Tags

, , ,

Sehari-hari, kita pasti melewati proses berpikir. Gak percaya? Coba pikir. Saat kita mempertanyakan apakah lebih baik masak mie instan sendiri di rumah karena murah ataukah lebih baik makan di luar karena lebih memuaskan, kita menggunakan proses berpikir. Saat kita memutuskan bahwa kita harus mengerjakan tugas kuliah dengan serius karena takut akan ‘dibunuh’ dosen, kita menggunakan proses berpikir. Ketika kita berdebat dengan teman kita mengenai teman cewek mana yang lebih seksi, kita juga berpikir (ini gak niat sexist loh ya, cuma ngasih contoh doang loh hehe).

Cogito ergo sum. Descartes menggunakan kutipan itu untuk menjelaskan betapa satu-satunya kepastian yang tidak terbantahkan adalah kenyataan bahwa kita berpikir.

Sayangnya, dalam proses berpikir, kita memiliki banyak keterbatasan. Keterbatasan-keterbatasan ini membuat kita seringkali menggunakan premis-premis logika yang nampaknya benar, namun sebenarnya keliru. Mungkin kita menganggap bahwa proses penyimpulan kita sebenarnya sudah sangat tepat, meskipun mungkin kita tidak sadar bahwa ada premis-premis logika tertentu yang kita lewati. Misalnya ketika kalian bilang sebuah kutipan: “sahabat terbaik wanita adalah berlian sementara sahabat terbaik pria adalah anjing”. Disini sebenarnya terjadi overgeneralisasi. Jangan-jangan sebenernya justru ada pria yang sahabat terbaiknya adalah berlian sementara mungkin juga ada wanita yang sahabat terbaiknya buaya darat (eh).

Mungkin pula kita tidak secara sadar menyimpulkan sesuatu karena sesuatu itu sudah terbiasa dilihat demikian. Misalnya saja ketika kalian melihat orang dengan hidung ditindik kayak lembu, rambut kayak seiket sapu lidi, badan kekar bertato tulisan ‘I Kill You’, dan ekspresi muka kayak harimau mendengus, kalian mungkin akan langsung menganggap orang seperti ini pasti preman. Tanpa berpikir, kalian sudah menyimpulkan. Kalian gemeteran sampe ngompol gara-gara orang itu menghampiri kalian. Pas dia nyamperin kalian, eh… gak taunya dia cuma nanya, “mas, kalo mau beli gantungan kunci hello kitty dimana ya?”

Kalo kejadiannya cuma kayak gitu sih, mungkin gak berdampak bahaya-bahaya amat ya. Tapi nyatanya, keterbatasan proses berpikir kita ini seringkali berdampak negatif lho. Jika kalian ingin memecahkan masalah, misalnya. Argumen yang tidak memenuhi struktur logika bisa mempengaruhi hasil dari proses penyelesaian masalah itu, bahkan sampai menurunkan efektivitas dari keputusan yang kalian ambil. Ingat bagaimana mengantri pergi ke Ponari telah menyebabkan kematian? Kesalahan berpikir yang terjadi disini adalah menyatakan penyebab kesembuhan penyakit adalah batu yang dimiliki ponari. Seperti apa hubungan batu dengan kesembuhan? Mungkin batu itu memang benar punya kekuatan penyembuh, mungkin juga tidak. Bagi mereka yang percaya, batu itu memiliki kekuatan penyembuh karena tidak bisa dibuktikan sebaliknya. Ini disebut kesalahan berpikir ad ignorantiam.

Tidak hanya itu, dalam ilmu sosial dijelaskan bahwa seringkali kesalahan dalam berpikir ini menimbulkan dampak berupa konflik, prasangka negatif, stereotipe negatif, dan bahkan diskriminasi. Misalnya saja anggapan umum di Amerika bahwa orang kulit hitam itu lebih bodoh daripada orang kulit putih. Ini berdampak pada perlakuan pendidikan terhadap orang-orang kulit hitam dimana guru akhirnya memberikan materi, tugas, dan perlakuan yang meremehkan kemampuan orang-orang kulit hitam. Hasilnya, orang-orang kulit hitam memang benar-benar memiliki nilai lebih jelek dan bahkan punya cita-cita karir yang lebih rendah daripada orang kulit putih. Yang terjadi disini adalah sebuah fenomena bernama pygmalion effect. Kesalahan berpikir disini adalah menyatakan bahwa orang kulit hitam pasti lebih bodoh daripada orang kulit putih.

Dalam ilmu logika dan berpikir kritis, contoh-contoh diatas dikenal dengan sebutan kesesatan logika atau logical fallacies. Sebenernya apa aja sih kesesatan berpikir yang seringkali ada di sekitar kita itu?

 

1. Falsum dichotomia

Dari seluruh alternatif argumen, hanya ada dua posisi atau alternatif saja. Kesalahan berpikir disini adalah mengurangi seluruh kemungkinan argumen menjadi hanya dua argumen yang seringkali dijadikan konsep yang saling bertolak belakang.

Contoh umum:

“Jika kamu tidak bersamaku, maka kamu melawanku.”

“Manusia diciptakan oleh Tuhan. Karena itu teori evolusi pasti salah.”

 

2. Post hoc ergo propter hoc

Jika suatu kejadian mendahului kejadian lainnya, maka kejadian pertama adalah penyebab dari kejadian berikutnya. Kesalahan berpikir disini adalah menyatakan dengan pasti bahwa suatu peristiwa menjadi penyebab bagi peristiwa setelahnya, padahal belum tentu demikian.

Contoh umum:

“Harga makanan di kantin naik pasti karena harga BBM naik.”

“Semenjak saya diajar oleh dosen yang tidak kompeten itu, nilai-nilai saya jadi turun.”

 

3. Argumentum ad hominem

Sebuah argumen ditujukan bukan untuk merespon argumen lawan, tetapi untuk menyerang lawan. Kesalahan disini adalah argumen dikaitkan dengan orang yang mengatakannya. Seseorang salah bukan karena argumennya salah, tetapi karena orang itu punya karakteristik tertentu.

Contoh umum:

“Politik itu bejat, lihat saja siapa yang sekarang duduk di kursi politik.”

“Ya tentu saja lemah. Dia kan cuma seorang wanita.”

 

4. Argumentum ad ignorantiam

Ini sudah diberikan contoh sebelumnya saat membahas kasus Ponari. Dalam ignorantiam, argumen dinyatakan benar karena argumen tidak dapat dinyatakan sebaliknya. Kesalahan berpikir disini adalah bahwa penjelasan terhadap argumen dapat dibuat hanya karena tidak ada bukti yang mematahkannya. Daripada menyatakan ketidaktahuan, ignorantiam memilih menyatakan bahwa ia tahu karena yang ia ketahui tidak bisa dipatahkan.

Contoh umum:

“Pasti ini semua perbuatan pihak intelijen yang ingin melihat kita runtuh.”

“Kita bangkrut pasti karena santet dari dukun yang kuat.”

 

5. Argumentum ad auctoritatem

Disini, argumen dinyatakan benar atau salah karena orang yang menyatakannya. Kesalahan disini terletak pada konfirmasi atau penolakan bukan terhadap konten argumen, melainkan pada siapa pelontar argumen itu.

Contoh umum:

“Tukang bakso di samping rumah memberikan nasihat pada saya untuk belajar ilmu setinggi-tingginya. Tapi dia kan cuma tukang bakso… jadi, yah…”

“Esai buatan si mahasiswa A itu jelek. Profesor B di kampus yang menyatakannya sendiri.”

 

6. Argumentum ad populum

Sejauh ini, seccara pribadi mungkin inilah logical fallacy yang paling sering saya saksikan sehari-hari. Sebuah argumen dinyatakan benar atau salah tergantung dari mayoritas orang yang menyatakannya. Kesalahan berpikir disini adalah menganggap bahwa posisi mayoritas pasti lebih benar.

Contoh umum:

“3 dari 4 wanita menggunakan pembalut X. Tunggu apa lagi! Gnakan pembalut X!”

“Kemarin saat pemilu, saya mengikuti orang-orang lain yang memilih calon A. Soalnya banyak yang milih dia sih.”

 

7. Ignorantio elenchi

Disebut juga red herring fallacy. Disini, terjadi pengalihan terhadap argumen dengan argumen lain yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan argumen itu. Mungkin ini sering kita dengar pada pertengkaran antar pacar atau rumah tangga. :)

Contoh umum:

“Kamu kok selalu sibuk kerja sih. Kamu tuh gak sayang aku lagi ya?”

“Saya tidak perlu bayar pajak. Toh semua orang juga tidak bayar pajak.”