Tags

,

From: Martin Buber’s I and Thou

Tugas dari MA Eksistensialisme.

Berdasarkan pertanyaan pada judul, adalah lebih mudah menjawab pertanyaan kedua, yaitu pertanyaan: “apakah It bisa menjadi Thou?” Filsafat Martin Buber membicarakan mengenai hubungan interpersonal dimana cinta yang bertemu atas grace dicapai lewat direct encounter (perjumpaan langsung). Dari proses itulah I and Thou saling membuka diri satu sama lain, yang menimbulkan terciptanya jalinan cinta.

Ketika prekonsepsi IIt (seperti prasangka dan stereotip) dihayati oleh subyek dalam memberikan penilaian mengenai entitas lain dimana dalam hal ini entitas itu merupakan sebuah obyek, maka obyek itu tidak akan pernah bisa dialami sebagai keseluruhannya. Pemahaman subyek atas obyek itu hanyalah sebatas pengetahuan berdasar pengalaman tanpa adanya kehadiran dua subyek. Kehadiran dua subyek inilah kunci berubahnya It menjadi Thou. It bisa menjadi Thou apabila prekonsepsi-prekonsepsi yang meliputi It telah berubah berkat adanya direct encounter. Direct encounter menyebabkan hubungan antar subyek terjadi, dimana prekonsepsi yang ada sebelumnya disadari sebagai hal yang tidak penting dalam relasi telah hilang. Prekonsepsi itu digantikan oleh kesalingterbukaan antar dua subyek yang menganggap bahwa relasi itu sangat penting.

53022

Sebagai contoh, seseorang yang awalnya memiliki prekonsepsi mengenai Tuhan lewat fakta-fakta ilmiah. Orang ini mempelajari ilmu-ilmu mengenai Tuhan, diantaranya psikologi dan sosiologi. Menurut psikologi Freudian, Tuhan hanya memberikan rasa aman palsu bagi manusia karena yang sebenarnya terjadi adalah dinamika identitas seksual yang berujung pada pemujaan sosok spiritual yang mirip dengan figur ayah. Menurut sosiologi Durkheim, Tuhan tidak berarti apa-apa karena yang berarti adalah kesakralan masyarakat yang dimanifestasikan lewat ritual-ritual agama. Prekonsepsi-prekonsepsi ini menyebabkan orang itu tidak mau percaya pada Tuhan. Namun, ketika subyek memutuskan lewat grace untuk membuka diri dan hadir dalam interaksi dengan sosok atau rasa yang tidak mungkin ada di dunia ini, lalu perasaan dan hubungan itu dihayati menjadi lebih penting dari apapun, segala prekonsepsi psikologi dan sosiologi yang telah dipelajari bisa hilang karena by grace subyek memutuskan untuk membuka dirinya dan menerima Tuhan tanpa perlu bukti-bukti obyektif It. Hubungan ia dan Tuhan adalah IThou.

Sebaliknya, Thou juga bisa berubah menjadi It kembali. Seandainya seseorang yang telah membuka dirinya secara menyeluruh dan menganggap relasinya dengan Thou lebih penting dari apapun juga, ia tetaplah rentan dengan fakta-fakta obyektif It. Jika kembali pada contoh diatas, suatu ketika orang itu menghadapi berbagai kemalangan hidup. Cintanya terhadap Tuhan yang telah diperoleh lewat keterbukaan sebelumnya tidak lagi dihayati sebagai hubungan yang sangat penting. Thou menjadi tidak terlalu berarti. Karena kerenggangan hubungan ini, dalam kemalangan hidupnya, ia menyalahkan Tuhan atas segala yang terjadi atas dirinya. Penyalahan atas Tuhan ini diakibatkan munculnya kembali prekonsepsi berbentuk prasangka terhadap Tuhan, yang menyatakan bahwa berdasarkan ajaran agama, Tuhan memiliki kuasa untuk membuat manusia menderita. Prekonsepsi yang kembali muncul ini telah melemahkan posisi Tuhan sebagai Thou dan menjatuhkannya menjadi It.

Jadi, It dapat berubah menjadi Thou, dan begitu pula sebaliknya.