikan tuntunan, rasa aman, dan tempat berteduh dan berlindung dari penderitaan yang dialami manusia.

Selain kedua dimensi itu, manusia juga terbatas dalam kemampuannya untuk membuat penilaian moral. Manusia tidak mengetahui secara sempurna apa yang baik dan apa yang buruk, selain itu manusia terus bergerak kearah pemenuhan diri dan aktualisasi diri. Manusia juga dihadapkan pada rasa tidak aman akan segala sesuatu, termasuk yang menyangkut dirinya seperti kematian dan kemiskinan. Hal ini secara langsung membuat manusia terpaksa menilai apa yang baik dan apa yang buruk bagi dirinya. Namun dengan kemampuan yang terbatas itu kekacauan dalam diri bisa terjadi. Oleh karenanya, agama memberikan patokan-patokan moral yang bisa diikuti manusia agar konsepsi manusia akan apa yang baik dan buruk tidak mengarah pada kekacauan.

Bagian definisi nomor 4, dikatakan bahwa konsepsi itu diberikan atribut dengan nuansa yang faktual. Hal ini dapat menunjukkan seberapa figure otoritas yang dipercaya dalam agama mampu membuat manusia patuh karena mereka mengatribusikan konsepsi-konsepsi yang tertuang dalam simbol itu dengan fakta-fakta yang meyakinkan. Disini, agama berbeda dengan sistem-sistem simbolis lain. Agama meyakinkan bahwa terdapat sesuatu yang benar-benar nyata dimana hal itu dianggap lebih penting dari apapun.

Melalui ritual keagamaan yang didalamnya selalu terdapat etos dan pandangan dunia, Geertz menjelaskan dinamika yang terjadi dalam motivasi dan perasaan manusia. Ia mengambil contoh mengenai kisah Rangda dan Barong di Bali. Ritual yang begitu melibatkan banyak orang dan melibatkan perasaan yang mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa perasaan yang dihasilkan atas fakta-fakta yang ditampilkan dalam ritual itu begitu diyakini oleh masyarakat Bali. Mereka termotivasi untuk terus melakukan ritual itu. Kecenderungan tradisi (etos) terlihat disini sementara pandangan dunia terlihat dari representasi dari figure-figur dalam ritual itu. Lebih dari itu, nilai-nilai dalam ritual itu dituangkan ke dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Kejadian-kejadian religius berbeda dengan kejadian-kejadian sehari-hari. Telah dikatakan sebelumnya bahwa motivasi dan perasaan dalam ritual agama akan konsisten dengan pandangannya mengenai dunia. Makna tariab Barong dan Rangda itu adalah keabadian pertentangan akan kebaikan dan kejahatan. Pandangan mengenai dunia ini terkombinasi dengan etos membentuk motivasi yang pada akhirnya mengontrol kehidupan sehari-hari. Ia kemudian memberikan karakteristik tertentu yang menjadi ciri khas tertentu.

Sebagai penyimpulan, Geertz menyatakan kembali bahwa pentingnya agama adalah untuk memberikan konsepsi mengenai dunia, diri, dan hubungan antar keduanya. Baginya, agama juga harus dipelajari secara antropologis melalui dua babak: 1. Analisa sistem pengartian yang ada dalam simbol dan 2. mengaitkannya dengan proses struktur sosial dan psikologis. Geertz merasa bahwa studi-studi yang ada terlalu memfokuskan pada tahap kedua, namun mengabaikan tahap pertama, padahal sistem simbol baru bisa dipahami secara struktur sosial atau psikologis hanya dengan terlebih dahulu memahami apa yang ada dibalik simbol itu (arti dari simbol).

Sumber:

Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures: Selected essays. New York: Basic Books.

Pals, D.L. (2011). Seven theories of religion: Tujuh teori agama paling komprehensif. Yogyakarta: IRCiSoD.