Tags

, , , , , , , , , ,

To know the story of the 47 Ronin is to know Japan

– Anonim

Bicara tentang kesetiaan (loyalty), mungkin prototipe paling baik dalam menggambarkan nilai moral tersebut adalah samurai Jepang. Faktanya, kesetiaan adalah salah satu keutamaan dari Bushido: nilai-nilai moral atau kode etik Samurai. Kesetiaan ini tergambar dari bagaimana seorang samurai menghormati otoritas tempat sang samurai mengabdikan dirinya. Kisah tentang kesetiaan samurai yang populer dan memperoleh perhatian Hollywood di tahun 2013 silam adalah kisah tentang 47 Ronin. Dalam kisah yang diangkat dari peristiwa sejarah yang melegenda ini, samurai rela mati bunuh diri demi kesetiaan terhadap atasan. Mengapa bisa ini terjadi? Tulisan ini berusaha memahami peristiwa bunuh diri massal 47 orang samurai berdasarkan teori-teori klasik dalam Psikologi Sosial. Tidak hanya itu, pada kesempatan ini juga penulis berusaha membandingkan tiga teori yang digunakan dalam senjata analisis. Namun sebelumnya penting untuk menceritakan kembali sedikit cuplikan kisah dari peristiwa bunuh diri 47 Ronin.

Cerita dimulai pada April tahun 1701. Di masa ini, umum bagi tuan tanah di Jepang untuk memiliki samurai di bawah otoritasnya. Seorang tuan tanah (daimyo) bernama Asano Naganori bersama tuan tanah lainnya diundang ke Kastil Edo (sekarang bernama Tokyo) untuk mengatur resepsi untuk keluarga kerajaan. Sebelumnya, mereka harus diberikan pemahaman mengenai etiket kerajaan oleh seorang ahli protokol, Kira Yoshinaka.

Kira adalah orang yang arogan dan korup. Kira berperilaku tidak menyenangkan pada tuan-tuan tanah penyelenggara resepsi tak terkecuali Asano. Namun, perilaku-nya berubah jika tuan tanah itu menyogoknya dengan uang. Meski tuan-tuan tanah lainnya akhirnya menyogok Kira, Asano sama sekali tidak mengikuti kemauan Kira. Perilaku Asano ini dianggap tidak menyenangkan oleh Kira. Suatu ketika, Kira mempermalukan Asano di hadapan publik dengan menyebut Asano sebagai “anak desa yang tidak punya sopan santun”.

Asano tidak terima dengan perlakuan Kira. Ia mencoba menghunuskan pisau ke wajah Kira namun para pengawal kerajaan menghentikannya. Tindakan Asano ini terlarang di Kastil Edo. Sebagai hukumannya, Asano harus melakukan ritual bunuh diri (seppuku). Di hari yang sama, Asano mengambil nyawa-nya sendiri sementara Kira mendapatkan simpati publik dan meneruskan pekerjaannya. Menurut hukum yang berlaku, segala kepemilikan harta dari tuan tanah yang melakukan seppuku harus disita, keluarganya harus dipermalukan, dan samurai-samurai miliknya dibubarkan. Samurai-samurai itu kemudian disebut ronin (samurai tanpa tuan).

47 ronin bekas kepemilikan Asano tidak terima tuan mereka mati tanpa dibalaskan dendamnya. Meski hukum melarang pembalasan dendam itu, namun 47 orang ini rela membalaskan dendam tuan mereka. Dipimpin oleh Oishi, 47 ronin itu bersiap menyerang Kira di kediamannya pada suatu musim dingin. Setelah menemukan Kira, Oishi dan para ronin tunduk hormat terhadap Kira dan mempersilahkan Kira melakukan seppuku. Namun Kira tidak berani dan justru menawarkan uang kepada para ronin. Melihat hal ini, Oishi lalu menebas kepala Kira dan membunuhnya seketika.

Setelah kematian Kira, Oishi dan para ronin lainnya menghubungi pemerintah di Edo dan memberitahukan perbuatan mereka terhadap Kira. Mereka juga memberi kabar bahwa mereka menunggu perintah apapun yang diberikan kepada mereka. Pemerintah kebingungan. Di satu sisi para ronin itu telah melanggar hukum tentang balas dendam, namun di sisi lain mereka kagum dengan semangat mempertahankan nilai-nilai bushido milik samurai. Akhirnya untuk menghormati para ronin itu, pemerintah mempersilahkan mereka untuk melakukan seppuku, mati dengan kehormatan. Para ronin itu lalu dimakamkan di sekeliling makam Asano. Sampai sekarang, banyak orang datang ke makam mereka. 47 ronin ini dianggap sebagai simbol kesetiaan dan semangat samurai yang esensial.

(Kisah dikompilasi dari 47ronin.com, samurai-archives.com, dan zoomingjapan.com)

Perspektif Teori Peran

Teori peran merupakan teori dengan cakupan yang teramat luas. Berbagai asumsi dari teori-teori kognitif, behavioristik, dan teori lapangan (bahkan interaksionisme simbolik) bisa beroperasi dalam bahasa teori peran (Shaw & Constanzo, 1982). Bahkan tradisi teori peran mengambil perspektif multidisiplin diantaranya psikologi sosial, sosiologi, dan antropologi. Ini dikarenakan sifat teori peran yang tidak hanya memandang individu sebagai agen pembentuk suatu perilaku, melainkan individu sebagai komponen yang tidak pernah terlepas dari struktur hubungan. Tapi sebetulnya apa asumsi dasar dari teori peran? Biddle dan Thomas (1996 dalam Shaw & Constanzo, 1982) memberikan kerangka pemikiran mengenai teori peran yang paling fundamental. Teori peran pada dasarnya selalu mengandung empat struktur terminologi, yaitu: 1. Struktur individu, 2. Struktur tingkah laku, 3. Struktur set individu-tingkah laku, dan 4. Struktur relasi individu-tingkah laku.

Pada struktur individual, suatu interaksi sosial dapat dipahami dengan melihat aktor dan target yang berperan di dalamnya. Ini bisa disejajarkan dengan teori behavioristik tentang interaksi sosial, khususnya teori p-o-x dan A-B-X. Situasi paling mendasar dari struktur individual adalah saat seorang aktor harus melakukan suatu tingkah laku dalam kehadiran target (orang lain). Pada struktur tingkah laku, terdapat norma dan ekspektasi target terhadap aktor; performa yang dilakukan aktor sesuai perannya; dan evaluasi atau sanksi yang diberikan terhadap performa aktor. Sementara pada struktur set individu-tingkah laku, aktor dipersepsikan terkait posisi atau peran sosial yang dimilikinya. Terakhir, pada struktur relasi individu-tingkah laku, seberapa kuat suatu interaksi sosial dapat dilihat berdasarkan tiga kriteria, yaitu kemiripan, interdependensi, dan gabungan antara keduanya. Kasus 47 ronin akan dianalisis berdasarkan struktur-struktur ini.

Tentu aktor disini adalah mereka yang berperan membunuh Kira, menegakkan bushido, dan melakukan seppuku yaitu 47 ronin. Sebagai aktor, peran 47 ronin itu adalah peran yang sudah diketahui khalayak luas mengenai samurai, yaitu peran membalas dendam atas kematian tuan mereka. Peran aktor ini dihadapkan pada target yaitu Kira yang dianggap telah menyebabkan kematian tuannya secara tidak adil dan pemerintah yang memiliki hukum-hukum untuk mengatur tindakan balas dendam.

Lalu bagaimana aktor sampai rela membunuh diri mereka? Disinilah teori peran mampu menjelaskan bahwa perilaku individu akan selalu terikat dengan struktur sosial dimana individu itu bertingkah laku (Biddle, 1986). Aktor tidak melakukan perbuatan itu karena adanya kebebasan kehendak (free will), melainkan karena adanya norma yang mengikat sang aktor. Aktor adalah samurai dimana samurai diharapkan menjunjung tinggi bushido, yaitu kesetiaan terhadap atasan adalah segalanya dan dendam atasan harus dibalaskan oleh samurai. Norma inilah yang diikuti para ronin sehingga mereka akhirnya membunuh Kira (performa aktual sesuai peran) dengan mengetahui konsekuensi apa yang mungkin mereka terima (evaluasi peran dan sanksi peran).

Di sisi lain, ada norma yang sebetulnya berseberangan dengan performa para ronin, yaitu adanya hukum mengenai larangan membalas dendam. Lalu bagaimana bisa para ronin itu tidak mengindahkan satu norma dan mengikuti norma lain? Jawabannya ada pada posisi yang dimiliki oleh para ronin itu. Posisi disini didefinisikan sebagai (Shaw & Constanzo, 1982) kategori orang-orang yang didasari oleh perbedaan atribut umum, tingkah laku umum, dan reaksi yang dibentuk terhadap orang-orang itu. Posisi para ronin dalam hal ini adalah samurai dengan segala atribut dan tingkah laku yang melekat padanya, diantaranya kode bushido. Posisi ini adalah suatu kehormatan bagi mereka yang masuk ke dalam kategori itu. Sehingga, memegang teguh prinsip yang sesuai dengan posisi adalah suatu keharusan. Jikalau mereka bukan samurai, bisa jadi mereka tidak akan melakukan pembalasan dendam terhadap Kira karena adanya norma yang sangat kuat, yaitu hukum larangan membalas dendam.

Posisi bukanlah satu-satunya faktor penentu kerelaan mereka melanggar hukum. Seberapa kuat hubungan individu dengan tingkah laku yang ditampilkannya ditentukan oleh beberapa kriteria seperti similarity (kemiripan) dan interdependence (interdependensi).  Pada kriteria kemiripan, suatu performa sesuai peran akan dilakukan apabila terdapat orang-orang lain yang juga melakukan hal yang sama. Kesamaan ini membuat individu cenderung lebih kuat dalam melakukan performa-nya. Tentu kriteria ini cukup jelas terdapat pada kasus 47 ronin. Namun hal ini bukanlah satu-satunya faktor penentu. Interdependensi aktor-target juga menentukan seberapa kuat performa akan dilakukan individu. Interdependensi itu bisa berupa fasilitator yang mendukung performa atau inhibitor yang menghambat performa. Fasilitator yang diperoleh dari membunuh Kira adalah mereka akan memenuhi kode etik bushido yang dijunjung tinggi oleh para ronin. Inhibitor yang muncul adalah hukum yang melarang tindakan pembalasan dendam. Inilah mengapa dari 300 orang samurai milik Asano, hanya 47 yang membalaskan dendamnya (sesuai dengan kisah di http://www.47ronins.com).

Perspektif Teori Representasi Sosial

Teori representasi sosial muncul dari tradisi non-mainstream dalam psikologi sosial yang dinamakan sociological social psychology. Teori yang dikembangkan Serge Moscovici ini merupakan perspektif anti-reduksionistik (Gismar, 2015). Apa maksudnya? Seringkali kajian psikologi dalam memahami interaksi sosial hanya memeriksa individu dari fungsi-fungsi kognitif dan biologis semata. Sebaliknya, kajian sosiologi meniadakan faktor individual dan lebih terfokus pada fisika sosial. Jadi kedua perspektif ini telah menyederhanakan manusia menjadi hanya berdasarkan faktor individual atau faktor sosial kemasyarakatan semata. Tidak demikian dengan teori representasi sosial yang lebih menyeluruh. Sebagaimana juga teori peran, teori representasi sosial tidak hanya terfokus pada individu sebagai agen motivasional melainkan sebagai komponen struktural dari suatu dinamika interaksi sosial.

Teori representasi sosial dibesarkan dalam tradisi psikologi Eropa yang secara signifikan berbeda dengan tradisi eksperimental di Amerika (Parker, 1987). Teori ini pada dasarnya berasumsi bahwa gejala sosial tidak dapat dipahami hanya dari fungsi psikologi-nya semata, melainkan harus dipahami berdasarkan struktur simbolis-nya yang termanifestasi secara sosial. Simbol paling umum yang digunakan oleh manusia adalah bahasa. Oleh karena struktur simbol adalah hal yang amat terkait dengan kebudayaan dan faktor kontekstual, teori representasi sosial mengikat konsep-konsepnya pada perbedaan interkultural dalam merepresentasikan sesuatu (Gismar, 2015). Jadi teori representasi sosial lebih mementingkan konten apa yang ada dalam ‘mind’ alih-alih mementingkan proses atau mekanisme kognitif yang terjadi dalam hukum alam. Dari situ juga bisa disimpulkan bahwa teori representasi sosial menilai tinggi proses komunikasi yang terjadi.

Lalu bagaimana teori ini berlaku untuk menjelaskan kesetiaan 47 ronin? Jawabannya cukup straightforward. Bushido merupakan sistem simbol yang direpresentasikan oleh para samurai dan ini berlaku dalam konteks kebudayaan Jepang. Ini merupakan suatu realita yang dikomunikasikan pada masyarakat Jepang. Secara sosial kemasyarakatan, bushido sudah menjadi norma yang diharapkan akan dilakukan oleh orang-orang yang dikategorisasi sebagai samurai atau ronin. Sementara dari sisi individual, bushido memiliki makna penting yang merasuki diri-diri para ronin dan membentuk tingkah laku mereka. Bahkan mungkin mendengar atau melihat simbol bushido sudah akan mengelisitasi skema-skema dalam mind tentang apa yang diharapkan dari kata itu.

Tapi apakah ia mampu menjelaskan mengapa para ronin itu melakukan bunuh diri alih-alih kabur dari pemerintah dan tetap hidup? Melalui teori representasi sosial, kita sebetulnya bisa mengekstraksi makna-makna apa yang muncul saat peristiwa semacam ini terjadi di orang-orang Jepang. Bisa jadi, saat kita mengekstraksi makna apa yang muncul, kita akan menemukan bahwa ada nilai-nilai yang lebih dianggap penting oleh orang Jepang atau direpresentasikan oleh sebagian besar orang Jepang. Misalnya saja nilai moral kesetiaan dan tunduk terhadap otoritas menjadi nilai moral yang sangat penting sehingga dikomunikasikan secara lebih luas (Gismar, 2015).

Perspektif Teori FIRO

            Teori ketiga yang digunakan sebagai senjata analisis disini adalah teori FIRO yang merupakan singkatan dari Fundamental Interpersonal Relations Orientation. Jika teori peran dan teori representasi sosial berangkat dari perspektif multidisipliner, teori FIRO berangkat dari tradisi internal di psikologi. Lebih spesifik lagi, teori FIRO mendapatkan pengaruh besar dari paradigma psikoanalisis (Schutz, 2008). Sebagaimana umumnya diketahui, paradigma psikoanalisis memandang bahwa dorongan bawah sadar manusia jauh lebih penting daripada kesadaran (King, Viney, & Woody, 2009). Aspek ketaksadaran yang terbentuk sejak masa kanak-kanak melalui relasi obyek (dengan orangtua) dapat membentuk tingkah laku seseorang di masa kini tak terkecuali juga pola-pola dalam berelasi.

Teori FIRO mengandung beberapa postulat (Shaw & Constanzo, 1982) dimana analisis perilaku 47 ronin akan didasarkan pada postulat-postulat ini. Postulat pertama adalah bahwa setiap individu memiliki tiga kebutuhan interpersonal yaitu inklusi, kontrol, dan afeksi dimana tiga kebutuhan ini memprediksi dinamika hubungan interpersonal. Pada postulat kedua, dinamika interpersonal seorang dewasa akan mirip dengan dinamika interpersonal pada masa kanak-kanak seseorang dengan orangtuanya. Pada postulat ketiga, tujuan yang ingin dicapai dalam kelompok adalah fungsi bagaimana kompatibilitas individu dalam kelompok itu. Untuk postulat keempat, pembentukan atau perkembangan suatu kelompok akan mengikuti tahapan yang cenderung sama.

Dalam kasus 47 ronin, menarik untuk melihat bagaimana kasus 47 ronin itu dari kebutuhan apa yang nampaknya melekat pada diri mereka. Sebetulnya, kesulitan dari menganalisis menggunakan teori FIRO untuk kasus 47 orang adalah: setiap orang memiliki orangtua dengan pola asuh yang bisa saja berbeda-beda. Akan tetapi, kita mungkin bisa memanfaatkan fakta mengenai bagaimana orang Jepang pada umumnya menanamkan nilai-nilai yang dianggap penting dan memprediksikan tipe kebutuhan dari nilai-nilai yang biasanya ditanamkan di orang Jepang. Geert Hofstede memberikan klasifikasi mengenai kriteria lintas budaya dalam membandingkan negara-negara (geert-hofstede.com). Kriteria yang relevan adalah tentang indulgence. Kriteria indulgence menggambarkan seberapa jauh seseorang mencoba untuk mengontrol keinginan dan impuls pribadi mereka. Ini terlihat dari bagaimana seseorang dibesarkan dalam suatu negara atau kebudayaan. Jepang menempati posisi sebagai kultur yang mengekang. Pada kultur dengan kekangan yang tinggi terhadap dorongan pribadi, tidak banyak orang-orang menekankan pentingnya kesejahteraan individual dibandingkan kewajiban-kewajiban sosial. Selain itu, tidak menaati kewajiban sosial dan mementingkan kepentingan pribadi dipersepsi sebagai tindakan atau sikap yang salah atau tidak bermoral.

Jepang, kultur yang membesarkan anak-anaknya dengan kekangan akan menghasilkan anak-anak yang terbiasa mendahulukan kewajiban sosial diatas dorongan pribadi. Meerujuk pada teori FIRO, salah satu aspek kebutuhan yang mempengaruhi pola relasional adalah control dimana ini terkait dengan aspek pengambilan keputusan seseorang. Orangtua yang mengekang anaknya sedari kecil akan membuat anak-anak itu sangat menaati peraturan, sampai pada titik anak itu tidak berani mengambil keputusan yang bertentangan dengan nilai-nilai sosial atau hukum (Shaw & Constanzo, 1982). Disinilah mengapa 47 ronin itu mengekang dorongan pribadi-nya demi tuntutan sosial yang melekat pada diri mereka. Selain itu, postulat 2 menyatakan bahwa perilaku orangtua dalam konteks relasional akan diimitasi menjadi pola relasi anak. Dengan kata lain, 47 ronin seharusnya memiliki orangtua-orangtua yang sesuai dengan kultur Jepang, yaitu kultur dengan restriksi dalam berhubungan secara sosial.

Postulat ketiga menyatakan bahwa dua atau lebih orang (kelompok) yang kompatibel atau mampu bekerjasama dengan harmonis akan lebih efektif dalam mencapai tujuan kelompok. Kompatibilitas ini sebetulnya tergambar pada kasus 47 ronin dimana 47 orang (sebuah kelompok) memiliki sebuah tujuan yang sama saling bekerjasama. Kelompok ini bisa dikatakan memiliki kompatibilitas yang tinggi terlihat dari adanya kesinambungan hubungan antara 47 orang itu demi tercapainya tujuan akhir, yaitu membunuh Kira. Ini juga nampak dari bagaimana sang pimpinan, Oishi, dihormati dan diikuti keputusan-keputusannya oleh semua anggota kelompok.

Pada postulat keempat, relasi bisa berkembang apabila mengikuti tahapan yang cenderung tetap, yaitu: 1. Tahap yang terfokus pada memenuhi kebutuhan inklusi, 2. Tahap yang terfokus pada memenuhi kebutuhan kontrol, dan terakhir (3) adalah tahap yang terfokus pada memenuhi kebutuhan afeksi. Fase pertama yang terjadi dalam suatu kelompok adalah: orang-orang mencoba untuk bergabung dan beradaptasi dalam kelompok. Ada kekhawatiran apakah mereka akan menjadi anggota kelompok ataukah menjadi anggota luar kelompok. Setelah itu, fase berikutnya adalah fase dimana orang-orang mulai mengkhawatirkan bagaimana posisinya dalam suatu kelompok. Apakah ia memiliki power atau tidak dalam kelompok itu? Fase terakhir, afeksi, terkait dengan bagaimana relasi itu berkembang menjadi keintiman atau kelekatan satu sama lain. Sebetulnya tidak terlalu jelas seperti apa berkembangnya relasi 47 ronin itu. Namun demikian, dari bagaimana anggota itu saling berelasi satu sama lain, nampaknya aman untuk berasumsi bahwa hubungan diantara mereka sudah berkembang menjadi fase paling akhir, yaitu pemenuhan kebutuhan afeksi. Ini terlihat dari bagaimana hierarki telah dibangun dan disepakati bersama dengan sama-sama menghormati kekuatan yang memimpin mereka, Oishi.

Kesimpulan dan Komparasi Tiga Teori

Kisah 47 ronin masih merupakan kisah prototipikal tentang kesetiaan orang Jepang. Pada kesempatan ini penulis mencoba untuk menganalisa kisah kesetiaan itu dengan memeriksanya melalui tiga teori dalam psikologi sosial. Teori pertama adalah teori peran dengan cakupannya yang sangat luas. Secara umum, teori peran mampu menjelaskan keterkaitan seorang aktor samurai dengan tingkah laku sebagaimana peran itu dimainkan. Teori kedua adalah teori representasi sosial yang lebih terfokus pada bagaimana seseorang memaknai suatu simbol bushido dalam konteks sosiokultural Jepang. Sementara teori ketiga lebih terfokus pada individu samurai yang dibesarkan oleh orangtua sehingga mereka mengembangkan pola-pola relasi yang cenderung bisa diprediksi. Setiap teori ini memiliki kelebihannya masing-masing dalam melihat kasus 47 ronin itu. Tabel komparasi 1 dapat dilihat di halaman setelah daftar pustaka.

(lihat tabel komparasi 1)

  Teori Peran Teori Representasi Sosial Teori FIRO
Asumsi Dasar Interaksi Sosial Interaksi sosial merupakan fungsi aktor yang memainkan peran, target (orang lain) yang menjadi reseptor peran, dan performa aktor yang sesuai atau tidak sesuai dengan tuntutan peran (norma atau ekspektasi) Interaksi sosial merupakan fungsi pemaknaan individu dengan segala latar belakangnya terhadap  konsep-konsep hubungan interpersonal dimana konsep-konsep itu terikat oleh konteks ekologis dan sosiokultural Interaksi sosial merupakan pola-pola individu dalam berhubungan yang terbentuk dari bagaimana hubungan seseorang dengan orangtuanya sendiri di masa kanak-kanak
Perspektif Teoretis Mampu beroperasi dengan berbagai bahasa dalam berbagai tradisi teori seperti kognitivisme, behaviorisme, dan interaksionisme simbolik Konstruktivisme sosial – manusia membangun realitas berdasarkan konstruksinya sendiri Psikoanalitik/Psikodinamika – realitas paling hakiki ada pada ketidaksadaran yang mengendap di alam bawah sadar
Metodologi Sifatnya sangat luas sehingga bisa dilakukan berbagai pendekatan metodologis (Shaw & Constanzo, 1982) Pendekatan kualitatif dan non-eksperimental dengan mengekstraksi makna-makna yang terkandung pada suatu konsep di kebudayaan  (Parker, 1987) Psikometrik dan kuantitatif dengan alat ukur FIRO yang sudah teruji (Shaw & Constanzo, 1982)
Kelebihan Teori dalam Menjelaskan Gejala Mampu menjelaskan banyak sekali aspek dalam relasi interpersonal; faktanya hampir seluruh kajian psikologi sosial bisa dijelaskan lewat teori peran Komprehensif dalam memberikan pemahaman mengenai konsep; tidak hanya melihat individu namun melihat juga struktur sosiokultural yang mengikat individu Lebih dalam melihat bagaimana dinamika hubungan di masa lalu mempengaruhi pola interaksi sosial di masa kini; memeriksa faktor intrapsikis
Tradisi Teoretis Multidisipliner (psikologi sosial, antropologi, sosiologi, dan lain-lain) Sociological social psychology Psikologi Sosial (Dinamika Kelompok)

Tabel Komparasi 1. Komparasi Antara Ketiga Teori

Daftar Pustaka

Anonim. (n.d.). Discover the Tale of the 47 Ronin. Diakses dari URL: http://www.47ronins.com/

Anonim. (Mei, 2014). Japan’s 47 Ronin of Ako – The Greatest Example Of Bushido. Diakses dari URL: http://zoomingjapan.com/wiki/47-ronin/

Biddle, B.J. (1986). Recent developments in role theory. Annual Review of Sociology, 12: 67-92. doi: 10.1146/annurev.so.12.080186.000435

F.W.S. (n.d.). The 47 Ronin. Diakses dari URL: http://www.samurai-archives.com/ronin.html

Gismar, A.M. (2015). A quest for relevant social psychology (introducing social representation theory). Working paper.

Hofstede, G. (n..d.). What about Japan? Diakses dari URL: http://geert-hofstede.com/japan.html

King, D.B., Viney, W., & Woody, W.D. (2009). A history of psychology: Ideas and context, 4th Ed. Boston, MA: Pearson Education Inc

Parker, I. (1987) ‘Social representations’: Social psychology’s (mis) use of sociology. Journal for the Theory of Social Behaviour, 17: 4.

Schutz, A. (2008). The DNA of the human element: The path from technician to artistry to mastery. South San Francisco, CA: Human Element

Shaw, M.E., & Constanzo, P.R. (1982). Theories of social psychology. McGraw-Hill