Tags

, , , , ,

Ȇcriture fȇminine. Istilah ini digunakan oleh aliran feminis Perancis yang banyak dipengaruhi tradisi filsafat postmodernisme dari Derrida. Helene Cixous, sebagai tokoh yang pertama menggunakan istilah tersebut (l’ȇcriture fȇminine) menggunakannya untuk mengkritik gaya penulisan pria yang terlalu dikotomis dan kaku dengan gaya penulisan wanita yang tidak mendikotomikan dua konsep yang berlawanan dan fleksibel secara struktur.

Bagi Cixous, konsep dikotomis dan rigid yang dikembangkan pada tulisan-tulisan pria telah mendominasi dunia sastra. Konsep dikotomis ini sendiri berkembang karena kepercayaan dasar sejak lampau mengenai dikotomi kontradiktif pria dengan wanita. Pria yang aktif – wanita yang pasif, pria yang positif – wanita yang negatif, pria yang asertif – wanita yang submisif, dan lainnya. Konsep-konsep dyadic yang kaku ini dikembangkan pada berbagai obyek dan selanjutnya menghasilkan tulisan sebagaimana dimaksud Cixous.

            Tulisan sebagaimana dimaksud Cixous sendiri mendapatkan perhatian dari feminis-feminis lainnya seperti Luce Irigaray, Julia Kristeva, dan novelis-novelis lainnya seperti Chantal Chawaf, Catherine Clement, dan lain-lain. Mereka memiliki pondasi teoretisnya masing-masing mengenai apa itu l’ȇcriture fȇminine. Dalam kesempatan kali ini, saya akan melakukan analisis l’ȇcriture fȇminine terhadap dua tulisan dari dua jenis kelamin yang berbeda. Tulisan pertama adalah tulisan dari Sir Arthur Conan Doyle, novelis whodunit (cerita fiksi misteri detektif) yang sangat terkenal dengan tokoh ciptaannya, Sherlock Holmes dan John Watson. Tulisan kedua adalah tulisan dari Dame Agatha Christie, novelis cerita fiksi whodunit lainnya dengan tokoh ciptaannya, Hercule Poirot dan Jane Marple. Adapun tulisan yang coba saya analisis adalah “Nemesis” karya Agatha Christie dan “A Scandal in Bohemia” karya Conan Doyle.

            A Scandal in Bohemia dipilih karena dalam novel ini tokoh wanita antagonis utama didepiksikan dengan begitu nyata oleh Doyle. Dalam novel yang dianggap sebagai pengenalan pertama dari karakter sosok wanita yang menaklukan hati dan kemampuan deduksi Holmes, Doyle menceritakan pertemuan Holmes dengan Irene Adler yang selalu dikenangnya. Dalam pembicaraan mengenai Adler, terdapat sebuah kutipan menarik yang dikatakan Raja Inggris kepada Holmes, yaitu bahwa Adler memiliki:

the face of the most beautiful of women and the mind of the most resolute of men

Dalam kutipan ini jelas sekali muncul black ink atau tinta hitam (tulisan khas pria) menurut teori Cixous. Baik wanita maupun pria memiliki trait-trait mereka yang dikonstruksikan dalam budaya patriarki sehingga dimanifestasikan dalam bahasa dan pemaknaan. Disini, wanita yang dianggap baik merupakan wanita yang memiliki trait-trait seperti keanggunan, kecantikan, dan kemolekan. Sementara seorang pria yang baik adalah pria yang cerdas, yang pandai menyelesaikan masalah, yang mampu memimpin, dan lain-lain. Dikotomi dyadic semacam ini merupakan ciri dari tinta hitam yang mengaitkan pria atau wanita dengan trait-trait tertentu berdasarkan budaya patriarki.

Budaya patriarki menganggap wanita sebagai obyek sehingga wanita baik adalah wanita yang cantik, karena ia sesuai dengan standar seksual dari pria sebagai subyek sistem patriarki. Ketika wanita (dalam hal ini Adler) dianggap sebagai wanita yang cerdas, maka ia akan dibandingkan bukan kepada keseluruhan manusia, tetapi kepada dikotomi lawan dari jenis kelamin dirinya, yaitu jenis kelamin pria. Selain itu, standar kecerdasan disini juga merupakan kecerdasan versi tinta hitam, yaitu kecerdasan yang dilekatkan sesuai norma. Jika Adler misalnya saja menjadi wanita yang pandai memikat hati pria, ia mungkin tidak akan dianggap sebagai wanita cerdas.

“In his eyes she eclipses and predominates the whole of her sex.”

 Sekali lagi, dalam novel yang sama, tinta hitam muncul. Kutipan ini merupakan kesan Holmes terhadap Adler, dimana pemisahan wanita dengan pria nampak begitu jelas. Disini Adler tidak dilihat sebagai sebuah pribadi yang unik, pribadi dengan karakteristik yang menonjol, tetapi ia harus dibandingkan dengan kelompoknya yang sudah dikotakkan, yaitu kelompok wanita. Ia tidak akan dibandingkan dengan kelompok pria, karena sejak awal dikotomi sudah terjadi. Wanita akan selalu menjadi wanita, seunik apapun, semenonjol apapun perbedaan yang ada pada dirinya. Begitupun kutipan berikut ini.

“To Sherlock Holmes she is always the woman. I have seldom heard him mention her under any other name.”

            Sekali lagi, apa yang disebutkan pada paragraf sebelumnya juga ditemukan dalam kutipan ini. Holmes, yang telah dikalahkan oleh Adler dalam adu kelihaian akhirnya mengakui kemampuan wanita itu. Namun, selamanya tetap saja Adler menjadi seorang wanita yang telah mengalahkan seorang pria, bukan seorang pribadi atau seseorang dengan keunikan. Wanita yang mengalahkan pria dianggap sebagai hebat, namun ia tetap saja seorang wanita. Disini nampak pula bahwa tinta hitam yang penuh kekakuan norma dan aturan memang termanifestasi dalam bahasa yang digunakan.

            Sementara, dalam novel Nemesis karya Agatha Christie, sekali lagi muncul seorang tokoh utama wanita yang sangat cerdas, yaitu Ms. Jane Marple. Sama seperti Doyle yang kurang menyukai Holmes, Christie juga tidak terlalu menyukai karakter detektif utamanya, Hercule Poirot. Sebagai kompensasi, ia menciptakan sosok wanita yang ia kagumi, yaitu Jane Marple (atau biasa disebut Miss Marple). Disini akan coba dilihat apakah Agatha Christie menulis dengan tinta hitam atau tinta putih.

“I know when a couple are really in love with each other. And by that I do not mean just sexually attracted. There is too much talk about sex, too much attention is paid to it. I do not mean that anything about sex is wrong. That is nonsense. But sex cannot take the place of love, it goes with love, but cannot succeed by itself.”

            Jika sebelumnya norma yang terlihat adalah norma pemisahan karakteristik wanita dan pria, disini kita melihat norma baik dan buruk. Seks dan cinta. Seks dianggap lebih buruk dari cinta, sementara cinta dianggap lebih baik dari seks. Dikotomi semacam ini merupakan dikotomi yang sama seperti sebelumnya, yaitu dikotomi khas tinta hitam. Namun demikian, perlu dilihat juga bahwa ada unsur white ink atau tinta putih (tulisan khas perempuan) yang dapat teramati. Disini dituliskan bahwa tidak seluruhnya mengenai seks adalah salah. Dengan kata lain, dikotomi salah dan benar tidak semudah itu.

Apa yang salah dan yang benar bukan merupakan kategori, melainkan sebuah kontinuum dimana pemahaman mengenai konsep tidak dapat dikategorisasi. Ini merupakan corak tinta putih. Meski demikian, dalam hal ini masih perlu dilihat, apakah memang kutipan ini menandakan corak tinta putih yang beranggapan bahwa norma tidaklah sejelas dikotomi, ataukah ini masih merupakan sebuah tinta hitam dengan pola normatif yang terselubung? Kita akan coba melihatnya dari konsistensi dengan kutipan lain dalam novel ini.

“Accuracy is more a male quality than a female one”

            Kutipan ini dikatakan oleh Miss Marple sendiri. Jelas bahwa kutipan tersebut menandakan dikotomi antara kualitas-kualitas pria dengan kualitas-kualitas wanita sebagaimana disebutkan dalam beberapa paragraph sebelumnya. Ini sama dengan anggapan bahwa kecerdasan dan kepandaian merupakan kualitas pria dan bukan wanita. Meski demikian, dengan norma dikotomis seperti itu, tetap ada perbedaan pada Doyle dan Christie. Jika mengingat kutipan-kutipan sebelumnya, Doyle menyatakan tanpa keraguan soal dikotomi kelompok wanita dan pria. Namun, dalam kutipan Christie diatas, muncul kontinuum non-dikotomis ketika ia mengatakan “accuracy is more…”. Artinya, kutipan ini mengakui bahwa tidak selamanya akurasi dimiliki hanya oleh pria walaupun memang pria bisa lebih unggul dalam hal itu. Lagi-lagi, cukup sulit untuk menentukan apakah Christie berada pada posisi tinta hitam atau putih.

            Kedua karya sastra dengan tema whodunit diatas mengandung pola-pola yang sama. Mereka saling mengakui kemampuan-kemampuan dan kualitas-kualitas yang dimiliki kelompok tertentu. Dikotomi tinta hitam dilekatkan menjadi kategori dari kualitas-kualitas dan kemampuan-kemampuan itu. Pada tulisan Arthur Conan Doyle, dikotomi itu terlihat lebih jelas. Tidak ada keraguan sedikitpun dari kutipan yang telah dicantumkan diatas akan perbedaan pria dan wanita. Sementara pada tulisan Agatha Christie, meskipun dikotomi nampak, namun saya berpendapat bahwa terdapat unsur tinta putih yang beranggapan bahwa dikotomi tidak dipahami semudah dua kategori yang tidak berhubungan. Ini terlihat dari kedua kutipan novel Nemesis. Meski demikian, memang satu atau dua kutipan dari ratusan lembar novel mungkin kurang mampu mewakili keseluruhannya. Berdasarkan pengetahuan saya mengenai Agatha Christie sebagai pribadi, meskipun tulisan-tulisannya terasa sangat terikat dengan norma-norma Inggris, tetapi ia mampu meletakkan konsep tidak hanya didasari dikotomi. Ia mampu melihat unsur perasaan dan disposisi yang tidak bisa dikategorisasi. Lantas apakah ini menjadikan Agatha Christie sebagai penulis tinta putih?

Jika muncul ketidaksetujuan, silahkan berikan komentar di blog ini.

Lebih jauh lagi kalian bisa membaca kedua novel yang telah saya sebutkan diatas. :)