Tags

, , , , ,

There’s no good in pretending that we are all equal. We’re not all the same. Never have been. Never will be.” – Alfred Roberts (Ayah Margaret Thatcher)

Margaret Thatcher, perdana menteri (PM) Inggris wanita pertama dan sampai saat ini adalah satu-satunya wanita yang pernah berada di posisi tersebut. Sebagai salah seorang wanita paling berpengaruh di dunia pada masa kepemimpinannya, Thatcher mengeluarkan kebijakan-kebijakan ekonomi yang luar biasa kontroversial karena perwujudan kemakmuran Inggris versi Thatcher perlu mengorbankan rakyat miskin. Ia dijuluki Iron Lady – wanita besi – karena dianggap kejam dan tidak berperasaan. Tetapi bagaimana sang Iron Lady ini dari kacamata eksistensialisme? Pada kesempatan ini saya akan mencoba menganalisis Margaret Thatcher lewat film The Iron Lady yang belum seberapa lama ini dirilis. Tokoh feminisme dan pembahasan mengenai eksistensi wanita tentu saja sangat cocok dianalisis dengan karya Simone de Beauvoir, The Second Sex.

Ringkasan Cerita <Spoiler Alert>

Film ini menggunakan alur flashback maju mundur antara masa tua Margaret Thatcher dan alur semenjak ia remaja sampai ia mengundurkan diri sebagai perdana menteri. Pada awal film diperlihatkan Margaret Thatcher yang sudah tua dan mengalami penyakit alzheimer (melihat berbagai halusinasi di rumahnya, terutama halusinasi mengenai suaminya yang sudah meninggal, Dennis Thatcher) mengenang kembali masa lalunya jauh sebelum ia menjadi perdana menteri. Saat remaja, ia merupakan gadis yang lebih suka mendengarkan pidato-pidato politis ayahnya, seorang walikota Grantham, yang sangat ia kagumi daripada membantu ibunya di dapur dan daripada berpakaian bagus seperti teman-temannya. Ia lebih sering belajar, dan ia mendapatkan kursi di Oxford, yang menyenangkan ayahnya. Margaret sangat mengagumi ayahnya, terbukti dari beberapa kutipan yang melekat pada diri Margaret, misalnya: “Never run with the crowds, Margaret. Go your own way.” (kutipan yang sangat eksistensialis…)

Margaret berasal dari keluarga Robinson yang sederhana. Keluarganya membuka toko kelontong dan Margaret remaja sehari-harinya membantu di toko kelontong itu. Saat ia lulus dari Oxford, ia ingin menempatkan dirinya di Dartford sebagai anggota parlemen. Di Dartford, ia sebagai seorang wanita dan anak pengusaha kelontong diremehkan oleh kaum pria saat makan malam dengan berbagai sindiran yang menyinggung dirinya. Namun, Margaret tidak gentar. Ia terus mendiskusikan pandangannya dan melawan semua sindiran yang dikemukakan padanya. Pemilihan anggota parlemen yang dilangsungkan kemudian tidak membuat Margaret merasa aman. Ia merasa suaranya masih sangat kurang, yang disetujui oleh kekasihnya, Dennis Thatcher. Masyarakat Dartford tidak melihat Margaret sebagai individu yang punya ambisi dan idealisme. Ia hanya dilihat sebagai anak pengusaha kelontong, dan hanya anak pengusaha kelontong. Melihat hal ini, Dennis menawarkan bahwa apabila Margaret menjadi istri dari pengusaha yang sukses, ia tidak lagi hanya dilihat sebagai demikian. Dennis mengajaknya menikah. Margaret setuju, namun dengan satu kondisi. Ia tidak ingin menjadi wanita yang hanya diam saja dalam pelukan suaminya, wanita yang tugasnya hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, wanita yang hanya mengurus anak, dan mati saat membersihkan cangkir. Baginya wanita harus lebih dari itu. Dirinya harus memiliki arti hidup yang lebih dari itu.

Bertahun-tahun setelah ia menikah dan memiliki sepasang kembar sebagai anaknya, Margaret mendapatkan suara yang cukup membuatnya ditempatkan di parlemen nasional sebagai anggota partai konservatif. Sebagai anggota parlemen nasional, ia tidak ingin peran sosialnya sebagai wanita, yaitu mengurus anak mengganggu politiknya. Ia meninggalkan anak-anaknya dan pergi ke parlemen sebagai satu-satunya wanita yang ada di kursi parlemen Inggris. Di sana ia berkenalan dengan Airey Neave, salah satu pendukungnya kelak. Adegan dilanjutkan bertahun-tahun kemudian setelah Margaret menjadi sekretaris pendidikan. Dalam debat anggota parlemen konservatif dan buruh, Margaret sebagai satu-satunya wanita di ruangan menyalahkan pihak buruh (serikat kerja) atas buruknya berbagai kondisi pekerjaan di Inggris. Saat Margaret berbicara, hampir tidak ada seorangpun yang mendengarkannya dan bahkan mereka menertawakannya. Pihak lawan hanya membalas dengan menghina Margaret karena bersuara seperti seorang ibu-ibu yang membentak, yang disambut dengan tawa dari seluruh ruangan. Di meja rapat kementrian, saat diskusi mengenai bagaimana memperlakukan serikat pekerja, Margaret tidak setuju dengan keputusan perdana menteri yang ingin berkompromi dengan serikat pekerja hanya karena tidak ingin dilihat publik sebagai pihak yang agresif. Adegan berlanjut dengan kenangan masa lalu Margaret akan pidato ayahnya yang menyatakan bahwa manusia perlu dihargai atas kebebasannya dan potensi masing-masing individu.

MV5BODEzNDUyMDE3NF5BMl5BanBnXkFtZTcwMTgzOTg3Ng@@._V1._SY317_

Atas dasar persepsi Margaret mengenai lemahnya pemerintahan Inggris dan perlunya mengatur serikat pekerja, ia memutuskan mencalonkan dirinya sebagai pemimpin partai, yang akan berlanjut menjadi calon perdana menteri. Ia merasa bahwa dengan ia melaju menjadi pemimpin partai, ada filosofi partai konservatif yang harus dipertahankan dan diperjuangkan meski ia yakin bahwa ia tidak akan pernah menjadi perdana menteri. Suami dan anaknya tidak setuju akan keputusannya itu. Margaret merasa bahwa menjadi perdana menteri adalah tugasnya, sementara suaminya menyatakan bahwa itu adalah untuk ambisinya saja.

Ia dan koleganya kemudian mendiskusikan mengenai prospek atau kemungkinan ia menjadi pemimpin partai. Kedua koleganya memberikan saran-saran mengenai atribut atau pakaian yang dikenakan oleh Margaret. Semua itu perlu diubah. Selain itu, Margaret juga perlu mengubah intonasi dan intensitas suaranya karena suara wanita yang tinggi seperti suara Margaret dianggap tidak karismatik. Margaret sendiri sama sekali tidak yakin bahwa dirinya akan menjadi perdana menteri. Di depan koleganya ia menunjukkan bahwa seberapapun ia berusaha untuk masuk ke dunia politik laki-laki, ia tetaplah seorang wanita yang tidak bisa diterima. Latar belakangnya dan jenis kelaminnya menghalanginya untuk menjadi perdana menteri. Akan tetapi, koleganya meyakinkan Margaret bahwa sebenarnya hal itu justru kartu as yang dimiliki Margaret. Ia menawarkan sudut pandang yang lain, yang menyatakan bahwa yang perlu dilakukan bukanlah mengubah diri sendiri, tetapi memaksimalkan daya tarik yang dimiliki dan tetap menjadi diri sendiri.

Adegan-adegan selanjutnya memperlihatkan dirinya yang berhasil menduduki posisi perdana menteri, bersama dengan kematian koleganya, Airey Neave. Dalam masa kepemimpinannya itu, Margaret mengeluarkan berbagai macam kebijakan yang ia yakin membuat Inggris makmur pada masa-masa mendatang. Namun, demi itu semua orang-orang perlu berkorban atas apa yang dimiliki pada hari ini. Margaret memutuskan menutup semua industri yang tidak efisien serta melakukan penghematan besar-besaran untuk Inggris. Hal ini berdampak pada kebencian rakyat miskin dan kaum pengangguran terhadap Margaret. Bahkan kolega-kolega Margaret di partai konservatif kembali meragukannya. Namun, Margaret menyatakan bahwa sebagai pemimpin ia tidak ingin semua orang duduk dan setuju atas semua pendapatnya. Ia justru mengharapkan argumen, namun sebagai pemimpin ia tetap harus melaju atas apa yang ia percaya benar. Hal ini kemudian terlihat dari berbagai keputusan-keputusannya saat mendapatkan serangan dari Argentina yang berakhir pada keputusan perang dari Inggris. Margaret juga tidak ragu menyamaratakan pajak dari semua kalangan tidak peduli tingkat pendapatan mereka. Ia mendapat kecaman dan ketidaksetujuan dari berbagai pihak, termasuk rekan-rekannya sendiri. Atas apa yang dianggapnya benar, ia tidak gentar. Ia tetap pada keputusan-keputusannya tanpa mendengar kebencian orang lain. Namun, ini membuatnya membayar mahal karena rekan kepercayaannya, Geoffrey Howe, memutuskan mengundurkan diri, yang membuat Margaret pada akhirnya juga mengundurkan diri.

Eksistensialisme dan Margaret Thatcher

Ringkasan cerita diatas sebenarnya merupakan rangkuman singkat mengenai apa-apa yang diperlukan untuk analisis eksistensialisme di bawah ini. Berbagai adegan yang ditampilkan sangat menunjukkan unsur-unsur eksistensi seorang wanita dan seorang dengan status sosial yang tidak diharapkan oleh mayoritas orang untuk menjadi pemimpin. Berbagai fakta-fakta biologis secara mekanistik ataupun secara bentukan sosial menyatakan bahwa jenis kelamin wanita memiliki karakteristik tertentu, lebih dari apa yang terberi pada mereka. Pada dasarnya kemampuan bereproduksi dari wanita dan pria tidak dapat diubah. Wanita dapat melahirkan bayi sementara pria-lah yang membuat bayi itu ada, dengan sperma yang dimilikinya. Hal ini tidak terbantahkan. Sama saja dengan menyatakan bahwa kita hidup dan memiliki kesadaran padahal kita tidak meminta kesadaran itu. Kita tidak memilih kesadaran itu. Namun kita bisa memaknainya sendiri.

Meski demikian, seringkali kemampuan reproduksi dan menabur sperma dari masing-masing jenis kelamin dikaitkan pula dengan atribut-atribut gender lainnya yang tidak lain juga merupakan bentukan sosial yang deterministik. Misalnya saja peran wanita sebagai makhluk yang pasif dengan trait-trait feminin, yang sesuai dengan perannya sebagai gender yang menerima sperma laki-laki. Dengan peran seperti ini, adalah suatu kesalahan dalam masyarakat jika wanita menjadi pihak yang aktif.

Ketidaksamaan persepsi masyarakat akan apa yang seharusnya menjadi peran wanita dan bagaimana seorang wanita harus bertindaklah yang muncul pada film ini. Sejak awal film diceritakan, nampak jelas bahwa Margaret bukanlah gadis yang sama seperti gadis-gadis lainnya di masa itu. Meskipun tidak pernah mengeluh, ia tidak menyukai pekerjaan membantu ibunya di dapur. Ia juga tidak menyukai kegiatan-kegiatan dan cara berpakaian yang dilakukan teman-temannya. Ibunya mengharapkan Margaret untuk bisa mengerjakan pekerjaan wanita sementara teman-teman wanitanya terus-menerus mengejeknya karena ia berbeda dari mereka. Daripada menyibukkan diri untuk hal-hal seperti itu, Margaret lebih suka mendengarkan ayahnya yang berpidato sebagai walikota. Ia bahkan beraspirasi untuk mengubah Inggris dengan idealisme yang berasal dari ayahnya itu. Segala tekanan-tekanan sosial yang menganggap perilaku Margaret tidak normatif sama sekali tidak membuat Margaret menjadi memikirkan perilakunya tersebut. Ia tidak peduli dengan semua itu, dan tetap ingin menginjakan kakinya di dunia yang penuh dengan pria.

Konstruksi sosial, pada dasarnya, sangat mengikat dan menekan individu-individu. Pakaian-pakaian bagus yang seharusnya dikenakan para gadis untuk memikat pria, misalnya,  secara tidak sadar menempatkan wanita dalam peran yang bergantung pada pria. Apakah jika mereka tidak mengenakan pakaian-pakaian bagus seperti yang dikonstruksikan masyarakat lantas tidak ada pria yang tertarik? Rasa takut yang datang dari pihak eksternal akibat ketergantungan terhadap pria ini menempatkan wanita di posisi yang lebih rendah daripada pria. Istilah ini dikemukakan sebagai Cinderella Complex, yaitu kecenderungan wanita untuk bergantung pada pria, dan tanpa pria wanita bukanlah apa-apa. Margaret Thatcher (MT) sama sekali bukan individu yang bergantung pada pria. Baik sebelum atau setelah ia memiliki suami, ia hanya hidup dengan apa yang ia anggap benar. Apa yang ia yakin bisa membawa kemajuan bagi negara yang sangat dicintainya. Ia tidak merasakan keharusan menikahi seorang suami dan menuruti perintah-perintah dan keinginan suami seperti yang diharapkan oleh masyarakat. Bahkan, kenyataan ini tidak hanya terlihat nyata di lingkungan keluarga dari MT. Di lingkungan karir MT, yaitu di parlemen sendiri, pemikiran-pemikiran MT merupakan pemikiran yang nyata terbebas dari konstruksi masyarakat akan apa seharusnya peran wanita dan bagaimana wanita tidak mungkin bisa bertahan di lingkungan yang didominasi oleh pria.

Di masa-masa pernikahan MT memang telah muncul berbagai pemikiran feminis. Dalam pernikahan pada masa itu, wanita tidak lagi hanya dipandang sebagai obyek yang hanya melahirkan bayi dan mengurus suami saja. Wanita dapat mandiri secara ekonomi karena ia tidak lagi terus harus bergantung pada karir pria (meskipun wanita tidak pernah dipandang sebagai eksistensi dimana pria bergantung pada diri wanita itu, tidak seperti kebalikannya). Meski demikian, pandangan bahwa wanita yang tidak menikah atau tidak melaksanakan tugas-tugas kewanitaan berdampak buruk pada komunitas mempengaruhi orangtua-orangtua untuk menikahkan dan mengusahakan tugas untuk putri mereka. Ibu dari MT nampak memiliki keinginan untuk membuat MT menjadi gadis sebagaimana seharusnya dalam masyarakat. Namun, berkat dukungan ayah MT yang mengatakan kepada MT untuk tidak mengikuti arus, dan menjadi diri sendiri, keinginan ibu MT tidak berpengaruh besar terhadap MT.

Mungkin peran wanita paling kontroversial dalam film itu menurut saya adalah peran MT sebagai ibu yang meninggalkan anak-anaknya demi memajukan negara yang amat sangat dicintainya. Dengan mengesampingkan tuntutan masyarakat mengenai bagaimana seharusnya ibu berperilaku terhadap anak-anaknya, jika kita memandangnya berdasarkan teori psikoanalisis, absennya sang ibu dalam masa kanak-kanak seseorang mampu memicu berbagai gangguan dalam dirinya. Hal ini memojokkan MT sebagai ibu yang tidak becus mengurus anak. Tetapi, secara eksistensialisme ada atau tidak adanya segala macam norma masyarakat dan pengetahuan-pengetahuan ilmiah mengenai peran ibu yang sebenarnya, tidak ada yang berubah pada diri MT. Ia tidak sebagai wanita dan tidak sebagai ibu memiliki hak untuk memperjuangkan nilai-nilai yang digenggamnya. Perilaku apapun yang ditunjukkannya terhadap anak-anaknya, tidak mengurangi kenyataan apapun bahwa MT merupakan pribadi yang bereksistensi seutuhnya.

Terakhir, meskipun dikatakan terbebas dari konstruksi sosial mengenai peran wanita, sebenarnya MT sendiri masih memiliki keraguan dalam dirinya mengenai bagaimana latar belakang kelamin dirinya mempengaruhi karir politiknya. Ini ditunjukkan lewat terhambatnya cita-citanya memajukan negaranya karena terhalang sikap orang lain terhadap dirinya yang nampak mempengaruhi dirinya. MT sempat merasa tidak memiliki pilihan. Opsi dirinya menjadi perdana menteri saat itu adalah suatu hal yang patut ditertawakan oleh dirinya sendiri. Bertahun-tahun MT membenci kelemahan pria-pria yang dilayaninya dalam kursi pemerintahan. Ia memiliki gagasan-gagasan yang brilian, yang tidak akan pernah terealisasi karena ia hanyalah seorang wanita.

Dalam hal ini, saya ingin mencoba memasukkan sudut pandang Franz Kafka. MT menjadi orang yang sama sekali tidak puas dengan keadaan negaranya saat itu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, dan hanya mengikuti apa yang diinginkan oleh perdana menteri saja. Selama MT menjabat dengan baik di kursi sekretaris pendidikan, seluruh koleganya akan merasa nyaman dengan dia dan menerima dia. Namun, eksistensi MT sebagai manusia terdegradasi dalam kondisi itu. Kondisi ini sangat mirip sebetulnya dengan kondisi Gregor Samsa dalam The Metamorphosis yang menjadi budak keluarga dan pekerjaannya. Gregor Samsa yang bangun dan bermetamorfosis menjadi makhluk yang dibenci keluarga dan orang lain merupakan simbol munculnya eksistensi Samsa sebagai manusia yang selama ini dilupakan oleh orang lain. Begitu pula dengan MT. Dengan ambisinya menjadi perdana menteri, ia menyadarkan orang-orang lain di sekitarnya bahwa ia meskipun seorang wanita tetapi juga seseorang yang tidak bisa diremehkan. Sama seperti Gregor Samsa, bayarannya adalah kebencian dari orang-orang disekitarnya.

Kesimpulan

Kembali pada kutipan yang muncul pertama kali diatas, dikutip bahwa tidak ada gunanya berpura-pura menyatakan bahwa kita setara. Begitu pula jika dikaitkan dengan pembahasan mengenai wanita. Tidak pernah ada kesetaraan peran dan kesamaan aturan yang berlaku bagi mereka. Wanita perlu diizinkan untuk memenuhi potensi individu mereka, yang seringkali terlepas dari tuntutan sosial. Margaret Thatcher telah menjadi tokoh yang menurut saya sepenuhnya bereksistensi secara otentik.

Daftar Pustaka

De Beauvoir, Simone. (1949). The second sex. Didapatkan dari: http://hagocrat.files.wordpress.com/2012/06/de-beauvoir-simone-second-sex.pdf (Diunduh terakhir pada 12/25/12 pukul 15:36)

Kafka, Franz. (1915). The metamorphosis. Didapatkan dari: http://www.gutenberg.org/files/5200/5200-h/5200-h.htm (Diunduh terakhir pada 12/25/12 pukul 18:38)