Tags

, , , , , ,

 

Kaum utilitarianisme berasumsi bahwa esensi dari kebaikan adalah konsekuensi positif bagi mayoritas orang. Tidak etis apabila hanya segelintir orang saja yang bisa menikmati konsekuensi positif sementara sebagian besar lainnya menderita (Bertens, 2005). Meskipun kelihatannya ini adalah prinsip mendasar dari demokrasi, suara mayoritas bukanlah suara yang selalu ‘baik’. Sejarah telah membuktikannya. Di masa kejayaan Romawi Kuno, pihak mayoritas menolak perkembangan ajaran Nasrani dan ini berujung pada pembantaian umat Kristen (King, Viney, & Woody, 2009). Di abad kegelapan, mayoritas umat beragama Nasrani Eropa tunduk pada kekuasaan gereja yang melarang perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat. Di masa itu, hanya sedikit orang yang belajar ilmu pengetahuan dan mereka seringkali dianggap penyihir atau penentang Tuhan. Bahkan, Giordano Bruno yang mencetuskan bumi bukan pusat tata surya dihukum mati oleh pihak gereja (King, Viney, & Woody, 2009). Baru-baru ini di Indonesia, minoritas Syi’ah dilarang melakukan ibadah karena adanya ketidaksetujuan dari pihak mayoritas Sunni (Huda, 2015; Lazuardi S., 2015).

Ada kalanya mayoritas menjadi tirani. Jika demikian, bagaimana mungkin ini dikatakan sebagai suatu hal yang etis? Padahal, suara minoritas bisa jadi merupakan suara berharga yang patut didengarkan. Bagaimanapun, perubahan seringkali dimulai dari hal-hal yang aneh dan tidak biasa bukan? Maka dari itu, minoritas perlu diberikan kesempatan. Untungnya, ada cara-cara dimana minoritas mampu mempengaruhi mayoritas. Kita akan membahasnya dalam tulisan ini.

Salah satu kasus dimana minoritas sepertinya bisa mempengaruhi mayoritas adalah kasus walikota terpilih London bulan Mei lalu. Terpilihnya Sadiq Khan sebagai walikota London merupakan peristiwa yang cukup mencengangkan. Bagaimana bisa seseorang dari kelompok minoritas melaju sampai ke singgasana yang tinggi? Walaupun begitu, Sadiq Khan bukan minoritas pertama yang meraih kursi kekuasaan. Di Jakarta, Indonesia, kita melihat sosok Basuki T. Purnama, sosok minoritas dari etnis Tionghoa dengan agama Nasrani. Padahal, Indonesia adalah negara Muslim dan masyarakat Tionghoa adalah etnis minoritas. Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa mereka yang bukan berada dalam posisi mayoritas juga bisa mempengaruhi pihak mayoritas. Tulisan ini akan membahas bagaimana psikologi sosial mampu menjelaskan fenomena terpilihnya pemimpin minoritas. Adapun dua teori psikologi sosial yang akan dibahas disini adalah teori minority influence yang awalnya dikembangkan oleh Serge Moscovici dan teori kontak yang pertama kali digagas oleh Gordon Allport. Namun sebelum kita melakukan analisis terhadap fenomena naiknya Sadiq Khan sebagai walikota, mari terlebih dulu kita deskripsikan kasus tersebut.

Deskripsi Kasus

Sabtu, 7 Mei 2016 seorang anak imigran dari Pakistan terpilih menjadi walikota. Bukan sembarang walikota. Ia menjadi pemimpin dari ibukota Uni Eropa, London. Sadiq Khan adalah seorang Muslim yang berasal dari partai buruh di Inggris. Pencapaiannya sebagai walikota sangat monumental mengingat Khan adalah seorang minoritas di negara yang mayoritas berhaluan sekuler dan Nasrani. Apalagi agama Islam hanya dianut oleh sekitar 12 persen warga London (Hume, 2016). Walaupun resistensi terhadap Islam masih ditemukan (Thompson, 2014), secara keseluruhan Inggris cukup toleran terhadap Islam. Dalam survei yang dirilis tahun 2015 oleh Pew Research Center, mayoritas orang-orang Inggris (72 persen) memiliki sikap yang positif terhadap Muslim (Hackett, 2015). Interaksi Inggris dengan Islam yang telah berlangsung cukup lama nampaknya menjadi faktor pendukung rendahnya sikap negatif terhadap Muslim (Turner, 2010).

Perjalanan Khan menjadi walikota bukan perjalanan yang mudah. Kampanye untuk menjadi walikota diwarnai dengan Islamofobia dari pihak oposisi. Khan tidak hanya dituduh sebagai ekstremis. Dia juga dituduh sebagai pendukung ISIS, anti-semitis, dan memiliki saudara ipar yang radikal (Khaleeli, 2016). Namun justru tuduhan-tuduhan yang dilontarkan partai konservatif (oposisi partai buruh) tersebut menjadi bumerang. Beberapa voter yang diwawancarai menyebutkan bahwa cara kampanye partai konservatif itu menjijikkan (James & Piper, 2016). Kemenangan Khan sampai detik ini masih menjadi kontroversi. Masih banyak pihak-pihak yang tidak menyetujui posisi Khan. Bagaimanapun, terpilihnya Kahn sebagai walikota London membawa pesan ke seluruh dunia bahwa Inggris adalah lentera toleransi.

Kasus Sadiq Khan Dipandang dari Teori Pengaruh Minoritas (Minority Influence)

Bagaimana sosok dari kelompok minoritas bisa menggapai suara mayoritas? Serge Moscovici mencetuskan teori minority influence untuk menjawab pertanyaan tersebut. Moscovici berangkat dari ketidakpuasan terhadap teori-teori psikologi sosial Amerika yang terlalu menekankan pada psikologi mayoritas. Adapun salah satu kritik Moscovici dilontarkan terhadap teori konformitas Asch. Eksperimen klasik oleh Solomon Asch (1955) menunjukkan bahwa orang cenderung mengubah opininya jika opini sebelumnya berseberangan dengan mayoritas. Ia mendemonstrasikannya dengan percobaan tentang tiga garis yang panjangnya berbeda. Saat partisipan ditanya mana garis yang paling panjang, partisipan cenderung mengikuti jawaban yang telah dilontarkan beberapa asisten peneliti sebelumnya. Disini, partisipan melakukan konformitas terhadap pendapat mayoritas. Bagi Moscovici, Asch terlalu menekankan minoritas sebagai pihak pasif yang seakan-akan tidak memiliki kekuatan sama sekali. Padahal, minoritas bisa menjadi pihak inisiator aktif yang mengubah opini banyak orang.

Jadi bagaimana sebetulnya minoritas bisa mempengaruhi mayoritas? Ada beberapa cara (Nemeth, 2012). Pertama, sosok minoritas harus konsisten dalam pendapat-pendapatnya. Jika ada posisi atau argumen yang didukung, maka semua itu harus reliabel dari waktu ke waktu. Sebagai contoh, kaum feminis sering dikritik karena tidak konsisten dalam memandang seperti apa perempuan seharusnya dalam masyarakat (ingat bahwa ada tiga gelombang feminisme yang semuanya saling berbantahan). Bagi Moscovici, inkonsistensi secara internal dapat membuat opini tidak diterima oleh pihak mayoritas.

Cara kedua, sosok minoritas harus menonjolkan gaya perilaku yang penuh percaya diri dan keyakinan (Nemeth, 2012). Apabila sosok minoritas sendiri ragu-ragu dengan posisi atau stance-nya, mayoritas cenderung lebih sulit untuk dipersuasi. Adapun contoh gaya perilaku yang menonjolkan kepercayaan diri adalah bersedia memegang kursi pemimpin (Moscovici & Lage, 1976) atau sekedar menyatakan opini dengan penuh keyakinan (Nemeth dkk., 1977). Bagaimanapun, kita mungkin sulit mempercayai suatu pendapat apabila orang yang menyatakannya itu sendiri tidak yakin.

Cara ketiga, sosok minoritas harus lebih menonjolkan persuasi dalam konteks privat dan laten daripada konteks publik (Nemeth, 2012). Dalam konteks publik,  jauh lebih sulit untuk mempertahankan posisi minoritas. Seringkali, konsekuensi dari mempertahankan posisi minoritas adalah: seseorang bisa dianggap tidak cerdas dan dianggap emosional (marah). Tetapi suara minoritas lebih bisa diterima dan diekspresikan saat tidak berada dalam ruang publik. Dalam studi oleh Nemeth dan Wachtler (1974), partisipan sangat tidak ingin dilihat berada dalam posisi minoritas saat berada dalam simulasi pengadilan. Tetapi saat diwawancarai seusai simulasi, partisipan justru mengubah opini-nya.

Cara keempat, perbedaan pendapat minoritas haruslah autentik (Nemeth, 2012). Jangan berbeda pendapat hanya karena memang ‘harus berbeda’. Minoritas seringkali memang tidak bisa mengubah opini mayoritas. Akan tetapi saat minoritas menyatakan pendapatnya, proses pengambilan keputusan menjadi lebih kaya dan lebih baik (Nemeth, 2012). Fakta-fakta yang sebelumnya tidak terpikirkan jadi bisa diketahui. Tidak hanya itu, saat mayoritas terekspos oleh opini minoritas, pemecahan masalah jadi lebih mengandung berbagai strategi. Juga, ada orijinalitas pemikiran saat ada opini minoritas.

Dalam kasus Sadiq Khan, kita melihat bagaimana sosok minoritas bisa meraih kursi kepemimpinan. Bagaimana cara Khan memperoleh suara mayoritas orang yang bukan berasal dari kelompoknya? Lewat teori minority influence, kita bisa mengetahui jawaban pertanyaan itu. Pertama-tama, dikatakan bahwa posisi minoritas harus konsisten. Pada kasus Khan, ia secara konsisten mempromosikan toleransi dan kesatuan di tengah warga yang berasal dari beragam identitas. Pola ini sudah nampak sebelum ia mencalonkan diri sebagai walikota. Pola ini juga nampak dari bagaimana Kahn berbeda haluan dengan kaum ekstremis Islam. Kahn secara konsisten mendukung kelompok LGBT dan menyatakan secara gamblang bahwa anti-semitisme (politik kebencian pada kaum Yahudi) seharusnya tidak mendapat tempat (Khaleeli, 2016). Bahkan dalam pidato-nya ia juga menekankan bahwa terpilihnya ia sebagai walikota bukan hanya untuk satu kaum, melainkan untuk seluruh warga London, apapun identitasnya. Selain itu, sejak lama Kahn juga merupakan pengacara pembela hak asasi manusia (Watt, 2016). Dengan posisi toleransi-nya yang konsisten, Kahn mendapatkan tempat di hati penduduk mayoritas.

Tidak hanya soal konsistensi, Kahn juga mendapatkan tempat di hati mayoritas karena faktor gaya perilaku. Kahn memiliki kepercayaan diri untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin. Kepercayaan diri akan posisinya juga nampak dari pidato-pidato yang secara tegas menekankan pandangan dan opininya (James & Piper, 2016). Kepercayaan dirinya juga nampak saat ia menyuarakan opini-opini yang anti-mainstream seperti pelegalan pernikahan sejenis (Taher, 2013) atau anjuran agar perempuan (Watt, 2016). Dengan kata lain, tidak hanya opini Khan reliabel (konsisten dari waktu ke waktu), opini-nya juga valid terbukti dari kepercayaan dirinya dalam berbagai konteks. Untuk cara ketiga yaitu persuasi dalam domain laten atau privat nampaknya sulit dianalisis. Ini dikarenakan analisis didasarkan pada pemberitaan media massa tentang Kahn. Oleh karena itu, yang bisa diketahui hanya fakta-fakta yang tampil secara publik. Namun, bisa jadi memang Kahn mampu mempersuasi mayoritas lewat kinerja dan opini-nya selama ini di ruang-ruang tertutup seperti rapat partai atau parlemen.

Dengan demikian, berpijak pada  teori minority influence, Kahn adalah sosok yang konsisten dengan perilaku yang menunjukkan sinar kepercayaan diri. Dua faktor ini membantu Kahn untuk memperoleh suara dan dukungan mayoritas bahkan dari orang-orang yang berbeda kelompok agama dan etnis sekalipun. Ini luar biasa mengingat Kahn tidak menjadi sembarang walikota, melainkan walikota dari ibukota Uni-Eropa. Apa yang bisa dipelajari dari kasus Kahn adalah: sebagai minoritas kita perlu berani menampilkan diri kita dan mempertahankan apa yang kita yakini benar. Meskipun diterpa ancaman mati dan kampanye hitam, Kahn tetap bersikukuh dengan pandangan-pandangan tolerannya terhadap berbagai identitas.

Teori minority influence bukanlah satu-satunya teori yang bisa menjelaskan kasus terpilihnya Kahn sebagai walikota. Selain sosok Kahn sendiri, kita juga harus melihat seperti apa kondisi Inggris di masa Kahn terpilih. Untuk itu, teori yang relevan sebagai senjata analisis adalah teori kontak.

Kasus Sadiq Khan dipandang dari Teori Kontak

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini dunia berada dalam kondisi penuh prasangka terhadap Muslim. Terorisme yang dilakukan beberapa aliran ekstremis memang nampaknya membentuk sikap terhadap Islam secara keseluruhan. Ada semacam ketakutan dan kecemasan terhadap Islam dimana kondisi ini menyuburkan terjadinya prasangka. Ini terjadi di Amerika Serikat (A.S.). Muslim diterpa prasangka yang berasal dari kecurigaan bahwa Islam sama dengan terorisme (Berman, 2014). Bahkan prasangka terhadap Muslim dinyatakan secara terang-terangan oleh salah satu kandidat presiden, Donald Trump (Fisher, 2015). Padahal Islam tercatat telah menempati Amerika Serikat sejak ratusan tahun silam (Manseau, 2015).

Lain halnya dengan kasus Khan di Inggris. Seorang pemimpin Muslim bisa memperoleh kekuasaan walikota.  Apa sebetulnya yang terjadi di sini? Nampaknya, perbedaan antara Inggris dan Amerika terletak pada sejarah kedua negara. Inggris sudah sejak lama menerima berbagai kepercayaan termasuk Islam untuk masuk ke negara-nya, sebagaimana juga terjadi di banyak negara-negara Eropa (Turner, 2010). Sementara itu Amerika Serikat nampaknya tidak banyak bersentuhan dengan dunia Muslim. Interaksi yang sudah cukup lama antara Inggris dengan orang-orang Muslim dapat menurunkan prasangka terhadap Muslim. Disini, mekanisme yang berperan adalah teori kontak yang digagas oleh Gordon Allport (1954).

Teori kontak menyatakan bahwa interaksi langsung yang terjadi antar kelompok dapat memperbaiki hubungan antar kelompok (lewat menurunnya prasangka). Prasangka sendiri didefinisikan sebagai sikap negatif terhadap kelompok lain atau anggota kelompok lain (Allport, 1954). Menurut Allport (1954), agar kontak bisa mengurangi prasangka maka harus ada empat kondisi yang terpenuhi yaitu: 1. Ada tujuan bersama antara ingroup dengan outgroup, 2. Adanya kerjasama, 3. Adanya status yang setara antara kedua kelompok, dan 4. Adanya dukungan dari institusi, hukum, dan norma. Puluhan tahun selanjutnya, meta-analisis oleh Pettigrew dan Tropp (2006) menemukan bahwa empat kondisi yang dikatakan Allport tidak harus selalu ada. Interaksi sendiri sudah bisa menyebabkan berkurangnya prasangka.

Adapun kondisi yang lebih penting supaya kontak efektif adalah hadirnya empati terhadap outgroup, berkurangnya kecemasan terhadap outgroup, dan adanya pengetahuan mengenai outgroup (Pettigrew & Tropp, 2008). Teori kontak adalah teori yang mendapatkan perhatian sangat besar dari berbagai disiplin ilmu sosial, karena potensinya untuk mengurangi konflik antar kelompok. Meski demikian, tidak selamanya kontak bisa berlangsung efektif. Seringkali kontak membangkitkan sikap negatif yang sudah ada sebelumnya dan menimbulkan kecemasan (Crisp & Turner, 2013). Apalagi orang cenderung lebih senang berinteraksi dengan ingroup daripada dengan outgroup (Mallett dkk., 2016).

Pada kasus Sadiq Khan, kita tahu bahwa secara keseluruhan orang Inggris memiliki sikap yang positif terhadap Muslim. Data dari Pew Research Centre menunjukkan bahwa 72 persen warga Inggris memiliki sikap yang cenderung positif terhadap Islam. Mengacu pada teori kontak, ini disebabkan adanya interaksi Islam dengan Inggris yang telah berlangsung lama. BBC (2009) mencatat bahwa Muslim pertama telah menginjakkan kakinya di Inggris pada abad ke 13. Pada masa itu, ada kerjasama antara Inggris dengan kesultanan Ottoman di Turki. Tiga abad setelahnya, tercatat banyak kaum bangsawan dan kelas menengah atas yang berpindah agama menjadi Islam. Namun baru pada abad ke-18 komunitas Muslim dalam skala besar menginjakkan kaki di Inggris. Komunitas Muslim banyak menempati kota-kota pelabuhan. Pada tahun 1950 sampai 1960, banyak imigran yang datang dari India dan Pakistan dengan identitas Muslim. Walaupun pada 1972 ada Undang-Undang yang membatasi imigran, secara keseluruhan Inggris telah banyak berinteraksi dengan dunia Islam.

Interaksi yang telah berlangsung lama dapat membentuk sikap yang muncul. Meskipun ada kekhawatiran akan terorisme dari kelompok konservatif Inggris, namun secara keseluruhan Inggris memiliki sikap bersahabat terhadap Islam. Dengan adanya sikap positif semacam ini, wajar apabila orang seperti Sadiq Khan bisa memperoleh tampuk kekuasaan yang tinggi. Walaupun Islam sendiri adalah minoritas di Inggris, tetapi interaksi Inggris – Islam dan sejarah antara keduanya membantu terjadinya hubungan yang bersahabat.

Kasus Kahn, jika dipandang dari teori kontak dapat memberikan satu wawasan. Penting bagi setiap kelompok identitas untuk saling berinteraksi dan mengenal satu sama lain. Seringkali, meskipun kita terpapar dengan berbagai identitas, kita menghindari interaksi dengan identitas-identitas lain karena adanya prasangka. Tapi siapa tahu, saat kita mencoba berinteraksi dan mengenal identitas itu, perkiraan dan ekspektasi kita bisa saja berubah. Memang ini sulit dan bisa menimbulkan kecemasan. Tapi jika kita tidak melakukannya, prasangka bisa berkembang menjadi konflik yang berujung pada diskriminasi atau bahkan kekerasan. Inggris mengajarkan kita bahwa interaksi dengan minoritas membuat kita lebih bersahabat dengan mereka.

Kesimpulan

Sadiq Khan tampil sebagai figur yang menarik perhatian dunia. Pemilihan walikota Inggris sendiri adalah peristiwa bersejarah. Tetapi saat minoritas Islam terpilih di tengah-tengah dunia yang Islamofobik, itu adalah sejarah yang penting. Tulisan ini mencoba merevelasi alasan mengapa Khan bisa sampai pada posisinya itu. Ada dua teori yang bisa menjelaskannya. Pertama, teori pengaruh minoritas. Teori ini beranggapan bahwa konsistensi dan kepercayaan diri sosok minoritas dapat mengubah opini dan sikap dari kelompok mayoritas. Kedua kualitas itulah yang ditunjukkan oleh Khan. Senjata analisis selanjutnya adalah teori kontak. Teori tersebut beranggapan bahwa interaksi antar kelompok dapat mengubah sikap dari negatif menjadi positif. Inggris telah memiliki sejarah panjang dengan Islam. Oleh karena itu, orang-orang Islam lebih diterima di tanah kerajaan itu. Termasuk juga ketika orang Islam itu menjadi pemimpin, seperti Sadiq Khan.

Daftar Pustaka:

Allport, G. (1954). The nature of prejudice. New York: Doubleday Anchor Books.

Asch, S. (1955). Opinions and Social Pressure. Scientific American, 193(5), 31-35.

Berman, R. (2014, November 14). Can Republicans Stop Obama’s Immigration Order? Diakses dari URL: http://www.theatlantic.com/politics/archive/2014/11/can-republicans-stop-obamas-immigration-order/382754/

Bertens, K. (2005). Etika. Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.

Crisp, R. J., & Turner, R. N. (2013). Imagined intergroup contact: Refinements, Debates, and Clarifications. Dalam Hodson, G., & Hewstone, M. (Ed.). Advances in intergroup contact. New York: Psychology Press.

Hackett, C. (2015, November 17). 5 facts about the Muslim population in Europe. Diakses dari URL: http://www.pewresearch.org/fact-tank/2015/11/17/5-facts-about-the-muslim-population-in-europe/

Huda, L. (2015, Oktober 24). Larang Asyura, Wali Kota Bogor Bima Arya Dianggap Berlebihan. Diakses dari URL: https://m.tempo.co/read/news/2015/10/24/078712744/larang-asyura-wali-kota-bogor-bima-arya-dianggap-berlebihan

Hume, T. (2016, Mei 7). London elects Sadiq Khan, first Muslim mayor, after ugly campaign. Diakses dari URL: http://edition.cnn.com/2016/05/06/europe/uk-london-mayoral-race-sadiq-khan/

James, W., & Piper, E. (2016, Mei 8). Labour’s Khan becomes first Muslim mayor of London after bitter campaign. Diakses dari URL: http://uk.reuters.com/article/uk-britain-politics-election-labour-idUKKCN0XX06C

Khaleeli, H. (2016, Mei 7). Sadiq Khan’s victory won’t end Islamophobia, but it offers hope. Diakses dari URL: http://www.theguardian.com/commentisfree/2016/may/06/sadiq-khan-victory-islamophobia-mayor-london

King, D.B., Viney, W., & Woody, W.D. (2009). A history of psychology: Ideas and context, 4th Ed. Boston, MA: Pearson Education Inc

Lazuardi S., I. T. (2015, Oktober 24). Ratusan Pengunjuk Rasa Bubarkan Peringatan Asyura di Bandung. Diakses dari URL: https://m.tempo.co/read/news/2015/10/24/058712608/ratusan-pengunjuk-rasa-bubarkan-peringatan-asyura-di-bandung

Mallett, R. K., Akimoto, S., & Oishi, S. (2016). Affect and understanding during everyday cross-race experiences. Cultural Diversity and Ethnic Minority Psychology, 22(2), 237–246. http://doi.org/10.1037/cdp0000032

Manseau, P. (2015). The Muslims of Early America. Diakses dari URL: http://www.nytimes.com/2015/02/09/opinion/the-founding-muslims.html

Moscovici, S. & Lage, E. (1976) Studies in social influence III: Majority versus minority influence in a group. European Journal of Social Psychology, 6, 149–174.

Nemeth, C. J. (2012). Minority Influence Theory. Dalam Lange, P. A. M., Kruglanski, A. W., & Higgins, E. T. Handbook of Theories of Social Psychology, Volume 2. London: Sage Publications Ltd.

Nemeth, C. and Wachtler, J. (1974) Creating the perceptions of consistency and confidence: A necessary condition for minority influence. Sociometry, 37, 529–540.

Nemeth, C., Wachtler, J. and Endicott, J. (1977) Increasing the size of the minority: Some gains and some losses. European Journal of Social Psychology, 7, 15–27.

Pettigrew, T. F., & Tropp, L. R. (2008). How does intergroup contact reduce prejudice? Meta-analytic tests of three mediators. European Journal of Social Psychology, 38(6), 922–934. http://doi.org/10.1002/ejsp.504

Pettigrew, T. F. (2008). Future directions for intergroup contact theory and research. International Journal of Intercultural Relations, 32(3), 187–199. http://doi.org/10.1016/j.ijintrel.2007.12.002

Pettigrew, T. F., & Tropp, L.R. (2006). A Meta-Analytic Test of Intergroup Contact Theory. Journal of Personality and Social Psychology, 90(5): 751-783.

Pew Research Center. (2016). Religious Landscape Study. Diakses dari URL: http://www.pewforum.org/religious-landscape-study/

Thompson, D. (2014, September 6). Is Britain hardening its heart against Muslims? Diakses dari URL: http://www.spectator.co.uk/2014/09/is-britain-hardening-its-heart-against-muslims/

Turner, R. H. (2010). Imagining harmonious intergroup relations. Diakses dari URL: https://thepsychologist.bps.org.uk/volume-23/edition-4/imagining-harmonious-intergroup-relations

Watt, N. (2016, April 14). Sadiq Khan says there is ‘question to be asked’ about use of hijabs in London. Diakses dari URL: http://www.theguardian.com/politics/2016/apr/14/sadiq-khan-question-to-be-asked-about-hijabs-veils-london