Menjawab pertanyaan pada judul nampaknya tidak pernah bisa straightforward. Tapi kenyataannya memang psikologi sampai sekarang ini belum bisa menyetarakan dirinya dengan bidang ilmu-ilmu lain seperti fisika atau kimia (yang sudah lebih mapan). Meski begitu, bagi saya psikologi bisa menciptakan tradisinya sendiri sebagai sains yang tidak harus selalu memiliki aksioma yang sama dengan ilmu alam. Apakah memang bisa? Bukankah tradisi ilmiah yang paling ilmiah adalah fisika? Bukankah psikologi seharusnya mengikuti fisika? Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan ini terlebih dulu kita perlu mengetahui seperti apa ilmu-ilmu lain yang lebih mapan (tradisi ilmu alam).

Tradisi ilmu alam didasari oleh usaha untuk menemukan hukum-hukum universal yang ada di alam. Usaha ini didasari oleh hakikat realisme, yaitu anggapan bahwa dunia beserta segala mekanisme-nya eksis dengan atau tanpa kehadiran manusia (Jaccard & Jacoby, 2010). Manusia bisa langsung mempersepsikan mekanisme dunia itu. Oleh karena manusia mampu mempersepsikan hukum-hukum di dunia, dimanapun manusia berada maka mekanisme alam tetaplah sama.

Tentu, dalam tradisi psikologi ada usaha untuk menciptakan hukum-hukum universal selayaknya hukum-hukum dalam fisika. Sebagai contoh, E.L. Thorndike menciptakan law of effect yang merupakan hukum penguatan perilaku. Siapapun dan dimanapun manusia itu berada, jika perilaku-nya diberi penguatan maka frekuensi perilaku itu akan meningkat. Dalam hal ini, manusia dianggap juga sebagai komponen alam yang terikat dengan hukum-hukum alam, selayaknya hukum kekekalan energi atau hukum gravitasi.

Tapi sampai sekarang, usaha ini tidak pernah mampu menjadi mapan selayaknya fisika. Kritik terhadap usaha ini bermunculan dari berbagai pihak dan dirangkum oleh Lilienfield (2010). Pada intinya kritik menyatakan bahwa tradisi keilmuan psikologi diwarnai oleh confirmation bias yaitu bias peneliti yang cenderung menerima atau mendukung argumen atau hasil riset yang sesuai dengan pandangan ideologis dan politisnya. Ini wajar terjadi karena psikologi memiliki obyek studi yang tidak lepas dari “ke-manusia-annya”. Padahal, nilai-nilai utama sains alam adalah netralitas dan kebebasan dari nilai-nilai subyektif.

Selain itu juga ada kritik lain yang lebih fundamental dari bagaimana realita psikologi dipandang sebagai sains (Teo, 2005). Hukum-hukum alam tidak bisa dipersepsi secara langsung oleh manusia, karena manusia telah mengkonstruksi dunia mereka sendiri. Konstruksi ini bersifat relatif tergantung konvensi, kesepakatan, atau budaya yang melandasi konstruksi itu.

Oleh karena itu, saya berdiri pada pandangan bahwa ilmu manusia khususnya psikologi tidak mampu menyetarakan dirinya dengan postulat-postulat ilmu alam. Kalaupun bisa sebagaimana klaim behaviorisme (Kimble, 1996), tetap saja tidak akan semapan fisika. Psikologi memiliki klaim-klaim yang rentan menghadapi bias politis dan ideologis. Selain itu, psikologi juga tidak pernah terlepas dari konstruksi golongan manusia terhadap realitas. Bagi Marxist, sains dikuasai para pemilik grants dan sponsor. Feminis menyatakan sains dikuasai perspektif laki-laki. Poskolonialis menyatakan sains dikuasai budaya barat.

Jadi psikologi bukan sains dong? Saya tidak setuju juga apabila psikologi dianggap bukan sains. Sains yang menekankan pada hukum kausalitas umumnya merupakan sains yang berdiri pada tradisi sains ilmu alam dengan pendekatan eksperimental. Dalam psikologi, kita mengenal tradisi behaviorisme (Kimble, 1996) yang menyatakan bahwa perilaku manusia berasal dari kausalitas S-R (stimulus-response), tradisi kognitif (Glassman & Hadad, 2009) yang menyatakan bahwa perilaku manusia merupakan mekanisme kausalitas dari kognisi selayaknya proses komputer, dan tradisi psikobiologi (Kalat, 2009) yang menyatakan bahwa perilaku manusia berasal dari kausalitas neuron dan genetika.

Tapi ada tradisi keilmuan lainnya yang tidak menekankan pada penemuan hukum kausalitas. Tradisi keilmuan ini percaya bahwa memahami manusia selayaknya memahami materi, hewan, atau mesin dengan segala hukum-hukumnya meniadakan kekayaan manusia itu sendiri. Lebih-lebih, tradisi semacam itu tidak berguna untuk menyelesaikan persoalan sosial kemasyarakatan.

Oleh karena itu, untuk mempelajari psikologi mungkin akan lebih bermanfaat apabila kita berkutat pada moralitas dan penyelesaian masalah (Teo, 2005) alih-alih menemukan kausa-kausa. Tradisi yang sesuai dengan nilai-nilai ini diantaranya humanistik, eksistensialisme, dan teori kritikal. Tradisi humanistik dan eksistensialisme pada dasarnya beranggapan bahwa manusia memiliki kehendak personal yang mampu menentang hukum alam. Nampak dari tradisi ini bahwa manusia sebagai individu memaknai dunia-nya sendiri secara bebas dan pemaknaan itu unik sehingga tidak mungkin bisa digeneralisasi berdasarkan hukum kausalitas. Pendekatan fenomenologis adalah tradisi keilmuan yang tepat disini. Sementara itu teori kritikal beranggapan bahwa manusia pada dasarnya tidak akan pernah terlepas dari situasi sosiohistoris (zeitgeist dan ortgeist) dan kepentingan politis. Dari sini, sains harus selalu berkutat dengan masalah emansipasi dan penyelesaian masalah di masyarakat. Melalui teori kritikal lahir indigeneous psychology, participatory action research, dan perspektif gender; tradisi keilmuan yang tidak bisa disepelekan.

Jadi disini saya berargumen bahwa pendekatan non-eksperimental seperti fenomenologi, perspektif gender, indigeneous psychology, dan participatory action research bisa disebut sebagai sains meski ia tidak bertujuan menemukan hukum kausalitas. Mendefinisikan sains sebagai upaya penemuan hukum kausalitas adalah pendefinisian yang sempit dan tidak merepresentasikan tujuan yang lebih hakiki untuk sains manusia, yaitu memahami kekayaan pemaknaan individu manusia dan penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan.

Unity in Diversity?

Sampai sini nampaknya jelas bahwa tradisi sains tidak harus selalu sama seperti tradisi ilmu alam. Psikologi perlu meng-embrace berbagai tradisi keilmuan dengan paradigma-nya masing-masing. Meski saya lebih sepakat dengan tradisi ilmu humaniora dalam psikologi, namun kita tidak dapat mengelakkan bahwa banyak pengetahuan-pengetahuan penting yang diperoleh dari psikologi sebagai ilmu kausalitas. Jadi saya sependapat dengan Kuhn yang beranggapan bahwa setiap paradigma memiliki kebenaran dalam taraf tertentu dan perkembangan paradigma yang bersaing merefleksikan realita sosiohistoris yang terjadi di masa itu.

Argumen saya ini bukannya tanpa dasar. Kesatuan absolut (unity) dalam psikologi sampai sekarang belum bisa dicapai karena  ontologi psikologi masih belum jelas. Dalam hal ini psikologi masih berkutat dengan urusan paling fundamental, yaitu apa sebetulnya subject matter yang dipelajari? Celakanya, setiap paradigma dalam psikologi memiliki subject matter yang berbeda-beda sehingga semakin menyulitkan terwujudnya sebuah kesatuan. Psikodinamika beranggapan bahwa alam bawah sadar adalah ontologi psikologi. Humanistik beranggapan bahwa subyektifitas dan pemaknaan aktif individu adalah ontologi psikologi. Kognitif beranggapan bahwa mekanisme kognisi individu adalah ontologi psikologi. Behaviorisme beranggapan bahwa tingkah laku overt adalah ontologi psikologi. Psikobiologi beranggapan bahwa mekanisme otak dan genetika adalah ontologi psikologi.

Sebetulnya pertanyaan yang lebih penting daripada apakah unity bisa dicapai adalah: apakah psikologi memang betul-betul memerlukan unity itu? Ataukah memang sebetulnya manusia bisa dipandang dari berbagai sudut dengan paradigma yang berjalan sendiri-sendiri?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, saya akan memberikan argumen berdasarkan teori-teori kebenaran dari filsafat. Teori kebenaran digunakan sebagai landasan karena disini kita berkutat pada persoalan apakah memperoleh unity merupakan suatu hal yang ‘benar’ dalam psikologi. Setidaknya ada empat teori kebenaran diantaranya teori kebenaran koherensi, teori kebenaran korespondensi, teori kebenaran pragmatik, dan teori kebenaran paradigmatik (Hunt, n.d.).

Kebenaran secara koherensi adalah teori kebenaran yang relevan dengan permasalahan unity dalam psikologi. Teori kebenaran koherensi beranggapan bahwa kebenaran bisa dicapai dengan membuat suatu argumen menjadi sistem tunggal yang sesuai setiap premisnya secara logika. Contoh sistem yang koheren adalah matematika dengan hukum-hukumnya. Namun bagaimana mungkin koherensi bisa dicapai apabila setiap paradigma tidak memiliki premis-premis yang saling mendukung? Psikologi yang ‘benar’ secara koherensi mungkin masih menjadi mimpi panjang yang belum akan tercapai saat ini. Memang ada usaha unifikasi dalam psikologi, seperti yang dilakukan behaviorisme beberapa puluh tahun silam. Namun ternyata usaha unifikasi dengan hukum-hukum universal tidak dapat dilakukan karena dua hal: 1. Unifikasi yang coba dilakukan behaviorisme mereduksi manusia menjadi potongan perilaku yang tidak bermakna, dan 2. Unifikasi tidak berguna dalam menyelesaikan problema konkrit manusia (Teo, 2005).

Namun, psikologi bisa berpatokan pada teori kebenaran yang lain, yaitu teori kebenaran pragmatik. Meski berbagai paradigma dalam psikologi tidak koheren, ia bisa dianggap sebagai sistem yang ‘benar’ selama ia berguna untuk menyelesaikan masalah. Kita tahu bahwa baik paradigma ilmu alam (behavioristik, kognitivisme, perspektif evolusi) maupun non-ilmu alam (psikodinamik, humanistik, eksistensialis, kritikal) mampu memberikan kontribusi-nya dalam menyelesaikan masalah bukan? Dalam konteks psikoterapi, misalnya. Behavioristik mampu secara efektif menangani kasus-kasus fobia (Feist & Feist, 2008) sementara ia tidak sebaik perspektif eksistensialis dalam menangani kasus bunuh diri (Frankl, 1992) dan tidak sebaik psikoanalisis dalam menangani kasus histeria.

Jadi selama psikologi belum mampu menciptakan unity, ia harus rela meng-embrace berbagai paradigma yang bisa menjadi wadahnya. Dalam diskusi dengan profesor pembimbing saya, psikologi bagaikan sebuah rumah yang paradigma-paradigmanya memiliki kamar sendiri-sendiri namun saat mereka bertemu, mereka saling berkelahi. :)

Pustaka:

Frankl, V.E. (1992). Man’s search for meaning. Boston, MA: Bacon Press Book.

Glassman, W.E., & Hadad, M. (2009). Approaches to psychology (5th Ed.). US: McGraw-Hill.

Hunt, M. (n.d.). Four theories of truth: Learning from the philosophies of men. University of Birmingham.

Jaccard, J., & Jacoby, J. (2010). Theory construction and model-building skills: A practical guide for social scientists. New York, NY: The Guilford Press.

Kalat, J.W. (2009). Biological psychology. US: McGraw-Hill.

Kimble, G.A. (1996). Psychology the hope of a science. MIT Press.

Lilienfield, S.O. (2010). Can psychology become a science? Personality and Individual Differences 49: 281-288.

Teo, T. (2005). The critique of psychology: From Kant to postcolonial theory. New York, NY: Springer