Tags

, , , , , , ,

Dalam kisah apapun, kita akan menemui arketipe yang menggambarkan kejahatan yang dilakukan seseorang. Kejahatan yang digambarkan bisa bermacam-macam. Ada kejahatan oleh raja karena menindas rakyat (contoh: kisah Robin Hood), kejahatan karena tidak menghormati orang yang dianggap harus dihormati (contoh: kisah Malin Kundang), sampai kejahatan karena perbuatan yang tidak suci (contoh: kisah dalam film Rosemary’s Baby). Carl Jung, seorang psikoanalis dan psikiater dari Swiss menyebut arketipe-arketipe semacam itu sebagai The Devil atau Iblis (Feist & Feist, 2009).  Dalam berbagai kisah, The Devil harus ditumpas karena menyebabkan berbagai keburukan dalam kehidupan manusia. Pibadi yang bermoral (biasanya dimiliki oleh arketipe lawan The Devil, yaitu The Hero) adalah kunci dalam membasmi kejahatan-kejahatan di dunia.

Studi moral manusia merupakan topik yang selalu seksi sepanjang sejarah manusia. Jauh sebelum psikologi terbentuk sebagai ilmu, filsafat telah mendalami topik ini sebagai sebuah disiplin yang disebut Etika (filsafat mengenai nilai-nilai yang baik dan yang buruk). Secara filosofis (Bertens, 2005), ada berbagai sistem dalam memandang perilaku bermoral. Ada yang melihatnya dari sisi kebaikan untuk orang banyak (utilitarianisme), ada yang melihatnya dari sisi kewajiban moril individu (deontologi), ada yang melihatnya dari sisi kesenangan atau kepentingan pribadi (hedonisme dan epicureanisme). Setiap sudut pandang yang disebutkan memiliki kelebihan dan kekurangannya dalam menjelaskan moralitas individu. Sebagai contoh, jika yang disebut kebaikan adalah keuntungan bagi orang banyak, bagaimana moralitas ini menjelaskan penindasan pihak mayoritas terhadap minoritas? Jika yang disebut kewajiban moril itu menyebabkan dampak negatif bagi orang banyak, bagaimana ia bisa disebut bermoral? Sampai sekarang tidak ada kesepakatan mengenai suatu sistem tunggal dalam memandang moralitas manusia. Namun Jonathan Haidt, seorang psikolog sosial dari NYU menyatakan bahwa sistem tunggal memang tidak ada. Riset ekstensif-nya tentang moralitas membawanya menelurkan paradigma teori sendiri.

Biografi Jonathan Haidt

Jonathan Haidt lahir di New York (Jenkins, Jr., 2012) pada 19 Oktober 1963. Ia mendapatkan gelar Bachelor of Arts dalam Filsafat di Yale University. Ia kemudian melanjutkan pendidikan doktoral-nya di Psikologi University of Pennsylvania. Di University of Chicago, ia melanjutkan studi Psikologi Budaya sebagai postdoctoral fellow. Haidt tertarik dengan teori psikologi positif yaitu psikologi yang terfokus pada perkembangan manusia ke arah positif (Haidt, 2015). Dari ketertarikannya ini ia menelurkan buku The Happiness Hypothesis: Finding Modern Truth in Ancient Wisdom. Namun karya terbesarnya yang memperoleh gelar New York Times Bestseller adalah The Righteous Mind: Why Good People are Divided by Politics and Religion yang diterbitkan pada 2012. Dalam psikologi sosial, ia terkenal sebagai sosok yang membawa perspektif baru dalam studi moralitas, dengan teori intuisi moral-nya. Saat ini Jonathan Haidt menjabat sebagai profesor dalam Kepemimpinan Etis di New York University. Ia juga secara aktif menjadi pembicara dalam berbagai kesempatan. Ia juga telah memperoleh berbagai penghargaan seperti top 100 global thought leaders oleh Gottlieb Duttweiler Institute        dan Top 100 global thinker oleh Foreign Policy Magazine (Haidt, 2015).

Asumsi Dasar

Meski sulit sekali untuk merumuskan sistem moral universal, studi oleh psikolog Lawrence Kohlberg (1981) memandang moralitas manusia sebagai sistem universal. Dikatakan bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki moralitas semacam ini. Orang-orang ini telah mencapai tahap perkembangan tertinggi yaitu tahap pascakonvensional. Orang-orang semacam ini memegang teguh prinsip-prinsip moral. Mereka bermoral bukan karena ada standar dari orang lain atau ada ketentuan dari pihak eksternal. Mereka bermoral karena memang secara internal mereka mampu menalar dan memahami seperti apa perbuatan baik dan buruk itu. Orang-orang demikian disebut Kohlberg memiliki universal ethical principle. Apa yang dikatakan Kohlberg itu sejalan dengan asersi Bertens (2005) tentang moralitas. Moralitas pastilah universal. Jika moral itu relatif, maka kita tidak pernah bisa mengatakan bahwa ada budaya yang keliru atau immoral. Dengan kata lain, semua budaya itu baik. Jadi, kalau ada budaya yang merendahkan perempuan atau memberlakukan hukuman penyiksaan, budaya itu tidak bisa disalahkan. Bagi Bertens (2005), relativitas moral tidak tahan uji karena pada kenyataannya ada perilaku-perilaku yang tidak bisa diterima secara universal.

Namun, teori klasik Kohlberg mengenai psikologi perkembangan moral mendapat tantangan dari riset-riset psikologi sosial. Apa yang dikatakan Kohlberg tentang moralitas hanya berlaku apabila moralitas dianggap sebagai produk rasio. Indeed, Kohlberg berpendapat bahwa prinsip etis universal hanya mampu dicapai oleh penalaran yang telah berkembang dalam diri individu. Kenyataannya, riset-riset psikologi sosial telah membuktikan bahwa manusia tidak dikendalikan oleh sistem rasional. Manusia dikendalikan oleh suatu sistem yang bernama intuisi (Haidt, 2001). Sistem ini mengendalikan banyak aspek dalam kehidupan manusia. Apa yang dilakukan oleh rasio manusia adalah menjustifikasi intuisi yang muncul. Haidt (2001) menganalogikan ini sebagai the emotional dog and its rational tail; Anjing yang emosional dan buntutnya yang rasional. Jadi pemikiran bahwa rasio mengendalikan keputusan secara obyektif (sebagaimana dikatakan Kohlberg) sebetulnya hanyalah asersi yang tidak didukung bukti empiris.

Disamping itu, moralitas dalam teori Kohlberg hanya menekankan pada apa yang bernilai di kebudayaan Barat. Ini nampak saat nilai-nilai moral yang menekankan pada inses dan tabu tidak terlalu direpresentasikan oleh teori Kohlberg (Haidt, 2001). Dalam dekade terakhir, kita menyaksikan kritik terhadap rasionalitas moral oleh suatu paradigma teoretis yang disebut sebagai teori intuisi moral. Teori ini digagas oleh Jonathan Haidt, seorang Profesor di New York University dan rekan-rekannya yang juga merupakan nama besar di psikologi sosial seperti Brian Nosek dan Jesse Graham. Disini akan dibahas bagaimana Haidt membantah absolutisme moral dan mencetuskan bahwa moralitas adalah produk evolusi yang panjang dan amat dipengaruhi oleh konteks dimana seseorang berada. Singkatnya, Haidt berpendapat bahwa moralitas tidak pernah universal.

Mind bekerja seperti Kusir yang Mengontrol Gajah

Telah dikatakan sebelumnya bahwa manusia tidak menggunakan rasio secara obyektif. Intuisi lebih berperan dan ia mendahului peranan rasio. Dalam bukunya yang berjudul The Righteous Mind: How Good People are Divided by Politics and Religion, Jonathan Haidt (2012) menganalogikan ini seperti kusir (rasio) yang mencoba mengontrol gajah (intuisi). Apa yang diinginkan seekor gajah sulit dikendalikan oleh kusirnya. Apabila sang kusir ingin berbalik arah atau menentang keinginan gajah, ia harus mengerahkan segenap tenaganya dan ini belum tentu berhasil. Ambil contoh seseorang yang merasa kecewa karena suaminya selingkuh. Meski suaminya telah menjelaskan secara panjang lebar dan meminta maaf, ia memilih bercerai. Ia tetap memilih bercerai meski jauh lebih merugikan jika bercerai daripada mempertahankan hubungan. Jonathan Haidt (2012) memberikan sebuah eksperimen berpikir yang mengagumkan. Ia meminta pembaca menentukan apakah kisah berikut mengandung perbuatan tidak bermoral:

A man goes to the supermarket once a week and buys a chicken. But before cooking the chicken, he has sexual intercourse with it. Then he cooks it and eats it.

Apa yang dirasakan saat membaca kasus itu? Jijik biasanya respon yang dialami. Tapi apakah memang itu tindakan tidak bermoral? Bukankah tidak ada yang disakiti dari kejadian itu? Bagi teori Kohlbergian, tindakan tersebut tidak bisa dianggap tidak bermoral. Tidak ada yang disakiti dari kejadian tersebut dan tidak ada yang dirugikan pula. Namun demikian, rasa jijik dalam teori intuisi moral merupakan sumber dari suatu sistem moral yang disebut sebagai purity. Moralitas bukan hanya soal ketidakadilan atau kurangnya empati. Moralitas juga mengandung elemen-elemen lain dimana sumbernya berasal dari rasa hormat dan jijik. Perasaan jijik atau hormat itu merupakan gut feelings (intuisi) yang mendasari penalaran individu terhadap suatu fenomena. Pada contoh soal ayam diatas, perasaan jijik membimbing individu untuk merasionalisasi bahwa perilaku tersebut salah meskipun tidak ada yang disakiti atau dirugikan.

Pada dasarnya, banyak keputusan-keputusan sosial dan politik yang didasari intuisi. Dan ini mungkin bukanlah sesuatu yang buruk atau bodoh. Haidt (2012) memberikan contoh bagaimana emosionalitas berfungsi untuk moralitas. Evaluasi oleh emosi seringkali bersifat cepat dan instan. Ini merupakan mekanisme evolusi yang membuat kita terhindar dari bahaya dan ancaman. Ambil contoh saat kita melihat ada orang yang membawa pisau dengan bercak merah di tengah hutan. Intuisi kita membentuk keputusan dan evaluasi terhadap orang itu. Apakah kita berespon secara rasional disini? Tidak. Disini kita cenderung berespon secara emosional, memutuskan dengan cepat apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan diri. Begitu pula dalam pengambilan keputusan moral. Emosionalitas seringkali membimbing seseorang untuk menghindari bahaya atau kejahatan.

Moralitas bukan sekedar Caring dan Fairness

Teori-teori sebelumnya (seperti teori Kohlberg) cenderung melihat moralitas dalam perspektif “apakah seseorang menyakiti orang lain?” dan “apakah tindakan seseorang menyebabkan kerugian atau ketidak-adilan terhadap orang lain?” Bagi Jonathan Haidt (2012), moralitas semacam ini adalah moralitas pada orang-orang WEIRD. Tapi kata WEIRD disini tidak bermakna orang-orang aneh (meskipun memang mereka deviasi dari populasi manusia secara keseluruhan), melainkan suatu abreviasi dari Western, Educated, Industrialized, Rich, dan Democratic. Artinya, moralitas yang hanya menekankan aspek tidak menyakiti dan tidak merugikan orang lain hanya dianut segelintir orang saja yaitu orang-orang di Kebudayaan Barat, orang-orang berpendidikan, orang-orang di negara industri atau negara maju, orang-orang dari golongan ekonomi kelas menengah keatas, dan orang-orang yang mampu menikmati sistem demokrasi. Padahal, orang-orang seperti ini hanyalah minoritas di tengah-tengah dunia. Semakin WEIRD seseorang, maka semakin ia memandang dunia mengandung obyek-obyek yang saling terpisah dan tidak saling terhubung. Moralitas Caring dan Fairness cenderung berguna saat orang-orang dilihat sebagai individu yang saling terpisah namun tidak berguna saat orang-orang dilihat sebagai individu yang terhubung satu sama lain.

Lalu apa saja yang disebut fondasi-fondasi moral? Haidt beranggapan bahwa ada enam indera perasa moralitas.. Pertama, sebagaimana dinyatakan sebelumnya adalah fondasi Care/Harm. Bayangkan seseorang yang memperkosa dan membunuh anak kecil yang tidak bersalah. Apa yang dirasakan? Fondasi caring menentukan apakah seseorang tidak menyukai orang yang menyakiti sesama dan kenapa seseorang menyukai orang yang menolong sesamanya. Secara evolusi, akar dari moralitas ini adalah insting ibu untuk melindungi anaknya. Namun tidak hanya itu, empati terhadap orang yang disakiti juga dialami terhadap korban-korban dari berbagai kelas bahkan spesies. Moralitas ini adalah moralitas yang dipegang teguh oleh para aktivis kemanusiaan dan perlindungan hewan. Premis utama dari moralitas Caring adalah: janganlah menyakiti orang lain.

Fondasi berikutnya adalah fondasi Fairness/Cheating. Nilai ini membedakan orang-orang yang sangat peduli dengan keadilan dan kesetaraan dari orang-orang yang berlaku curang. Fenomena terkait fondasi ini mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Ambil contoh saat kita mengantre untuk membeli tiket kereta. Apakah ada orang yang menyelak antrean itu? Apakah reaksimu saat melihat orang menyelak antrean? Jika seseorang memegang nilai moral fairness yang teguh, maka ia akan lebih kuat mempersepsikan tindakan itu sebagai kecurangan dan ketidakadilan daripada orang yang tidak memegang nilai fairness. Di Indonesia sendiri, nampak sering kita temui orang yang menyelak antrean mobil di U-turn pada jalan raya. Atau tidak asing lagi bukan kasus dimana guru-guru justru mendorong siswa untuk berperilaku curang saat menghadapi ujian nasional?

Fondasi ketiga adalah Loyalty/Betrayal. Ini yang mendasari kenapa seseorang menyukai orang yang setia terhadap kelompok dan membenci orang yang mengkhianati kelompok sendiri. Fondasi moral ini terkait dengan seberapa kohesif suatu kelompok. Dalam konteks-konteks seperti militer, kepolisian, agen negara, dan partai politik, nilai-nilai kesetiaan biasanya sangat ditekankan. Pada tradisi intelijen, orang yang tidak mampu menjaga rahasia negara dan membocorkan rahasia itu kepada musuh mungkin akan sangat dibenci bahkan sampai dibunuh. Pada konteks militer seperti TNI, kesetiaan terhadap negara adalah segala-galanya. Nampaknya, fondasi moral ini lebih umum muncul di laki-laki daripada perempuan.

Berikutnya, fondasi keempat yaitu Authority/Subversion. Ingat kasus Presiden Jokowi yang secara implisit disindir oleh Megawati, ketua partai PDI karena dianggap tidak menghormati dirinya? Kasus ini menggambarkan moralitas dimana seseorang diharapkan menghormati pihak otoritas. Nilai moral ini mendasari kenapa seseorang menyukai masyarakat yang terstruktur secara hierarkis dan membenci kekacauan. Ini juga menjelaskan moralitas dimana perempuan diharapkan menghormati laki-laki, anak diharapkan menghormati orangtua, atau individu diharapkan tidak menciptakan kekacauan dari suatu sistem sosial. Meski nampaknya ini menjadi asal muasal opresi atau penindasan, tapi keteraturan sangat menguntungkan bagi kelompok daripada kekacauan. Stabilitas lebih terjamin dalam suatu struktur sosial daripada ketidakteraturan.

Fondasi kelima adalah Sanctity/Degradation. Fondasi ini mendasari kenapa seseorang membenci kontaminasi terhadap tubuh atau struktur sosial (misal: virus atau dosa) dan menyukai kebersihan (baik secara fisik maupun secara sosial). Haidt (2012) memberikan contoh yang luar biasa tepat untuk menggambarkan moralitas ini:

On the evening of March 9, the two men made a video to prove that Brandes fully consented to what was about to happen. Brandes then took some sleeping pills and alcohol, but he was still alert when Meiwes cut off Brandes’s penis, after being unable to bite it off (as Brandes had requested). Meiwes then sautéed the penis in a frying pan with wine and garlic. Brandes took a bite of it, then went off to a bathtub to bleed to death. A few hours later Brandes was not yet dead, so Meiwes kissed him, stabbed him in the throat, and then hung the body on a meat hook to strip off the flesh. Meiwes stored the flesh in his freezer and ate it gradually over the next ten months. Meiwes was ultimately caught, arrested, and tried, but because Brandes’s participation was fully voluntary, Meiwes was convicted only of manslaughter, not murder, the first time the case went to trial.

Meski kekerasan terjadi pada kasus ini, Brandes sadar dan menyetujui (memberikan consent) pada apapun yang dilakukan Meiwes terhadapnya. Setiap orang mungkin bebas menentukan apakah ia mau memilih mati dengan cara apapun. Jadi kita tidak bisa mengatakan bahwa ia menyalahi aturan-aturan dari moral Caring dan Fairness. Tapi kasus diatas tetap nampaknya menyalahi suatu aturan moral. Disini, aturan moral yang dianggap telah dilanggar adalah nilai moral Sanctity. Melakukan perbuatan seperti contoh diatas sama saja dengan berbuat tidak baik kepada tubuh kita sendiri, yaitu memakan daging manusia dan bermain bersama daging itu sebelum dimakan. Jijik adalah emosi umum yang muncul saat dipaparkan kasus seperti diatas (Koleva dkk., 2012).

Fondasi keenam adalah fondasi yang tidak muncul pada teori awal Haidt tentang moralitas. Tapi fondasi ini mampu menjelaskan perbedaan antara orang-orang berhaluan politik liberal dan libertarian di Amerika Serikat (Haidt, 2012). Awalnya, diyakini bahwa orang-orang liberal memegang teguh nilai-nilai fairness dan caring yang cenderung lebih tinggi. Orang libertarian yang sangat menghargai kepentingan individu juga dianggap sama. Lalu apa bedanya dengan orang-orang libertarian? Perbedaan paling mencolok dari orang-orang liberal dan libertarian adalah isu yang didukung. Sementara orang liberal sangat peduli dengan penindasan dan kekerasan terhadap kaum tertindas, orang libertarian tidak terlalu peduli dengan isu tersebut. Bahkan, orang libertarian seringkali tidak setuju dengan kebijakan politik liberal yang membela orang miskin. Bagi orang libertarian, seseorang seharusnya mendapat apa yang mereka usahakan. Ini menandakan orang libertarian sangat menganut nilai moral fairness (Iyer dkk., 2010). Tapi orang liberal mungkin menganut fondasi moral keenam, yaitu Liberty/Oppresion. Liberal tidak menyukai penindasan oleh pihak berkuasa namun libertarian tidak terlalu mempermasalahkan hal ini.

Simpulan, Kritik, dan Riset Lanjutan

Sejauh ini, asersi Haidt dengan berbagai dukungan empiric telah membuktikan bahwa moralitas tidak bisa dipandang dari perspektif universalis. Apa yang dinyatakan perspektif universalis hanyalah merupakan moralitas WEIRD yang merupakan minoritas dari keseluruhan populasi manusia. Moralitas didasari oleh intuisi dan bukan rasionalitas. Bagaikan kusir dengan gajahnya, sulit bagi rasionalitas untuk mengekang apa yang telah disimpulkan oleh intuisi. Intuisi membimbing keputusan moral manusia dan fungsi rasionalitas adalah menjustifikasi atau merasionalisasi kesimpulan dari intuisi. Sebagaimana indera perasa (lidah) yang mampu mendeteksi berbagai macam rasa, intuisi membimbing enam rasa moral yaitu Care/Harm, Fairness/Cheating, Loyalty/Betrayal, Authority/Subversion, Sanctity/Degradation, dan Liberty/Oppresion.

Teori Haidt telah menjadi teori yang sangat terkemuka dalam studi moralitas dan telah membuka berbagai topik-topik riset. Fondasi-fondasi moral sendiri dapat diukur dengan 30-Item Moral Foundation Questionnaire (MFQ) yang telah dibuktikan keabsahannya secara psikometris (Graham dkk., 2011). Namun kritik-kritik terhadap teori Haidt juga bermunculan. Salah satunya seperti yang dikemukakan Saltzstein dan Kasachkoff pada tahun 2004. Pertama, meski Haidt mengakui adanya dual-process theory dimana ada peran intuisi dan rasionalitas, Haidt nampaknya terlalu mengedepankan intuisi dan meremehkan rasionalitas yang dimiliki manusia. Teori Haidt perlu memeriksa lebih jauh seperti apa peran intuisi dan rasionalitas dalam moral manusia. Kedua, Haidt terlalu menekankan moralitas yang bersumber dari dorongan individu untuk subversif terhadap kelompok dan mencari harmoni dalam kelompok. Tapi Haidt lupa bahwa harmoni dalam proses evolusi lebih merupakan tujuan jangka panjang (yang membutuhkan rasionalitas) daripada sekedar memenuhi kebutuhan jangka pendek (seperti obedience terhadap otoritas dan kelompok). Ketiga, Haidt seakan menganggap bahwa rasionalitas tidak mampu berkutik di hadapan intuisi. Anggapan ini sepertinya sulit dipertahankan karena rasio pada kenyataannya juga punya peranan penting dalam memutuskan tujuan akhir yang menguntungkan (lihat rational choice theory). Keempat, nampaknya anggapan bahwa moral bervariasi lewat intuisi tidak cukup lengkap. Variasi moral nampaknya juga terjadi secara rasionalitas. Orang-orang berhaluan liberal lebih mampu menjustifikasi secara rasional dilema-dilema moral daripada orang-orang berhaluan konservatif.

Bagaimana teori ini bisa digunakan dalam menjelaskan berbagai fenomena? Meski muncul kritik-kritik, teori Haidt tetap mampu menjelaskan perbedaan-perbedaan dalam haluan ideologis manusia. Jika Haidt (2012) banyak berkutat dengan urusan ideologi politik, sebetulnya ideologi keagamaan juga dapat diprediksi oleh teori Haidt. Riset-riset tentang fundamentalisme beragama. Sebagai contoh, studi oleh Young, Willer, dan Keltner (2013) berhasil membuktikan bahwa fundamentalisme beragama berasosiasi positif dengan pemrosesan moral yang bersumber dari aturan-aturan (otoritas). Contoh lainnya adalah riset oleh Johnson dkk. (2015). Mereka membuktikan bahwa jenis-jenis relijiusitas yang dimiliki individu dapat memprediksi perbedaan pada fondasi-fondasi moral yang dianut individu. Selain itu, teori Haidt juga mampu memprediksi sikap pro dan kontra terhadap isu-isu seperti aborsi, homoseksualitas, dan terorisme. Studi Koleva dkk. (2012) berhasil membuktikan bahwa perbedaan fondasi moral individu menentukan dukungan atau bantahan terhadap isu-isu tersebut. Lalu bagaimana dengan studi di Indonesia? Nampaknya, dikotomi politik haluan liberal, konservatif, dan libertarian tidak cocok diterapkan dalam konteks Indonesia. Di Indonesia, nampaknya bisa kita selidiki seperti apa fondasi-fondasi moral yang dimiliki oleh orang-orang berhaluan sekuler, moderat, dan fundamentalis. Ini merupakan topik worth pursuing.

Daftar Pustaka

Bertens, K. (2005). Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Feist, A., & Feist, J. (2009). Theories of personality. US: McGraw-Hill.

Graham, J., Nosek, B. A., Haidt, J., Iyer, R., Koleva, S., & Ditto, P. H. (2011, January 17). Mapping the Moral Domain. Journal of Personality and Social Psychology. Advance online publication. doi: 10.1037/a0021847

Haidt, J. (2015). Jonathan Haidt’s Home Page. Diakses dari URL: http://people.stern.nyu.edu/jhaidt/home.html

Haidt, J. (2001). The emotional dog and its rational tail: A social intuitionist approach to moral judgment. Psychological Review, 108(4), 814–834. http://doi.org/10.1037//0033-295X.108.4.814

Haidt, J. (2012). The righteous mind: Why good people are divided by politics and religion. New York: Pantheon Books.

Iyer, R., Koleva, S. P., Graham, J., Ditto, P. H., & Haidt, J. (2010). Understanding Libertarian Morality: The psychological roots of an individualist ideology. Unpublished Draft Version.

Jenkins Jr., H. W. (2012). Jonathan Haidt: He Knows Why We Fight. Wall Street Journal

Johnson, K.A., Hook, J.N., Davis, D.E., Tongeren, D.R.V., Sandage, S.J., & Crabtree, S.A. (2015). Moral foundation priorities reflect U.S. Christians’ individual differences in religiosity. Personality and Individual Differences.

Kohlberg, L. (1981). The philosophy of moral development moral stages and the idea of justice.

Koleva, S. P., Graham, J., Iyer, R., Ditto, P. H., & Haidt, J. (2012). Tracing the threads: How five moral concerns (especially Purity) help explain culture war attitudes. Journal of Research in Personality, 46(2), 184–194. http://doi.org/10.1016/j.jrp.2012.01.006

Saltzstein, H. D., & Kasachkoff, T. (2004). Haidt’s Moral Intuitionist Theory: A Psychological and Philosophical Critique. Review of General Psychology, 8(4): 273-282.

Young, O.A., Willer, R., & Keltner, D. (2013). “Thou Shalt Not Kill”: Religious Fundamentalism, Conservatism, and Rule-Based Moral Processing. Psychology of Religion and Spirituality 5(2): 110-115.