Tags

, , , , , , , ,

Diambil dari tugas Ujian Akhir Semester untuk Psikologi Lintas Budaya Lanjut (Advanced Cross-Cultural Psychology)

Ada semacam anggapan bahwa Eropa adalah benua paling sekuler. Survey WIN Gallup (Akkoc, 2015) menunjukkan bahwa Eropa Barat dengan negara-negara seperti Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Swiss, dan Denmark adalah benua yang persentase orang dengan afiliasi keagamaannya paling rendah. Persentase afiliasi keagamaan yang paling tinggi justru ditemukan di benua Afrika yang semua negara-nya tergolong dalam kategori negara berkembang. Di negara-negara berkembang dan agraris, sikap terhadap agama cenderung lebih positif daripada di negara-negara maju dan industri (Norris & Inglehart, 2009). Indeed, survei telah membuktikan bahwa perbedaan kultural pada negara-negara maju dan berkembang terletak di angka relijiusitasnya. Semakin industrialis (maju) suatu negara, maka semakin jarang warganya menghadiri ibadah agama dan berdoa serta semakin rendah pula sikap positif terhadap agama (Norris & Inglehart, 2009).

Bagaimana ini bisa terjadi? Ada beberapa teori multidisipliner yang bisa menjelaskannya. Teori pertama adalah teori proses sekularisasi (Nelson, 2009). Teori tersebut menyatakan bahwa seiring dengan kemajuan akal dan pengetahuan manusia, pengaruh agama dalam kehidupan masyarakat akan semakin berkurang dan bahkan menghilang. Ilmu pengetahuan dan rasionalitas manusia adalah kunci dari melemahnya pengaruh agama dalam kehidupan masyarakat. Telah lama ilmu pengetahuan dianggap sebagai sistem yang berlawanan dengan agama (Cassirer, 1944). Di satu sisi, ilmu pengetahuan bersifat materialistik dimana ia cenderung mempercayai fakta-fakta terobservasi dan terverifikasi (Proctor & Capaldi, 2006). Sebaliknya, agama cenderung lebih menekankan pada elemen-elemen metafisika seperti entitas supernatural dan kehidupan setelah kematian (Pals, 2011). Pada negara-negara maju, perkembangan ilmu pengetahuan dengan tradisi tersebut cenderung lebih pesat.

Akan tetapi teori itu dibantah oleh Pippa Norris dan Ronald Inglehart (2009) lewat teori pemisahan kultural. Dalam bukunya Sacred and Secular: Religion and Politics Worldwide, perbedaan tingkat sekularisme di negara maju dan berkembang bukan karena perkembangan ilmu pengetahuan. Yang lebih penting daripada itu adalah kebutuhan akan rasa aman atau kebutuhan eksistensial. Semakin kebutuhan akan rasa aman terpenuhi, maka semakin orang tidak membutuhkan agama. Kebutuhan akan rasa aman diperoleh dengan memuaskan kebutuhan mendasar dalam hidup seperti makanan, kesehatan, kebebasan, pendidikan, dan lain-lain. Pada negara-negara berkembang, sosok keluarga, komunitas, dan agama sangat penting untuk menjamin keberlangsungan hidup orang-orang. Agama bisa membuat orang merasa bahwa mereka dilindungi oleh sosok Tuhan atau Dewa. Ini bisa meringankan penderitaan sekaligus memberikan rasa aman pada individu di negara berkembang. Data yang diperoleh Norris dan Inglehart (lewat berbagai survei global) di 74 negara menunjukkan pola yang mendukung klaim tersebut. Ada korelasi negatif antara perkembangan sosioekonomi, pemeliharaan kesehatan, akses pendidikan, dan angka harapan hidup dengan perilaku keagamaan.

Mana diantara kedua teori tersebut yang lebih mampu menjelaskan fenomena perbedaan tingkat relijiusitas di berbagai negara? Untuk menjawab pertanyaan itu, disini saya akan mendeskripsikan beberapa riset kontemporer terkait. Dari riset-riset itu, dapat diperoleh kesimpulan apakah teori sekularisasi atau teori pemisahan kultural yang lebih mampu menjelaskan fenomena sekularisasi di negara-negara maju. Setelah itu, saya akan melakukan analisis mengenai fenomena tersebut pada populasi Indonesia yang disinyalir masih merupakan negara berkembang.

RISET-RISET KONTEMPORER DAN ANALISA KRITIS

Analisis akan dibagi berdasarkan tiga tradisi penelitian belakangan ini. Adapun fokus dari analisis adalah pembuktian atau bantahan terhadap teori sekularisme dan teori pemisahan kultural.

Apakah orang sekuler lebih bahagia?

Phil Zuckerman pada tahun 2009 mencoba melakukan riviu tentang sekularisme. Ia mempertanyakan apakah stigma yang melekat pada orang-orang sekuler itu benar. Seringkali orang sekuler dianggap punya masalah psikologis, jahat, tidak bisa dipercaya, atau bodoh. Akan tetapi, Zuckerman justru memperoleh data-data yang berkebalikan dengan stigma yang melekat pada orang sekuler. Tidak hanya menentang kekerasan dan peperangan, orang-orang sekuler juga cenderung lebih memihak pada kesetaraan gender serta perdamaian. Mereka juga cenderung lebih jarang melakukan tindakan kriminal. Ini mungkin mengejutkan beberapa pihak karena seringkali agama dianggap berasosiasi negatif dengan frekuensi kriminalitas. Tetapi data tidak menunjukkan pola demikian.

Meskipun dengan semua karakteristik positif itu, ditemukan bahwa orang sekuler cenderung lebih ‘pelit’. Mereka lebih jarang mendonasikan uang atau sumberdaya untuk kepentingan sosial dan amal. Temuan tidak berhenti sampai disitu saja. Orang-orang sekuler seringkali dianggap punya masalah psikologis dan tidak lebih bahagia daripada mereka yang relijius. Data mengkonfirmasi anggapan ini. Meskipun ada kalanya orang sekuler juga memiliki kepuasan hidup dan kebahagiaan melebihi orang-orang relijius (Beit-Hallahmi, 2007), agama secara konsisten lebih memprediksi kebahagiaan dan kepuasan hidup.

Data dari Zuckerman (2009) memberikan satu wawasan penting. Walaupun orang sekuler memiliki banyak karakteristik yang dianggap positif, tetapi mereka cenderung tidak bahagia dan lebih mengalami stress. Data Zuckerman ini bisa digunakan untuk membantah teori pemisahan kultural Norris dan Inglehart (2009). Dalam teori tersebut, orang-orang di negara industrialis dan maju dianggap lebih puas dalam kehidupan karena lebih memiliki rasa aman. Oleh karenanya, mereka sudah tidak lagi membutuhkan agama. Akan tetapi data-data yang dirangkum Zuckerman (2009) memberikan kesimpulan yang bertolak belakang. Agama secara konsisten berasosiasi positif dengan kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup. Dengan kata lain, tidak ada jaminan bahwa orang di negara maju yang sudah lebih terpenuhi kebutuhannya akan lebih bahagia. Pada kenyataannya mungkin orang-orang di negara berkembang jauh lebih bahagia karena hadirnya sosok agama di tengah-tengah masyarakat. Implikasinya, walaupun status sosial ekonomi (tingkat kekayaan) bisa memprediksi rendahnya relijiusitas, ia tidak bisa memprediksi kebahagiaan dan kepuasan hidup (Paul, 2010). Sehingga, belum tentu orang mempersepsi adanya rasa aman lewat kemajuan ekonomi dan kemajuan industri.

Kenyataan yang terjadi di Indonesia pun juga demikian. Survei menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara dengan orang-orang paling bahagia di dunia (lihat survei tren global oleh IPSOS, 2014). Tetapi Indonesia sendiri bukan merupakan negara maju ataupun negara pascaindustrialis. Di sisi lain, Indonesia adalah negara dengan tingkat relijiusitas yang tinggi (Norris & Inglehart, 2009). Ini mendukung bantahan bahwa kemajuan suatu negara berdampak pada meningkatnya rasa aman. Bagaimana mungkin rasa aman bisa terpenuhi apabila orang-orang masih merasa tidak bahagia dan tidak puas dengan hidupnya?

Apakah orang sekuler lebih analitik?

Riset lainnya muncul dari tradisi psikologi kognitif. Individu atau kelompok cenderung memilih ideologi yang sesuai dengan kapasitas kognitif mereka (Pennycook, 2013). Adapun kapasitas kognitif disini adalah inteligensi atau kecerdasan umum (Nyborg, 2009; Bertsch & Pesta, 2009) dan dualitas pemrosesan (Gervais & Norenzayan, 2012; Shenhav, Rand, & Greene, 2011). Riset oleh Nyborg (2009) menemukan bahwa individu-individu atheis, agnostik, dan liberal (sekuler) memiliki inteligensi yang lebih tinggi dibandingkan individu-individu yang dogmatik dan fundamentalis dalam beragama. Sementara itu riset oleh Bertsch dan Pesta (2009) juga menemukan pola yang sama. Inteligensi berkorelasi negatif dengan keyakinan bahwa agama yang dianut adalah satu-satunya jalan menuju Tuhan. Selain itu skeptisisme terhadap agama berkorelasi positif dengan skor inteligensi.

Terkait teori dualitas pemrosesan (dual-process theory), perbedaan gaya berpikir nampaknya menentukan apakah seseorang cenderung memegang keyakinan supernatural seperti agama atau justru menolaknya. Klaim tersebut telah dibuktikan oleh dua eksperimen dengan banyak riset-riset korelasional lainnya. Diantara eksperimen-eksperimen itu adalah riset Shenhav, Rand, dan Greene (2011) yang menemukan bahwa orang yang dikondisikan untuk melakukan gaya berpikir analitik atau reflektif cenderung memiliki keyakinan terhadap Tuhan yang rendah. Disamping itu Gervais dan Norenzayan (2012) menemukan bahwa partisipan yang dikondisikan untuk berpikir dengan proses terkontrol memiliki religious disbelief yang lebih tinggi.

Teori sekularisasi mendapat dukungan dengan melihat bahwa kemampuan kognitif serta aktivasi gaya berpikir analitik bisa mempengaruhi keyakinan keagamaan. Ingat bahwa teori sekularisasi berasumsi bahwa menurunnya pengaruh agama disebabkan perkembangan ilmu pengetahuan. Seringkali ilmu pengetahuan menolak klaim-klaim supernatural dan subyektifisme iman. Ilmu pengetahuan lebih menekankan pada materialisme dengan asumsi bahwa obyektifisme dan hukum-hukum hanya bisa diperoleh lewat observasi dan verifikasi.

Faktor kognitif seperti inteligensi dan gaya berpikir analitik nampaknya menjadi mediator antara perkembangan ilmu pengetahuan dengan menurunnya pengaruh agama. Tradisi ilmu pengetahuan semacam ini lebih cocok dengan gaya berpikir analitik. Ini dikarenakan gaya berpikir yang lebih kritis cenderung ditekankan pada pendidikan yang mempelajari ilmu pengetahuan (Bassey, Umoren, & Udida, 2007). Selain itu individu yang berpartisipasi dalam perguruan tinggi dan memiliki orientasi intelektual, cenderung lebih mungkin meninggalkan keyakinan dalam beragama (Zuckerman, 2009). Ini mungkin merupakan alasan mengapa ilmuwan atau saintis cenderung lebih banyak yang meninggalkan agama daripada populasi umum (Larson & Witham, 1998). Meski demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan guna memahami apakah memang faktor kognitif menjadi mediator bagi pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan terhadap sekularisme.

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Kita tahu bahwa prevalensi sekularisme di Indonesia sangat rendah (Badan Pusat Statistik, 2010; Lynn, Harvey, & Nyborg, 2009). Di sisi lain, kondisi literasi sains Indonesia pun juga cenderung rendah. Meski dengan perkembangan ekonomi pada dekade terakhir, Indonesia tercatat sebagai negara yang kurang berkembang dalam segi ilmu pengetahuan. Ini terbukti dari rendahnya angka publikasi (Hermansyah, 2016; Meijaard, 2015) dan diabaikannya kegiatan riset oleh pemerintahan (Rakhmani, 2016). Jika merujuk pada teori sekularisasi, kondisi ini sendiri-lah yang menghambat pertumbuhan sekularisme. Orang Indonesia cenderung lebih mengatribusikan fenomena berdasarkan penjelasan supernatural daripada penjelasan ilmiah. Disini, faktor kognitif yang lebih berperan pada orang Indonesia adalah gaya berpikir intuitif. Diperlukan riset-riset tambahan untuk memahami klaim ini lebih lanjut. 

Apakah orang sekuler memiliki nilai-nilai moral yang berbeda dengan orang relijius?

Riset ketiga yang akan dibahas disini berakar dari tradisi nilai-nilai moral. Jonathan Haidt (2012) melalui riset-riset ekstensif-nya membuktikan bahwa orientasi politik dan ideologi keagamaan yang dianut seseorang bisa diprediksi dari nilai-nilai apa yang dianut oleh seseorang. Salah satu riset (Graham dkk., 2009) membuktikan bahwa orang-orang yang cenderung lebih konservatif memiliki nilai-nilai moral yang berbeda dengan orang-orang sekuler. Individu pada kelompok yang lebih konservatif cenderung memegang teguh prinsip-prinsip seperti kesetiaan terhadap kelompok, kemurnian dan keamanan, serta stabilitas atau keteraturan. Sementara itu individu yang cenderung liberal dan sekuler cenderung memegang prinsip seperti kasih sayang antar pribadi dan kesetaraan atau keadilan. Orang-orang konservatif sendiri seringkali dikaitkan dengan orang-orang dogmatik dan fundamentalis agama (Graham dkk.,, 2011). Implikasinya, perbedaan nilai-nilai dalam suatu kebudayaan merefleksikan perbedaan ideologi yang dianut pada kebudayaan itu.

Riset kali ini mendukung teori pemisahan kultural yang terfokus pada peranan kebutuhan akan rasa aman dalam memprediksi sekularisme. Nilai-nilai yang telah disebutkan sebelumnya seperti kesetiaan, kemurnian, dan keteraturan cenderung lebih berguna saat terjadi banyak ancaman atau bahaya (Van Leeuwen & Park, 2009). Kelompok fundamentalis agama cenderung memberi penekanan pada nilai-nilai tersebut. Ini dikarenakan saat keamanan minim, kelompok sebisa mungkin harus kohesif dan bersatu. Agar bisa bersatu dan kuat maka individu harus setia terhadap kelompok, menjaga relasi dengan pihak otoritas, dan menjaga norma-norma yang sudah disepakati. Agama berperan penting disini. Selain memberikan norma-norma yang harus diikuti, agama juga dapat memberikan perasaan aman dan sense of identity sehingga kelompok lebih kohesif. Ini juga didukung oleh riset Leidner dan Castano (2012) yang mengemukakan bahwa bahaya dari outgroup cenderung membuat individu beralih ke nilai-nilai kesetiaan dan kepatuhan pada otoritas.

Lain halnya dengan kebudayaan dimana persepsi adanya bahaya tidak terlalu muncul. Pada kebudayaan seperti ini, yang lebih penting adalah menjaga relasi antar pribadi (Koleva dkk., 2011). Kohesivitas kelompok secara umum cenderung tidak penting. Budaya-budaya seperti ini adalah negara-negara maju dan industrialis/pascaindustrialis. Sekularisme berkembang dan agama tidak berpengaruh karena kebutuhan akan rasa aman sudah tidak lagi penting. Maka dari itu nilai-nilai yang menjaga keamanan pun juga sudah tidak lagi penting.

Di konteks Indonesia, nampaknya kita lebih menekankan pada nilai-nilai yang menjaga keamanan daripada nilai-nilai antar pribadi. Orang Indonesia cenderung tidak terlalu menekankan nilai keadilan atau resiprositas. Sulit untuk membuktikan ini, akan tetapi angka korupsi dan tingginya kecurangan siswa dalam ujian nasional mungkin menjadi indikasi rendahnya nilai keadilan. Di sisi lain, orang Indonesia biasanya sangat mematuhi pihak otoritas. Ini merupakan nilai yang bersumber dari kebutuhan akan rasa aman.

KESIMPULAN

Teori sekularisme menyebutkan bahwa semakin berkembangnya ilmu pengetahuan berimplikasi pada semakin melemahnya agama dalam masyarakat. Di sisi lain, teori pemisahan kultural tidak sepakat. Melemahnya agama bukan karena perkembangan ilmu, melainkan karena kebutuhan akan rasa aman yang sudah terpenuhi. Pada kesempatan ini, saya mencoba menganalisa dua klaim tersebut berdasarkan riset-riset terbaru. Pada riset yang menghubungkan kepuasan hidup atau kebahagiaan dengan sekularisme, ditemukan bahwa orang-orang beragama cenderung lebih bahagia dan tidak stress. Ini membantah teori pemisahan kultural karena orang di negara maju seharusnya lebih bahagia dan memiliki rasa aman yang lebih tinggi. Pada kenyataannya, kebahagiaan lebih rendah di negara-negara maju dengan orang-orang sekuler. Pada riset yang menghubungkan kognisi dengan sekularisme, ditemukan bahwa kognisi berasosiasi negatif dengan agama. Ini mendukung teori sekularisme dimana penalaran dan kemampuan analitik mendukung perkembangan ilmu pengetahuan. Terakhir, pada riset yang menghubungkan nilai-nilai dengan ideologi agama, ditemukan bahwa nilai-nilai tertentu mampu memberikan rasa aman sehingga lebih berguna di negara berkembang daripada nilai-nilai lainnya. Ini mendukung teori pemisahan kultural. Pada negara maju dan negara berkembang, seharusnya ada perbedaan nilai yang disebabkan rasa aman yang sudah/belum tercapai.

Tiga tradisi riset tersebut menghasilkan inkonsistensi. Di satu sisi, riset tentang kepuasan hidup dan faktor kognitif sepertinya mengukuhkan paradigma teori sekularisme. Di sisi lain, riset tentang nilai-nilai moral sepertinya mengukuhkan paradigma teori pemisahan kultural. Oleh karena itulah maka tiga tradisi riset tersebut membutuhkan pembuktian lebih lanjut. Riset-riset selanjutnya diharapkan mampu menguji ketiga tradisi tersebut dalam menjelaskan fenomena sekularisme di negara-negara maju. Dengan pengujian, diharapkan inkonsistensi yang ada bisa terjawab.

Daftar Pustaka:

Akkoc, R. (2015, April 13). Mapped: These are the world’s most religious countries. Diakses dari URL: http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/11530382/Mapped-These-are-the-worlds-most-religious-countries.html

Badan Pusat Statistik. (2010). Penduduk Menurut Wilayah dan Agama dan Dianut. Diunduh dari website resmi BPS pada 21/2/2014 pukul 13:00 WIB dengan URL: http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=321&wid=0.

Bassey, S.W., Umoren, G., & Udida, L.A. (2007). Cognitive styles, secondary school students’ attitude and academic performance in chemistry in Akwa Ibom state – Nigeria.  Dipresentasikan dalam konferensi epiSTEME-2: International conference to review research in Science, Technology and Mathematics Education.

Beit-Hallahmi, B. (2007). ‘Atheists: A Psychological Profile.’ pp. 300–17 dalam Martin, M. The Cambridge Companion to Atheism. New York, NY: Cambridge University Press.

Bertsch, S., & Pesta, B. J. (2009). The Wonderlic Personnel Test and elementary cognitive tasks as predictors of religious sectarianism, scriptural acceptance, and religious questioning. Intelligence, 37, 231–237.

Cassirer E. (1944). An Essay on Man: An Introduction to a Philosophy of Human Culture. Yale & New Haven.

Gervais, W. M., & Norenzayan, A. (2012). Analytic thinking promotes religious disbelief. Science, 336, 493–496.

Graham, J., Haidt, J., & Nosek, B. A. (2009). Liberals and conservatives rely on different sets of moral foundations. Journal of Personality and Social Psychology, 96(5), 1029–1046. http://doi.org/10.1037/a0015141

Graham, J., Nosek, B. A., Haidt, J., Iyer, R., Koleva, S., & Ditto, P. H. (2011, January 17). Mapping the Moral Domain. Journal of Personality and Social Psychology. Advance online publication. doi: 10.1037/a0021847

Haidt, J. (2012). The righteous mind: Why good people are divided by politics and religion. New York: Pantheon Books.

Hermansyah, A. (2016, April 25). Indonesia lags behind in scientific publications: Expert. Diakses dari URL: http://www.thejakartapost.com/news/2016/04/25/indonesia-lags-behind-in-scientific-publications-expert.html

IPSOS. (2014). Global Happiness Report. Diakses dari URL: http://www.ipsos-na.com/news-polls/pressrelease.aspx?id=6400

Koleva, S. P., Graham, J., Iyer, R., Ditto, P. H., & Haidt, J. (2012). Tracing the threads: How five moral concerns (especially Purity) help explain culture war attitudes. Journal of Research in Personality, 46(2): 184–194. http://doi.org/10.1016/j.jrp.2012.01.006

Larson, E.J., & Witham, L. (1998) Leading scientists still reject God. Nature 394, 313–314.

Leidner, B., & Castano, E. (2012). Morality shifting in the context of intergroup violence. European Journal of Social Psychology, 42, 82–91.

Lynn, R., Harvey, J., & Nyborg, H. (2009). Average intelligence predicts atheism rates across 137 nations. Intelligence 37, 11–15.

Meijaard, E. (2015, April 1). Commentary: Indonesia Needs to Start Taking Science Seriously. Diakses dari URL: http://jakartaglobe.beritasatu.com/opinion/commentary-indonesia-needs-start-taking-science-seriously/

Norris, P., & Inglehart, R. (2009). Sekularisasi ditinjau kembali: Agama dan politik di dunia dewasa ini. Indonesia: Pustaka Alvabet.

Nyborg, H. (2009). The intelligence–religiosity nexus: A representative study of white adolescent Americans. Intelligence, 37, 81–93.

Pals, D. L. (2011). Seven theories of religion: Tujuh teori agama paling komprehensif. Jogjakarta: IRCiSoD.

Paul, G. S. (2010). Religiosity tied to socioeconomic status. Science. doi: 10.1126/science.327.5966.642-b

Pennycook, G. (2013). Evidence that analytic cognitive style influences religious belief: Comment on Razmyar and Reeve. Intelligence, 43, 21–26.

Proctor, R.W., & Capaldi, E.J. (2006). Why science matters. Malden, MA: Blackwell Publishing.

Rakhmani, I. (2016, Februari 16). Insularity leaves Indonesia trailing behind in the world of social research. Diakses dari URL: http://theconversation.com/insularity-leaves-indonesia-trailing-behind-in-the-world-of-social-research-53973

Shenhav, A., Rand, D.G., & Greene, J.D. (2011). Divine Intuition: Cognitive Style Influences Belief in God. Journal of Experimental Psychology 141 (3), 423–428. DOI: 10.1037/a0025391.

Van Leeuwen, F., & Park, J. H. (2009). Perceptions of social dangers, moral foundations, and political orientation. Personality and Individual Differences, 47(3), 169–173. http://doi.org/10.1016/j.paid.2009.02.017

Zuckerman, P. (2009). Atheism, Secularity, and Well‐Being: How the Findings of Social Science Counter Negative Stereotypes and Assumptions.Sociology Compass3(6), 949-971.