Tags

, , , , ,

Anyone who values truth should stop worshipping reason.” – Jonathan Haidt, The Righteous Mind: Why Good People are Divided by Politics and Religion

          Sejak lama, manusia beranggapan bahwa dirinya lebih baik dibandingkan makhluk-makhluk hidup lainnya. Anggapan ini dikarenakan manusia memiliki properti yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk hidup lainnya, yaitu akal budi atau kemampuan berpikir. Dikatakan bahwa perkembangan kemajuan manusia dikarenakan manusia menggunakan akalnya dalam memahami alam semesta. Keyakinan semacam ini muncul di era pencerahan atau aufklarung akibat kekecewaan Eropa terhadap agama yang menekan akal dan pemikiran manusia dibawah kekuasaan ortodoksi (King, Viney, & Woody, 2009). Akal telah membawa berbagai pencapaian-pencapaian yang tidak pernah terlihat sebelumnya sepanjang sejarah manusia. Akal telah memproduksi ilmu pengetahuan dengan berbagai teknologi-teknologi. Namun demikian, benarkah kekuatan dan pencapaian manusia bersumber dari akal? Ataukah sebetulnya rasio hanyalah ilusi manusia semata?

Meski akal manusia mulai mendapatkan tempat tertinggi setelah era pencerahan, namun sebetulnya Plato telah lama mencetuskan bahwa akal adalah fakultas terpenting yang dimiliki manusia. Bagi Plato, rasio sangat terkait dengan moralitas manusia. Tanpa rasio, manusia berada dalam ketidakteraturan moral karena rasio mampu mengendalikan nafsu dan hasrat (Rosen, n.d.). Disini rasio adalah kunci kesuksesan manusia. Begitupun Hegel yang percaya bahwa perkembangan sejarah menuju titik absolut bisa dicapai lewat diskursus ide dengan penekanan pada proses dialektis (tesis-antitesis-sintesis) yang rasionalistik (Teo, 2005). Dalam era modernisme, manusia memiiki kebebasan untuk mengekspresikan rasio mereka dalam berbagai manifestasi seperti ideologi, filsafat, ilmu pengetahuan, dan ekonomi. Era ini mendorong manusia-manusia untuk memaksimalkan keuntungan pibadi lewat berbagai ekspresi dan meminimalisasi kerugian. Sebagaimana dikatakan rational-choice theory, manusia adalah makhluk yang melakukan kalkulasi untung-rugi dalam setiap pilihan-pilihannya (Rosenberg, 2012).

Sebagaimana telah disebutkan, akal dan era modernisme telah membawa manusia pada berbagai kemajuan. Beragam teknologi dan industri dikembangkan manusia. Dengan akal, manusia telah menemukan cara untuk menghidupkan cahaya di malam hari (penemuan lampu dan listrik), menyembuhkan berbagai penyakit dan menemukan imun terhadap virus-virus, serta menghubungkan manusia di berbagai belahan bumi secara cepat via pesawat terbang, via telepon, dan dalam beberapa dekade terakhir: via internet. Industri dan ekonomi yang disokong invisible hand melaju pesat dan membawa dunia dalam kesejahteraan. Ilmu pengetahuan tak henti-hentinya memproduksi pemahaman baru. Nampaknya, akal memang telah membawa manusia pada tujuan-tujuan kemanusiaan. Namun apakah betul akal telah membawa yang terbaik dalam diri manusia?

Betul bahwa ada kemajuan-kemajuan yang bermanfaat secara pragmatik bagi kemanusiaan. Namun dengan mendewa-dewakan akal individu, peradaban manusia menghadapi konsekuensi yang tidak terduga sebelumnya. Konsekuensi-konsekuensi ini bersifat destruktif dan terjadi dalam berbagai lapisan kehidupan manusia dan masyarakat (Teo, 2005). Ilmu pengetahuan yang obyektif telah membawa manusia menemukan mesin-mesin dan senjata biologis untuk memerangi sesama. Industri dan teknologi telah membawa berbagai kehancuran lingkungan dengan puncaknya yaitu perubahan iklim global. Belum lagi adanya kepentingan ekspresi ekonomi kapitalistik, yang jika merujuk pada Marxisme, telah menjelma dalam berbagai ruang kehidupan manusia (Pals, 2011). Ekonomi kapitalistik membawa penjajahan manusia atas kelompok manusia lainnya, menanamkan nilai-nilai konsumeristik di kelas proletar, dan menimbulkan kompetisi tidak sehat antar pemilik modal. Semua dampak-dampak ini merupakan potret yang ugly dari sesuatu yang diagung-agungkan, yaitu rasio obyektif.

Setidaknya ada dua pemikiran yang mengkritik pandangan bahwa rasionalitas adalah properti terpenting yang dimiliki manusia, yaitu konstruktivisme sosial dan posmodernisme (Proctor & Capaldi, 2006). Penekanan keduanya sebetulnya mirip, yaitu mereka sama-sama tidak setuju bahwa akal individual bersifat obyektif dan mampu mencapai tujuan universal. Sebaliknya, ontologi, fungsi dan tujuan rasionalitas bersifat relatif dan non-absolut. Kritik konstruktivisme sosial yang disutradarai Kenneth Gergen menyatakan bahwa pada dasarnya sistem apapun (ilmu pengetahuan) yang diciptakan bukanlah produk hukum-hukum rasio yang universal melainkan produk dari konvensi atau kesepakatan sosial. Kesepakatan sosial merefleksikan kepentingan-kepentingan para pembuat kesepakatan, yang berarti juga kepentingan subyektif. Penemuan-penemuan ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah hasil yang diinginkan oleh pemangku kepentingan (Teo, 2005). Bagi Marxis, pemangku kepentingan ini adalah pemilik modal. Bagi feminis, pemangku kepentingan adalah laki-laki. Bagi poskolonialis, pemangku kepentingan adalah peradaban barat. Dengan kata lain, rasio yang dianggap obyektif sebetulnya hanyalah kesepakatan segelintir orang-orang tertentu. Itulah kenapa dalam praktiknya kita melihat ada penguasaan kaum terhadap kaum lainnya. Itulah juga kenapa penemuan-penemuan ditujukan untuk kepentingan perang dan ekonomi.

Sementara itu para pemikir posmodernisme beranggapan bahwa realitas bukanlah sesuatu yang bisa secara langsung dipersepsi oleh rasio, melainkan dibentuk oleh rasio (Proctor & Capaldi, 2006). Rasio-rasio yang membentuk realita ini berbeda-beda bahasa sehingga realitas bersifat relatif. Tidak seperti yang diyakini ilmuwan-ilmuwan bahwa pengetahuan yang mereka produksi mengandung hukum-hukum universal, pada kenyataannya rasio para ilmuwan itu mempengaruhi metodologi, analisis, dan temuan studi. Karena rasio peneliti secara subyektif mempengaruhi bangunan keilmiahannya, pengetahuan juga bersifat relatif. Disini posmodernisme (terutama Derrida) mengusulkan dekonstruksi terhadap bangunan-bangunan rasio (Teo, 2005). Jadi, keyakinan bahwa rasio individu pada dasarnya bisa secara langsung menangkap sesuatu secara obyektif hanyalah ilusi. Rasio mengandung relativitas dalam setiap aspeknya.

Patut dipertanyakan juga adalah apakah betul akal manusia betul-betul obyektif tanpa bias? Pertanyaan ini lebih bersifat psikologis dimana sudah banyak temuan-temuan kognisi sosial menunjukkan arah sebaliknya (Fiske & Taylor, 2013). Manusia cenderung mengalami bias-bias dalam setiap keputusannya meski ia bisa jadi menyangka keputusannya adalah keputusan yang rasional. Jonathan Haidt (2012) dalam bukunya tentang intuisi moral juga sependapat. Bagi beliau, rasio tunduk pada intuisi. Saat intuisi menyatakan A, maka akal hanya mampu merasionalisasi keputusan intuisi. Sulit bagi rasio untuk menyatakan kebalikan dari apa yang diputuskan intuisi.

Supaya sedikit adil terhadap rasio, semangat modernisme yang menjunjung tinggi akal sebetulnya semangat yang baik. Di masa pencerahan, semangat rasionalistik penting untuk menghilangkan ortodoksi agama terhadap kebebasan pemikiran manusia. Namun sayangnya semangat ini sudah tidak lagi adaptif. Pendewaan terhadap rasio telah membawa dampak buruk bagi peradaban di berbagai ruang kehidupan. Lebih parah lagi, obyektifitas dan universalitas rasio itu ilusif. Artinya, rasio hanyalah bangunan sosial yang subyektif dan penuh keterbatasan. Oleh karena itu, tidak tepat rasanya jika rasio masih diagung-agungkan sebagai kualitas terpenting yang dimiliki oleh manusia. Seharusnya bukan cogito ergo sum, tetapi esse est percipe. Keberadaanku bukanlah karena aku berpikir, melainkan karena aku dipersepsikan secara subyektif dalam ruang-ruang sosial.

Daftar Pustaka:

Fiske, S.T., Taylor, S.E. (2013). Social cognition: From brains to culture (2nd Ed.).  London: Sage Publishing.

Haidt, J. (2012). The righteous mind: Why good people are divided by politics and religion. New York: Pantheon Books.

King, D.B., Viney, W., & Woody, W.D. (2009). A history of psychology: Ideas and context, 4th Ed. Boston, MA: Pearson Education Inc.

Pals, D.L. (2011). Seven theories of religion: Tujuh teori agama paling komprehensif. Yogyakarta: IRCiSoD.

Proctor, R.W., & Capaldi, E.J. (2006). Why science matters. Malden, MA: Blackwell Publishing.

Rosen, M. (n.d.). Against rationalism. Diakses dari website resmi Harvard University dengan URL: http://scholar.harvard.edu/files/michaelrosen/files/against_rationalism.pdf

Rosenberg, A. (2012). Philosophy of social science (4th Ed.). Boulder, CO: Westview Press.

Teo, T. (2005). The critique of psychology: From Kant to postcolonial theory. New York, NY: Springer Science+Business Media Inc.