Tags

, , , , ,

Suatu hari di Amerika pada tahun 1848, seorang pria muda berwajah tampan melakukan pekerjaan konstruksi alat ledakan. Pria muda ini dikenal sebagai orang yang bertanggung jawab, penuh pertimbangan, energik, gigih, dan tidak mudah tersulut kemarahannya. Ia mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan pergaulan dan pekerjaan. Sama sekali ia tidak menyangka apa yang akan terjadi pada dirinya pada hari itu. Nampaknya hari itu adalah hari yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Namun sayang di tengah-tengah pekerjaannya suatu ledakan terjadi dan melempar sebuah pipa besar dengan panjang satu meter dan diameter tiga sentimeter. Pipa itu melesat dengan cepat mengenai bagian depan kepalanya secara vertikal dan menusuk wajahnya serta bagian otak depannya. Ada saksi menyatakan sedikit bagian otak sang pria keluar dari kepalanya (Kiehl & Buckholtz, 2010). Secara common sense, mungkin kita mengira kejadian seperti ini pasti menyebabkan kematian. Namun ajaibnya, pria muda ini hidup dan sembuh dari luka-lukanya secara fisik. Namun yang terjadi sama sekali tidak disangka oleh semua orang. Pria muda ini seakan-akan telah menjadi orang yang sepenuhnya berbeda. Ia mudah tersulut emosi, sangat impulsif, sulit menghargai orang lain, dan menampilkan perilaku-perilaku yang tidak bisa diterima secara sosial (Kolb & Whishaw, 2003; Kiehl & Buckholtz, 2010). Kehidupan pria ini menjadi cukup sulit. Ia berganti-ganti pekerjaan akibat hal ini. Pria ini bernama Phineas Gage dan kasusnya telah menjadi dasar bagi banyak studi neuropsikologis bahkan menjadi diskusi di kalangan filsafat.

Perubahan perilaku Phineas Gage diatas telah menjadi gejala yang dianggap sebagai klasik. Dalam filsafat ontologi, Phineas Gage dianggap telah mendukung argumen monisme (bahwa jiwa dan tubuh adalah satu) dan meruntuhkan argumen dualisme (bahwa jiwa dan tubuh terpisah). Kerusakan pada tubuh menimbulkan kerusakan pada kepribadian atau diri manusia (jiwa). Dengan kata lain, apa yang kita sebut sebagai jiwa tidak lain dan tidak bukan hanyalah otak yang menempel di kepala kita. Dengan demikian apakah kita bisa menyimpulkan bahwa jiwa, mental, perilaku, kesadaran, atau mind menyatu dengan tubuh atau alam? Lantas apakah yang membedakan gejala alam dan gejala sosial? Disini saya mencoba untuk mendalami gejala perubahan perilaku Phineas Gage dan seiring perjalanannya menjawab apa yang disebut dengan gejala sosial.

Ada salah satu posisi filosofis yang beranggapan bahwa semua gejala yang ada di dunia pada dasarnya adalah gejala yang terikat hukum-hukum alam. Posisi itu adalah positivisme. Posisi ini dicetuskan Auguste Comte (1798–1857) dimana diasumsikan bahwa kita bisa memahami gejala lewat pengamatan kita terhadap hal yang ‘positif’ atau ‘eksis’ di dalam alam (Proctor & Capaldi, 2006). Jika ia tidak bisa diamati secara nyata, maka ia bukanlah gejala dan ia sama sekali tidak bermakna. Posisi ini merupakan posisi ilmu pengetahuan alam sejak masa sains Newtonian. Dalam pemahaman posisi ini, gejala sifatnya obyektif dan mengandung hukum-hukum deterministik (Poerwandari, 2013).

Dalam kasus Phineas Gage, bisa diobservasi bahwa eksistensi manusia tidak lebih dari sekedar bagian otak yang fungsinya telah rusak. Nampak jelas hukum deterministik disini. Perubahan perilaku didahului oleh kerusakan bagian otak dan kerusakan bagian otak didahului oleh tertusuknya otak oleh pipa. Fakta-fakta ini adalah fakta obyektif. Kerusakan yang terjadi pada bagian otak Phineas Gage seharusnya juga berlaku pada semua manusia dimanapun ia berada. Sehingga, disini bisa disimpulkan bahwa perubahan diri Phineas Gage dari yang tadinya normatif secara sosial menjadi cenderung antisosial adalah gejala alam. Sama seperti apel yang terjatuh karena adanya gravitasi, perilaku tidak adaptif juga terjadi akibat hukum-hukum kausalitas. Dengan kata lain, positivis mengklaim bahwa apa yang kita kenal sebagai gejala sosial sebetulnya sama dengan gejala alam.

Kasus Phineas Gage adalah kasus yang cukup representatif mendukung positivisme. Sulit untuk meruntuhkan argumen bahwa manusia pada dasarnya diikat oleh hukum-hukum alamiah. Namun ada kritik dari kalangan yang menyebut diri mereka aliran fenomenologi (dipelopori Edmund Husserl) dimana gejala sosial pada dasarnya adalah gejala yang tidak bisa dipisahkan dari ‘fenomena’ (McPhail, 1995). Fenomena sendiri berarti makna sebenarnya yang terkandung dalam suatu peristiwa dan bukan abstraksi atau penyimpulan umum mengenai suatu hal. Seseorang berperilaku yang tidak adaptif bukan karena ia punya kecenderungan genetik, biologis, ataupun mekanistik melainkan karena ia memiliki pemaknaan tertentu yang subyektif.  Aliran ini berpendapat bahwa jika kita hanya memahami perilaku sosial berdasarkan abstraksi atau hukum-hukum alam saja, kita sebetulnya telah mereduksi perilaku manusia dan gejala-gejala sosial. Padahal, gejala sosial sebetulnya tidak sesederhana itu (Poerwandari, 2013).

Betul bahwa Phineas Gage mengalami kerusakan otak dan ini mengubah dirinya cukup besar. Namun fakta-fakta obyektif itu sama sekali tidak penting untuk memahami diri Gage secara utuh. Yang seharusnya didalami adalah bagaimana Gage memaknai dirinya setelah dan sebelum kecelakaan itu menimpanya. Intinya, kita tidak bisa menyimpulkan bagaimana suatu peristiwa terjadi jika kita tidak memahami bagaimana subyek mengalami peristiwa itu dari sudut pandangnya. Bisa jadi kita akan menemukan jawaban bahwa Gage terlalu overwhelmed dengan peristiwa yang menimpanya dan dengan perhatian publik sehingga ia merasa capek dan tidak bisa mengontrol perilakunya. Bisa jadi juga kita akan menemukan jawaban bahwa Gage hanya berpura-pura menjadi diri yang berbeda agar menarik perhatian publik. Contoh lainnya adalah gejala demonstrasi mahasiswa menolak kenaikan BBM. Jika mengikuti gaya positivisme, kita akan menyimpulkan bahwa mayoritas orang-orang ini terkena hukum-hukum conformity. Namun saat kita mewawancarai sepuluh orang dari mereka untuk mengetahui motif mereka secara subyektif, ternyata ditemukan sepuluh alasan berbeda yang tidak ada hubungannya dengan conformity.

Jadi apa itu gejala sosial? Melalui pemaparan diatas saya menunjukkan bahwa gejala sosial adalah gejala yang bersifat subyektif maupun obyektif. Ada dua posisi filosofis yang memandang hal ini, yaitu fenomenologi dan positivisme. Dua posisi yang berlawanan ini adalah dua aliran yang saling berdebat satu sama lain mengenai bagaimana seharusnya ilmu sosial beroperasi. Ini menunjukkan bahwa tidaklah mudah mendefinisikan apa itu gejala sosial. Tidak seperti gejala alam yang tidak melibatkan manusia sama sekali, gejala sosial melibatkan manusia dimana dalam memahami manusia bisa dilihat dari berbagai sudut pandang (obyektif maupun subyektif). Dalam sebuah gejala saja manusia bisa dipandang dari sisi kerusakan biologis; mekanisme otak; perumusan matematis mengenai probabilitas atau sekaligus juga dapat dilihat dari pemaknaan dirinya terhadap dunia; bagaimana ia berelasi dengan budayanya secara pribadi.

Mana yang saya anggap lebih mendefinisikan gejala sosial? Apakah yang obyektif ataukah yang subyektif? Ini pertanyaan yang sulit dijawab karena menurut saya keduanya memiliki elemen kebenaran. Dalam teori kebenaran, ada yang disebut teori paradigmatik yaitu bahwa sesungguhnya berbagai sudut pandang bisa saja benar dalam taraf tertentu dimana berbagai sudut pandang itu tidak dapat diperbandingkan satu dengan yang lain (Pratama, n.d.). Kuhn menyebut ini dengan istilah incommensurability (Rosenberg, 2012). Kita mungkin membutuhkan standar-standar obyektif yang universal pada gejala-gejala tertentu namun kita juga membutuhkan sudut pandang subyektif yang relativis pada gejala-gejala lainnya. Sebagai contoh, untuk memprediksi apakah seseorang akan diterima di perguruan tinggi kita bisa membandingkan skor inteligensinya dengan norma inteligensi yang ada. Tapi untuk memprediksi apakah seseorang akan bertahan di perguruan tinggi kita bisa mengeksplorasi minat dan alasan pribadi mengapa ia memilih jurusan itu (ini adalah kriteria yang sangat subyektif). Sehingga, gejala sosial adalah peristiwa yang menyangkut perilaku manusia atau peristiwa sosial dimana ia bisa dipersepsikan sama dengan gejala alam yang bersifat universal (obyektif) sekaligus juga dipersepsikan relatif dan berbeda dengan gejala alam (subyektif) tergantung dari sudut pandang yang digunakan dalam memahaminya.

Daftar Pustaka:

Kiehl, K.A., & Buckholtz, J.W. (2010). Inside the mind of a psychopath. Scientific American Mind. Diakses dari http://cicn.vanderbilt.edu/images/news/psycho.pdf.

Kolb, B., & Whishaw, I.Q. (2003). Fundamentals of human neuropsychology (5th Ed.). Worth Publishers.

McPhail, J.C. (1995). Phenomenology as philosophy and method: Applications to ways of doing special education. Remedial and Special Education, 16 (3), 159-165. Diakses dari http://deepblue.lib.umich.edu/bitstream/handle/2027.42/68638/10.1177_074193259501600305.pdf.

Poerwandari, E.K. (2013). Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku manusia. Jakarta: LPSP3 UI.

Pratama, H.S. (n.d.). Teori kebenaran. Universitas Indonesia: Slide Microsoft Power Point untuk perkuliahan Epistemologi di FIB UI.

Proctor, R.W., & Capaldi, E.J. (2006). Why science matters. Malden, MA: Blackwell Publishing.

Rosenberg, A. (2012). Philosophy of social science (4th Ed.). Boulder, CO: Westview Press.