Tags

, , , , , , , ,

Di blog ini saya telah banyak mencantumkan artikel yang membahas filsafat positivistik dan konstruktivisme sosial. Sedikit mengulang, bagi positivisme, dimanapun kita berada seharusnya ada hukum-hukum yang bisa memprediksi gerak-gerik manusia (Proctor & Capaldi, 2006). Di sisi lain, konstruksionisme sosial percaya bahwa hukum-hukum tentang manusia hanyalah konstruksi budaya atau kelompok (Teo, 2005). Hukum tentang manusia yang dikonstruksi oleh budaya Barat tidak bisa digeneralisasi untuk seluruh manusia di kebudayaan-kebudayaan lainnya. Di Asia, isu ini mulai mencuat khususnya oleh ilmuwan-ilmuwan indigeneous dari Cina.

Dalam psikologi, teori-teori yang menjelaskan manusia kebanyakan berasal dari kebudayaan Barat. Banyak diantaranya yang nampaknya bisa menjelaskan perilaku semua orang tidak peduli darimana ia berasal. Sebagai contoh, tidak ada perbedaan kultural pada pengalaman emosi dasar dimanapun manusia berada (Shiraev & Levy, 2010). Meski demikian, ada fenomena-fenomena psikologis lainnya yang menonjolkan perbedaan orang-orang antar budaya. Pada komunitas psikologi Asia, isu ini mulai mencuat dan mulai ditekankan. Seringkali, ada perbedaan antara psikologi Asia dengan psikologi Barat (Liu, n.d.).

Bagi Liu (n.d.), tradisi orang Asia yang berbeda dengan tradisi Barat berdampak pada ontologi (esensi dari suatu hal) dan epistemologi (esensi dari pengetahuan) ilmu manusia yang juga berbeda. Liu beranggapan bahwa esensi teori-teori Asia terletak pada holisme dimana “…a tolerance of contradiction, an acceptance of the unity of opposites, and an understanding of the coexistence of opposites as permanent, not conditional or transitory, are part of everyday lay perception and thought” (Liu, n.d., pp. 217). Artinya, orang Asia tidak menekankan pada oposisi biner yang biasanya ditemui dalam ilmu pengetahuan gaya barat dan positivisme. Konsekuensinya, orang Asia cenderung menganggap pengetahuan gaya barat sebagai pelengkap daripada esensial. Padahal, jika kita ingin psikologi berguna untuk orang Asia, maka psikologi Asia harus memiliki makna esensial dan berguna untuk mereka (Liu & Ng, 2007).

profile_053492_92E36F54-9B6D-EDE5-2010825E8D781132

James Liu (gambar dari http://www.massey.ac.nz/)

Pada psikologi Asia, muncul penekanan akan dua hal, yaitu connectedness dan relationism (Liu, 2014; Liu, n.d.). Pandangan itu sendiri berakar dari Konfusianisme, filsuf besar Cina (Liu, 2014). Connectedness merupakan manifestasi dari ontologi monisme atau filsafat bahwa hal-hal esensial adalah satu kesatuan (holistik). Connectedness sendiri adalah pendefinisian obyek atau realita dunia berdasarkan hubungannya dengan konteks. Tidak seperti filsafat Barat yang senang memisah-misahkan atau mengkategorisasi sesuatu, filsafat Cina memberi penekanan pada keterhubungan. Bahwa suatu hal pasti selalu berkaitan dan memiliki dinamika dengan konteks sosial, ruang, dan waktu. Sebagai contoh, kognisi individu tidak bisa dipandang melalui hukum yang seharusnya terjadi dimanapun dan kapanpun. Kognisi individu bekerja sesuai konteks kebudayaan.

Sementara itu relationalism adalah organisasi pengetahuan dengan penekanan pada tema-tema yang saling berkaitan sehingga membentuk kesatuan holistik (Liu, 2014). Jika disimpulkan, maka kedua prinsip itu (connectedness dan relationism) ingin mengatakan bahwa pengetahuan seyogya-nya menekankan pada dinamika antar elemen daripada memisahkan elemen-elemen. Contoh pemisahan elemen-elemen yang khas pada ilmu pengetahuan Barat adalah penggunaan variabel sebagai entitas yang terpisah-pisah. Padahal, memandang sesuatu berdasarkan kebersatuan yang berhubungan alih-alih berdasarkan kategorisasi akan menghasilkan pemahaman yang berbeda.

Pandangan ini memiliki konsekuensi bagi ilmu pengetahuan sosial (psikologi) khususnya Asia. Ilmu pengetahuan seharusnya menyesuaikan dengan aksioma-aksioma yang ada dalam setiap kebudayaan non-Barat. Ini penting karena apabila ilmu pengetahuan Barat diadopsi begitu saja ke dunia Timur, dikhawatirkan pemahaman mengenai manusia tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya. Liu (2014) menyatakan bahwa seringkali psikologi Asia hanya mengikuti gaya Barat dan memberi penekanan pada ‘metodolatri’. Maksudnya, kita di Asia cenderung secara mudah menerima teori-teori barat dan ketidaksesuaian yang ditemui hanya disebabkan metodologi. Padahal, ketidaksesuaian bukan hanya karena itu, melainkan karena adanya ontologi (esensi) psikologi yang juga berbeda dengan kebudayaan Barat. Disitulah kenapa studi indigeneous psikologi Asia menjadi penting.

Untuk bacaan lebih lanjut, silahkan buka:

Liu, J. H. (n.d.). Asian Epistemologies and Contemporary Social Psychological Research.

Liu, J. H. (2014). What Confucian Philosophy Means for Chinese and Asian Psychology Today: Indigenous Roots for a Psychology of Social Change. Journal of Pacific Rim Psychology, 8, pp 35-42 doi:10.1017/prp.2014.10

Liu, J. H., & Ng, S. H. (2007). Connecting Asians in Global Perspective: Special Issue on Past Contributions, Current Status and Future Prospects for Asian Social Psychology. Asian Journal of Social Psychology.

Referensi:

Liu, J. H. (n.d.). Asian Epistemologies and Contemporary Social Psychological Research. Dalam

Liu, J. H. (2014). What Confucian Philosophy Means for Chinese and Asian Psychology Today: Indigenous Roots for a Psychology of Social Change. Journal of Pacific Rim Psychology, 8, pp 35-42 doi:10.1017/prp.2014.10

Liu, J. H., & Ng, S. H. (2007). Connecting Asians in Global Perspective: Special Issue on Past Contributions, Current Status and Future Prospects for Asian Social Psychology. Asian Journal of Social Psychology.

Proctor, R.W., & Capaldi, E.J. (2006). Why science matters. Malden, MA: Blackwell Publishing.

Shiraev, E., & Levy, D.A. (2010). Cross-cultural psychology: Critical thinking and contemporary applications (4th Ed). Boston, MA: Pearson Education.

Teo, T. (2005). The critique of psychology: From Kant to postcolonial theory. New York, NY: Springer Science+Business Media Inc.