Tags

, , , , ,

Untuk membedakan apa yang disebut sebagai fenomena, fakta, dan data disini saya ingin mengilustrasikan sebuah kasus yang dapat dijadikan landasan untuk membedakan ketiga term tersebut. Pada tahun 1848, seorang pria muda bernama Phineas Gage sedang mengerjakan proyek bangunan saat suatu kecelakaan terjadi. Sebuah pipa besar melesat tepat di kepalanya secara vertikal dan menusuk kepalanya dan mengenai otaknya. Gage tidak kehilangan kesadaran meski sedikit bagian otaknya berhambuan keluar dari kepalanya. Namun ajaibnya, Gage berhasil disembuhkan dan tidak ada kerusakan yang mengakibatkan kecacatan secara fisik. Namun, diamati ternyata ada perubahan kepribadian yang signifikan pada diri Gage. Gage yang tadinya dikenal sebagai sosok yang ramah, bertanggung jawab dan tidak mudah marah berubah drastis menjadi sosok tidak bisa diprediksi, impulsif, dan serampangan (kasus diambil dari Kiehl & Buckholtz, 2010).

Gejala atau fenomena adalah kejadian atau peristiwa yang diamati dan dijadikan dasar untuk mempertanyakan peristiwa atau kejadian itu. Pada contoh diatas, yang disebut gejala adalah berubahnya sosok Gage sebelum kejadian dan setelah kejadian yang menimpa otaknya. Mengapa diri Gage bisa berubah drastis? Apakah kerusakan otak berpengaruh pada berubahnya kepribadian? Bagian mana yang mengalami kerusakan sehingga menyebabkan perubahan pada diri Gage? Gejala ini telah mendorong banyak ilmuwan neurobiologis untuk menginvestigasi otak manusia. Bahkan kasus Phineas Gage secara historis telah menjadi titik awal studi otak dan perilaku (Damasio, Grabowski, Frank, Galaburda, & Damasio, 1994). Di ruang filsafat, bisa dikatakan pula bahwa perdebatan filosofis tentang eksistensi mind versus body telah berakhir karena ditemukan disini bahwa eksistensi kepribadian atau mind menyatu dengan otak atau tubuh.

Sementara itu fakta adalah premis atau kronologi peristiwa yang tidak terbantahkan atau bisa diterima oleh semua orang. Contoh fakta adalah kampus Universitas Indonesia terletak di Indonesia. Tidak ada bantahan atas hal ini karena memang pada kenyataannya kampus UI tidak terletak di manapun selain di Indonesia. Gage mengalami kecelakaan. Bagian ventromedial prefrontal cortex milik Gage terkena pipa. Gage sembuh secara fisik meski kecelakaan parah. Semua ini adalah kumpulan kronologi kejadian mengenai apa yang terjadi pada diri Gage. Kejadian-kejadian itu memang dialami oleh Gage dan tidak ada yang mampu membantah bahwa kejadian-kejadian itu tidak dialami Gage.

Bagaimana dengan data? Data adalah hasil verifikasi atas asumsi mengenai fakta dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai gejala. Saat kita ingin mengivestigasi lebih mendalam mengenai apa yang terjadi pada Gage, kita bisa mewawancarai Gage atau orang-orang terdekatnya agar diperoleh verifikasi mengenai asumsi kita terhadap apa yang terjadi sebenarnya. Para ilmuwan neurobiologis juga telah menggunakan berbagai perangkat untuk menginvestigasi seperti apa hubungan ventromedial prefrontal cortex dengan kepribadian (salah satu risetnya dilakukan van den Bos & Guroglu pada tahun 2009).

Jadi apa perbedaan esensial atau definitif antara gejala, fakta, dan data? Jika gejala adalah titik awal untuk menemukan jawaban atas peristiwa, fakta adalah rangkaian peristiwa atau premis yang terdapat dalam gejala itu sendiri. Sementara itu data adalah verifikasi atas asumsi-asumsi yang muncul pada gejala dan fakta. Dalam riset, ketiga komponen ini diperlukan untuk lebih dalam memahami suatu hal yang ingin diteliti.

Daftar Pustaka:

Damasio, H., Grabowski, T., Frank, R., Galaburda, A.M., & Damasio, A.R. (1994). The Return of Phineas Gage: Clues About the Brain from The Skull of a Famous Patient. Science, 264 (5162), 1102-1105. Diakses dari http://www.smbs.buffalo.edu/acb/neuro/readings/PhinasGage.pdf.

Kiehl, K.A., & Buckholtz, J.W. (2010). Inside the mind of a psychopath. Scientific American Mind. Diakses dari http://cicn.vanderbilt.edu/images/news/psycho.pdf.

Van den Bos, W., & Guroglu, B. (2009). The Role of the Ventral Medial Prefrontal Cortex in Social Decision Making. The Journal of Neuroscience, 29(24), 7631-7632. doi: 10.1523/JNEUROSCI.1821-09.2009