~Tugas UTS Epistemologi~

Dalam fakultas psikologi dimana saya menjadi mahasiswa, dianggap ‘benar’ untuk menyatakan bahwa data-data statistik, data-data penelitian yang bersumber dari pengalaman inderawi (melalui observasi dan uji coba empirik) dan data-data yang dimuat dalam jurnal penelitian itu adalah panduan untuk memberikan deskripsi, eksplanasi, bahkan prediksi mengenai gejala-gejala psikologis. Memang, saat ini bisa dilihat bahwa tren ilmu psikologi itu sendiri mengarah pada klaim positivistik, dimana pencapaian pengetahuan hanya bisa bersumber dari apa yang ‘ada’ (yang terukur, yang terverifikasi, yang materi, yang terbukti secara inderawi).

Mungkin masih banyak masyarakat awam atau akademisi di Indonesia yang berpikir bahwa ilmu psikologi berkutat dengan school of thought (aliran) yang bersumber dari psikoanalisis, humanistik, atau eksistensialisme. Bicara psikologi ya bicara Freud. Kenyataannya, banyak klaim-klaim yang bersumber dari ketiga aliran tersebut ditolak mentah-mentah dalam kedudukan psikologi sebagai sains sekarang ini. Ketiga aliran tersebut dianggap tidak mampu berjalan sejajar dengan klaim positivistik. Ketiganya sama-sama tidak bisa diobservasi secara mekanistik, tidak bisa diverifikasi secara inderawi, terlalu filosofis, dan membicarakan hal-hal yang tidak bisa diukur. Adapun aliran yang paling berkembang di psikologi saat ini duduk sejajar dengan klaim positivistik. Aliran-aliran itu diantaranya aliran psikologi kognitif, psikologi evolusionistik, dan neuropsikologi. Meski sering dianggap kejayaannya telah lama berlalu, aliran berhaviorisme masih mendapatkan tempat yang cukup besar dalam psikologi, khususnya untuk dasar pengetahuan mengenai psikologi belajar dan terapannya.

Sayangnya, meski klaim positivistik mengandung kebenaran yang mampu menjelaskan berbagai fenomena psikologis, saya melihat klaim positivistik ini dianggap sebagai klaim tunggal, dimana tidak ada upaya pengetahuan lain yang lebih bisa digunakan selain data-data statistik dan angka. Dalam sebuah perkuliahan di semester ganjil kemarin, salah satu pengajar bahkan sempat menyatakan bahwa hakikat filosofis mengenai ilmu pengetahuan (yang belakangan ini cukup sering menolak klaim bahwa ilmu pengetahuan inderawi adalah satu-satunya sumber kebenaran), seharusnya tidak perlu dipusingkan oleh mahasiswa. Mahasiswa hanya perlu menggunakan metode yang sudah diciptakan oleh para ilmuwan positivistik tanpa perlu banyak mengkritisinya. Yang perlu dikritisi adalah klaim di dalam ilmu itu sendiri. Namun hakikat dari klaim ilmu itu sendiri tidak perlu dipusingkan, karena itu hanyalah urusan orang-orang filsafat.

Saya sendiri tidak sependapat dengan posisi semacam ini. Saat kita diberitahu metode A, dan bahwa metode A itu dianggap benar dan bisa digunakan secara universal pada sebuah institusi, lalu kita sebagai sivitas institusi itu juga harus mengikuti si metode A, tidakkah ada banyak pertanyaan yang harus dipertanyakan mengenai metode A? Misalnya, tahu darimana kalau metode A itu adalah metode yang paling benar atau yang paling baik? Apa dasar kita harus mengikuti klaim si metode A ini? Apa kelebihan metode A dibandingkan metode B, C, dan seterusnya? Semua pertanyaan itu harus terlebih dahulu dijawab sebelum pada akhirnya kita bisa mengikuti metode A. Jika pertanyaan-pertanyaan itu ditutup dan dianggap tidak penting, lantas apa bedanya metode A dengan dogma dan doktrin?

Disini saya mencoba untuk mengkritisi klaim kebenaran empirisisme (yang melandasi positivisme) dalam psikologi sebagaimana dijelaskan diatas. Telaah mengenai klaim kebenaran dari ilmu pengetahuan didapatkan dari epistemologi (filsafat mengenai pengetahuan). Namun demikian, apakah dengan mengkritisi empirisisme lantas saya mengkonfirmasi filsafat rasionalisme yang dianggap berseberangan dengan empirisisme? Sebenarnya,, posisi saya disini cukup kompleks dan tidak bisa didikotomikan dalam pertentangan seperti posisi empirisme dan rasionalisme. Akan tetapi, sebelum melangkah lebih jauh mengenai posisi saya, disini saya akan memberikan deskripsi dan gambaran singkat mengenai filsafat rasionalisme dan empirisisme dalam psikologi.

Dalam filosofi empirisisme, apa yang dapat diamati secara inderawi (pengalaman bersama dengan dunia fisik) merupakan sumber pengetahuan. Realita berada pada dunia fisik dan material. Bentuk ekstrim dari pandangan ini diantaranya pandangan John Locke yang menyatakan bahwa manusia yang baru lahir seperti sebuah kertas putih; dunia fisik-lah yang menorehkan berbagai tinta dan noda pada manusia. Bapak ilmu pengetahuan modern, Francis Bacon menyatakan bahwa kita bisa memperoleh pengetahuan dengan mengumpulkan elemen-elemen partikular, dimana dari elemen-elemen itu bisa dibentuk sebuah kesimpulan. Metode ini dinamakan dengan metode induktif. Baginya, logika atau rasio deduktif tidak memberikan kontribusi apapun pada kemajuan pengetahuan. Dengan mencari bukti-bukti secara induktif di dunia fisik, kita bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih baru.

Seperti apa kedudukan pandangan seperti ini dalam psikologi? Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, psikologi cenderung menganggap pandangan empirisisme sebagai pandangan yang bisa diterima. Pengetahuan bersumber dari observasi terhadap pengalaman individu-individu. Statistik menjadi alat bantu supaya observasi itu bisa dipercantik menjadi kesimpulan yang berlaku umum atau universal. Sebagai contoh, mengapa manusia mencuri? Dengan mengumpulkan data-data pada orang-orang yang mencuri, ternyata ditemukan bahwa orang yang mencuri cenderung memiliki penalaran moral yang rendah. Ingat bahwa disini diciptakan sebuah kecenderungan mengenai orang-orang yang mencuri. Dengan kata lain, kesimpulan berlaku umum bagi orang-orang lain di luar partisipan penelitian yang juga mencuri.

Pandangan empiris seperti ini nyatanya sangat bermanfaat. Kita bisa menemukan pola dari hubungan dari berbagai gejala. Sehingga, kita bisa melakukan penjelasan dan prediksi terhadap banyak sekali fenomena psikologis. Puncaknya adalah penemuan dari hukum alam yang bisa menjelaskan fenomena secara universal. Bisa dikatakan psikologi saat ini berada dalam posisi dimana hukum alam bisa digenerasikan. Dapat dilihat bahwa perspektif semacam ini lebih dekat dengan prinsip deterministik (bahwa suatu peristiwa terjadi atas dasar hukum-hukum di luar diri manusia). Misalnya saja, manusia dihukum atas peristiwa mencuri tidak dilihat sebagai tanggung jawab dirinya sendiri (diri secara bebas bisa menyebabkan terjadinya suatu peristiwa), melainkan dilihat bahwa diri memiliki kecenderungan mekanis untuk mencuri (misalnya sejak lahir ia sudah membawa gen pencuri, atau adanya kecenderungan status sosial ekonomi yang rendah, dan sebagainya). Meski banyak kritik mengenai hukum-hukum mekanistik dalam psikologi, saat ini teori-teori psikologi banyak dibangun oleh prinsip empirisisme.

Namun, sayangnya, tidak seperti klaim yang ia akui, empirisisme nampaknya tidak sebegitu universalnya. Metode yang terlalu menekankan pada kecenderungan universal telah mereduksi keseluruhan pengalaman manusia, menjadi hanya potongan-potongan superfisial dari pengalaman manusia. Sebagai contoh, dalam penelitian psikologis, biasanya akan jauh lebih efisien, terukur dan memungkinkan jika perilaku manusia dimanifestasikan dalam tes-tes psikologis. Dengan kata lain, dibandingkan mengetahui perilaku manusia secara keseluruhan atau secara mendalam, ilmuwan psikologi seringkali hanya mengukur apa yang bisa dengan mudah diukur, yaitu melalui alat-alat tes psikologi. Masalah disini bukanlah validitas alat ukur psikologinya, akan tetapi reduksi pengalaman manusia menjadi sepenggal kecil pengalaman yang dilihat dari alat tes. Mengapa ini berbahaya? Pengalaman manusia sangatlah kompleks. Seringkali, pengalaman itu bukanlah pengalaman yang bisa dipecah-pecah menjadi variabel-variabel yang spesifik. Sebagai contoh, variabel perilaku mencuri mungkin dikatakan dipengaruhi oleh variabel status sosial ekonomi. Penelitian-penelitian di laboratorium mengkonfirmasi hal ini. Akan tetapi, di luar laboratorium, ternyata orang mencuri bukan karena status sosial ekonominya, melainkan karena rasa sayangnya kepada orang yang diberikan barang curian. Seandainya orang yang ia sayangi itu tidak ada, ia tidak akan mencuri meskipun ia memiliki status sosial ekonomi yang rendah. Kebetulan saja ia memiliki status sosial ekonomi rendah. Namun, dalam penelitian, keunikan pengalaman individu semacam ini tidak dilihat. Yang penting adalah variabel yang sesuai dengan desain laboratorium. Dalam hal ini, variabel status sosial ekonomi.

Lain lagi dengan pandangan rasionalisme. Dalam pandangan rasionalisme, pengalaman yang didapatkan dari proses observasi bukanlah sumber pengetahuan yang utama. Lebih utama lagi adalah pengetahuan yang didapatkan dari rasio. Kemampuan utama yang dimiliki dalam pandangan ini adalah kemampuan manusia untuk menyimpulkan, melakukan kategorisasi dalam mind, dan berpikir secara aktif. Ini berbeda dengan pandangan empirisisme yang lebih beranggapan bahwa manusia itu pasif dan hanya menerima segala kecenderungan yang deterministik dari lingkungan. Tokoh seperti Descartes dengan pandangan dualisme jiwa dan tubuh atau Spinoza dengan pandangan kebersatuan alam semesta dengan individu. Tokoh-tokkoh ini berangkat dari penyimpulan bahwa apa yang hakiki adalah apa yang bersumber dari penalaran yang sistematis.

Dalam psikologi, pandangan rasionalistik banyak dimanifestasikan dalam aliran yang disebut pskologi kognitif. Asumsi dasar aliran kognitif diantaranya bahwa mind bersifat aktif dimana olah informasi dan produksi informasi dimungkinkan karena sifat aktif itu. Pandangan ini, yang disebut dengan pandangan mentalisme berlawanan dengan aliran behaviorisme. Aliran behaviorisme lebih bersahabat dengan proses-proses tingkah laku yang diubah oleh lingkungan (dekat dengan empirisisme). Namun demikian, meski secara sejarah aliran kognitif lebih dekat dengan pandangan rasionalisme, dalam memperoleh pengetahuan, aliran ini juga menggunakan metode empirisisme. Observasi terukur, rigid, dan terverifikasi juga menjadi landasan utama bagi aliran kognitif (memang ini merupakan ciri ilmu pengetahuan mekanistik). Oleh karena itu, mind pada akhirnya juga dipandang sebagai sesuatu yang mekanis. Meskipun dianggap aktif, kerja mind disamakan sebagai proses komputer, mesin, ataupun proses-proses mekanikal. Kelemahan dari pandangan semacam ini adalah hilangnya makna atau kehendak pribadi / individual dari mind. Pada dasarnya, menurut aliran ini, proses mind semacam itu bukanlah proses yang berasal dari kehendak manusia, melainkan kecenderungan deterministik (hukum-hukum kausalitas) yang berasal dari kekuatan diluar kehendak (seperti biologi atau faktor lingkungan). Karena hal ini, masalah reduksionisme kembali muncul.

Sebagai contoh, seorang pencuri yang berniat mencuri memikirkan apa konsekuensi dari perilaku mencurinya. Jika keuntungan pribadi lebih besar daripada risiko, maka ia akan mencuri. Jika keuntungan pribadi lebih kecil daripada risiko, ia tidak akan mencuri. Ingat bahwa perumusan ini merupakan perumusan yang matematis. Prinsipnya sama, seperti layaknya kita menjelaskan mekanisme mesin atau komputer. Namun disini, sebetulnya ada yang hilang. Apa yang dirasakan atau dihayati oleh individu itu terlepas dari hukum-hukum matematis yang ada?

Oleh sebab itu, meski keduanya merupakan pandangan yang bertolak belakang, nyatanya saya pribadi tidak sepakat dengan kedua pandangan tersebut. Ketidaksepakatan saya pada dasarnya berasal dari kecenderungan deterministik rasionalisme dan empirisisme (di psikologi) dalam memandang manusia. Kecenderungan ini saya anggap mereduksi kompleksitas manusia menjadi hanya aspek-aspek yang bisa dijelaskan secara mekanistik. Dalam hal ini, saya mengkritik berdasarkan klaim bahwa akal dan pengalaman psikologis individu memiliki makna dan arti subyektif.

Sebagaimana telah dijelaskan diatas, baik empirisisme maupun rasionalisme saat ini diimplementasikan dalam psikologi sebagai pandangan yang cenderung positivistik. Hanya yang terukur dan terverifikasi yang bisa diterima. Bahkan, mind yang tidak nampak secara fisik pun diiupayakan untuk diukur dengan angka. Buntutnya, hanya hal-hal yang bisa dijelaskan secara mekanistik-lah yang bisa diterima. Masalahnya, yang bersifat mekanistik itu bukanlah keseluruhan dari psyche (psikis) manusia itu sendiri. Fitur-fitur pada manusia seperti kesadaran subyektif, kehendak, kebebasan memilih, atau kebermaknaan sama sekali tidak mendapat tempat dalam psikologi karena semua pilihan, semua makna, semua kekuatan individu hanyalah hukum-hukum alam yang terjadi secara alamiah dan bukan secara personal. Disini saya akan menjelaskan kritik saya terhadap dua posisi tersebut.

Sebuah Alternatif?

Saat manusia hanya dianggap sebagai komponen-komponen alam, yang bisa ditentukan kecenderungannya berdasarkan hukum-hukum alam, sebetulnya ada konsep-konsep individual yang disingkirkan. Sebagai contoh, saat ditemukan bahwa X memiliki skor inteligensi 80, ia dinilai kecerdasannya di bawah rata-rata. Lebih jauh lagi, ia tidak dibolehkan mengikuti karir atau pendidikan pada institusi tertentu, karena X dinilai tidak cocok berkarir bersama orang-orang dengan kecerdasan tinggi (inteligensi X dianggap tidak memadai). Pertanyaannya, apakah memang pengetahuan mengenai inteligensi kuantitatif itu memang esensial dan memang mampu memprediksi nasib X? Apakah memang cukup sebuah pengetahuan kuantitatif itu menjadi dasar untuk memutuskan nasib si X?

Tes psikologi menilai kemampuan seseorang berdasarkan konsensus ilmuwan mengenai seperti apa kemampuan itu berlaku bagi semua orang. Dalam kasus X, inteligensi menjadi standar penilaian dimana kemampuan X dihubungkan dengan pola inteligensi orang-orang lain. Sehingga, X ditempatkan berdasarkan nilai-nilai yang didapatkan orang lain. Sayangnya, ini bisa berarti kecerdasan yang dimiliki oleh X tidak ditangkap sepenuhnya, karena sudah ada konsensus dari para ilmuwan mengenai apa yang disebut inteligensi, dan patokan-patokan kategoris mengenai inteligensi. Dengan kata lain, apa yang diketahui dari X bukanlah pengetahuan yang esensial pada diri X, melainkan pengetahuan yang disepakati oleh institusi ilmuwan.

Saya berpendapat bahwa pengetahuan mengenai psikologi individu tidak bisa diketahui dari sumber-sumber di luar kuasa dirinya. Untuk mengetahui seorang individu itu, kita harus berada bersama si individu itu. Mencari tahu seperti apa sebenarnya sosok individu itu dalam kehidupannya sehari-hari. Dengan cara demikian, kita tidak hanya bisa menilai atau memprediksi si individu, tetapi kita juga merasakan individu itu dalam relasinya dengan dunia. Lebih jauh lagi, kita tidak bisa melakukan kategorisasi makna-makna yang biasa dilakukan para ilmuwan. Itu hanya menjauhkan individu dari dirinya sendiri, alih-alih memahami individu itu. Individu harus dilihat tanpa adanya prekonsepsi apapun, oleh karena itu individu harus dilihat apa adanya, dan tidak dilihat sebagai diri yang dikaitkan dengan konsep-konsep materialistik. Implikasi pandangan ini, dalam dunia karir atau pendidikan, mungkin akan jauh lebih esensial untuk memahami seseorang berdasarkan wawancara dan riwayat hidup daripada tes psikologi. Disamping itu, dengan tes psikologi, diri X hanya dilihat berdasarkan sebagian kecil sekali dari keseluruhan individu X. Ia hanya dinilai berdasarkan respon dalam tes inteligensi. Apakah tes ini memang merepresentasikan X sebagai individu yang mampu berkarir atau mampu mengikuti pendidikan tertentu? Hanya dengan cara memahami X dalam kesehariannya-lah kita bisa benar-benar mengetahui apa yang harus dilakukan terhadap X.

 

Daftar Pustaka:

King, D.B., Viney, W., & Woody, W.D. (2009). A history of psychology: Ideas and context, 4th Ed. Boston, MA: Pearson.

Piaget, J. (1970). The place of the sciences of man in the system of sciences. Harper Torchbooks.

Pratama, H.S. (n.d.). Rasio. Universitas Indonesia: Slide Microsoft Power Point untuk perkuliahan Epistemologi.