Tags

, , , , , , , , ,

Bayangkan ada seorang pengusaha rokok (sebut saja namanya Melati) yang bagaimanapun caranya harus menghasilkan keuntungan. Mati-matian Melati memasarkan rokok yang ia buat ke masyarakat. Belum lagi ia harus bersaing dengan perusahaan-perusahaan rokok yang lain. Namun Melati memiliki musuh bebuyutan, yaitu dinas kesehatan. Mereka tidak ingin Melati meracuni masyarakat dengan rokok yang dijual. Mereka mengekang Melati dengan berbagai batasan-batasan dan aturan-aturan. Salah satunya rokok yang dijual harus memiliki logo tengkorak (agar pembeli ketakutan). Namun Melati tidak mau menyerah. Ia menggandeng sekelompok ilmuwan psikologi sosial dan menyuruh mereka melakukan riset kuantitatif tentang ‘dampak positif rokok dalam pergaulan’. Riset itu menemukan bahwa rokok mampu mempererat hubungan pertemanan dan pergaulan dalam berbagai konteks seperti bisnis, rekan kerja, dan persahabatan secara umum. Melati mengemas hasil riset ini dengan iklan yang ciamik dan penjualan pun meningkat pesat.

Sebagai ilmuwan psikologi, apakah kamu:

  1. Menganggap bahwa hasil studi mungkin benar, namun mungkin bisa difalsifikasi dengan memeriksa metodologi-nya?
  2. Menganggap bahwa hasil studi mungkin didasari oleh kepentingan ekonomi si pencetusnya sehingga muatan-muatan kebenaran studi itu harus diinterpretasi?

Jika jawabanmu adalah A, maka kamu mungkin cenderung menyukai gaya ilmuwan-ilmuwan alam. Gaya ilmuwan alam dalam memahami fenomena didasari oleh filsafat positivistik. Filsafat ini beranggapan bahwa semua gejala tidak mungkin terlepas dari hukum-hukum alam (Proctor & Capaldi, 2006). Apapun gejalanya baik itu gunung meletus, apel jatuh, ataupun dampak psikologis merokok, apabila sudah ditemukan hukumnya maka ia bisa menjelaskan semua peristiwa sama di alam semesta ini. Mereka meyakini bahwa apa yang tampak oleh panca indera (bisa idobservasi), maka itulah yang bisa diyakini.

Namun jika jawabanmu adalah B, kamu mungkin masuk ke dalam golongan orang-orang yang dianggap memiliki mazhab kritikal. Mazhab ini beranggapan bahwa kebenaran ilmiah tidak universal sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang positivistik (Teo, 2005). Kebenaran bersifat politis dan tidak mungkin terlepas dari konteks sosiohistoris. Dibalik apa yang nampak oleh mata dan indera, tersimpan berbagai kepentingan yang melatarbelakanginya. Dalam penelitian, ilmuwan mungkin dipengaruhi oleh pemberi dana riset atau sponsor dan juga dipengaruhi oleh latar belakang lainnya.

Posisi tradisional yang dianut psikologi sosial (dengan kiblat American Psychology Association) saat ini adalah posisi yang cenderung mengarah ke positivisme (Gergen, 1985). Tradisi eksperimental laboratorium selayaknya ilmu alam adalah tradisi yang mendominasi jurnal-jurnal papan atas saat ini. Namun bukan berarti tidak ada suara-suara perlawanan terhadap tradisi ini. Mazhab kritikal psikologi sosial yang disutradarai oleh Kenneth Gergen menggaungkan kritiknya terhadap psikologi sosial yang tradisional. Dalam artikel-artikel publikasinya, ia mendeklarasikan perspektif konstruktivisme sosial (yang diasosiasikan dengan mazhab kritikal) untuk psikologi. Tulisan ini tidak bertujuan memberikan argumentasi mengenai solusi atas pertentangan dua kubu. Tujuan dari tulisan ini sekedar membahas filosofi dari positivisme dan konstruktivisme sosial. Setelahnya, akan dibahas teori-teori dari berbagai tokoh yang dianggap merepresentasikan kedua pendekatan ini.

Konstruktivisme Sosial: Ada Makna Tersembunyi di Balik Suatu Klaim

Man has no nature; what he has is history

– José Ortega y Gasset

Sebagaimana dikatakan sebelumnya, konstruktivisme sosial merupakan bagian dari teori kritikal dalam filsafat ilmu. Habermas (Teo, 2005) menyatakan bahwa tradisi ilmu pengetahuan tidak hanya terdiri atas pendekatan naturalistik (perspektif ilmu alam positivistik dalam sains) dan pendekatan humanistik (perspektif fenomenologis). Lebih penting lagi, sains seharusnya mengadopsi nilai-nilai kritikal. Sains kritikal berambisi membentuk sains yang terfokus pada solusi masalah moral atau emansipasi. Tidak seperti tradisi ilmu alam yang menganggap dirinya netral tanpa bias politik, pendekatan kritikal justru memaksa ilmuwan untuk terlibat dalam politik. Dalam politik itulah permasalahan sosial dan masyarakat bisa terselesaikan (Teo, 2005).

Banyak paradigma dapat digolongkan dalam pendekatan teori kritikal. Diantara paradigma-paradigma itu adalah Posmodernisme, Marxisme, Feminisme, dan Poskolonialisme. Diskursus empat paradigma itu juga cukup nampak di psikologi (Teo, 2005). Ambil contoh Lev Vigotsky penyerang tradisi ilmu alam yang individualistik, Carol Gilligan penantang teori moralitas Lawrence Kohlberg yang patriarkal, dan Ignacio Martín-Baró yang membentuk teori Liberation Psychology. Meski berbagai paradigma ini melihat dari berbagai sisi, namun pada intinya semua itu mengekspresikan ketidakpuasan terhadap penguasa. Penguasa menancapkan cakarnya dalam berbagai bidang, termasuk juga ilmu pengetahuan. Bagi Marxist, penguasa ilmu pengetahuan adalah kelompok dan jaringan pemilik modal. Bagi Feminist, penguasa ilmu pengetahuan adalah perspektif laki-laki. Bagi Postcolonialist, penguasa ilmu pengetahuan adalah teori-teori Amerika dan Eropa. Bagi Postmodernist, penguasa ilmu pengetahuan adalah narasi besar yang menguasai bahasa.

Jika hukum alam dan unifikasi pengetahuan adalah ambisi dari positivisme, teori kritikal dan konstruktivisme sosial memandang ambisi tersebut sebagai suatu hal yang naïf. Unifikasi tidak akan pernah bisa tercapai. Mengapa? Karena sains sendiri tidak terlepas dari adanya kepentingan-kepentingan personal, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Konstruktivisme sosial melihat dunia tidak sebagai realita apa adanya dengan segala hukum-hukumnya. Dibalik apa yang nampak, tersimpan makna-makna tersembunyi yang seringkali jauh lebih esensial daripada apa yang nampak. Ini dikarenakan pengetahuan tidak hanya ditemukan sebagaimana diyakini kaum positivistik. Pengetahuan dibentuk atau dibangun oleh pemaknaan dan bahasa yang terajut dalam budaya atau kelompok (Jaccard & Jacoby, 2010). Begitu pula pengetahuan dalam psikologi sosial.

  • Kenneth Gergen

Diskursus konstruktivisme sosial pada dasarnya diawali oleh Gergen yang menuliskan artikel ‘Social Psychology as history. Tulisan ini akan membahas dua artikel Kenneth Gergen yang dipublikasikan pada 1985 dan 1996. Hingga saat ini, Gergen memposisikan dirinya sebagai prajurit konstruktivisme sosial. Menurut Gergen, konstruktivisme sosial adalah orientasi yang menekankan pada beberapa asumsi (Gergen, 1985). Asumsi pertama: apa yang kita ketahui dan alami di dunia ini bukanlah produk induksi atau pengujian hipotesis; melainkan hasil pemaknaan kita sendiri. Praktik sains obyektif – universal yang diagung-agungkan positivis tidak lebih merupakan hasil pemrosesan kategori yang relatif (tergantung konteks budaya). Sebagai contoh, dalam pendefinisian suatu konsep dan hasil observasi, seseorang dibatasi oleh bahasa dan konvensi tempat ia mengeluarkan definisi itu. Jika bahasa tidak mampu menangkap realitas observasi itu, maka pemaknaan yang muncul pun akan berbeda dengan realitas yang sesungguhnya. Maka dari itu, pengetahuan pasti telah ditranslasi terlebih dulu oleh si pemroses (ilmuwan). Ini bertolak belakang dengan pandangan positivis. Bagi positivis, pengetahuan adalah hasil obyektif yang betul-betul merefleksikan realita dunia.

Asumsi kedua: bahwa istilah-istilah mengenai dunia merupakan produk dari sejarah atau kesepakatan antar manusia. Pemahaman mengenai dunia bukanlah pemahaman apa adanya, melainkan pemahaman yang dikonstruksi oleh kelompok-kelompok atau individu-individu tertentu. Pemahaman ini bisa berbeda-beda tergantung kesepakatan yang telah disimpulkan. Ini tergambar dari betapa banyaknya variasi dalam menggambarkan sebuah konsep psikologi. Ambil contoh kata remaja. Tidak semua budaya mendefinisikan remaja sebagai seseorang yang berada pada tahap usia 10-20 tahun. Ada budaya yang justru tidak memiliki definisi remaja sama sekali. Remaja dianggap sama dengan anak-anak.

Asumsi ketiga: bahwa pemahaman yang berlaku bergantung dari proses sosial yang terjadi sebelum pemahaman itu muncul. Suatu konsep tidak berdiri secara obyektif dan natural. Ia telah melalui berbagai tahapan komunikasi, negosiasi, konflik, dan persuasi. Di awal telah diberikan contoh hasil riset mengenai rokok yang didasari oleh kebutuhan pengusaha rokok. Bagaimana jika ternyata hasil riset menunjukkan rokok tidak punya dampak positif? Yang terjadi mungkin saja perombakan besar-besaran terhadap metodologi riset dan tentu saja riset itu tidak akan pernah dipublikasikan oleh si pengusaha.

Asumsi keempat: bahwa pemahaman yang berlaku terikat dengan aktivitas manusia yang lain. Ada makna ganda dari suatu konsep yang muncul. Ambil contoh seorang ilmuwan yang mewawancarai orang yang telah mencoba bunuh diri berkali-kali (sebut saja namanya A). Suatu ketika A berkata, “Haduh! Mau mati saja saya”. Ilmuwan itu mungkin akan menangkap bahwa maksud A adalah bahwa ia ingin benar-benar mati. Padahal ia hanya bercanda. Akan tetapi, si ilmuwan bisa saja melaporkan interpretasinya sebagai suatu hal yang berbeda. Alih-alih ia menulis bahwa si A bercanda, ia akan menulis bahwa pemikiran bunuh diri masih ada pada si A. Tentu saja ini akan mempengaruhi teori yang dibangun oleh si ilmuwan. Terlebih lagi ini juga akan mempengaruhi para pembacanya. Contoh lainnya adalah teori Lawrence Kohlberg mengenai moralitas. Secara implisit, temuan Kohlberg memberikan pemahaman bahwa laki-laki lebih bermoral daripada perempuan. Pada kenyataannya Kohlberg tidak bermaksud demikian. Akan tetapi karena konsep dan maknanya terikat dengan jaringan aktivitas manusia, maka interpretasi terhadap hasil studi Kohlberg itu mengarah pada seksisme.

Gergen (1985) beranggapan bahwa psikologi yang dominan adalah psikologi dengan orientasi positivisme. Ini merupakan gaya Amerika yang cenderung pragmatis. Gaya ini juga menekankan individu secara terpisah dari entitas lain. Pada gaya kognitivisme, kognitif individu dipandang sebagai komputer atau mesin. Sebagaimana yang kita tahu, komputer atau mesin berjalan independen sesuai program yang telah diberikan kepadanya. Analogi ini dianggap tidak merepresentasikan karena pada dasarnya komputer atau mesin tidak memiliki kebudayaan dan pemaknaan. Individu terikat dengan struktur dan sistem sosial yang ada dalam ruang dan waktu.

Lalu seperti apa psikologi sosial dalam angan-angan Gergen? Dalam paper yang berjudul Social Psychology as Social Construction: The Emerging Vision, Gergen (1996) menolak mentah-mentah perspektif eksperimental yang positivistik dalam psikologi sosial. Ia menyatakan:

Much of the above enthusiasm depends on the belief that knowledge accumulates: each experiment can add to the previous and the accretion of findings gives us an improved fix on the realities of social life. But what if social life is not itself stable; what if social patterns are in a state of continuous and possibly chaotic transformation? To the extent this is so, then the science does not accumulate knowledge; its knowledge represents no more than a small and perhaps not very important history of college student behavior in artificial laboratory settings. (Gergen, 1996 pg. 3)

Pada kenyataannya, akumulasi pengetahuan hanyalah merupakan idealisme dari psikologi dengan gaya eksperimental. Perspektif eksperimental tidak menyadari bahwa dunia itu jauh lebih acak dan tidak stabil dibandingkan kondisi laboratorium. Oleh karena itu, psikologi dengan gaya eksperimental hanya akan memberi pemahaman yang tidak penting mengenai manusia itu sendiri. Manusia di laboratorium tidaklah sama dengan manusia di konteks aslinya, yaitu budaya. Lalu apa gunanya memahami manusia laboratorium dan memasukannya dalam jurnal-jurnal ilmiah apabila fenomena tentang manusia itu sudah tidak sama? Terlebih lagi, apabila hasil studi dipublikasikan, tidakkah ini juga akan membentuk sejarah dan mengubah manusia itu sendiri?

Sebagaimana diyakini teori kritikal pada umumnya, jalan keluar dari masalah diatas adalah dengan memberlakukan sains hermeneutik atau ilmu interpretasi teks. Produk atau artifak kebudayaan merupakan bahan analisa untuk mendapatkan pemahaman mengenai manusia. Namun masalah dari pendekatan ini adalah: bagaimana interpretasi itu dilakukan? Bagaimana cara untuk benar-benar mengetahui apa yang dimaksud penulis teks atau produsen? Bagi Gergen, interpretasi makna tidak didapatkan dari pengetahuan soal riset dan temuan. Interpretasi makna didapatkan dalam proses negosiasi makna dalam komunitas. Gergen (1996) melanjutkan dengan memberikan metodologi untuk ilmu konstruktivis. Caranya: 1. Bawa ide-ide yang menantang dan menarik kepada konteks aslinya, 2. Mencari pola-pola dari peristiwa signifikan dalam masyarakat.

  • Vivien Burr

Psikologi kepribadian mendapatkan tantangan secara ontologis dari tokoh bernama Vivien Burr. Sebagai orang yang berada dalam pandangan konstruktivisme sosial, Vivien Burr telah mulai mengajarkan pandangan ini kepada mahasiswa-mahasiswa di kampusnya. Untuk mempermudah tujuan pengajaran tersebut, ia menuliskan buku An Introduction to Social Constructionism. Bagi Burr, tidak ada satu definisi-pun yang mampu menggambarkan konstruktivisme sosial secara utuh. Oleh karena itu, ia menciptakan beberapa karakteristik yang menggambarkan konstruktivisme sosial.

Karakteristik pertama adalah: Konstruktivisme sosial menolak pengetahuan yang taken-for-granted (Burr, 1995). Seringkali dalam psikologi kita menerima begitu saja pengetahuan yang kita dapat dari riset, publikasi, jurnal, dan seterusnya. Sebagai contoh, saat ada peneliti membagi konstruk sikap berdasarkan dua komponen, maka itulah yang orang-orang anggap sebagai kebenaran secara alamiah. Padahal, itu adalah konsepsi yang telah dikonstruksi oleh si peneliti. Konsepsi ini tidak bisa diterima begitu saja dalam semua konteks ruang dan waktu. Konsepsi si peneliti itu adalah suatu hal yang telah mendapatkan pengaruh sejarah dan budaya. Dari sini kita bergerak ke karakteristik berikutnya.

Karakteristik kedua dari konstruktivisme sosial adalah pentingnya spesifikasi sejarah dan kebudayaan (Burr, 1995). Apa maksudnya? Adanya budaya-budaya yang berbeda dengan sejarah yang berbeda pula merefleksikan cara pandang terhadap dunia yang bervariasi. Meskipun konsepnya sama, biasanya ada perbedaan dalam memandang konsep itu. Ambil contoh soal ‘kecantikan’. Positivisme memiliki hasil riset yang mendukung bahwa persepsi kecantikan itu universal. Seseorang yang dianggap cantik adalah yang memiliki wajah simetris dan average (Grammer & Thornhill, 1994). Dimanapun orangnya, kriteria ini seharusnya akan sama. Pada kenyataannya, wajah simetris dan averageness mungkin bukan sesuatu yang dianggap penting di berbagai kebudayaan. Ada budaya-budaya yang menganggap kecantikan berasal dari aspek-aspek yang lain dan ini sifatnya relatif. Tidak hanya itu, kecantikan juga dipengaruhi oleh aspek waktu. Kecantikan di masa kini berbeda dengan kecantikan di masa pra-revolusi industri. Ini menandakan bahwa budaya mempengaruhi konsep kecantikan itu sendiri.

Karakteristik berikutnya: pengetahuan dibentuk dan dipelihara oleh proses sosial. Positivisme beranggapan bahwa pengetahuan ada di dunia dan dapat langsung diunduh. Bagi konstruktivisme sosial, ini tidak masuk akal karena tidak mungkin pengetahuan tidak disaring oleh proses sosial. Apa yang kita anggap sebagai kebenaran bukanlah observasi obyektif, melainkan hasil interaksi dimana orang saling berhubungan satu sama lain (Burr, 1995). Karakteristik terakhir adalah: konstruktivisme sosial percaya bahwa pengetahuan dan penyelesaian masalah sosial berjalan beriringan. Oleh karena itu sains murni yang obyektif tidak masuk akal dalam kerangka konstruktivisme sosial. Sains apapun pasti memiliki ilmplikasi terhadap kehidupan sosial dan sejarah. Pengetahuan sekecil apapun berdampak mengarahkan tindakan tertentu.

Psikologi kepribadian merupakan bidang yang dikritik oleh Burr. Secara tradisional, kepribadian didefinisikan sebagai kumpulan karakteristik atau trait seseorang yang relatif stabil dan unik (Feist & Feist, 2008). Tapi apakah ini tepat? Pendefinisian Feist dan Feist (2008) tersebut memang tepat untuk teori-teori trait seperti Big Five oleh Costa dan McCrae. Namun pendefinisian itu tidak mengakomodasi teori-teori kepribadian lainnya yang jelas-jelas tidak hanya berbicara soal disposisi stabil, melainkan juga membantah adanya stabilitas dalam kepribadian. Dengan kata lain, belum ada kesepakatan sampai hari ini mengenai apa sebetulnya kepribadian itu. Bagi Burr, perbedaan individual fisik seperti warna rambut, warna kulit, atau tinggi badan memang bisa terobservasi secara langsung. Namun bagaimana dengan perbedaan individu yang sifatnya psikologis? Ilmuwan-ilmuwan kuantitatif menamakan disposisi itu sebagai variabel laten. Artinya, ia tidak memiliki eksistensi secara fisik namun eksis secara konseptual. Mengenai hal ini, Burr (1995 pp. 15) mengatakan:

Much This suggests that the idea of ‘personality’ is one that we use in our everyday lives in order to try to make sense of the things that we and other people do. ‘Personality’ can then come to be seen as a theory (one held very widely in our society) for explaining human behaviour, and for trying to anticipate our part in social interactions with others. We could say that in our daily lives we act as if there were such a thing as personality, and most of the time we get by reasonably well by doing so. But it is a big leap from this to saying that personality really exists (in the sense of traits inhabiting our mental structures, or being written into our genetic material).

Mudahnya, Vivien Burr ingin mengatakan bahwa: kepribadian itu tidak ada. Kepribadian hanyalah konsep bentukan manusia (khususnya kebudayaan Barat). Tidak ada yang alami dari konsep kepribadian. Kepribadian tidak eksis dalam diri individu, melainkan eksis sebagai konsep yang dikomunikasikan antar individu. Oleh karena itu, kepribadian seseorang sangat bergantung pada hubungan antar individu itu. Ambil contoh X yang dianggap pemalu oleh kebanyakan orang karena tidak mau bicara di depan umum. Namun saat X berada bersama sahabat-sahabatnya, ia menjadi orang yang selalu mengambil peran sebagai pembicara di depan umum. Tidak ada sahabatnya yang menganggap X pemalu. Ini menandakan bahwa apa yang dianggap kepribadian X sangat bergantung dengan hubungan X dengan orang-orang lain. Dengan kata lain, kepribadian X adalah fungsi interaksi dan pemaknaan dari interaksi itu oleh X dan orang-orang yang berhubungan dengan X.

Kenyataan bahwa kepribadian adalah konstruksi sosial memiliki implikasinya terhadap unifikasi teori. Tidak bisa kita menciptakan hukum-hukum universal dari suatu hal yang dikonstruksi secara sosial. Seseorang tidak memiliki kepribadian yang stabil dan integral, melainkan kepribadian yang context-dependent dan dinamis. Apalagi, dikatakan oleh Gergen (1985) juga bahwa konstruksi sosial dapat mengarahkan perubahan sejarah. Dalam konteks ini, penentuan kepribadian seseorang berdasarkan hukum positif dapat memunculkan dampak terhadap diri seseorang itu sendiri. Ambil contoh orang yang mengambil tes kepribadian dan mendapatkan hasil O (openness to experience) yang rendah. Saat ia meyakini hasil tes itu, bisa jadi ia kecewa dan akhirnya berniat mencoba berbagai hal-hal yang baru. Orang-orang mungkin akan menilai dia memiliki openness tinggi. Tapi saat ia tidak meyakini hasil tes itu, ia tidak akan bereaksi apa-apa terhadap tes itu. Contoh serupa juga bisa ditemui dalam ilmu politik. Saat diprediksi calon A akan menjadi presiden berdasarkan survei, calon B akan mengerahkan segenap tenaga untuk mengalahkan calon A. Ternyata akhirnya calon B yang terpilih. Begitu pula dalam ilmu ekonomi. Saat muncul prediksi bahwa terorisme menyebabkan kerugian pasar, yang terjadi malah tidak ada kerugian karena pasar itu sendiri telah membentuk formasi penangkal kerugian (karena pengetahuan itu sendiri).

Positivisme: Hanya yang “Ada” yang  Bisa Dipercaya

Men are not allowed to think freely about chemistry and biology: why should they be allowed to think freely about political philosophy?”

– Auguste Comte

Positivisme merupakan dasar filsafat ilmu yang dikembangkan oleh filsuf-filsuf dari Lingkaran Vienna (secara khusus oleh Moritz Schlick) dan Sir Karl Popper. Karena ia mendasari dirinya pada hukum ‘positif’ (positif berarti eksis atau ada), maka yang bisa diyakini sebagai kebenaran atau realitas adalah sesuatu yang bisa diverifikasi dan diobservasi melalui induksi. Saat suatu klaim dapat diverifikasi atau terbukti dalam alam empiris, maka klaim tersebut kemngkinan benar. Karl Popper tidak setuju. Bagi Popper, konfirmasi bukanlah esensi dari positivisme. Esensi yang lebih penting adalah diskonfirmasi. Para peneliti seharusnya berkutat pada praktik saling membantah atau memfalsifikasi teori-teori mereka. Dengan cara ini, suatu klaim dapat selalu diujikan universalitas-nya. Meski muncul kritik-kritik terhadap pandangan ini, falsifikasi menjadi karakteristik penting dari ilmu pengetahuan. Sampai sekarang, sulit untuk melepaskan falsifikasi dari sains itu sendiri.

Meski gaya positivisme menekankan falsifikasi empirik, namun gaya ini menekankan juga pentingnya logika dalam bangunan sains. Suatu klaim yang dianggap benar haruslah sesuai dengan proposisi-proposisi logika. Dengan kata lain, tidak bisa orang seenaknya menjustifikasi klaimnya apabila premis-premis logikanya tidak tepat secara hukum positif. Sebagai contoh, pernyataan “saya bisa terbang ke Bekasi memakai sayap apabila tidak ada orang yang melihat saya” adalah pernyataan yang menyalahi proposisi logis. Tidak ada cara membuktikan dan memferivikasi pernyataan tersebut.

Bagi positivisme, mematuhi proposisi logis akan membuat sains menjadi lebih sistematik (Proctor & Capaldi, 2006). Dengan sistematisasi semacam ini, akan memudahkan bagi sains untuk memperoleh unifikasi atau kesatuan hukum alam universal. Ini merupakan ambisi dari positivisme. Ambisi ini nampak dalam tradisi psikologi behaviorisme dan psikologi eksperimental yang mengagungkan kontrol ketat dan observasi terstruktur. Sebetulnya dalam psikologi sosial kontemporer, ada banyak tokoh dengan pelbagai teori yang merepresentasikan gaya positivisme. Namun disini akan dijelaskan teori mereka yang secara khusus membantah argumen bahwa konsep apapun hanyalah bentukan manusia (konstruktivisme sosial).

  • Steven Pinker

Mungkin di psikologi tidak ada seorangpun yang begitu besar pengaruhnya dalam ilmu kognisi bahasa selain Steven Pinker. Sebagai seorang dengan pandangan evolusionistik, Pinker percaya bahwa manusia memiliki esensi biologis (nature) yang deterministik. Esensi tersebut menentukan pola kerja mind dan tingkah laku manusia. Dengan pandangan tersebut, Pinker menulis buku (yang telah meraih banyak penghargaan) berjudul Blank Slate: The Modern Denial of Human Nature pada 2002. Dalam buku itu, Pinker membela ilmu pengetahuan dengan pandangan nature (esensialisme). Ia menantang pandangan-pandangan nurture yang secara dogmatik tidak menerima esensi biologi manusia. Meski demikian, Pinker tidak pula dogmatik dalam membela pandangan nature. Bagi Pinker kedua pandangan memiliki elemen kebenarannya masing-masing. Akan tetapi, pembelajaran dan konstruksi sosial di budaya (nurture) tidak dapat terjadi tanpa adanya mind yang biologis.

Pinker (2002) merangkum tiga kritik terhadap esensi biologi pada manusia. Kritik yang relevan dalam pembahasan disini adalah kritik Blank Slate. Kritik ini menyebutkan bahwa mind esensinya bukan merupakan warisan biologis. Sebagaimana dikatakan dalam filosofi Tabula Rasa oleh John Locke, manusia terlahir seperti kertas putih. Dunia adalah tempat tinta ditorehkan dalam kertas itu. Pada kenyataannya, praktik-praktik psikologi diwarnai anggapan seperti ini. Anak yang nakal pasti karena pola asuh orangtuanya. Laki-laki meminang perempuan (bukan sebaliknya) karena itu adalah peran yang disosialisasikan kepadanya. Bagi Pinker, keyakinan-keyakinan yang mendasari semua itu bagaikan sekte yang sulit ditaklukan. Bahkan selayaknya sebuah sekte, mereka takut dengan anggapan berlawanan bahwa biologi manusia lebih berpengaruh.

Kritik Blank Slate merupakan kritik yang dipegang oleh posisi konstruktivisme sosial. Tidak ada yang alamiah karena konsep apapun hanyalah bentukan kelompok dan budaya. Bahkan mind sendiri harus dipertanyakan eksistensinya karena bisa jadi ia hanya berada di kepala orang-orang dalam konteks tertentu saja. Orang-orang konstruktivisme sosial sudah sejak lama menentang hukum-hukum biologis universal yang melekat pada manusia. Bagi konstruktivisme sosial, argumen biologisme bisa disalahgunakan. Jika orang terlahir memiliki inteligensi tinggi, maka konsekuensinya ia akan lebih diperhitungkan masuk bangku kuliah daripada orang yang memiliki inteligensi rendah. Atau jika masuk ke isu yang lebih sensitif, orang kulit putih diklaim secara biologis lebih intelek daripada orang kulit hitam. Perempuan lebih buruk dalam matematika daripada laki-laki. Klaim biologisme semacam itu sungguh tidak adil.

Namun Pinker menganggap ketakutan soal ketidakadilan adalah argumen yang bahkan lebih berbahaya daripada posisi biologis. Apabila manusia dilihat hanya dari aspek nurture semata, maka dampaknya cukup destruktif dalam berbagai bidang. Sejarah telah membuktikan hal ini. Orangtua bisa dianggap penyebab utama yang harus disalahkan dari perilaku anak, psikopat (yang diduga memiliki kelainan neurologis) dibebaskan, dan orang-orang dengan disabilitas tidak boleh mendapat perlakuan berbeda.

Jalan keluar dari masalah-masalah semacam itu ada pada ilmu kognitif, genetika, dan psikologi evolusi. Biologi tidak mendiskriminasi dan membuat ketidakadilan. Ia justru memberikan pemahaman lebih baik mengenai manusia. Konsekuensinya justru ketidakadilan dapat dihindari. Sains obyektif (positivistik) adalah pendekatan yang ideal karena ia hanya mau menerima teori yang sudah terbukti dalam pengujian. Pendekatan lain adalah pendekatan primitif yang tidak berbeda dengan intuisi orang awam. Intuisi inilah yang harus dihindari dalam pemahaman mengenai fenomena. Hanya dari pemahaman yang teruji, kita benar-benar bisa yakin bahwa apa yang kita lakukan memang valid dan ‘benar’. Meski behaviorisme juga memiliki nilai-nilai ilmiah yang obyektif dan rigid, Pinker (2002) menolak behaviorisme yang juga mengakar pada tradisi Lockian. Sejak revolusi kognitif pada 1950-an, perilaku manusia sudah tidak lagi dianggap sebagai kumpulan stimulus – respons. Manusia memiliki kecenderungan biologis dimana perilaku adalah produk organisme, gen, dan mekanisme mind.

Kesimpulan

Dua posisi dengan perdebatan yang tak kunjung berakhir nampaknya masih akan mewarnai disiplin ilmu psikologi (khususnya psikologi sosial). Melalui pembahasan yang sudah kita lewati, dapat disimpulkan bahwa konstruktivisme sosial adalah pendekatan yang berbasis relativitas kebudayaan. Ia berangkat dari nilai-nilai posmodernisme dan berbagai paradigma kritikal lainnya. Gergen beranggapan bahwa psikologi sosial harus menjauh dari tradisi eksperimental dan mendekati tradisi hermeneutik. Burr beranggapan bahwa psikologi kepribadian berkutat pada konsep yang nihil dan belum tentu memang ada eksistensinya. Sementara itu di alam positivisme, relativis tidak mendapatkan tempat. Hukum-hukum universal dan obyektif adalah kunci untuk memahami dunia. Pinker dengan sangat baik telah memaparkan bahwa universalitas biologi dapat menyelesaikan masalah-masalah yang menjadi ketakutan kaum kritikal.

Apakah memang dunia memiliki hukum-hukum yang terlepas dari kehadiran kita? Ataukah sebetulnya dunia ini memang hanya bentukan manusia semata? Tujuan tulisan ini bukan untuk mengevaluasi kedua pandangan diatas. Meski demikian, kita mungkin mendukung salah satu posisi diatas. Yang mana posisi dirimu?

Daftar Pustaka

Burr, V. (1995). An introduction to social constructionism. New York, NY: Routledge.

Feist, J., & Feist, G.J. (2008). Theories of personality (7th Ed.). New York, NY: McGraw-Hill.

Gergen, K.J. (1985). The Social Constructionist Movement in Modern Psychology. American Psychologist, 40 (3).

Gergen, K.J. (1996). Social Psychology as Social Construction: The Emerging Vision. The Message of Social Psychology: Perspectives on Mind in Society (Eds. C. McGarty and A. Haslam) (1996) Oxford: Blackwell

Grammer, K., & Thornhill, R. (1994). Human (homo sapiens) facial attractiveness and sexual selection: The role of symmetry and averageness. Journal of Comparative Psychology, 108 (3): 233-242.

Jaccard, J., & Jacoby, J. (2010). Theory construction and model-building skills: A practical guide for social scientists. New York, NY: The Guilford Press.

Pinker, S. (2002). The blank slate: Modern denial of human nature. Viking.

Proctor, R.W., & Capaldi, E.J. (2006). Why science matters. Malden, MA: Blackwell Publishing.

Teo, T. (2005). The critique of psychology: From Kant to postcolonial theory. New York, NY: Springer Science+Business Media Inc.