Tags

, , , , , , ,

Seringkali, kita lebih senang berinteraksi dengan mereka yang mirip atau sama dengan kita. Entah itu kesamaan yang melekat pada fisik kita seperti jenis kelamin, usia, kemenarikan fisik, etnis sampai kesamaan yang tidak langsung nampak seperti status sosial, hobi, nilai-nilai, keyakinan, atau ideologi yang dimiliki. Tidak jarang kita melihat kelompok-kelompok yang terbentuk atas kategorisasi-kategorisasi itu. Ikatan mahasiswa Asal A, Partai Politik B, Aliansi Pecinta X, dan lain-lain. Indeed, burung-burung dengan bulu yang sama akan mengelompok di tempat yang sama.

Meski berinteraksi dengan sesama kelompok kita bisa sangat menyenangkan, ini bisa menjadi cukup berbahaya pula terutama saat kelompok kita jarang berinteraksi dengan anggota kelompok lain. Mengapa berbahaya? Ketika individu-individu dari sebuah kelompok (ingroup, selanjutnya disebut IG) jarang berinteraksi dengan anggota kelompok lain (outgroup, selanjutnya disebut OG), maka prasangka terhadap OG cenderung tumbuh subur (Allport, 1954). Sebagai contoh, individu dari kelompok minoritas Tionghoa beragama Kristen di Indonesia nampak tidak banyak berteman dengan individu dari kelompok mayoritas Melayu beragama Islam di Indonesia. Ini menyuburkan prasangka dari kelompok minoritas ke mayoritas, begitu pula sebaliknya.

Obat melawan prasangka sebetulnya cukup straightforward. Biarkan anggota-anggota kelompok itu saling berinteraksi satu sama lain dan sikap positif terhadap anggota OG pun akan tumbuh. Sebaliknya, prasangka akan berkurang (Allport, 1954). Klaim ini merangsang sebuah teori dengan perkembangan riset yang sangat produktif sampai detik ini, yaitu hipotesis kontak. Meta-analisis 515 studi oleh Pettigrew dan Tropp (2006) telah berhasil menyimpulkan bahwa kontak antar kelompok memang mengurangi prasangka. Efek ini telah dibuktikan lewat studi-studi korelasional maupun studi-studi eksperimental. Tulisan ini mencoba untuk memberikan pemahaman tentang bagaimana interaksi antar kelompok itu bisa memperbaiki atau menjadi obat bagi prasangka.

Namun demikian, apakah efek itu bisa terjadi begitu saja? Barangkali tidak. Allport sendiri memberitahukan bahwa ada empat kondisi yang harus terpenuhi agar kontak bisa efektif. Empat kondisi itu antara lain (Allport, 1954): 1. Adanya kesamaan tujuan. Contohnya, manusia bisa bersatu ketika ada musuh bersama yaitu alien yang ingin menghancurkan bumi. 2. Adanya dukungan dari institusi. Sebagai contoh, konflik antar suku mungkin bisa dimediasi ketika pimpinan struktural dari kedua suku atau pemerintah pusat mendukung hubungan antar kelompok yang positif. 3. Adanya kesetaraan status. Kelompok yang saling berinteraksi tidak boleh dibeda-bedakan berdasarkan rendah atau tingginya status dalam masyarakat. 4. Adanya kerjasama antar kelompok. Jika ada pertukaran atau perdagangan dari kelompok satu dan kelompok lain, kontak bisa efektif. Sering kita saksikan penyelesaian perang dan interaksi dimulai lewat pernikahan dari petinggi-petinggi kedua kelompok atau pertukaran lainnya. Meski empat kondisi itu menjelaskan kontak seperti apa yang efektif, bagaimanakah sebetulnya kontak itu bisa mengurangi prasangka?

Eksplorasi Tiga Mekanisme

Lewat meta-analisis yang dilakukan dua tahun setelah meta-analisis sebelumnya, Pettigrew dan Tropp (2008) memperoleh kesimpulan bahwa kontak mampu mengurangi prasangka lewat tiga mekanisme: 1. Empati yang muncul akibat kontak, 2. Kecemasan yang berkurang akibat interaksi, dan 3. Pengetahuan yang telah dimiliki tentang OG. Ketiga mediator ini akan dibahas satu persatu.

Dorongan untuk berempati

Pernahkah kamu tiba-tiba diajak mengobrol oleh orang yang tidak kamu sangka akan berinteraksi denganmu? Katakanlah ia berasal dari etnis yang berbeda dan kamu tidak pernah berinteraksi dengan dia sebelumnya. Apa yang kamu rasakan? Mungkin kamu merasakan kecemasan. Tapi seiring kita berinteraksi dengan dia, kita tahu seperti apa keseharian dan perilaku-nya lebih daripada apa yang kita ketahui sebelumnya. Kita jadi tahu bagaimana mereka sebetulnya dan mungkin saja penilaian atau prasangka kita kepada mereka sebelumnya sirna. Ketika individu berinteraksi dengan OG, ia akan cenderung lebih bisa memahami apa yang dipikirkan oleh kelompok lain dan seperti apa perasaan kelompok lain itu. Disini, individu dari IG akan lebih berempati terhadap OG. Empati ini mengarahkan orang-orang IG untuk tidak berprasangka lagi dan memegang sikap positif terhadap OG.

Salah satu studi yang mendukung efek mediasi empati ini adalah eksperimen oleh Todd, Bodenhausen, Richeson, dan Galinsky (2011). Mereka mencoba melihat apakah mengambil perspektif dari OG dapat mempengaruhi keinginan untuk berinteraksi dan pengalaman yang lebih positif dengan OG. Mereka mengukur itu dengan ekspresi-ekspresi nonverbal. Studi-studi lain bahkan juga telah menemukan asosiasi serupa dalam konteks kelompok berkonflik seperti empati orang Italia terhadap imigran dan empati orang Protestan dan Katolik kepada one another (Tropp & Page-Gould, 2015).

Menangani persepsi akan adanya ancaman: Kecemasan yang berkurang

            Bayangkan seorang anggota FPI (Front Pembela Islam) tiba-tiba melihat kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Menurutmu apakah yang akan terjadi? Jika tidak takut luar biasa, mungkin ia akan jijik luar biasa. Atau mungkin tidak perlu se-ekstrim itu. Bagaimana jika kelompok Islam Sunni melihat orang dari kelompok Islam Syiah? Mungkin mereka tidak mau berinteraksi karena cemas dan merasa terancam (Stephan & Stephan, 1985). Namun demikian, apabila individu itu berinteraksi secara intens dengan individu-individu dari kelompok LGBT, ia mungkin tidak akan lagi merasakan takut sebagaimana sebelum ia berinteraksi. Mengapa demikian?

Jawabannya adalah karena interaksi yang dilakukan dengan OG akan berangsur membuat individu merasa nyaman dan tidak lagi merasa terancam. Saat individu tidak lagi merasa terancam, maka efek kontak antar kelompok menjadi lebih positif sehingga sikap terhadap anggota kelompok lain pun menjadi lebih positif. Kecemasan itu sendiri umumnya juga terjadi dan tidak hilang manakala interaksi itu penuh dengan tuntutan, kelompok yang menjadi obyek prasangka itu berekspektasi mereka akan ditolak, dan kelompok yang berprasangka berusaha untuk tidak menunjukkan tanda-tanda prasangka.

Peranan Pengetahuan

            Variabel ketiga yang mampu menjelaskan proses dibalik efek kontak adalah pengetahuan yang dimiliki seorang individu terhadap OG. IG yang berinteraksi dengan OG akan memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru tentang OG. Meski demikian, dibandingkan dengan empati dan kecemasan, efek mediasi dari pengetahuan jauh lebih lemah. Sehingga pengetahuan mengenai OG dianggap tidak terlalu berkontribusi untuk menurunkan prasangka. Bahkan, dipertanyakan juga apakah pengetahuan itu juga justru malah mengarahkan pada stereotip terhadap OG yang lebih kuat? Sebagai contoh, riset oleh Gries, Crowson, dan Cai (2011) menemukan bahwa pengetahuan bisa menjadi pedang bermata dua. Pengetahuan orang Amerika mengenai orang China justru malah mengarahkan mereka untuk semakin memegang sikap negatif terhadap orang China daripada berefek positif.

Kesimpulan

            Jadi bagaimanakah kontak bisa menjadi obat melawan prasangka? Untuk memahami ini kita perlu memahami dua hal. Pertama, seperti apakah kontak yang efektif itu? Ada empat cara dimana kontak bisa berefek positif: 1. Kedua kelompok harus berstatus setara, 2. Kedua kelompok harus melakukan kooperasi, 3. Kedua kelompok harus memiliki tujuan bersama, 4. Kedua kelompok harus mendapatkan dukungan dari institusi formal. Masing-masing cara ini mungkin bisa merevelasi kontak seperti apakah yang efektif itu. Meski demikian, meta-analisis telah menemukan bahwa ke-empat cara itu tidak selalu harus ada dalam konteks kontak. Tanpa adanya empat hal itu, efek kontak juga masih bisa terjadi.

Adapun efek kontak lebih dapat dijelaskan prosesnya lewat tiga mekanisme. Mekanisme pertama adalah munculnya empati akibat kontak. Empati terhadap OG membuat IG lebih bersikap positif terhadap kelompok lain. Mekanisme kedua adalah absennya kecemasan akibat interaksi. Tanpa adanya persepsi keterancaman, prasangka akhirnya bisa menurun. Mekanisme ketiga adalah pengetahuan tentang OG. Meski demikian, mekanisme ketiga ini dianggap lemah efeknya.

Daftar Pustaka:

Allport, G. (1954). The nature of prejudice. New York: Doubleday Anchor Books.

Gries, P. H., Crowson, H. M., & Cai, H. (2011). When Knowledge Is a Double-Edged Sword: Contact, Media Exposure, and American China Policy Preferences. Journal of Social Issues, 67(4): 787-805.

Pettigrew, T. F., & Tropp, L.R. (2006). A Meta-Analytic Test of Intergroup Contact Theory. Journal of Personality and Social Psychology, 90(5): 751-783.

Pettigrew, T. F., & Tropp, L. R. (2008). How does intergroup contact reduce prejudice? Meta-analytic tests of three mediators. European Journal of Social Psychology, 38(6), 922–934. http://doi.org/10.1002/ejsp.504

Stephan, W. G., & Stephan, C. W. (1985). Intergroup anxiety. Journal of Social Issues, 41, 157–175. doi:10.1111/j.1540-4560.1985.tb01134.x

Todd, A. R., Bodenhausen, G. V., Richeson, J. A., & Galinsky, A. D. (2011). Perspective taking combats automatic expressions of racial bias. Journal of Personality and Social Psychology, 100, 1027–1042.

Tropp, L. R. & Page-Gould, E. (2015). Contact between groups. Dalam Mikulincer, M., Shaver, P. R., Dovidio, J. F., & Simpson, J. A. APA handbook of personality and