Tags

, , , , , , , , ,

Seorang anak perempuan bersama ibunya tengah mempersiapkan sebuah wawancara agar si anak diterima di sebuah sekolah bergengsi. Diterima di sekolah semacam ini adalah langkah yang krusial karena anak akan lebih mudah mencapai apa yang esensial, yaitu bekerja di kantor sebagaimana kebanyakan orang. Si ibu menggunakan bantuan statistik untuk merealisasikan tujuan ini. Dalam statistik, rata-rata orang yang mendapatkan pekerjaan biasanya melakukan hal-hal tertentu, misalnya mempersiapkan pembelajaran secara intensif. Karena statistik berpendapat demikian, makanya sang ibu mengikuti statistik itu untuk mendidik anaknya. Bagi masyarakat, apa yang penting di dunia adalah apa yang harus dicapai oleh setiap anak yaitu mendapatkan pekerjaan di kantor sebagai orang dewasa. Si ibu bahkan mengatakan kepada si anak bahwa tujuan yang esensial itulah yang harus dicapai demi kehidupan yang baik di masa depan. Namun lambat laun si anak mempertanyakan untuk apa ia mencapai itu semua. Apakah sesuatu yang esensial untuk masyarakat memang bermakna untuk dirinya? Apakah apa yang baik bagi semua orang memang baik bagi dirinya? Apakah menjadi orang dewasa memang harus seperti potret masyarakat mengenai orang yang sukses? (Kisah diambil dari film animasi The Little Prince)

Film The Little Prince (2015) yang sedikit dirangkum diatas sebetulnya ingin menyampaikan pesan bahwa seorang anak kecil tidak boleh kehilangan sifat kanak-kanaknya saat ia beranjak dewasa. Anak kecil yang memiliki cara pandang yang naif, rasa ingin tahu yang tinggi, dan melihat dunia penuh warna lambat laun digantikan oleh orang dewasa dengan cara pandang yang kaku, tidak ada gairah untuk mengetahui hal-hal yang dianggap tidak penting, dan kecenderungan melihat dunia hanya sebatas aktivitas pekerjaan semata.

Le-Petit-Prince_visuel-nouvelle-bande-annonce2

Disamping pesan itu, ada pesan lain yang saya interpretasikan. Saya melihat bahwa potret peristiwa dalam film merupakan potret bagaimana masyarakat mayoritas menentukan standar apa yang baik dan buruk bagi seorang individu. Apa yang dianggap baik bagi kebanyakan orang adalah apa yang harus diikuti oleh individu. Di film bahkan ada beberapa penekanan pada penggunaan statistik yang dapat membantu si anak perempuan. Sebagaimana diketahui, prinsip statistik adalah menemukan pola umum yang terjadi pada suatu populasi (Field, 2009). Namun, si anak menyadari bahwa apa yang dianggap esensial bagi kebanyakan orang dan statistik belum tentu bermakna untuk dirinya. Disini saya berargumen bahwa memahami pemaknaan pribadi atas pengalaman individu beserta pilihan-pilihan yang menyertainya lebih penting daripada mengetahui apa yang dianggap esensial untuk individu. Existence precedes essence (Hassan, 1992).

Anggapan bahwa ada hal-hal yang esensial pada diri manusia bukan sesuatu yang asing di telinga banyak orang. Agama menyatakan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang terikat oleh suratan takdir dan ketentuan ilahiah yang kodrati. Pada agama Abrahamik seperti Islam dan Kristen, misalnya, wanita memiliki esensi tunduk pada keinginan suami. Perempuan harus melakukan tugas-tugas domestik di rumah atau selalu melayani keinginan suami. Pada film A Little Prince diatas, apa yang esensial pada diri manusia adalah tumbuh menjadi orang dewasa yang menggunakan akalnya untuk memenuhi kebutuhan pribadi seperti kekayaan, popularitas, atau kekuasaan.

Begitupun dalam ilmu pengetahuan yang naturalistik, kita menyaksikan bagaimana individu dianggap memiliki esensi-esensi yang melekat pada dirinya. Teori evolusi mengklaim bahwa manusia pada esensinya memiliki dorongan mempertahankan gen (Dawkins, 2006). Gen yang egois secara deterministik menentukan perilaku apa yang dipilih seseorang untuk mempertahankan gennya. Behaviorisme mengklaim bahwa esensi tingkah laku manusia hanyalah respon terhadap stimulus-stimulus lingkungan (Kimble, 1996). Manusia tidak memiliki kontrol atas tingkah lakunya karena respon yang dilakukan seseorang amat terikat dengan pengkondisian yang deterministik. Lewat statistik, dapat diketahui pola umum yang terjadi di populasi. Pola umum kemudian digeneralisasi di semua konteks, bahkan konteks kehidupan individual.

Semua teori-teori esensial baik itu dari agama, filsafat, ataupun ilmu pengetahuan sepakat bahwa ada esensi yang mendasari dan mengontrol perilaku manusia. Manusia merespon pasif terhadap kekangan esensi yang ada. Tapi ada paradoks yang muncul saat manusia diletakkan pada esensinya semata. Jika betul bahwa kita ini tidak lebih dari mekanisme rohaniah, biologis atau sosial yang deterministik, lalu bagaimana mungkin kita bisa meyakini hal ini tanpa menyatakan bahwa kita memilih meyakini itu? Dalam problema intentionality, manusia memiliki fitur yang disebut sebagai kesadaran (McIntyre & Smith, 1989). Alih-alih manusia hanya disebut sebagai reaktan dari semua yang esensial, dengan kesadarannya manusia mampu secara aktif menjadi agen yang menentukan dirinya sendiri. Kesadaran membuat manusia mampu menentukan apa yang menjadi pilihannya.

Sebuah gerakan filsafat yang bernama eksistensialisme mengambil langkah lebih jauh. Bagi mereka, manusia membutuhkan dosis makna hidup daripada sekedar kebutuhan esensial seperti bernapas, minum, makan, mempertahankan kelangsungan gen, atau mengikuti ketentuan/kewajiban yang diperintahkan Tuhan dan masyarakat. Eksistensialis beranggapan bahwa kebanyakan manusia hanya mengikuti hal-hal yang dianggap esensial tanpa pernah mempertanyakan untuk apa mereka melakukan itu semua. Friedrich Nietzsche menyebut mereka ini sebagai orang-orang dengan mentalitas ternak (Nietzsche, 2010); merasa bahwa mereka harus mencapai tujuan yang menjadi tujuan semua orang tanpa betul-betul tahu makna dibaliknya.

Dalam film The Little Prince, diceritakan bahwa ada seorang pebisnis yang memiliki bintang-bintang. Ketika ditanya oleh little prince, “kenapa kamu memiliki banyak bintang?” Ia menjawab, “supaya aku menjadi kaya”. Lalu little prince bertanya lagi, “untuk apa menjadi kaya?” Si pebisnis menjawab, “supaya aku bisa memiliki lebih banyak bintang lagi.” Disini terlihat bahwa apa yang esensial seperti memperoleh kekayaan sebetulnya adalah sesuatu yang tidak bermakna bagi seseorang. Mengejar kekayaan hanya akan menambah masalah baru, yaitu memperoleh kekayaan lebih banyak dan ini membuat suatu tindakan jadi tidak bermakna. Masalah semacam ini dianggap signifikan oleh eksistensialis. Kita seharusnya hidup secara autentik dengan makna hidup kita sendiri. Jadi eksistensialisme beranggapan bahwa manusia dapat secara aktif menentukan makna hidupnya tanpa harus bergantung pada apa yang dianggap esensial dalam masyarakat atau ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan naturalistik mungkin akan beranggapan bahwa eksistensialis sungguh tidak masuk akal. Kenyataannya, riset-riset menunjukkan bahwa manusia tidak bebas menentukan apa yang terpenting untuk hidupnya sendiri. Dorongan mekanistik beroperasi dalam biologi dan lingkungan sehingga manusia tidak pernah betul-betul bebas. Bahkan sejak lahir manusia sudah dipengaruhi oleh genetika dan pola asuh orangtua dimana pola asuh merefleksikan apa yang sudah dipelajari orangtua dalam masyarakat. Dalam riset kepribadian, misalnya, mungkin hanya segelintir orang dengan kepribadian tertentu yang memiliki jiwa-jiwa eksistensialis. Orang dengan trait kepribadian existential authenticity mungkin bisa menjadi eksistensialis namun orang dengan trait kepribadian lain tidak bisa (Carmody, 2013). Ingat bahwa trait sebetulnya kecenderungan seseorang berperilaku yang relatif menetap dan dibentuk oleh kombinasi faktor bawaan dan didikan yang esensial.

Tapi eksistensialisme sebetulnya dapat dengan mudah membantah argumen diatas lewat premis eksistensi mendahului esensi. Apa yang kita ketahui dari ilmu pengetahuan, riset-riset, dan statistik mengenai diri kita sendiri hanyalah konsekuensi dari kenyataan bahwa kita memiliki pilihan sadar untuk meyakini ilmu, riset, dan statistik itu. Toh kita bisa memilih untuk meyakini hasil temuan-temuan itu atau menolak hasil temuan-temuan itu bukan? Apa yang paling nyata pada akhirnya kenyataan bahwa kita telah memilih. Dan pilihan-pilihan ini mendahului semua temuan-temuan ilmu bahkan bagi mereka yang memilih menerima ilmu dan statistik.

Tidak hanya soal kenyataan bahwa eksistensi mendahului esensi, seringkali ilmu pengetahuan itu telah mereduksi manusia menjadi obyek tanpa makna. Dalam jajaran eksistensialis, Martin Buber menyatakan bahwa apa yang bermakna bukanlah hal-hal yang disimpulkan dalam populasi umum. Relasi subyektifitas antara seorang subyek terhadap subyek lainnya jauh lebih penting. Ia berpendapat bahwa penekanan manusia dengan esensi-esensi tertentu hanya mereduksi manusia menjadi obyek yang berkualitas lebih rendah (Buber, n.d.). Dengan esensialisme, manusia dipukul rata sebagai obyek-obyek yang hanya dipahami permukaannya saja secara dangkal. Menyamaratakan manusia dalam hukum universal hanya menghilangkan kekayaan  manusia itu sendiri. Padahal, jika manusia dilihat subyektifitasnya sebagai individu yang memaknai eksistensinya, manusia memiliki kekayaan yang tidak terbatas untuk dieksplorasi. Dengan kata lain, esensi manusia hanyalah permukaan manusia yang dangkal sementara eksistensi manusia dimana manusia memaknai pengalamannya sendiri itu jauh lebih dalam dan berharga.

Jadi apakah penting bagi manusia untuk memiliki makna? Bagi saya, jawabannya jelas. Kebermaknaan penting untuk menjalani kehidupan autentik. Manusia bisa melampaui esensi mereka sebagai makhluk biologis, sosial, ataupun rohaniah. Manusia tidak harus mengikuti jejak mayoritas yang seringkali tidak bermakna. Jikalau ilmu pengetahuan naturalistik berpendapat bahwa manusia pada esensinya tidak mampu memaknai itu semua, melalui eksistensialisme saya menolak klaim arogan ini. Pada akhirnya, manusia-lah yang memilih makna-nya dan bukan pihak-pihak di luar dirinya yang dianggap esensial seperti ilmu pengetahuan atau statistik.

Daftar Pustaka:

Buber, M. (n.d.). I and thou. Edinburgh: T & T Clark.

Dawkins, R. (2006). The Selfish Gene. New York, NY: Oxford University Press.

Field, A. (2009). Discovering statistics using SPSS (3rd Ed.). Thousand Oaks, CA: Sage.

Hassan, F. (1992). Berkenalan dengan Eksistensialisme. Penerbit Pustaka Jaya.

Kimble, G.A. (1996). Psychology: The hope of science. Cambridge, MA: The MIT Press.

McIntyre, R., & Smith, D.W. Dalam Mohanty, J.N., & McKenna, W.R. (1989). Husserl’s phenomenology: A textbook. pp. 147-79. Washington, DC: Center for Advanced Research in Phenomenology and University Press of America.

Nietzsche, F. (2010). Thus spoke Zarathustra. Feedbooks.