Tags

, , , ,

            Pada kesempatan sebelumnya saya sempat menulis mengenai iklim positivistik yang saat ini bisa dibilang cukup prevalen di psikologi. Tidak hanya untuk psikologi UI, tetapi juga psikologi secara umum saat ini. Kedudukan sains psikologi adalah sebagai ilmu alam. Meski terdapat pluralitas dalam psikologi dimana banyak paradigma yang digunakan untuk eksplorasi psikologis, tetap saja penelitian-penelitian psikologi didominasi oleh paradigma kuantitatif (positivistik) yang mekanistik. Selama satu semester saya mempelajari epistemologi, saya memahami bahwa pendekatan epistemik dalam psikologi sendiri sedikit banyak dipengaruhi juga oleh masa lalu, era abad pencerahan atau era modernisme dengan semangat epistemologi rasionalnya.

            Kali ini, saya ingin merefleksikan materi-materi yang saya dapatkan selama perkuliahan di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI selama satu semester ini, terkait dengan bagaimana hubungan materi-materi epistemologi itu sendiri dalam bidang yang saya geluti, yaitu psikologi. Pada kesempatan kali ini, ada beberapa poin yang ingin saya fokuskan sebagai bahan refleksi. Poin pertama, saya ingin membahas mengenai skeptisisme empiris yang telah diajarkan. Bagaimana psikologi UI, sebagai institusi ilmu pengetahuan menerapkan hal ini? Poin kedua, saya tertarik untuk mengaitkan empat teori kebenaran terhadap apa yang selama ini saya ketahui mengenai psikologi. Ini mengantarkan pada poin ketiga. Sebagai penutup, poin ketiga adalah mengenai paradigma postmodern dalam epistemologi. Saya ingin mengaitkan apa yang saya dapat dari konsep postmodern atas pengetahuan dan melihat bagaimana psikologi UI dalam kacamata tersebut.

Skeptisisme dalam Psikologi

            Saya sempat membahas bagaimana sebuah paradigma yang tertutup, dikunci dan tidak terbuka terhadap paradigma lain justru meningkatkan urgensi untuk mengevaluasi paradigma itu. Apakah memang paradigma itu adalah sesuatu yang memang bisa diterima? Apakah tidak mungkin terbantahkan? Dalam hal ini, saya sebetulnya membicarakan mengenai skeptisisme. Sebuah disiplin ilmu atau paradigma ilmu pengetahuan tidak bisa diterima atau digunakan begitu saja, tanpa adanya keterbukaan untuk menelanjangi asumsi-asumsi dasar yang digunakan pada disiplin atau paradigma itu.

            Dalam sebuah perkuliahan saya dan teman-teman saya diminta tidak perlu memusingkan problem-problem mendasar atau filosofis dari metode pengetahuan yang kami terima. Biarlah itu hanya menjadi problema orang-orang filsafat, katanya. Ironis, mengingat metode yang diajarkannya adalah metode penelitian kuantitatif yang positivistik. Dalam metode ini, pengetahuan adalah rajutan verifikasi empiris terhadap fenomena. Rajutan itu akan terus berlanjut melalui skeptisisme orang-orang yang membesar-besarkan kelemahan dari hasil temuan yang sudah ada sebelumnya. Skeptisistik, adalah kunci yang bisa membuka pengetahuan. Tapi saat kunci itu adalah kunci paling mendasar dari metode pengetahuan itu sendiri, justru kunci itu disembunyikan dengan menyatakan: “biarlah kita orang psikologi menggunakan metode ini dan tidak perlu memusingkan pertanyaan filosofis soal kritik terhadap metode ini.”

Dalam skeptisisme empiris, sikap adogmatik seharusnya menjadi landasan bagi semua civitas ilmu pengetahuan (tentu saja ini bukan dogma). Apalagi melalui gaya positivistik dengan prinsip falsifikasi ilmu pengetahuan. Contoh yang sebelumnya saya sebutkan sebetulnya hanyalah segelintir contoh saja yang menurut hemat saya adalah sikap dogmatik. Pada kenyataannya, di kampus saya sendiri (menurut hemat saya) sendiri masalah-masalah filosofis seperti skeptisisme sendiri hampir tidak pernah muncul ke permukaan. Sulit menemukan mereka yang tertarik untuk mengevaluasi atau mengkritisi metode ilmiah yang selama ini mereka terima.

Sebenarnya kesadaran akan pentingnya mengevaluasi positivisme sebagai metode tunggal sudah ada, khususnya di mata kuliah metode penelitian kualitatif. Beberapa dosen nampak sangat bersemangat dalam memperkenalkan paradigma yang menjadi antitesis dari positivisme. Namun, itu semua tidak diiringi dengan minat mahasiswa dalam mempelajarinya. Tidak ada ketertarikan untuk mengevaluasi, membantah, mengkritisi metode yang selama ini banyak sekali digunakan dalam disiplin psikologi. Yah, saya sendiri, mungkin bukanlah orang yang tepat untuk mendiskusikan hal ini. Masih terlalu banyak yang mungkin belum saya ketahui mengenai dasar epistemik dari positivisme. Tapi disitulah menurut saya urgensi dari mengapa diskusi epistemik mengenai kritik dan evaluasi positivisme diperlukan. Untuk men-trigger, memicu kayanya pemahaman akan esensi mengapa kita memerlukan metode positivisme. Mereka yang belum paham bisa lebih memahami, sementara mereka yang sudah paham bisa membagi apa yang mereka ketahui dan bisa kritisi.

Empat Teori Kebenaran: Refleksi terhadap Pendekatan Disiplin Psikologi

            Psikologi saat ini dicirikan dengan pluralitas tema dan pendekatan yang digunakan dalam pengetahuannya. Meski positivisme (yang tertuang dalam pendekatan-pendekatan seperti behaviorisme, psikologi kognitif, neuropsikologi, dan psikologi evolusionistik) adalah sumber utama dari eksplorasi pengetahuan, namun pendekatan-pendekatan lainnya masih banyak digunakan khususnya dalam konteks-konteks praktikal. Diantara konteks praktikal itu adalah bidang psikoterapi yang masih banyak menggunakan pendekatan-pendekatan non-positivistik seperti psikoanalisis dan humanistik/eksistensialis. Bahkan, muncul pendekatan dalam pengetahuan dan aplikasi psikologi yang disebut dengan pendekatan eklektik. Sebuah teori meski bertabrakan dengan teori lainnya, jika dikombinasikan akan memberikan dampak atau hasil yang diinginkan. Jika ini terjadi, maka tidak ada gunanya memperdebatkan perbedaan fondasi teori. Semua teori bisa digunakan meski secara fondasi bertentangan. Sebagai contoh, X yang memiliki keinginan untuk bunuh diri bisa diterapi menggunakan paradigma humanistik/eksistensialis. Dalam paradigma ini, seseorang dibantu untuk menemukan makna hidupnya. Namun ternyata, dorongan bunuh diri itu juga muncul setiap kali X mengingat ibunya yang sewaktu ia masih kecil selalu bersikap kejam dan berperilaku abusif dengan mengatakan, “mati! mati kamu anak tidak berguna!” Selain X dibantu menemukan makna hidupnya dengan cara psikologi eksistensial, ia juga dibantu untuk membawa trauma masa lalunya ke dalam alam sadar dengan cara psikoanalisis/psikodinamika.

            Dengan kondisi seperti diatas, bagaimana psikologi jika kita melihatnya dari empat teori kebenaran? Pertama-tama, bagaimana kita melihat psikologi dari sudut pandang teori koherensi? Koherensi, mensyaratkan psikologi sebagai sistem yang tunggal. Contoh kebenaran koherensi yang dikenal umum adalah sistem matematika. Dalam situasi atau kondisi apapun, sistem matematika akan mengeluarkan prinsip-prinsip universal. Sistem integral dalam disiplin arsitektur, meski berbeda manifestasinya tetap memiliki prinsip-prinsip yang sama dengan sistem integral dalam disiplin ilmu komputer. Contoh lainnya adalah logika, sebagai matematika verbal. Dari penjelasannya saja sudah nampak, bahwa teori kebenaran koherensi sepertinya tidak mampu dicapai oleh psikologi. Pendekatan dalam psikologi ada banyak sekali, dan mereka bukanlah manifestasi dari sistem tunggal. Prinsip dan postulat mereka justru saling bertentangan satu sama lain. Behavioristik menyatakan bahwa lingkungan adalah sumber dimana individu dapat mengubah perilakunya. Psikoanalisis tidak sependapat. Lingkungan tidak ada apa-apanya dibandingkan faktor biologi individu yang muncul dalam bentuk insting. Kesadaran akan dorongan insting itulah yang menjadi kunci perubahan perilaku.

            Jika koherensi tidak mampu dicapai oleh psikologi, bagaimana dengan teori kebenaran korespondensi? Sejak awal tulisan ini, sebetulnya sudah nampak bahwa psikologi berusaha mencapai kebenaran lewat jalan korespondensi. Ia mengecek kebenarannya melalui realita empirik. Realita yang ada di dunia. Ilmuwan psikologi, jika ingin mengetahui apakah memang iklan di televisi itu membuat orang-orang ingin membeli produk, harus melakukan penelitian kepada orang-orang yang menonton iklan di televisi. Dengan bantuan statistik, ia bisa mengecek realita yang berada di dunia. Saat ahli psikoterapi ingin mendapatkan pemahaman mengenai mana yang lebih efektif, yaitu obat atau penanganan konseling, ia harus melakukan wawancara dengan klien yang mengalami gangguan psikologis. Cara ini, selayaknya banyak sekali ilmu pengetahuan empirik, juga digunakan oleh psikologi. Sehingga, bisa dikatakan bahwa psikologi mendapatkan klaim kebenarannya dengan cara korespondensi.

            Terkait teori kebenaran pragmatik, hal itu sebenarnya sudah dibahas sebelumnya. Kebenaran sebagai cara memecahkan masalah digunakan dalam disiplin-disiplin psikologi yang cenderung lebih praktikal. Psikoterapi misalnya. Sebagaimana dikatakan diatas, tanpa memperhatikan fondasi dari asumsi atau postulat teori, asalkan teori atau pendekatan itu mampu memecahkan masalah, maka ia bisa diterima. Model-model teoretis yang bertentangan, akan dievaluasi melalui prinsip: “mana yang bisa saya gunakan untuk menyelesaikan masalah klien saya saat ini?” Demi implikasi positif atau hasil yang diinginkan, meski ada pertentangan fondasi, maka tidak ada salahnya menggunakan semua jenis model teori. Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, pendekatan eklektik dalam psikologi klinis dan psikoterapi betul-betul merefleksikan hal ini.

            Terakhir, teori kebenaran paradigmatik. Humanistik melihat dari kacamata kesadaran dan kehendak bebas manusia dalam memahami psikologi manusia. Behaviorisme melihat dari kacamata determinisme lingkungan terhadap perilaku belajar manusia. Psikoanalisis melihat dari kacamata determinisme faktor instingtual yang mendorong perilaku manusia. Perlukah semua paradigma itu dipertentangkan? Lebih penting lagi, perlukah itu semua diperbandingkan? Teori kebenaran paradigmatik melandaskan kebenarannya pada konsensus atau sudut pandang kelompok yang memandang suatu kebenaran. Ia sifatnya relatif, karena apa yang dianggap benar oleh paradigma tertentu, bergantung pada konsensus mengenai sebuah fenomena, etika atau situasi kondisi.

            Melalui empat pendekatan diatas, mana yang saya rasa lebih tepat? Saya pikir memilih yang paling tepat bukanlah kalimat yang tepat. Karena ini adalah tugas refleksi, saya akan memilih berdasarkan mana yang saya anggap lebih baik secara subyektif. Saya sendiri tidak sepakat jika fondasi suatu teori diabaikan hanya karena nilai guna dari teori itu. Ini membuat saya bukan seorang fan dari teori pragmatik dalam psikologi. Kita bisa mengabaikan teori koherensi karena sistem tunggal, meski sedang diusahakan, nampak masih cukup jauh dari genggaman psikologi. Teori korespondensi, bagi saya adalah teori yang paling bisa dipertanggungjawabkan. Meski ada keterbatasan inderawi manusia, dan banyak pertanyaan terkait realita dunia yang masih perlu dijawab sebagai asumsi dasar, namun saya menganggap bahwa kebenaran memang bisa dicapai dengan terlebih dahulu mengecek fakta dunia atau fakta lapangan.

Psikologi dalam Kacamata Epistemologi Pascamodern

            Dewasa ini, kritik dari epistemologi sosial mencuat. Dalam kritik mereka, peradaban, tidak terbentuk dan maju atas kemajuan ilmu pengetahuan modern yang bersumber dari akal individu (dengan klaim unified theory of science), melainkan karena adanya dialog komunal. Oleh karena itu peran bahasa, pemaknaan verbal dan simbolik, serta interpretasi dari sistem-sistem yang ada merupakan keutamaan dari epistemologi. Psikologi sendiri tidak lepas dari kritik epistemologi sosial, yang merupakan hasil pemikiran pascamodernisme. Dalam kritik terhadap pemikiran modernisme, pemikiran pascamodern mengambil posisi bahwa realita tidak seperti yang digambarkan oleh modernisme, yaitu realita yang bisa dipahami secara universal dengan metode tunggal. Realita tercermin pada budaya, sehingga sifatnya amat sangat relatif antar bahasa, simbol-simbol yang digunakan, dan nilai-nilai yang diagungkan.

            Psikologi di Indonesia nampaknya masih terlalu jauh jika berbicara pemikiran pascamodern. Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berbincang dengan salah satu senior, yang sedang menempuh pendidikan magister psikologi mengenai filsafat pemikiran psikologi. Ia berpendapat bahwa dengan usia psikologi yang masih muda (belum lebih dari 200 tahun sejak Wilhelm Wundt membuat laboratorium psikologi pertamanya), psikologi masih belum lelah dengan cara positivistik (epistemologi logis) yang mengejar unified theory of science. Baginya tujuan positivistik itu masih akan mewarnai psikologi dalam jangka waktu yang panjang. Begitu pula yang nampaknya memang terjadi. Perkembangan terbesar psikologi saat ini dikatakan menuju ke arah neuropsikologi dan ilmu kognitif. Saya sendiri berpendapat bahwa kiblat psikologi di seluruh dunia, yaitu American Psychological Association (APA) memang sangat menitikberatkan epistemologi yang positivistik. Kiblat yang digunakan di seluruh dunia ini akhirnya diikuti oleh semua civitas psikologi. Meski sudah ada beberapa kalangan yang mulai membangkitkan pemikiran pascamodern dalam psikologi, nampaknya fajar pemikiran pascamodern dalam psikologi UI memang masih jauh dari sekarang.

 

Daftar Pustaka

Gergen, K.J. (2001). Psychological Science in a Postmodern Context. The American Psychologist, 56, pp. 803-813. Diunduh dari URL: http://www.swarthmore.edu/Documents/faculty/gergen/Psychological_Science_in_a_Postmodern_Context.pdf.

King, D.B., Viney, W., & Woody, W.D. (2009). A history of psychology: Ideas and context, 4th Ed. Boston, MA: Pearson.

Piaget, J. (1970). The place of the sciences of man in the system of sciences. Harper Torchbooks.

Pratama, H.S. (2009). Hermeneutika evolusionistik. Diunduh dari blog Principia: Nullius in Verba dengan URL: http://herditosandi.wordpress.com/2009/01/03/hermeneutika-evolusionistik/

Pratama, H.S. (n.d.). Rasio. Universitas Indonesia: Slide Microsoft Power Point untuk perkuliahan Epistemologi.

Pratama, H.S. (n.d.). Teori kebenaran. Universitas Indonesia: Slide Microsoft Power Point untuk perkuliahan Epistemologi.

Pratama, H.S. (n.d.). Skeptisisme empiris. Universitas Indonesia: Slide Microsoft Power Point untuk perkuliahan Epistemologi.

Sher, G. (1999). On the possibility of the substantive theory of truth. Netherlands: Kluwer Academic