Tags

, , , , ,

Bayangkan sebuah padang rumput yang terbuka untuk semua orang. Di desa sekitar padang rumput itu hiduplah para peternak dengan sapi-sapi milik mereka. Hewan ternak itu harus diberi makan rerumputan yang hijau di padang tersebut. Masalahnya, setiap peternak punya keinginan untuk memberi makan sapi-sapi  mereka di padang rumput itu. Jika ada satu orang peternak yang memberi makan sapi-sapi secara berlebih, maka padang rumput itu akan mati dan hancur. Perlu waktu lama untuk menumbuhkan rumput-rumput itu kembali. Untuk menghindari itu, suatu kerjasama dan interdependensi dibutuhkan antar peternak (Diambil dari Hardin, 2009).

Dalam situasi seperti itu jika kamu adalah peternak, apa yang akan kamu lakukan? Di satu sisi, kamu bisa memaksimalkan keuntungan dirimu jika membiarkan sapi-sapi memakan banyak rumput. Tapi kamu tahu bahwa orang-orang lain akan mengecam, memberikan sanksi, dan memusuhi kamu jika melakukannya. Dalam kejadian seperti inilah dilema sosial terjadi. Kamu harus memutuskan mana yang harus dilakukan: apakah mementingkan kepentingan sendiri atau kepentingan kelompokmu? Nampaknya, memilih menguntungkan dirimu sendiri bukanlah tindakan rasional pada kasus ini. Dalam dilema sosial, tindakan mementingkan diri sendiri selalu merupakan tindakan yang lebih merugikan daripada tindakan bekerjasama (Kerr, 2010).

Disamping kasus mengenai padang rumput diatas, ada beberapa peristiwa lainnya yang umum digunakan dalam studi-studi mengenai dilema sosial. Salah satu yang paling terkenal adalah kasus dilema tahanan penjara (Pruitt & Kimmel, 1977) dimana seseorang harus bekerjasama dengan tahanan lain agar masa hukuman mereka tidak lebih berat. Kasus lainnya adalah dilema tentang fasilitas umum dimana masing-masing memutuskan seberapa besar mereka akan memberikan sumberdaya yang mereka punya (Abele, Stasser, & Chartier, 2010).

Studi dilema sosial dan kaitannya dengan teori permainan telah mewarnai ranah psikologi, matematika, dan biologi selama beberapa dekade (Kerr, 2010). Namun demikian, banyak diantaranya terlalu fokus pada situasi eksperimental yang terlalu steril. Pada kenyataannya, dilema sosial yang kita temui sehari-hari tidaklah sesederhana kasus-kasus yang sudah dijabarkan sebelumnya. Ada banyak sekali variabel-variabel lain yang berpotensi memoderasi keputusan kita untuk bekerjasama ataukah untuk berkompetisi. Tulisan ini mencoba membahas mengenai moderasi-moderasi yang ada dalam kasus dilema sosial.

Efek Moderasi

Salah satu kondisi yang terjadi dalam dunia nyata adalah tidak adanya kepastian mengenai orang-orang dan lingkungan di sekitar kita. Tidak seperti kondisi laboratorium dimana segala sesuatunya dibuat konstan atau dikontrol, banyak variabel dalam dunia nyata tidak bisa kita perkirakan secara pasti. Sehingga saat dilema sosial terjadi di kehidupan nyata, keputusan mungkin tidak akan sama dengan seperti saat menghadapi dilema di laboratorium. Heckathorn (dalam Kerr, 2010) menyebut moderasi dari ketidakpastian-ketidakpastian itu sebagai fuzzy social dilemma. Ada beberapa bentuk dilema sosial semacam ini, diantaranya: 1. Ketidakpastian lingkungan, 2. Ketidakpastian sosial, 3. Ketidakpastian hasil, dan 4. Gangguan atau noise.

Ketidakpastian di dalam lingkungan adalah kondisi dimana jumlah sumberdaya yang bisa diperoleh itu tidak absolut, melainkan bervariasi. Jika jumlah sumberdaya itu absolut, maka pembagian dan kerjasama antar anggota kelompok akan menjadi lebih mudah. Tetapi jika jumlah sumberdaya bervariasi, maka sulit untuk mendistribusikannya secara merata pada setiap anggota kelompok. Maka dari itu, pada kondisi dimana jumlah sumberdaya itu tidak pasti, individu akan cenderung lebih kompetitif daripada kooperatif (Kerr, 2010). Tidak hanya itu, ketidakpastian lingkungan juga memoderasi berbagai efek dalam dilema sosial. Sebagai contoh, individu dalam kondisi dimana anggota kelompoknya tidak yakin akan bekerja sama (ketidakpastian sosial yang tinggi), muncul mekanisme untuk memastikan terjadinya kerjasama. Tetapi kerjasama ini tidak akan terjadi apabila ketidakpastian di lingkungan itu tinggi (Wit & Wilke, 1998).

Contoh lainnya adalah moderasi ketidakpastian lingkungan dalam efek absennya komunikasi antar anggota terhadap keputusan yang diambil dalam suatu dilema sosial. Jika antar anggota kelompok dapat berkomunikasi satu sama lain, keputusan yang diambil akan lebih mudah walaupun ada ketidakpastian lingkungan. Namun bagaimana saat anggota kelompok tidak mampu berkomunikasi satu sama lain? Dalam kondisi seperti ini, muncul sebuah aturan yang dimiliki bersama (shared rules). Dalam kondisi dimana terdapat kepastian lingkungan, shared rule-nya adalah setiap anggota kelompok mendapatkan porsi yang sama/setara. Sementara dalam kondisi dimana ada ketidakpastian lingkungan, shared rule menjadi lebih sulit terbentuk karena tidak jelas porsi yang diperoleh setiap orang (de Kwaadsteniet, Van Dijk, dkk., 2006).

Ketidakpastian lingkungan juga menjadi moderasi bagi efek disposisi terhadap keputusan dalam dilema sosial. Ada orang-orang yang memiliki disposisi untuk bekerjasama (prososial) dan ada orang-orang yang memiliki disposisi untuk mementingkan diri sendiri (proself). Orang-orang dengan disposisi untuk bekerjasama yang lebih tinggi akan melakukan kooperasi dalam dilema sosial. Kompetisi lebih dilakukan oleh mereka yang punya disposisi mementingkan diri sendiri. Tapi ketika ketidakpastian di lingkungan rendah, disposisi tidak terlalu berpengaruh, shared rules lebih berpengaruh. Orang-orang tetap akan membagi sumberdaya berdasarkan prinsip kesetaraan tidak peduli apapun disposisi mereka. Namun demikian lain halnya saat ketidakpastian di lingkungan teramat tinggi. Dalam kondisi demikian, disposisi individu menentukan seberapa besar masing-masing anggota memperoleh besaran porsi/bagiannya (de Kwaadnesteit, Van Dijk, et al., 2006).

Sementara itu ketidakpastian secara sosial merupakan kondisi dimana individu tidak mengetahui secara pasti apakah orang-orang lain dalam kelompok juga ingin bekerjasama atau tidak. Saat ini terjadi, individu cenderung tidak ingin berkontribusi untuk fasilitas umum atau publik (Sabater-Grande & Georgantzis, 2002). Sebagai contoh, apakah kamu bersedia menyumbangkan uang untuk pajak apabila tidak ada orang-orang lain yang mau membayar pajak? Kemungkinan tidak. Ketidakpastian ketiga yang dibahas adalah ketidakpastian mengenai hasil yang diperoleh. Semakin tidak pasti keuntungan yang diperoleh saat kita berkontribusi untuk publik, semakin tidak ingin seseorang itu berkontribusi (McCarter et al., 2010). Sebagai contoh, jika kita diwajibkan membayar pajak tetapi fasilitas hanya boleh digunakan pejabat saja, kita mungkin tidak akan membayar pajak (kalaupun bayar mungkin terpaksa). Adapun mediator dalam efek ini adalah loss aversion atau kecenderungan untuk takut kehilangan suatu sumberdaya yang dimiliki.

Ketidakpastian lainnya adalah gangguan yang dihadapi dalam sebuah peristiwa. Ambil contoh kecelakaan, pesawat yang penerbangannya ditunda, kemacetan, bencana alam, dan lain-lain. Semakin destruktif gangguan itu, maka kerjasama semakin sulit tercipta (Kerr, 2010). Tetapi gangguan-gangguan semacam ini tidak akan terlalu penting apabila ada kesempatan berkomunikasi antar anggota kelompok. Sebagai contoh, Alfa dan Beta ingin bekerjasama memperoleh nilai bagus di kelas Proses Kelompok. Mereka telah menyusun rangkaian tugas presentasi dan makalah. Saat presentasi akan dimulai, ternyata Beta mengalami kecelakaan mobil sehingga ia terlambat datang ke kelas. Jika Beta berkomunikasi dengan Alfa dan menyelesaikan masalah ini bersama, maka gangguan tidak akan terlalu berdampak destruktif. Disamping itu, jika empati dan disposisi prososial Alfa juga tinggi, maka ia tidak akan terlalu mempermasalahkan absennya Beta dari presentasi di kelas.

Studi dilema sosial juga perlu mempertimbangkan efek moderasi dari sistem sanksi. Keputusan untuk bekerjasama dapat lebih dipastikan saat ada sanksi bagi orang-orang yang tidak bekerjasama (defektor). Menurut Kerr (2010), yang bisa memberikan sanksi-sanksi itu diantaranya pihak eksternal, anggota kelompok lain, dan pimpinan kelompok. Sanksi bekerja dengan dua cara (Kerr, 2010). Pertama, sanksi membuat orang-orang yang serakah atau memiliki kepentingan pribadi tidak mengeksploitasi kelompok Sehingga, kerjasama berjalan lebih lancar. Kedua, sanksi membuat orang-orang yang takut dieksploitasi oleh anggota kelompok lain lebih merasa aman. Tetapi nampaknya sanksi juga bekerja secara irasional. Fehr dan Fischbacher (2004) menemukan bahwa menghukum anggota kelompok lain adalah pilihan yang disukai, walaupun tidak ada keuntungannya bagi si penghukum (penghukum bukan anggota kelompok).

Sistem sanksi membuat anggota kelompok memahami perilaku apa yang diinginkan/tidak diinginkan dari mereka. Sehingga, penggunaan sanksi kelihatan berdampak positif. Tetapi Kerr (2010) mengingatkan bahwa sanksi juga bisa tidak efektif bahkan malah menghambat hasil yang diharapkan. Ada tiga kondisi dimana sistem sanksi tidak efektif. Pertama, faktor atau insentif eksternal mengurangi atribusi internal. Konsekuensinya, motivasi bekerjasama pun absen jika tidak ada sanksi eksternal (Deci & Ryan, 1985 dalam Kerr, 2010). Sebagai contoh, orang yang selalu membayar pajak karena sanksi akan berpikir bahwa sanksi itu yang membuatnya menjalankan pembayaran pajak. Ia tidak akan lagi mau membayar pajak jika sudah tidak ada sanksi. Kondisi kedua adalah kemunculan persepsi bahwa anggota-anggota kelompok lain tidak punya motivasi internal untuk bekerja sama. Ini dapat mengurangi rasa saling percaya antar anggota kelompok (Chen et al., 2009). Bayangkan kamu harus bekerja bersama dengan orang-orang yang kelihatannya tidak menikmati pekerjaan mereka. Selain itu sistem sanksi juga tidak efektif ketika anggota-anggota kelompok merasa bahwa sanksi itu berlaku sebagai kompensasi perbuatan buruk kepada si pemberi sanksi (Gneezy & Rustichini, 2000).

Ada beberapa alasan mengapa orang menghindari sanksi (Kerr, 2010). Pertama, jika orang terkena sanksi maka reputasinya dipertaruhkan. Merujuk pada kasus peternak diatas, orang yang tidak bekerjasama mungkin tidak akan diperbolehkan lagi untuk menjadi peternak di desa itu atau bahkan diusir dari desa itu. Alasan kedua adalah demi menjaga hubungan positif antar anggota kelompok. Alasan ketiga yang merupakan alasan lebih dalam adalah karena menghindari sanksi sama saja dengan menghindari bahaya dalam terminologi evolusi. Bahaya yang dihindari akan memastikan keberlangsungan hidup seseorang.

Sebagaimana dikatakan sebelumnya, dilema sosial kenyataannya tidak seperti dalam situasi forced play (seseorang dipaksa berinteraksi dengan orang lain atau anggota-anggota lain dalam lab serta tidak punya kebebasan untuk memilih lebih luas). Lebih sering ditemui adalah kondisi selective play dimana individu-individu memiliki kesempatan untuk meninggalkan kelompok atau membentuk kelompok baru (Hayashi & Yamagishi, 1998 dalam Kerr, 2010). Saat ada pilihan untuk keluar dari kelompok, ternyata kerjasama lebih bisa terbangun. Ini dikarenakan partisipan lebih mungkin memilih kelompok yang mereka sukai dan meninggalkan kelompok yang tidak disukai. Selain itu, jika ada pilihan untuk menyesuaikan dengan anggota kelompok lain, kooperasi lebih bisa diprediksi pula. Semisal saat seseorang melihat anggota kelompok lain cenderung kooperatif, maka ia bisa memilih untuk lebih berhubungan dengan orang itu. Bentuk lain dari pilihan yang lebih bebas adalah adanya kesempatan untuk berinteraksi dengan penuh makna. Saat individu lebih bisa saling menatap mata, saling menyentuh satu sama lain, chatting dalam suatu forum, dan bersenandung bersama, maka keputusan untuk bekerjasama akan semakin tinggi pula.

Adapun bentuk selective play lainnya adalah kesempatan untuk memilih rekan dalam kelompok (Kerr, 2010). Umumnya, rekan yang dipilih adalah mereka yang bisa dipercaya. Bagaimana menentukan apakah orang lain itu bisa dipercaya atau tidak? Nampaknya, kemampuan itu sudah terberi pada kita. Sebagai contoh, partisipan dalam studi Verplaetse dkk. pada 2007 silam melihat foto-foto wajah dan menentukan apakah orang itu kooperatif atau defektif dalam dilema tahanan. Ternyata, partisipan mampu mengklasifikasi secara akurat. Tetapi akurasi ini lebih tinggi hanya pada foto wajah orang-orang pada saat memutuskan. Selain itu, orang yang dipercaya juga biasanya memiliki senyuman tulus atau istilahnya senyuman Duchene. Orang dengan senyuman tulus lebih mungkin diajak bekerjasama daripada orang dengan senyuman tidak tulus. Terakhir, kemenarikan fisik rekan nampaknya juga berpengaruh untuk keputusan kerjasama. Orang-orang yang lebih atraktif cenderung lebih disukai untuk bekerjasama. Hasil ini berlaku meskipun jenis kelamin rekan itu sama ataupun berbeda. Ironisnya, orang-orang atraktif cenderung kurang kooperatif dan cenderung tidak mau bekerjasama.

Kesimpulan

Dilema sosial merupakan kondisi dimana individu memutuskan akan bekerjasama atau mementingkan diri sendiri dalam suatu kelompok. Riset telah menunjukkan bahwa banyak sekali moderasi dalam keputusan tersebut. Diantara moderasi-moderasi itu adalah macam-macam bentuk ketidakpastian, sistem sanksi, banyaknya pilihan atau opsi yang diberikan, serta kesempatan memilih rekan-rekan kelompok. Ini merupakan sedikit dari banyaknya ketidakpastian-ketidakpastian lain dalam studi mengenai dilema sosial.

Diambil dari tugas kuliah Proses Kelompok Lanjut (Advanced Group Processes)

Referensi:

Abele, S., Stasser, G., & Chartier, C. (2010). Conflict and coordination in the provision of public goods: A conceptual analysis of continuous and step-level games. Personality and Social Psychology Review14(4), 385-401.

Chen, X-P., Pillutla, M., & Yao, X. (2009). Unintended consequences of cooperation inducing and maintaining mechanisms in public goods dilemmas: Sanctions and moral appeals. Group Processes & Intergroup Relations. 12(2), 241-255.

de Kwaadsteniet, E. W., van Dijk, E., Wit, A., & de Cremer, D. (2006). Social dilemmas as strong versus weak situations: Social value orientations and tacit coordination under resource size uncertainty. Journal of Experimental Social Psychology42(4), 509-516.

Fehr, E., & Fischbacher, U. (2004). Third-party punishment and social norms.Evolution and human behavior25(2), 63-87.

Gneezy, U., & Rustichini, A. (2000). A fine is a price. Journal of Legal Studies, 29(1), 1-17.

Hardin, G. (2009). The Tragedy of the Commons∗. Journal of Natural Resources Policy Research1(3), 243-253.

Kerr, N. L. (2010). Social dilemmas.

McCarter, M. W., Rockmann, K. W., & Northcraft, G. B. (2010). Is it even worth it? The effect of loss prospects in the outcome distribution of a public goods dilemma. Organizational Behavior and Human Decision Processes,111(1), 1-12.

Pruitt, D. G., & Kimmel, M. J. (1977). Twenty years of experimental gaming: Critique, synthesis, and suggestions for the future. Annual Review of Psychology, 28, 363-392.

Sabater-Grande, G., & Georgantzis, N. (2002). Accounting for risk aversion in repeated prisoners’ dilemma games: An experimental test. Journal of economic behavior & organization48(1), 37-50.

Wit, A., & Wilke, H. (1998). Public good provision under environmental social uncertainty. European Journal of Social Psychology.