Setiap agama memiliki klaim kebenarannya masing-masing. Klaim-klaim kebenaran itu dapat ditemui pada banyak aspek dalam ajaran agama, bahkan sampai aspek yang terkecil sekalipun, seperti larangan memakan makanan tertentu atau cara-cara yang paling tepat untuk berkurban. Bagi penganut agama tertentu, klaim kebenaran yang biasanya bersumber dari kitab suci atau ajaran pemuka agama diyakini sebagai klaim yang benar. Keyakinan mengenai klaim yang benar ini menjadi petunjuk untuk melakukan hal-hal yang diperintahkan dalam agama, seperti beribadah, berkurban, atau berdoa. Clifford Geertz, seorang antropolog yang melakukan studi mengenai agama di Indonesia menyebutkan bahwa agama selain memberikan penjelasan atas fenomena alam dan memberikan rasa aman, juga memberikan petunjuk mengenai apa yang benar dan salah (Geertz, 1973). Sehingga, agama bisa menjadi pedoman moral bagi penganutnya.

            Namun demikian, apa yang dianggap benar pada agama satu bisa jadi bertentangan dengan apa yang benar pada agama lainnya. Sebagai contoh, pada agama-agama Abrahamik, manusia yang mati akan menerima konsekuensi berupa surga atau neraka sesuai perbuatannya selama di dunia. Ada yang disebut hari pembalasan, oleh karena itu manusia harus berbuat baik. Berbeda dengan agama Hindu, dimana manusia tidak akan mengalami hari pembalasan, melainkan reinkarnasi dalam kehidupan selanjutnya. Pada agama-agama lain seperti agama Saintologi, tidak dibenarkan untuk mencari pengobatan psikiatris dan psikologis karena pengobatan itu dinilai merupakan penipuan (The Comitee for Skeptical Inquiry, 2005). Pada agama suku Aztec, darah dan jantung manusia yang dikorbankan hidup-hidup akan mengarahkan Dewa Quetzacoatl untuk membawa kebaikan bagi hasil panen dan pertanian. Sebaliknya, dalam sepuluh perintah Allah di Taurat, menumpahkan darah atau membunuh dianggap sebagai perbuatan yang dilarang oleh Allah apapun alasannya. Pada agama Skandinavia, peperangan para Dewa, atau Ragnarok, menjadi tanda berakhirnya alam semesta. Sebaliknya, pada agama Islam, ditiupnya sangkakala oleh malaikat menandakan akhir dari alam semesta atau disebut juga kiamat. Masih banyak contoh lainnya.

            Dengan berbagai pertentangan semacam ini, muncul pertanyaan, mana dari klaim-klaim agama ini yang bisa disebut benar? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita terlebih dahulu berkutat dengan pertanyaan, bagaimana suatu klaim bisa disebut benar? Cara mengevaluasi klaim kebenaran bisa dengan berbagai macam cara. Dalam tulisan ini, saya mengkhususkan pada empat teori untuk mengetahui apakah suatu klaim bisa disebut benar atau tidak. Empat teori itu diantaranya teori kebenaran koherensi, teori kebenaran korespondensi, teori kebenaran pragmatik, dan teori kebenaran paradigmatik.

            Apa yang disebut teori kebenaran koherensi? Sebuah kutipan dari David Mitchell cukup menggambarkan teori ini. Berikut kutipannya: “Truth is singular. Its versions are mistruths.” Dalam teori kebenaran koherensi, sebuah klaim dikatakan benar, jika ia konsisten atau koheren dengan sistem kesatuan yang ada (Joachim, 1906). Sebagai contoh, matematika dan seluruh persamaannya memiliki prinsip-prinsip yang konsisten atau berhubungan satu sama lain sehingga membuat sebuah kesatuan. Saat digunakan prinsip matematis untuk konsep arsitektur, seharusnya tidak akan berbeda dengan persamaan matematis yang digunakan untuk konsep komputer. Logika, sebagai matematika verbal juga memiliki persamaan-persamaan (atau premis-premis) yang membentuk sebuah kesatuan hukum. Namun demikian, manifestasi dari logika itu sendiri yang bisa berbeda-beda, tergantung dari seperti apa premis utamanya.

Bagaimana posisi agama dalam teori kebenaran koherensi? Dalam teori ini, agama sulit untuk dibuktikan kebenarannya. Ini dikarenakan adanya klaim-klaim yang saling bertentangan. Misalnya saja, klaim bahwa orang yang berdoa dengan sungguh-sungguh akan dikabulkan permohonannya oleh Tuhan. Saya ingin menggambarkan ini dengan sebuah kasus. Valentina berdoa pada Tuhan agar penyakitnya yang sangat parah disembuhkan. Di sisi lain, jika Valentina mati, maka harta warisan akan dihibahkan pada anak-anak yatim piatu. Anak-anak yatim piatu berdoa supaya mereka bisa hidup dengan layak. Akhirnya, Valentina mengalami kematian. Anak-anak yatim bisa hidup dengan layak. Terkabulnya permohonan mereka merupakan tanda bahwa anak-anak yatim bisa hidup dengan layak. Namun bagaimana dengan permohonan Valentina untuk hidup? Apakah ini berarti Valentina kurang berdoa bersungguh-sungguh? Yang terjadi sebenarnya adalah pertentangan dalam klaim yang sama. Dengan demikian, kebenaran yang koheren untuk semua fenomena atau manusia nampaknya cukup jauh bagi agama jika dibandingkan dengan klaim kebenaran matematika.

Teori kebenaran yang kedua adalah teori kebenaran korespondensi. Dalam teori kebenaran korespondensi, klaim dievaluasi benar salahnya berdasarkan proses verifikasi atau pembuktian dalam dunia (Sher, 1999). Sebagai contoh, hukum gravitasi secara matematis bisa dikatakan benar saat sebuah obyek dijatuhkan ke bumi dan diobservasi. Semua angsa dikatakan berwarna putih jika memang di dunia semua angsa ternyata berwarna putih. Dalam psikologi, manusia benar dikatakan mengikuti teori belajar jika orang itu pada kenyataannya memang mengubah perilakunya. Apa yang bisa diverifikasi, merupakan apa yang benar. Ini merupakan prinsip dari ilmu pengetahuan alam yang positivistik.

Bagaimana dengan klaim agama? Dalam agama apapun, klaim bahwa jiwa itu abadi bisa ditemui (Pals, 2011). Di agama Abrahamik, tubuh itu fana tetapi jiwa dianggap kekal dalam Surga atau Neraka. Dalam agama Yunani Kuno, jiwa berpindah dan tinggal abadi dalam dunia kematian. Dalam Animisme, jiwa nenek moyang yang sudah mati terus menjaga keturunan-keturunannya dan membimbing kehidupan-kehidupan mereka. Agama Hindu dan Buddha memiliki konsep reinkarnasi jiwa. Akan tetapi, bagaimana posisi semua klaim ini dalam teori korespondensi? Semua klaim itu tidak bisa dibuktikan kebenarannya karena pada realitanya di dunia, tidak ada roh yang bisa diamati proses dan cara kerjanya. Ini juga berlaku pada konsep-konsep lain dalam agama seperti Tuhan, malaikat, iblis, dan lain-lain. Dengan demikian, posisi agama dalam klaim kebenaran korespondensi tidak bisa diakui kebenarannya.

Teori ketiga adalah teori kebenaran pragmatik. Dalam teori kebenaran ini, klaim diuji benar atau tidaknya karena nilai guna atau fungsi dari klaim itu. Oleh karena asas keberfungsian dan nilai guna ini, sebuah klaim dianggap benar jika ia mampu menyelesaikan permasalahan. Sebuah argumen benar jika argumen itu memang memberikan solusi. Ilmu pengetahuan benar jika ia mampu mengobati penderita penyakit jantung, mengurangi pemanasan global, atau memperkaya sebuah perusahaan. Dalam psikologi, jika hasil penelitian bermanfaat untuk mengurangi angka kriminalitas, atau memberikan manfaat bagi proses psikoterapi, maka klaim penelitian itu bisa dianggap benar.

Sama halnya dengan agama. Sebelumnya telah dibahas mengenai teori Geertz terkait fungsi agama. Agama memiliki beberapa fungsi utama, diantaranya agama mampu memberikan penjelasan atas fenomena dan memberikan rasa aman (Geertz, 1973). Untuk fungsi agama sebagai eksplanasi atas fenomena, nampaknya saat ini fungsinya tidak terlalu signifikan. Ilmu pengetahuan, bisa dikatakan telah banyak berkontribusi untuk memberikan eksplanasi terhadap fenomena. Ini sesuai dengan beberapa teori dalam ilmu pengetahuan (lihat Frazer, 1890; Norris & Inglehart, 2011). Meski begitu, untuk fungsi lainnya, bisa dikatakan hampir tidak ada satupun sistem yang mampu memberikan rasa aman sekuat agama. Sampai saat ini peran agama sangat kuat dalam mengurangi penderitaan yang dialami manusia. Saat seseorang berada dalam kesulitan dan tidak ada yang bisa diandalkan, hanya Tuhan yang bersedia mendengarkan segala keluh kesah atau doanya. Saat manusia merasa takut atau cemas, mereka bisa meminta perlindungan pada Tuhan. Dalam rumah-rumah ibadah, fungsi ini bisa dibilang cukup kuat. Banyak dari umat-umat agama yang meminta pemuka agama untuk mendoakan mereka. Doa bisa bermacam-macam, mulai dari penanganan kesurupan, kesembuhan penyakit, sampai kesuksesan dalam usaha. Tak bisa dipungkiri, agama memiliki fungsi memulihkan penderitaan manusia. Terlebih lagi, tidak ada yang mampu menggantikan kedudukan agama dalam fungsi ini.

Terakhir, teori kebenaran paradigmatik. Sebuah klaim bisa dianggap benar atau tidak berdasarkan konsensus atau kesepakatan dari orang-orang yang membuat, mengikuti, atau percaya terhadap klaim itu. Sebuah klaim tidak bisa dikatakan salah jika bertentangan. Klaim yang bertentangan itu bisa benar jika memang sesuai kesepakatan orang-orang yang percaya terhadap klaim tersebut. Sebagai contoh, dalam psikologi dikenal paradigma psikoanalisis, behavioristik, dan humanistik/eksistensial (King, Viney, & Woody, 2009). Mereka memiliki tiga klaim yang berbeda dan manifestasi psikoterapi yang berbeda-beda. Psikoanalisis percaya bahwa eksplorasi bawah sadar adalah kunci penyembuhan gejala patologis pada manusia. Behavioristik percaya bahwa perilaku belajar yang adaptif adalah kunci untuk mengurangi gejala yang patologis. Humanistik percaya bahwa pengembangan dan penerimaan diri menuju aktualisasi adalah kunci untuk mengurangi gejala patologis. Tiga sudut pandang, tiga posisi berbeda. Apakah salah satu ada yang paling benar? Menurut teori koherensi, bisa jadi tidak ada yang benar, ataupun hanya salah satu yang benar. Menurut teori korespondensi, klaim yang bisa diverifikasi yang lebih benar. Menurut pragmatik, klaim yang paling berguna yang menang. Tapi menurut teori paradigmatik, baik psikoanalisis, behavioristik ataupun humanistik memiliki elemen kebenaran sampai tingkatan tertentu. Terlebih lagi ada konsensus dari masing-masing aliran yang meyakini kebenaran tiga klaim itu. Sehingga, ketiga aliran itu adalah aliran yang benar.

Dalam agama, contoh diatas juga bisa diaplikasikan. Baik agama Abrahamik, agama Asia, ataupun agama-agama kuno benar karena sudah disepakati demikian oleh orang-orang yang mempercayainya. Orang Indonesia tidak bisa mengatakan bahwa agama Yahudi salah karena agama Yahudi dianggap benar oleh kesepakatan orang-orang Yahudi. Orang atheis tidak bisa mengatakan bahwa kepercayaan terhadap Tuhan itu salah, karena ada orang-orang yang menyepakati bahwa Tuhan memang ada. Dengan kata lain, semua agama megandung kebenaran, karena paradigma yang berbeda-beda tidak menentukan benar atau salahnya sebuah klaim. Ia hanya menjelaskan bahwa sebuah paradigma mengandung kebenaran sampai pada tingkatan tertentu.

Empat teori kebenaran diatas pada dasarnya saya anggap sebagai kebenaran yang paradigmatik. Artinya, saya mengakui kebenaran semua teori kebenaran diatas. Bagi saya, tanpa pengetahuan mengenai apa kebenaran yang sejati itu, posisi paradigmatik adalah posisi yang paling bisa dipertanggungjawabkan. Setiap teori kebenaran diatas memiliki elemen kebenarannya masing-masing, meski dengan prinsip yang berbeda-beda. Dalam hal ini, saya sepakat untuk menyatakan bahwa tidak ada agama apapun yang lebih benar daripada agama lainnya. Semua hanya masalah paradigma yang digunakan. Agama Islam, memberikan penalaran bahwa proses pencarian ilmu adalah sebuah keutamaan. Paradigma yang baik dan berguna menurut saya. Agama Kristen, memberikan penalaran bahwa kedamaian bisa dicapai dengan saling mengasihi antar manusia. Sebuah penalaran yang bisa menjadi slogan anti perang. Agama Buddha, memberikan penalaran untuk mempertanyakan dan meragukan semua pemikiran bahkan pemikiran diri sendiri. Sebuah penalaran yang sangat kritis bagi saya. Elemen-elemen kebenaran ini, harus diterima sebagai sebuah sistem kepercayaan yang terikat dengan ruang dan waktu (budaya, negara, bangsa, dll.), sehingga tidak relevan jika satu agama dibanding-bandingkan dengan agama yang lain. Dari segi paradigma saja sudah berbeda. Untuk mencari yang paling hakiki, keputusan harus ditunda terhadap semua agama karena kita tidak mengetahui apa yang hakiki itu. Dengan cara ini, sikap skeptis untuk menilai agama menjadi sangat penting.

 

Daftar Pustaka:

Comitee for Skeptical Inquiry. (2005). Tom Cruise, scientology bash psychiatry; APA fires back. Diunduh pada 4/14/2014 pukul 11:57 WIB dari URL: http://www.csicop.org/si/show/tom_cruise_scientology_bash_psychiatry_apa_fires_back/.

Frazer, J.G. (1890). The golden bough. Temple of Earth Publishing. Diunduh dari website Temple of Earth Publishing pada 12/10/2013 pukul 07:38 dengan URL: http://www.templeofearth.com/books/goldenbough.pdf.

Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures: Selected essays. New York: Basic Books.

Joachim, H.H. (1906). The Nature of Truth; An Essay. Oxford: Clarendon Press.

King, D.B., Viney, W., & Woody, W.D. (2009). A history of psychology: Ideas and context, 4th Ed. Boston, MA: Pearson.

Norris, P., & Inglehart, R. (2011). Sacred and Secular: Religion and Politics Worldwide, 2nd Ed. USA: Cambridge University Press.

Pals, D.L. (2011). Seven theories of religion: Tujuh teori agama paling komprehensif. Yogyakarta: IRCiSoD.

Sher, G. (1999). On the possibility of the substantive theory of truth. Netherlands: Kluwer Academic Publisher.