Tags

, , , , , ,

Keywords: Kreativitas, Heterogenitas, Diversitas, Etnis, Performa Kelompok, Belajar

Word Count: 1279

*digunakan untuk tugas Proses Kelompok*

Pernahkah kalian berada dalam situasi dimana kalian masuk ke dalam kelompok dengan anggota-anggota lain yang nampaknya berbeda dengan kalian? Bayangkan kalian harus mendiskusikan tugas perkuliahan dengan anggota kelompok lain yang berbeda jurusan perkuliahan, latar belakang budaya, atau bahkan berbeda etnis dengan kalian. Bagaimana proses diskusi yang berlangsung? Hasil apa yang bisa diberikan oleh kelompok yang heterogen seperti itu? Ternyata, berdasarkan pengalaman salah satu kelompok yang mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa – Pengabdian Masyarakat (PKM-M), heterogenitas dalam kelompoknya itu justru membawa proposal PKM-M mereka menuju ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS), sebuah ajang kompetisi kreativitas mahasiswa yang cukup bergengsi.

Dalam wawancara dengan salah satu anggota kelompoknya, sebelumnya mereka tidak menyadari bahwa betapa berbedanya individu-individu dalam kelompok mereka yang berjumlah lima orang. Meskipun tiga dari kelima anggota kelompok memiliki latar belakang budaya yang sama, yaitu berasal dari Jakarta, dua orang anggota lain berasal dari latar belakang budaya yang cukup berbeda. Salah satunya berasal dari Sumatera Barat dan yang lain berasal dari Yogyakarta. Tidak hanya itu, anggota-anggota kelompok juga berasal dari jurusan-jurusan yang berbeda dalam perkuliahan mereka. Tiga orang berasal dari Fakultas Hukum, salah satunya berasal dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, dan yang lain berasal dari Fakultas Ilmu Keperawatan. Gender mereka pun juga cukup heterogen, yaitu dua orang pria dan tiga orang wanita. Belum lagi kondisi lainnya, yaitu etnis mereka. Berdasarkan keterangan salah satu anggotanya, dua orang memiliki latar belakang etnis Betawi, satu orang berasal dari etnis Bengkulu, salah satu lainnya berasal dari etnis Jawa, dan yang lain berasal dari etnis Minang.

Meskipun dengan segala perbedaan itu, mereka justru berhasil lolos dalam PIMNAS dimana proposal-proposal PKM hasil pemikiran kelompok diseleksi dengan cukup ketat (Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro UGM, 2011). Dengan kata lain, proposal PKM kelompok telah dinilai cukup baik sehingga diikutsertakan dalam ajang kompetisi nasional yang cukup bergengsi tesebut. Namun demikian, mengapa kelompok yang begitu heterogen, begitu berbeda, justru memberikan hasil yang begitu baik? Proses apa yang sebenarnya terjadi dalam kelompok sehingga bisa menghasilkan ide-ide yang dianggap layak untuk diapresiasi dan dipertimbangkan untuk kompetisi berskala besar?

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, perlu didefinisikan terlebih dahulu apa yang disebut dengan heterogenitas atau diversitas. Diversitas sendiri merupakan konsep yang dioperasionalisasi melalui perbedaan-perbedaan karakteristik anggota dalam suatu kelompok (Bode, Knippenberg, & Ginkel, 2008). Karakteristik-karakteristik itu bisa berupa gender, etnis, latar belakang pendidikan, latar belakang budaya, latar belakang fungsional, dan lain-lain. Lalu sebenarnya bagaimana perbedaan-perbedaan karakteristik itu dapat mempengaruhi performa kelompok untuk melaju ke PIMNAS?

 

Berdasarkan eksperimen Hoever, Knippenberg, Ginkel, & Barkema (2012) heterogenitas anggota kelompok bisa memunculkan perilaku perspective taking dimana proses elaborasi informasi muncul, yang menjadi salah satu kriteria kemunculan kreativitas. Zhou & Shalley (2010) mendefinisikan kreativitas dalam tim sebagai originalitas dan hal-hal baru yang didapatkan bersama dan kegunaannya dalam produk, jasa, dan proses. Eksperimen tersebut memberikan model teoretis bahwa kreativitas yang disebabkan heterogenitas anggota kelompok dimediasi oleh perilaku perspective taking, yaitu perilaku dimana seseorang mencoba untuk memahami pemikiran, motif, dan perasaan dari orang lain (Parker, Atkins, & Axtell dalam Knippenberg, Ginkel, & Barkema, 2012).

Dalam perbedaan anggota tim, proses perspective taking yang terjadi merefleksikan perbedaan kualitatif antar anggota kelompok sehingga kelompok dapat menggunakan pendekatan-pendekatan yang lebih luas terhadap tugas kelompok. Penjelasan ini sesuai dengan keterangan yang diberikan salah satu anggota kelompok PKM-M yang disebutkan. Dalam melakukan proses diskusi, mereka mempertimbangkan latar belakang jurusan perkuliahan dari setiap anggota tim dan menyatakan pendapatnya berdasarkan pertimbangan itu. Semakin kaya perspektif yang dimiliki masing-masing anggota kelompok, maka informasi yang muncul juga semakin banyak, dan ini berpengaruh terhadap kreativitas kelompok.

Sementara itu penelitian Bode, Knippenberg, & Ginkel (2008) lebih menekankan pada pengaruh etnis terhadap proses elaborasi informasi. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, elaborasi informasi merupakan salah satu kriteria yang menyebabkan munculnya kreativitas (Hoever, Knippenberg, Ginkel, & Barkema, 2012). Sebelumnya diyakini bahwa perbedaan etnis justru memberikan dampak negatif terhadap performa kelompok. Namun ternyata, heterogenitas etnis tidak hanya memberikan kuantitas informasi yang lebih banyak dalam kelompok, namun juga mengakibatkan munculnya kreativitas dalam produk, proses, atau jasa dari kelompok. Kelompok dengan heterogenitas etnis memicu informasi-informasi berbeda yang datang dari individu-individu yang memiliki informasi yang berbeda-beda pula, dan elaborasi informasi ini yang mendukung terjadinya kreativitas.

Leung, Maddux, Galinsky, & Chiu (2008) bahkan menyatakan dalam penelitian mereka bahwa keterpaparan terhadap heterogenitas atau diversitas itu sendirilah yang memicu kreativitas, dan tidak perlu dimediasi oleh faktor-faktor lain. T.B. Ward (1994) menjelaskan bahwa ketika individu hanya terpapar oleh satu budaya saja, rutinitas yang telah dipelajari dan pengetahuan konvensional mengenai budaya itu mungkin membatasi pengembangan kreativitas individu (dalam Leung, Maddux, Galinsky, & Chiu, 2008). Tanpa terpaparnya individu terhadap pengetahuan yang belum ia ketahui dan sumber-sumber pengetahuan yang belum ia ketahui, maka imajinasi dan pengembangan kreativitasnya terhambat. Dalam hal ini, budaya memberikan kumpulan pengetahuan yang tetap dan mudah diakses meskipun dengan demikian pengetahuan yang didapat terbatas hanya dari kumpulan pengetahuan yang diberikan oleh budaya.

Mungkin muncul pertanyaan, apakah pada kelompok-kelompok dengan etnis heterogen tidak menimbulkan masalah stereotip yang mungkin menimbulkan kesulitan dalam proses kelompok? Turner, Hogg, Oakes, Reicher, & Wetherell (1987) menyatakan bahwa stereotip mungkin terjadi. Namun, jika anggota-anggota kelompok mempersepsikan tugas relevan yang dikerjakan kelompok adalah bermakna, maka anggota akan menganggap orang lain dalam kelompoknya sebagai ingroup (saya dan tim saya adalah satu kesatuan identitas) dan kelompok lain sebagai outgroup (dalam Bode, Knippenberg, & Ginkel, 2008). Dalam konteks kompetisi seperti PKM, heterogenitas yang ada bisa dipersepsi tidak lagi sebagai aspek negatif, namun sebagai jalan untuk mencapai kemenangan dalam kompetisi sehingga faktor stereotipikal akan menghilang begitu saja. Kelompok lain, seberapapun sama etnis mereka dengan seseorang, jika mereka dipersepsi sebagai outgroup, tetap saja mereka adalah anggota diluar kelompok yang bisa membahayakan tujuan kelompok (misalnya untuk menang melaju ke PIMNAS).

Disamping kemunculan kreativitas, heterogenitas atau diversitas juga memfasilitasi perilaku saling belajar dalam kelompok. (Hoogendorn & Praag, 2012; Hoever, Knippenberg, Ginkel, & Barkema, 2012) Hal ini juga dimunculkan oleh jumlah atau kuantitas informasi yang lebih tinggi saat kelompok terdiri dari anggota-anggota yang heterogen. Dalam eksperimen yang dilakukan Hoogendorn & Praag pada tahun 2012, sebanyak 550 orang partisipan secara acak dibentuk dalam dua jenis kelompok dengan etnis yang berbeda-beda (komposisi etnis dari keseluruhan partisipan adalah 55% partisipan bukan etnis Jerman dan berasal dari 53 negara). Partisipan diminta dalam kelompok untuk merancang sebuah proyek bisnis. Kelompok pertama adalah kelompok dengan level perbedaan etnis anggota yang moderate (hanya sedikit jumlah etnis minoritas dalam kelompok) dan kelompok kedua adalah kelompok dengan level perbedaan etnis anggota yang tinggi (mayoritas etnis adalah etnis minoritas). Setelah seluruh kelompok mengerjakan proyek yang diminta, diukur hasil dari proyek mereka masing-masing lewat kriteria keuntungan dan penjualan. Hasilnya, kelompok dengan level perbedaan etnis yang tinggi menghasilkan keuntungan dan penjualan yang lebih baik.

Interpretasi temuan diatas mengaitkan banyaknya pengetahuan yang dimiliki oleh tim dengan etnis yang heterogen dengan perilaku saling belajar antar anggota kelompok (Hoogendorn & Praag, 2012). Anggota yang sebelumnya tidak memiliki pengetahuan mengenai cara-cara atau informasi-informasi yang dibutuhkan dalam konteks spesifik proses pengerjaan proyek bisnis dapat belajar dari mereka dengan etnis berbeda, dan begitu pula sebaliknya. Hal ini terkait pula dengan perbedaan pengetahuan yang diberikan oleh budaya spesifik sebagaimana telah disebutkan sebelumnya (dalam Leung, Maddux, Galinsky, & Chiu, 2008).

            Berdasarkan analisis diatas, melalui berbagai dukungan empiris, ternyata heterogenitas atau diversitas dalam kelompok bukannya mengurangi performa kelompok, tetapi justru malah meningkatkan performa kelompok. Heterogenitas dalam kelompok yang tinggi akan memicu informasi dan pengetahuan dalam jumlah yang besar pada kelompok sehingga menyebabkan munculnya kreativitas, imajinasi, dan perilaku saling belajar. Meski demikian, stereotip yang dimiliki anggota terhadap anggota lain dapat mempersulit performa kelompok terutama jika tugas dan tujuan kelompok tidak dimaknai sebagai hal yang penting bagi anggota. Pada kelompok Program Kreativitas Mahasiswa yang telah disebutkan, kreativitas yang ditunjukkan lewat masuknya mereka ke PIMNAS dapat terjadi sebagai akibat dari proses-proses diatas. Di dalam perbedaan, muncul performa kelompok yang baik.

Daftar Pustaka:

Aberson, C.L. (2007). Diversity experiences predict changes in attitudes toward affirmative action. Cultural Diversity and Ethnic Minority Psychology, 13, 4, 285–294. 10.1037/1099-9809.13.4.285

Bode, H.J.M.K., Knippenberg, D., Winkel, W.P. (2008). Ethnic diversity and distributed information in group decision making: The importance of information elaboration. Group Dynamics: Theory, Research, and Practice, 12, 4, 307–320. 10.1037/1089-2699.12.4.307.

Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro UGM. (2011). Pengertian PIMNAS. Diunduh April 12, 2013, dari Website Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro UGM: http://hmte.ugm.ac.id/apa-itu-pimnas-pengertian-pimnas/

Hoever, I.J., Knippenberg, D., Ginkel, W.P., Barkema, H.G. (2012). Fostering team creativity: Perspective taking as key to unlocking diversity’s potential. Journal of Applied Psychology, 97, 5, 982–996. 10.1037/a0029159.

Hoogendoorn, S., & Praag, M.V. (2012). Ethnic diversity and team performance: A field experiment. IZA Discussion Paper No. 6731. IZA DP No. 6731.

Knippenberg, D., De Dreu, C.K.W., & Homan, A.C. (2004). Work group diversity and group performance: An integrative model and research agenda. Journal of Applied Psychology, 89, 6, 1008–1022. DOI: 10.1037/0021-9010.89.6.1008.

Leung, A.K., Maddux, W.W., Galinsky, A.D., & Chiu, C. (2008). Multicultural experience enhances creativity: The when and how. American Psychologist. 63, 3, 169-181. 10.1037/0003-066X.63.3.169.