Tags

, , ,

Setelah terjaga dari tidur malamnya, seorang pria beranjak dari tempat tidurnya. Dalam piyama ia mulai bergerak dan melakukan aktivitas yang biasa ia lakukan sehari-hari. Sikat gigi, mandi, berpakaian, bekerja sampai malam, lalu pulang dan kembali tidur. Aahh ya… hari ini ada pertemuan penting di kantor. Lalu ia mulai menggosok giginya.

“Tapi untuk apa?” Pria itu tiba-tiba saja berpikir. Ia teringat akan keluarganya yang membutuhkan uang hasil pekerjaannya. Ia teringat akan istrinya yang selalu bersungut-sungut tetapi tetap saja membutuhkan uang miliknya setiap awal bulan.

“Ya, aku melakukan itu untuk mereka. Aku ingin mereka bahagia”. Sejenak ia merasa yakin.

“Tapi apakah mereka benar-benar bahagia?” Pikirnya. “Semua yang kulakukan ini, apakah itu semua benar-benar berarti bagi mereka?”

Hening. Ia tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan terakhirnya itu. Tidak tahu, karena kebahagiaan yang dipikirkannya memang tidak pernah tercapai. Puluhan tahun ia bekerja, mencari apa yang nampaknya dicari oleh keluarganya. Namun nampaknya setelah puluhan tahun pun ia belum bisa membahagiakan keluarganya itu.

Ia terdiam. Tiba-tiba saja ia merasa begitu jauh dari dirinya sendiri. “Apa yang sebenarnya kuinginkan?”
France Albert Camus 1956

Pemandangan seperti inilah yang dimaksud Albert Camus dengan “Absurd”. Inilah yang mengantarkan manusia absurd pada proses pencarian makna. Kesadaran bahwa diri membutuhkan makna dalam kehidupan sehari-hari mengantarkan diri pada pilihan: “either this or that”.

Dalam absurdisme, makna hidup tidak terletak di masa depan. Seperti mitos Sisyphus yang terus mendorong batu menuju gunung tanpa akhir, seringkali individu meyakinkan diri mereka bahwa ada tujuan masa depan yang hendak dicapai. Kebahagiaan hanya dicapai di masa depan, oleh karena itu masa kini hanyalah jalan menuju masa depan.

Tapi masa depan akan terus menjadi masa depan. Apa yang diraih hanya akan mengantarkan pada tujuan masa depan selanjutnya. Tidak ada akhir bagi pemenuhan kebahagiaan masa depan itu. Mengapa? Karena kebahagiaan terletak di tahun ini juga, bulan ini juga, hari ini juga, detik ini juga. Pada kondisi present (saat ini) itulah kita bisa menjalani kehidupan dengan maksimal.

For further reading:
Myth of Sysiphus by Albert Camus