Tags

, , , , , , , , , ,

“Thou sword of truth, fly swift and sure, that evil die and good endure!” (Flora, on Prince Phillip’s sword)

Dalam psikoanalisis, kutipan diatas dapat diartikan sebagai keluarnya kekuatan yang dapat membungkam perlawanan atas budaya patriarki yang berkuasa. Apa maksudnya? Kita kembali kepada kutipan ini pada beberapa bagian dalam tulisan ini.

Semenjak kesuksesan Snow White pada tahun 1937, Disney terus mengeluarkan film-filmnya yang bertemakan Princesses (Putri-Putri). Dimulai dari Princess Snow White sampai Princess Merrida dalam film Brave (2012), terjadi perubahan yang berangsur-angsur mengenai kepribadian dan karakteristik putri-putri Disney. Dalam generasi Snow White dan beberapa putri setelahnya, nampak jelas bahwa kepribadian dan karakteristik mereka adalah karakteristik yang diharapkan oleh budaya patriarki yaitu pasif, harus diselamatkan oleh pria karena tidak memiliki kekuatan, lemah lembut, feminin, dan karakteristik lainnya. Sementara, pada generasi yang dimulai dari tahun 1990-an, putri-putri yang ditampilkan sudah mulai memiliki sifat membangkang, punya opini sendiri, bertindak asertif, mandiri, dan tidak melulu bergantung pada pertolongan pangeran.

Dari kesemua putri-putri Disney, disini saya ingin mencoba untuk membahas mengenai Sleeping Beauty dari sudut pandang feminisme. Disini juga akan dibahas wanita yang menjadi musuh besar kerajaan Disney, yaitu Maleficent (yang sekaligus menjadi tokoh antagonis dalam film Sleeping Beauty). Sebelumnya terlebih dahulu diceritakan secara ringkas cerita dari Disney’s Sleeping Beauty (1959)…

 blessingsforprincessorigina

Ringkasan Cerita

Raja Stefan dan Ratu Leah telah lama menanti kedatangan seorang anak, dan akhirnya keinginan mereka selama ini dikabulkan. Sang Ratu melahirkan seorang anak perempuan yang diberikan nama Aurora. Seluruh kerajaan bersuka cita. Pesta diadakan untuk merayakan kebahagiaan kerajaan atas lahirnya sang penerus takhta kerajaan itu. Turut diundang Raja Hubert dan anaknya, Pangeran Phillip muda yang diharapkan akan mempersatukan kedua kerajaan lewat pernikahannya dengan Aurora kelak.

Selain Raja Hubert dan puteranya, hadir juga tamu kehormatan lainnya, yaitu tiga orang peri yang berniat untuk memberikan hadiahnya kepada sang putri yang baru saja lahir. Peri-peri itu bernama Flora, Fauna, dan Merryweather. Flora memberikan hadiah berupa kecantikan yang akan dimiliki sang putri sementara Fauna memberikan hadiah kemampuan menyanyi kepada sang putri. Ketika Merryweather akan memberikan hadiahnya kepada Aurora, datang seorang peri lainnya yaitu Maleficent.

Maleficent merupakan peri dengan nuansa yang gelap dan jahat. Ia merasa tersinggung akan mengapa dirinya tidak diundang dalam pesta megah itu. Dalam kemarahan itu, ia tetap mempertahankan sikap anggunnya dalam pesta dimana semua orang mulai memandangnya dengan takut dan jijik. Ia lalu memberikan hadiahnya kepada Aurora, berupa kutukan yang menyatakan bahwa meskipun Aurora akan menjadi gadis yang cantik dan anggun, ia akan mati dengan jarum pemintal sehari tepat sebelum ulang tahunnya yang ke-16. Maleficent tertawa dan kemudian ia menghilang dari pesta itu.

Merryweather yang belum memberikan hadiahnya kepada Aurora akhirnya menggunakannya untuk memperlemah kutukan Maleficent. Aurora tidak akan mati, tetapi ia hanya akan tertidur saja dimana ia dapat dibangunkan oleh ciuman cinta sejatinya. Raja Stefan lalu memerintahkan untuk menghancurkan semua alat pemintal di kerajaan. Akan tetapi Flora, Fauna, dan Merryweather tahu bahwa itu saja tidak cukup karena kekuatan jahat Maleficent terlalu kuat. Sehingga, mereka memutuskan untuk melindungi Aurora dengan izin Raja dan Ratu. Mereka mengubah diri mereka menjadi wanita biasa dan melarikan Aurora ke pondok di hutan agar tidak ditemukan oleh Maleficent sampai ulang tahun ke-16 Aurora terlewati.

Maleficent selama bertahun-tahun memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk mencari Aurora. Namun, pencariannya tidak pernah membuahkan hasil sehingga menimbulkan kemarahannya. Ini memaksa dia untuk meminta gagak kesayanhow-disney-princess-works-15gannya untuk pergi mencari Aurora.

Sementara itu di pondok kecil di tengah hutan, seorang gadis yang luar biasa cantik, lembut dan baik hati bernama Briar Rose (Mawar Hutan) memimpikan dirinya akan jatuh cinta suatu saat nanti. Ia bernyanyi dengan suaranya yang indah dan menarik perhatian semua penghuni hutan, termasuk Pangeran Phillip yang sedang berkelana di hutan. Mereka langsung jatuh cinta saat pertama kali bertemu. Rose pergi meninggalkan Phillip dan memintanya datang ke pondoknya tanpa mengetahui nama Phillip. Sementara itu Flora, Fauna dan Merryweather sedang mempersiapkan pesta ulang tahun ke-16 Mawar Hutan. Mereka bertengkar mengenai warna gaun yang seharusnya digunakan oleh Mawar Hutan saat ulang tahun. Ini memaksa mereka menggunakan sihir yang selama ini selalu dipendam agar tidak nampak oleh Maleficent. Melihat aura sihir ini, gagak milik Maleficent mengamati dari jauh dan pergi untuk memberitahu Maleficent. Para peri melihat gagak itu.

Sepulang Aurora dari hutan, para peri memberitahukan Aurora (Mawar Hutan) kejadian sebenarnya, dan secepatnya melarikan sang putri ke istana. Aurora menjadi sedih karena ia mungkin tidak akan pernah lagi bertemu dengan pria yang baru saja ditemuinya. Di istana Raja Hubert, Pangeran Phillip menyatakan bahwa ia tidak ingin menikahi Aurora, tetapi ia ingin menikahi wanita yang baru saja ditemuinya di hutan. Meski dipaksa oleh Raja Hubert, ia tetap menolak menikahi Aurora.

Setelah Aurora sampai di istana, ia disambut oleh Raja Stefan yang sudah menunggunya. Namun setelahnya, Maleficent menjebak Aurora untuk mengikuti arahannya ke menara dimana disana sudah menunggu alat pemintal lengkap dengan jarumnya. Aurora menyentuh jarum itu dan ia jatuh tertidur. Menyadari hal ini, ketiga peri memutuskan membuat seluruh isi kerajaan tertidur pulas sampai pada akhirnya kutukan Maleficent berakhir. Sebelum tertidur, Raja Hubert sempat memberitahukan bahwa Pangeran Phillip jatuh cinta dengan seorang gadis yang ditemuinya di hutan. Pada peri menyadari kenyataan ini, dan merasa yakin bahwa Aurora telah jatuh cinta dengan Phillip. Phillip, yang memenuhi undangan Mawar Hutan untuk datang ke pondok di hutan ditangkap oleh Maleficent agar ia tidak memudarkan kutukan yang telaaurora_04h ia lakukan.

Ketiga peri mengejar Phillip sampai ke pondok di hutan namun menemukan bahwa Phillip sudah tidak ada. Tetapi mereka menemukan bahwa Phillip memang pernah berada di sana dan Maleficent-lah yang telah menangkap pangeran itu. Para peri mengejar Maleficent ke tempat dimana Maleficent menyekap Phillip. Disana, Maleficent mengejek cinta Aurora dan Phillip. Ia merencanakan untuk mengurung Phillip disana sampai ia tua, lalu setelah keluar ia akan menjadi kakek-kakek sementara Aurora masih muda sebagaimana ia terkena kutukan itu. Maleficent pergi dengan tawa jahatnya. Namun, ketiga peri berhasil menemukan Phillip.

Mereka membebaskan Phillip dari kurungan dan memberikan Phillip Sword of Truth dan Shield of Virtue yang telah mendapatkan berkat dari mereka. Phillip dan para peri keluar dari tempat Maleficent dan mereka melawan prajurit-prajurit Maleficent sambil terus menuju ke kastil tempat Aurora tertidur. Menyadari hal ini, Maleficent mengejar Phillip dan ia memasang hutan duri tajam di sekeliling istana Stefan. Phillip yang awalnya mengalami kesulitan akhirnya berhasil melewati hutan duri itu. Sayangnya, Maleficent telah menunggu di depan gerbang istana dan mengubah dirinya menjadi sesosok naga hitam yang besar dan menakutkan. Ia menyerang Phillip, namun Phillip bisa menangkis serangannya dengan perisai yang telah diberikan oleh para peri. Ia akhirnya berhasil menghujamkan pedang yang telah diberikan para peri tepat ke jantung Naga itu. Maleficent akhirnya terjatuh dan mati.

Phillip bergegas menuju ke menara tertinggi dimana Aurora tertidur. Disana, ia mencium Aurora sehingga kutukan yang menimpa Aurora dan seluruh isi istana hilang. Mereka kemudian turun menuju ruangan utama istana dimana semua orang menyambut mereka. Para peri memutuskan gaun apa yang harus digunakan Aurora dan mereka sepakat untuk memberikan warna pink. Pangeran Phillip dan Aurora akhirnya hidup bahagia sampai selama-lamanya.

Analisis

Dalam kesempatan ini akan digunakan perspektif teori Feminisme Psikoanalisis. Pembahasan ini dipilih karena dalam hal ini, psyche wanita menjadi hal yang penting untuk dilihat. Disini kita tidak berkutat pada aturan-aturan dan hak asasi seperti Feminisme Liberal, kita juga tidak berkutat pada faktor material dan politis seperti Feminisme Radikal dan Feminisme Marxist/Sosialis. Disini, yang dimunculkan adalah manifestasi simbol terhadap perilaku tokohnya sehingga psikoanalisis dapat digunakan sebagai senjata feminisme. Adapun analisa dibagi berdasarkan dua tokoh utama wanita yang muncul, yaitu Aurora sebagai protagonis dan Maleficent sebagai antagonis.

Menurut teori psikoanalisis, trait maskulin dan feminin sangat jelas perbedaannya baik dari segi proses pembentukan maupun dari segi analisis simbolik. Laki-laki memiliki karakteristik psikologis tertentu, begitu pula dengan wanita. Akar dari terbentuknya karakteristik ini adalah manifestasi struktur simbolik dari penis. Penis merupakan alat kelamin pria yang memiliki fungsi mempenetrasikan dorongan seksualnya terhadap vagina. Penis yang dimasukkan ke dalam vagina merupakan representasi kekuasaan pria atas tubuh si wanita dan ketika sperma keluar dari penis, ini merupakan tanda bahwa kekuasaan berhasil diekskresikan kepada tubuh wanita. Teori psikoanalisis percaya bahwa inilah akar dari psikologi budaya patriarki. Segala konsep diri dan konsep psikologis lainnya jadi berpusat pada satu titik kenikmatan saja, yaitu penis. Sehingga, laki-laki sebagai si pemilik penis adalah subyek yang memiliki kekuasaan. Dalam masa pembentukan psikisnya, ia merasa takut kekuasaannya itu akan hilang karena dikastrasi sementara wanita hanya bisa gigit jari dan iri melihat penis (kekuasaan) milik laki-laki.

Teori psikoanalisis ortodoks (Freudian) menyatakan bahwa “anatomy is destiny”. Artinya, tubuh dan jenis kelamin yang dibawa sejak lahir menentukan psikologi dari seseorang. Tidak ada yang dinamakan kehendak bebas. Jika orang itu laki-laki, maka ia secara otomatis akan menjadi pengambil kekuasaan sementara jika orang itu perempuan, maka ia harus menerima sebagai pelaku peran domestik dalam keluarga.

Teori ini ditolak oleh berbagai tokoh psikoanalisis sosial, termasuk diantaranya Alfred Adler, Karen Horney, dan Nancy Chodorow. Bagi mereka, konstruksi sosial akan struktur simbolis bawah sadar jauh lebih penting daripada faktor yang dibawa sejak lahir (jenis kelamin).

1. Analisis Tokoh Aurora

aurora            Meskipun tokoh utama film ini adalah Aurora, namun Aurora menghabiskan sebagian besar waktunya tidur menunggu ciuman seorang pangeran. Ia tidak mengambil peran apapun secara aktif yang benar-benar berarti dan membawa dampak. Bahkan adegan dimana ia seharusnya mampu menentukan sikap yaitu ketika ia harus dibawa ke istana oleh para peri, ia tetap mengikuti saja tanpa ada sikap atau keberatan yang signifikan. Satu-satunya keberatan yang ditunjukkan olehnya adalah ketika ia merasa bersedih dengan keadaan dimana ia harus berpisah dengan orang yang baru saja ia temui dan ia cintai. Namun ia membuang semua asertifitas sikap dengan menuruti permintaan wanita-wanita senior (para peri).

Aurora menjadi wanita dengan karakteristik yang sangat ideal dalam budaya patriarki. Ia menjadi wanita yang cantik dimana kecantikan adalah kekuatan utama wanita yang akan dipersunting oleh laki-laki yang memegang keputusan dan hak atas diri si wanita. Sama dengan kecantikan, kemampuan bernyanyi yang indah juga digunakan untuk memikat hati pria. Aurora sendiri adalah wanita yang lemah lembut dan penyayang dimana hal ini terlihat dari adegan ia menyanyi dengan para binatang (sangat tipikal pada putri-putri lampau Disney). Wanita dalam budaya patriarki juga memiliki kesan naïf, yaitu kesan polos, lugu, dan hanya dapat mengikuti keinginan orang lain. Hal ini muncul berkali-kali dalam film dimana telah dijelaskan sebelumnya. Aurora hanya mengikuti keputusan para peri dan bahkan ia hanya mengikuti keputusan Maleficent saja tanpa memiliki kehendak tertentu. Puncaknya, ia tertidur dan tidak mampu melakukan apa-apa sampai pangeran datang dan mencium dirinya. Disini sangat jelas bahwa Aurora hanyalah sebagaprince-phillipi obyek yang pasif saja, yang tidak memiliki kekuatan apapun bahkan untuk dirinya sendiri.

Dampak psikologis seperti ini cukup sering terlihat dalam diri Aurora. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, setelah Aurora terkena kutukan peminta, ia hanya bisa tidur dan tidur saja. Ini merupakan kondisi dimana Aurora telah kehilangan kekuasaan bahkan atas dirinya sendiri seperti yang telah dikatakan dalam feminisme psikoanalisis. Ia tidak akan pernah mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Disini, ia harus bergantung kepada pihak yang memiliki kekuasaan untuk berkehendak dan mengambil keputusan, yaitu pria (Phillip). Tanpa ekskresi kekuasaan pria, Aurora bukanlah apa-apa. Sejak awal, sudah terlihat bahwa hanya Phillip yang mampu menolak dorongan lingkungannya untuk menikahi putri yang tidak dikenalnya. Sementara Aurora sama sekali tidak memiliki kekuasaan untuk menolak pangeran yang tidak dikenalnya.

Tidak hanya itu, sebenarnya tidak satu adegan pun yang menunjukkan bahwa Aurora memiliki keputusan atas dirinya. Dalam adegan awal di hutan, Aurora haruslah memiliki wajah cantik dan suara menawan agar ia dapat menarik para penguasa (laki-laki). Aurora tidak diberikan kesempatan untuk memilih apakah si pangeran adalah obyek yang ia sukai atau bukan, tetapi Phillip mampu memilih dengan memutuskan untuk mendekati suara merdu dan wajah cantik yang mendapatkan hatinya. Dalam adegan lain, Aurora dilarikan ke istana oleh para peri. Disini, Aurora tidak memiliki kuasa untuk melawan kehendak lingkungan. Pada masa itu (masa dirilis film ini), jika ia melakukannya, mungkin akan dianggap sangat tidak wajar. Sementara apabila Phillip menolak, mungkin akan jauh lebih wajar. Hal yang sama terjadi ketika Aurora tanpa kuasa pergi menemui Maleficent. Untuk kasus terakhir ini, ketidaksadaran dapat diinterpretasikan sebagai simbol bahwa Aurora tidak memiliki kuasa bahkan untuk keselamatan dirinya sendiri.

Bentukan ini juga terlihat di akhir film. Aurora dipilihkan gaun yang akan ia kenakan, yaitu gaun berwarna pink (warna pink merupakan simbol wanita dalam budaya patriarki). Bahkan untuk warna dan pakaian yang akan ia kenakanpun, apa yang dianggap baik oleh masyarakat adalah pakaian yang dikenakan sesuai ekspektasi masyarakat.

Melihat bahwa budaya patriarki yang telah membentuk pandangan terhadap wanita semacam ini, para psikoanalis sosial berpendapat bahwa ini hanyalah merupakan bentukan sosial, bukan anatomi biologis. Alfred Adler dan Karen Horney berpendapat bahwa sumber dari kemunculan pembedaan psikis wanita atas pria ini sebenarnya bersumber dari rasa takut pria atas hilangnya kekuasaan yang ia miliki dan bagaimana wanita bisa mengambil tampuk kekuasaan itu. Adler menyebut fenomena ini dengan sebutan masculine complex sementara Horney menyebutnya womb envy. Horney sendiri beranggapan bahwa akar dari munculnya neurotisisme pada wanita adalah kesadaran bahwa kekuasaan wanita adalah dibawah pria. Sehingga, wanita menjadi makhluk tanpa kuasa dan neurotik atas dorongan ketidakberdayaannya akibat ketakutan pria mengenai hilangnya kekuasaan (penis) mereka. Dalam film Sleeping Beauty, Aurora yang tidak berdaya sama sekali. Adler berpendapat bahwa tidak peduli apapun jenis kelaminnya, sebenarnya seharusnya wanita dapat menjadi siapapun yang ia inginkan sesuai tujuannya.

Dengan demikian, film Sleeping Beauty ini sendiri merupakan film dengan pengaruh budaya patriarki yang sangat kental dan kuat. Aurora sebagai wanita yang tidak berpenis sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri. Jika mengingat kutipan awal (pada halaman pertama) yang dikatakan Flora, disini mungkin sudah lebih jelas terlihat bahwa pedang sendiri merupakan simbol kekuasaan dari budaya patriarki.

Sekarang, kita coba untuk melihat dari sudut pandang tokoh antagonis (secara otomatis merupakan antagonis juga dari budaya patriarki), yaitu Maleficent.

2. Analisis Tokoh Maleficent

Maleficent-maleficent-11304077-531-800            Mungkin tidak banyak yang bisa dianalisis pada Maleficent disini, karena tidak ditonjolkan kepribadiannya secara mendalam. Namun, apa yang bisa dianalisis disini adalah bagaimana budaya patriarki membenci wanita dengan kekuasaan tinggi dan ditakuti seperti Maleficent. Dalam terminologi Carl Jung (salah satu psikoanalis), Maleficent sendiri merupakan representasi arketipe witch yang memiliki sifat tidak patuh, penuh kebencian, mudah marah, mampu berkehendak bebas, memiliki kekuasaan, dan memiliki kemandirian atas dirinya sendiri. Dapat dilihat disini bahwa arketipe witch sebagaimana menjadi karakteristik Maleficent merupakan kebalikan dari karakteristik Aurora, yang dalam terminologi arketipe Jung disebut damsel in distress.

Nampak jelas bahwa budaya patriarki menginginkan kekuasaan wanita berada di bawah pria seperti sebelumnya dijelaskan. Sementara Maleficent sendiri berada di dalam kekuasaan yang sangat tinggi sehingga banyak sekali pihak yang takut kepadanya. Ia mampu melontarkan kutukan-kutukan sesuai kehendaknya. Dalam psikoanalisis, Maleficent dapat dikatakan sebagai wanita berpenis yang mengekskresikan pengaruhnya pada orang lain. Ini merupakan kekuatan yang dibanggakan pria sebagai pihak yang telah menjalani proses oedipal dengan normal. Namun, wanita seperti Maleficent dianggap sebagai wanita dengan gangguan psikologis karena ia justru memiliki penis (kekuasaan). Dalam teori psikoanalisis ortodoks, Maleficent sangat mungkin telah terbentuk pada masa oedipal sebagai pribadi yang tidak normal.

Bagaimana itu terjadi? Freud menyatakan bahwa kepribadian berkembang mengikuti pola yang berpusat pada penis. Untuk pria pada masa oedipal (4 sampai 7 tahun), ia menyukai ibunya sendiri secara seksual. Namun, karena kecemasan penisnya akan dipotong oleh sang ayah, maka ia memutuskan untuk menjauhi ibunya. Rasa takut ini berubah menjadi rasa kagum karena sang ayah mampu memiliki sang ibu. Ia akhirnya mengidentifikasi dirinya dengan si ayah. Jika ini berlangsung, maka perkembangan kepribadian anak dapat dikatakan sukses. Sementara masa oedipal bagi wanita cukup berbeda. Anak perempuan yang mencintai ibunya secara seksual akhirnya menyadari bahwa dirinya sama seperti ibunya, yaitu tidak memiliki penis. Ini mendorong kebencian dirinya kepada ibunya karena dianggap ibunya yang telah mengkastrasi dirinya. Ia juga iri kepada ayahnya yang memiliki penis utuh. Dari perasaan iri itu, ia lalu tertarik secara seksual kepada sang ayah. Namun, di sisi lain si anak memiliki rasa takut akan kehilangan cinta ibu sehingga ia harus menahan dorongan seksual itu. Jika wanita tetap pada tahap ini, maka mereka telah sukses dalam perkembangan kepribadian.

Untuk Maleficent, dirinya yang tidak memiliki hambatan atas kehendak dan kekuasaan telah mengidentifikasikan dirinya dengan diri ayahnya yang memiliki penis. Ia memiliki kekuasaan atas ibunya karena tidak ada sosok yang menahan dorongan itu. Perkembangan kepribadian semacam ini dianggap oleh teori Freud sebagai kepribadian patologis (abnormal). Dengan kepribadian patologis semacam ini, Maleficent dianggap sebagai sosok tidak normatif dalam budaya patriarki. Bahkan bukan hanya tidak normatif, melainkan menjadi sosok yang dibenci terutama pada masa dimana film ini dirilis.

Hal lain yang menarik untuk dilihat disini adalah peristiwa ketika pedang dihunuskan pada jantung Maleficent. Ini sebenarnya merupakan simbol bahwa kekuasaan (yang disimbolkan oleh pedang; dalam terminologi psikoanalisis, pedang dapat disamakan dengan penis) dihunuskan pada jantung dari musuh budaya patriarki, yaitu penyihir (yang merupakan simbol dari wanita yang memiliki kekuasaan). Dengan dihunuskannya pedang ke jantung Maleficent, maka hilanglah musuh budaya patriarki.

Ini sekaligus menjelaskan keseluruhan kutipan pada halaman pertama. Phillip berniat untuk membunuh Maleficent, yang dapat diinterpretasikan sebagai niat untuk terus melanggengkan kekuasaan patriarki.

Daftar Pustaka:

Tong, R. (2009). Feminist thought: A more comprehensive introduction, 3rd Ed. Philadelphia, PA: Westview Press.

http://en.wikipedia.org/wiki/Sleeping_Beauty_%281959_film%29 (diakses pada 26/5/2013)