Tags

, , , , , ,

Well, dari beberapa bulan yang lalu sebenernya udah pengen nulis sesuatu mengenai psikodinamika. Buat mereka di psikologi, psikodinamika sangat identik dengan tiga tokoh utama dalam teori kepribadian, yaitu Sigmund Freud dengan teori psikoanalisis, Carl Jung dengan teori analytical psychology, dan Alfred Adler dengan teori individual psychology. Selain mereka bertiga, sebenarnya ada banyak tokoh-tokoh lainnya yang menggunakan kerangka pemikiran psikodinamika dalam teori mereka.

Buat yang diluar psikologi, mungkin masih asing dengan kata psikodinamika. Jadi gini… dalam memandang mental dan perilaku, di psikologi tidak ada satupun paradigma sudut pandang universal yang mampu menjelaskannya. Rather, ada banyak sudut pandang yang bisa digunakan dalam menjelaskan, mendeskripsikan, mengeksplorasi, dan memprediksi mental dan perilaku. Sudut pandang-sudut pandang itu memandang mental dan perilaku dengan cara yang berbeda-beda, dimana salah satu sudut pandang mungkin bertentangan dengan sudut pandang lain.

Nah psikodinamika sendiri sebenarnya merupakan salah satu sudut pandang atau aliran (atau disebut juga school of thought) dalam psikologi yang memandang mental dan perilaku manusia memiliki basis bawah sadar. Bagi aliran ini, manusia memiliki elemen-elemen intrapsikis (inner self) diluar kesadaran yang mempengaruhi mental dan perilaku mereka.

Kalo kata penulis buku History & System of Psychology (buku terkutuk yang HARUS dibaca pas semester 1 kemaren), ngebahas psikodinamika bisa ngabisin satu buku penuh. So… disini gue akan menjelaskan psikodinamika tidak dengan menggunakan kerangka penjabaran sistematis yang menjelaskan sejarah, dasar filosofis, teori-teori dan sebagainya, melainkan saya akan menjelaskannya dari kutipan-kutipan yang digunakan oleh tokoh-tokohnya.

Mengapa kutipan-kutipan? Seringkali, kutipan-kutipan singkat yang digunakan bisa langsung digunakan untuk memahami apa yang dimaksud oleh si tokoh secara keseluruhan. Kita mungkin gak akan bisa memahami keseluruhan teori dari si tokoh, namun setidaknya kita mendapatkan sedikit gambaran mengenai seperti apa sih si tokoh ini. Dan apa sih yang dibahas si tokoh sebenarnya. Sehingga, kita bisa mengetahui kira-kira teori seperti apa yang ingin dibawakan oleh si tokoh. Nah dibawah ini adalah skema tokoh-tokoh dalam aliran psikodinamika.

I. Psikoanalisis

Sigmund Freud

Bapak psikoanalisis dengan teorinya yang dikenal sangat sistematis dan penuh kontroversi. Bagi Freud, dorongan terbesar dalam diri manusia adalah dorongan seksual dan agresi dimana keduanya merupakan dorongan biologis. Kesadaran manusia sepenuhnya berada di bawah bayang-bayang bawah sadar.

“Unexpressed emotions will never die. They are buried alive and will come forth later in uglier ways.”
Sigmund Freud

Pernahkah kalian menemukan saat-saat dimana kalian merasakan sesuatu emosi, namun tidak ingin orang lain mengetahuinya? Sebagai contoh, kalian sebenarnya membenci teman kalian, namun tidak ingin mereka mengetahuinya karena takut hubungan pertemanan menjadi tidak harmonis. Bagi Freud, pengalaman menekan perasaan seperti itu tidak akan membuat perasaan itu hilang. Bahkan, ia akan menetap dalam provinsi bawah sadar diri kalian dan akan menjadi sesuatu yang lebih berbahaya yang akan muncul di kemudian hari. Misalnya saja ketika kalian bergosip, maka gosip yang muncul adalah mengenai kejelekan-kejelekan teman kalian itu.

“The ego is not master in its own house.”
Sigmund Freud

Ini salah satu kutipan Freud yang paling terkenal. Dalam psikoanalisis, kepribadian memiliki tiga struktur yaitu id, ego, dan superego. Id bergerak atas prinsip kesenangan, ego bergerak atas prinsip realitas, dan superego bergerak atas prinsip moralitas. Hubungan kita dengan orang lain dan dunia mengikuti prinsip realitas, sehingga ego adalah struktur yang melakukan kontak dengan dunia. Namun, manusia juga memiliki kebutuhan biologis dasar yang harus dipenuhi, dimana manusia mencari kesenangan. Sementara itu ia juga dibatasi oleh kesenangan orang lain, dan disitulah moralitas kita berperan. Untuk memenuhi kesenangan (yang dibawa id) dan sekaligus mengikuti moralitas (yang dibawa superego), maka ego harus pandai-pandai menyeimbangkannya. Ego mendapatkan energi dari Id, sementara agar Ego dapat memenuhi permintaan Id, perlu aturan-aturan Superego. So, meskipun Ego adalah pengendali kontak dengan dunia, ia tidak memiliki kekuasaan sama sekali atas keseluruhan diri.

II. Psikologi Ego

Anna Freud

Anak bungsu dan merupakan anak kesayangan Freud yang membangun fondasi teorinya sendiri. Berbeda dengan Freud yang melakukan analisis pada masa lalu (masa kecil yang sudah lalu) pada orang dewasa, Anna melakukan analisis pada anak-anak sehingga corak teorinya lebih kepada perkembangan anak.

“Creative minds have always been known to survive any kind of bad training”
Anna Freud

Dalam karyanya Anna sempat menyatakan bahwa ia lebih tertarik mempelajari kepribadian anak pada tahap latensi (anak usia 7-12 tahun) daripada tahap-tahap sebelumnya. Pada masa ini, anak mempelajari kemampuan-kemampuan yang penting dalam masyarakat, dan oleh karenanya anak mengembangkan minat dan ketertarikan pada bidang-bidang intelektual dan ilmu pengetahuan. Bagi Anna, munculnya ketertarikan ini tidak hanya merepresentasikan penguasaan kemampuan spesifik, namun juga merepresentasikan penguasaan Ego. Dengan menguasai kemampuan-kemampuan itu, Ego terlatih dalam menyeimbangkan dorongan Id dan Superego (dalam mengatasi kecemasan). Kemampuan-kemampuan itu mendorong kreativitas sehingga anak dapat mengurangi kecemasan lewat cara-cara yang lebih baik.

Erik H. Erikson

Jika Freud menekankan perkembangan psikoseksual pada anak-anak, Erikson menekankan pada perkembangan psikososial sepanjang hidup. Erikson menganggap penting hubungan Ego dengan dunia sosial, tidak seperti Freud yang lebih menganggap penting dorongan biologis Id dan permintaan Superego.

“Hope is both the earliest and the most indispensable virtue inherent in the state of being alive. If life is to be sustained hope must remain, even where confidence is wounded, trust impaired.”
Erik H. Erikson

Saat bayi merupakan saat paling krusial dalam perkembangan diri kita. Saat kita bayi, kita membutuhkan pengasuh kita yang mana kita bisa mempercayai segala kebutuhan kita saat bayi pada dia. Kita diberikan perhatian saat lapar, menangis, mengompol, dan lain-lain. Jika kebutuhan itu terpenuhi (yakni ketika sang pengasuh memberikan kita perhatian dan memenuhi kebutuhan kita), maka secara intrapsikis, ego kita akan mengembangkan rasa percaya terhadap dunia luar. Kita bisa bergantung pada orang lain saat kita benar-benar membutuhkannya. Namun, jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka ego kita akan mengembangkan rasa curiga. Orang lain bagi mereka yang tidak mendapatkan perhatian saat bayi adalah bagai subyek yang akan menyakiti dirinya. Bagi mereka yang tidak mendapat perhatian saat bayi, dunia penuh dengan kejahatan, sehingga tidak ada harapan bagi diri untuk melawan segala kejahatan itu.

III. Psikologi Analitik

Carl G. Jung

Jung, yang awalnya merupakan angota lingkaran psikoanalitik Freudian, merasa gerah dengan ortodoksnya teori Freudian. Freud tidak ingin ada unsur-unsur kepercayaan supernatural dalam karya-karya di lingkaran psikoanalitiknya. Jung, yang merasa bahwa kepercayaan supernatural dan kepercayaan nenek moyang sangat penting dalam menjelaskan kepribadian, pada akhirnya keluar dari lingkaran itu.

“In all chaos there is a cosmos, in all disorder a secret order.”
C.G. Jung

Kepribadian terdiri atas berbagai disposisi yang membentuk kutub-kutub. Kutub-kutub pertama merupakan kutub yang disadari, yang muncul dalam kehidupan kita dan melakukan kontak dengan dunia luar, sementara kutub-kutub kedua merupakan kutub yang ada dalam bawah sadar kita, yang belum kita sadari, dan bertolak belakang dengan apa yang kita sadari. Bayangkan diri kita saat berhadapan dengan orang lain, namun apa yang kita tunjukkan kepada mereka bukanlah diri kita yang sebenarnya. Saat orang lain tidak ada, muncullah kutub yang berseberangan, yang bertolak belakang dengan apa yang kita tunjukkan pada orang lain. Jung menganggap kecenderungan-kecenderungan ini perlu diseimbangkan untuk memperoleh integrasi ego. Jika salah satu kutub terlalu ekstrim disadari, maka bagian kutub berlawanan tidak akan muncul dalam kesadaran, dan hanya menjadi bayang-bayang saja.

“Knowing your own darkness is the best method for dealing with the darknesses of other people.”
C.G. Jung

Jika kita membawa apa yang tidak kita ketahui pada kesadaran, apa yang sebenarnya ada dalam diri kita namun tersembunyi dalam ketaksadaran, kita akan menemukan insight yang dapat membuat diri kita lebih seimbang. Insight ini membuat diri lebih dewasa secara psikologis dan membuat diri lebih harmonis. Konflik batin yang dihasilkan dengan ketidakseimbangan itu berkurang. Bagi orang-orang seperti ini (yang biasanya dianggap sebagai orang-orang yang bijaksana), selain memiliki kesehatan fisik dan mental yang lebih baik, juga menaruh nilai yang tinggi terhadap humanitas (keadilan dan kebebasan) sehingga mereka akan lebih dalam mengetahui mengenai karakteristik dan sifat-sifat manusia lainnya.

IV. Sekolah Relasi Obyek

Melanie Klein

Klein memodifikasi teori perkembangan psikoseksual Freudian terutama pada masa awal kehidupan, dengan mengkhususkan teorinya pada relasi seorang bayi pada obyek-obyek yang mampu memberikan si bayi perhatian. Meskipun Freud merasa Klein sudah menyimpang dari teori miliknya, Klein menganggap dirinya adalah pengikut setia teori Freudian.

“My psycho-analytic work has convinced me that when in the baby’s mind the conflicts between love and hate arise, and the fears of losing the loved one become active, a very important step is made in development.”
Melanie Klein

Klein menganggap bahwa konflik superego dan mekanisme ego sudah dimulai bahkan sejak bayi, berbeda dengan yang diasumsikan oleh Freud.  Sejak bayi, seseorang secara instingtual  sudah memiliki insight bawah sadar akan apa yang baik dan buruk dan mulai mencari obyek-obyek yang baik, yang dapat memberikannya perhatian. Relasi bayi terhadap obyek yang baik itu menjadi dasar yang sangat penting bagi perkembangan hubungan interpersonalnya kelak.

V. Psikoanalisis Sosial dan Humanisme

Alfred Adler

Merasa tidak suka dengan kakunya aliran psikoanalisis Freudian dan Freud secara pribadi, Adler memutuskan untuk mengembangkan teorinya sendiri, yang ia sebut Psikologi Individual. Adler merasa bahwa manusia yang autentik adalah manusia yang mengembangkan Gemeinschaftgefuhl atau bisa kita sebut perasaan humanitas.

“It is the individual who is not interested in his fellow men who has the greatest difficulties in life and provides the greatest injury to others. It is from among such individuals that all human failures spring.”
Alfred Adler, What Life Could Mean to You

Adler menganggap tujuan tertinggi yang bisa dicapai manusia  dalam hidup adalah striving for success dan striving for personal superiority. Bagi Adler, tujuan pertama merupakan tujuan dimana manusia berkembang sepenuhnya menjadi orang yang peduli terhadap komunitas, manusia lain, dan humanitas. Orang-orang seperti ini tidak hidup hanya demi kepentingan diri sendiri dan atas dasar memenuhi tujuan akhir bagi diri sendiri. Mereka berkembang karena hubungan dengan orangtua atau pengasuh yang baik, yang menyebabkan anak peduli dengan orang lain. Sebaliknya, orang-orang yang hanya bertujuan untuk superioritas personal dianggap bukan manusia yang autentik. Bukan manusia yang telah berkembang dengan baik. Hubungan buruk dengan orangtua dan lingkungan sekitar telah menyebabkan orang-orang seperti itu hanya memenuhi kebutuhan sendiri saja dan menyakiti orang lain.

“To be a human being means to possess a feeling of inferiority which constantly presses towards its own conquest. The greater the feeling of inferiority that has been experienced, the more powerful is the urge for conquest and the more violent the emotional agitation.”
Alfred Adler

Tujuan manusia dalam hidup dibentuk secara tidak sadar saat kecil dan dikembangkan kemudian hari menjadi perilaku yang sepenuhnya bertujuan untuk meenuhi tujuan masa kecil itu. Misalnya saja ketika kecil seseorang melihat dirinya sakit-sakitan, atau saudaranya sakit-sakitan. Ketidakberdayaan saat ia atau saudaranya sakit itu menyebabkan dinamika intrapsikis-nya menganggap penting kesehatan fisik seseorang. Seseorang harus sehat. Sejak itu, keinginan untuk membuat orang lain sehat itu menetap di bawah sadar dan akan muncul dalam setiap tindakan-tindakan kita berikutnya, misalnya ingin menjadi dokter saat memilih jurusan perkuliahan.

Karen Horney

Erich Fromm